Just Belive

Just Belive
capture 2



seperti pada hari minggu biasanya sooyoung akan bangun siang. Jika di hari biasanya ia akan bangun pagi untuk berangkat kekantor maka hari minggu akan ia jadikan sebagai penebusan untuk tidurnya.


Tapi untuk chinsun ia akan bangun sedikit pagi untuk menikmati udara segar ia akan joging untuk menikmati segarnya udara. Pagi ini ia memakai hoodie berwarna hijau botol dipadukan dengan celana sport hitam yang membentuk indah kaki nya serta sepatu putih sebagai pelengkap dan jangan lupa rambutnya yang ia ikat kuda menambah pesona yang ia tampilkan, tak lupa ia juga menancapkan airpod pada  pagi ini


.


.


.


Ia berlari dengan ritme yang stabil, seseklai ia juga tersenyum ketika ia mendengar lagu kesukaan nya  berputar di airpodnya. Ketika ia meras lelah dan keringat mulai bercucuran ia memutuskan untuk beristirahat sebentar, ia duduk di sebuah bangku yang ada di taman di area komplek nya. Ia lupa tidk membawa botol minum nya ia merasa kering pada tengorokannya ia melihat kesekitar tapi tidak ada minimarket di sekitarnya.


Ia terkejut ketika seseorang mengulurkan sebuah botol minum pada nya. Ia mendongak untuk melihat siapa orang itu. Ia terkejut ketika mendapati orang tersebut adalah park chunghee laki-laki yang kemarin mengajak nya berkenalan di sungai han.


"Bukankah kau haus, ini ambil lah"


Ia lalu duduk diseblah chinsun, ia masih mengulurkan minuman tadi. Merasa tidak ada respon ia meraih tangan chinsun lalu memberikan minuman itu.


"Minumlah, aku tidak memberikan racun pada minuman itu" kucapnya sambil terkekeh.


Chinsun pun mengambil minuman isotonik itu dan meneguknya.


"Gomawo"


"Em"


Suasana kembali hening


"Apa kau baru tinggal disini? Sepertinya aku belum pernah melihat mu di sekitar sini" tanya chunghee


"aku sudah lama tinggal disini hanya saja aku baru pulang kesini 3 bulan yang lalu setelah menyelesaikan kuliah ku di LA"


"Jinjja? Apakah aku boleh tau siapa keluarga mu? Mungkin saja aku mengenal mereka"


Chinsun menatap laki-laki itu, ia lalu menghela nafas nya


"Lee sooyoung aku tinggal bersama eonni setelah eomma dan appa meninggal"


"Ah...sooyoung nuuna aku mengenalnya dia adalah teman noona ku. Jadi adik yang selalu sooyoung nunna ceritakan itu kau?" Tanyanya antusias


"Dia hanya sering berkata kalau dia merindukan adik nya yang dulu. Dia juga sering berkata kalau dia sangat menyayangimu"


"Apa hanya itu yang eonni cerita kan?"


"Em, dia hanya sering berkata seperti itu. Apa terjadi sesuatu? Apa kalian jarang berkomunikasi sampai sooyoung nunna begitu merindukanmu?"


Chinsun menggeleng


Chunghee sebenarnya tau apa yang sebenarnya terjadi antara chinsun dan sooyoung, ia tau karena kakaknya menceritakan itu pada nya. Hanya saja ia belum mau membahas masalah itu dengan chinsun.


"Ehem,," ia berdehem untuk memecah keheningan yang tercipta.


"Apa sekarang aku boleh tau siapa nama mu sekarang?"


"Lee chinsun imnida" jawabnya singkat


"Namamu indah chinsun"


"chunghee-ssi aku akan melanjutkan joging ku. Sekali lagi Gomawo untuk minumannya" pamitnya sambil kembali melangkahkan kakinya untuk kembali joging.


Baru saja chunghee akan menyusul langkah chinsun tapi langkah nya harus terhenti karena getaran dari ponselnya


"Ne, ada apa daejung-ah?"


"Hyung kau tidak lupan kan kalau hari ini kau akan bertemu dengan nyonya choi"


"Em aku mengingat nya, ada apa memang nya?"


"Ah syukurlah kau tau hyung dia terus meneror ku,  dari tadi malam dia terus mengingat ku akan pertemuan ini. Dia membuat ku gila. Sebaiknya kau cepat menyelesaikan proyek ini hyung sebelum aku benar-benar gila"


Chunghee terkekeh mendegar omelan dari daejung


"Setelah ku pikir sepertinya aku akan mengerjakan proyek ini lebih lama agar aku bisa melihat mu benar-benar  gila, sepertinya itu akan menyenangkan"


"Yak! Kau sama menyebalkan nya dengan wanita itu hyung. Sudah aku akan menutup panggilan ini sebelum aku mulai gila karena meladeni mu"


Setelahnya panggilan itu terputus dengan menyisakan chunghee yang masih terkekeh dengan omelan daejung. Ia pun kembali melanjutkan joging nya. ia urung untuk menyusul chinsun ia memilih berbalik arah dan kembali kerumah nya untuk bersiap-siap untuk bertemu nyonya choi