
Chinsun mengantar sooyoung sampai depan gedung
"Yak hyung kenapa jadi kau yang mengantar nya, aish kau menyebalkan sekali"
Sedangkan tawa chunghee mengelegar karena melihat ekspresi daejun yang sedang memanyunkan bibirnya, sungguh sangat tidak cocok dengan tubuhnya. Sedangkan jaejung laki-laki dingin itu hanya memutar bola matanya malas.
"Eoh kalian masih disini, dan kenapa kau tertawa oppa apa ada yang lucu?" Tanya chinsun dengan polosnya
"Hahaha lihat teddybear raksasa itu sedang merajuk. Lucu sekali dia" jawab chunghee sambil mendekati daejung dan merangkul pundak laki-laki itu untuk berjalan menuju pentry
Chinsun medekati jaejung
"Apa ada yang aku lewatkan oppa?"
"Ani, kau tidak melewatkan apa pun. Kajja kita makan" ajak jaejung
"Em"
Mereka berdua pun penyusul menuju pentry untuk makan sushi tadi.
Tak terasa jam pun sudah menunjukkan pukul 5 waktunya pulang. Dan ngomong-ngomong tadi jonghyung sudah pulang terlebih dahulu karena orang tua nya datang.
"Kajja chinsun kita pulang" ucap chunghee
"Ne"
Mereka pun turun dan berjalan keluar gedung. Langkah chinsun terhenti saat jaejung mencekal tangannya sontak hal itu membuat nya tersentak
"Mian membuatmu terkejut, em chinsun bolehkah aku meminta nomor mu?"
Chinsun mengerjapkan matanya lucu. Lalu mata sabitnya muncul ketika dia tersenyum
"Boleh, mana handphone mu oppa aku akan menulisnya"
Jaejung pun memberikan handphone nya. Chinsun menuliskan nomor nya lalu memberikannya kembali
"Gomawo"
"Chinsun aku juga mau nomormu" rengek daejung
Chinsun pun tersenyum dan akan mengambil ponsel daejung tapi terhenti karena jaejung menyelanya terlebih dahulu
"Nanti aku akan mengirimnya hyung jadi tidak perlu kau meminta nya" tegas jaejung
Belum sempat membalas ucapan jaejung. Chunghee lebih dulu memerintahkan chinsun untuk masuk.
Dan jadilah daejung yang terus mencibir sendiri.
Tak terasa 3 bulan sudah chinsun bekerja disana. Ia benar-benar
menikmati pekerjaan nya.
Chinsun sudah mulai menangani proyek sendiri ya walaupun itu proyek kecil dan tentu dia masih terus dibimbing oleh jaejung.
Pagi ini seperti biasa ia berangkat dengan ceria. Ia memasuki gedung dengan bersenandung ringan.
Ia melihat diluar sudah ada mobil chunghee dan jonghyun. Ia pun segera naik berniat untuk segera bertemu mereka.
Namun langkah nya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan chunghee dan jonghyun
"Jadi sekarang katakan pada ku, apakah benar dugaan ku tentang alasan mu mengajak chinsun untuk bekerja disini?" Tanya jonghyun
"Awalnya begitu hyung, permainan biola itu membuat ku teringat pada hyunji, setelah beberapa kali kami bertemu aku semakin teringat pada hyunji matanya, cara dia bersikap pada ku sama persis seperti hyunji,caranya tertawa aku benar-benar seperti melihat hyunji pada dirinya" jelas chunghee menghela nafasnya berat
"Kau keterlaluan chunghee, apakah kau tidak memikirkan perasaanya hah? Lalu sekarang bagaimana perasaanmu padanya?" Tanya jonghyun dengan penuh penekanan
"Awalnya aku merasa dia adalah hyunjin hyung, tapi semakin aku mengenal nya semakin aku merasa bersalah tak seharusnya aku menyamakan nya dengan hyunjin. Mereka berbeda, chinsun gadis polos, gadis yang mampu menarik perhatian ku dengan apa adanya, gadis pekerja keras dan mau belajar, gadis yang...sempurna hyung. Sangat berbeda dengan hyunji gadis penghianat itu.
Aku merasa bersalah hyung setiap aku bersamanya" sesal chunghee
"Hah,lupakan hyunji dan yakin kan perasaan mu. Dari sorot mata mu saat kau melihatnya aku tau kalau kau mencintai chinsun. Bahkan dari sikap mu padanya pun sudah menunjukkan kalau kau mencintai gadis polos itu. Nyatakan perasaan mu padanya chunghee Sebelum semuanya terlambat. Dan ingat kau harus melupakn hyunji dan mulailah semuanya dari awal" ucap jonghyun sambil menepuk pundak chunghee.
Chunghee menagguk
Chinsun mendekap mulutnya agar tangis nya tak terdengar. Tubuhnya luruh seperti semua tulang nya tercabut hingga ia tak bisa menopang badannya. Ia menuruni tangga dengan langkah gontai dan airmata nya yang sudah seperti sungai.
"Eoh, chinsun wae?" Tanya jaejung yang baru saja akan menaiki tangga tapi langkahnya terhenti ketika melihat chinsun menangis ia pun mencekal tangan gadis itu.
"Op-pa.." isak nya dalam pelukan jaejung
"Uljima...kau jelek kalau menangis seperti ini" hiburnya sambil mengelus pungung sempit gadis itu.
Chinsun pun menghadiahi cubitan pada perut jaejung.
"Yak appo" ucapnya sambil meringis.
Ia lalu melepaskan pelukannya pada gadis itu dan menghapus airmata pada pipi gadis itu.
"Wae? Kenapa kau menangis heh?"
"Aniyo, oppa tolong berikan ini pada chunghee oppa. Mian aku tidak bisa memberikan langsung padanya. Dan tolong sampaikan padanya kalau aku akan mengambil cuti. Aku memerlukan waktu untuk sendiri. Oppa kamsamnida aku pergi dulu" pamit chinsun dengan derai airmata yang lagi-lagi membasahi pipinya.
Ia tak mengindahkan panggilan jaejung.