Jessy

Jessy
Ketenangan



"Tenangku adalah menikmati sunyi yang damai dan dipadukan hembusan angin"


"Huftt hari yang melelahkan" ucap Jessy lirih sembari berbaring di atas kasurnya.


Sekarang Jessy sudah berada di dalam kamarnya setelah di antar oleh Reno. Dia berbaring melepas lelah setelah sebelumnya membersihkan diri dikamar mandi dan berganti baju.


Setelahnya Jessy telah berada di alam mimpi. Tidur memang menjadi hal yang tepat untuk mengistirahat tubuh ketika lelah datang.


»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊‎​​⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶


Pagi ini Jessy berangkat dengan Reno.


Banyak mata memandang ke arah mereka dari memasuki gerbang sampai tiba di parkiran. Bahkan ada juga yang berbisik-bisik tentang mereka.


Reno melepas helmnya, "Buruan masuk, jangan dengerin omongan mereka"


ucap Reno mengusap kepala Jessy.


"Iya, makasih kak" Jessy beranjak pergi, tapi sebuah panggilan menghentikan langkahnya.


"Jes?" Jessy berbalik menghadap Ren.


Jessy berbalik "Apa?" tanyanya.


"Pulang bareng gue ya" pinta Reno.


Jessy mengangguk "iya" kemudian meneruskan langkahnya, tapi lagi-lagi ada yang memanggilnya. Siapa lagi kalo bukan Reno.


"Apa lagi sih kak" kesalnya.


Reno terkekeh "hati hati" katanya.


"Iya kak, iya. Udah kan? Bye!" ketus Jessy lalu beranjak pergi meninggalkan parkiran dan menuju kelasnya.


Reno yang melihat kekesalan Jessy hanya terkekeh. Menurutnya Jessy itu sangat lucu ketika sedang kesal.


»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊‎​​⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶


Dan sekarang Jessy sedang duduk bersama Belva dan Sisil di kantin setelah jam istirahat berbunyi.


"Eh Jes, lo akrab sama kak Reno ya?" tanya Sisil penasaran.


Jessy mengangguk pertanda membenarkan pertanyaan Sisil.


"Terus lo tadi berangkat sama dia?" Sisil kembali bertanya.


Jessy kembali mengangguk.


"Terus kepala lo tadi di usap usap sama dia?" tanyanya lagi. Memang benar dia tadi sempat melihat saat Reno mengusap kepala Jessy.


Jessy lagi lagi hanya mengangguk.


Sisil berdecak "Jes, kalo orang tanya di jawab kek. Bukan malah cuma ngangguk doang" ucapnya kesal.


Belva tertawa melihat kekesalan Sisil.


"Lo sih, udah tau Jessy males kalo ngadepin lo saat lagi dalam mode kepo, eh lo malah terusan nyrocos" ujar Belva.


Jessy mengangguk berkali kali membenarkan perkataan Belva.


Mereka melanjutkan makan mereka dengan perbincangan kecil. Sedangkan dimeja lain yaitu dimeja Kevin dan ketiga temannya, mereka tengah menggosipkan sesuatu, kecuali Kevin.


"Eh eh gue ada gosip baru nih" ujar Allan semangat.


"Apa tuh apa?" tanya Dicky. Biasalah diakan emang tukang kepo.


"Dasar kalian si tukang gosip" sinis Reza.


"Alah gini gini lo juga dengerin kan" sinis Allan.


"Udah jangan di tanggepin. Dia mah hidupnya hampa kayak si Kepin. Ga kayak kita berwarna, penuh warna" ucap Dicky nglantur.


"Ga jelas lo" ketus Reza.


Dicky mengacuhkan ucapan Reza dan fokus kepada Allan karena sudah terlalu kepo tentang apa yang akan di ucapkan oleh Allan.


"Jadi ada gosip apa hari ini" tanya Dicky menyodorkan sendok ke arah mulut Allan dan dibalas tepisan Allan. Dasar si Dicky, dia kira lagi wawancara? haha.


"Ga usah pakek sendok. Jadi gini, masak ya gue tadi liat dedek gemes gue berangkat sama si ketos" kata Allan memberitahu.


"Dedek gemes?" bingung Dicky.


Allan mengangguk "iya si Jessy" sontak Allan mendapat jitakan dari Dicky.


"Itu mah biasa. Dia kan dulu juga pernah berangkat sama si ketos" ucap Dicky.


"Tapi ini beda men. Masak tadi dia ngelus elus kepala Jessy. Dan yang lebih anehnya, tadi si Jessy yang terkenal jutek itu seketika jadi banyak senyum kalo bareng sama si ketos itu. GILA KAN?" Heboh Allan.


"Gila gila gila" Dicky menggeleng gelengkan kepalanya.


Reza hanya geleng geleng kepala. Heran dengan kedua temanya itu yang tukang gosip.


Sedangkan Kevin diam diam menguping obrolan kedua temanya itu.


»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊‎​​⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶


"Jes gue bosen" keluh Belva.


"Sama" ucap Jessy.


"Tuh guru betah banget si ngocehnya" kesal Belva.


Saat ini mereka sedang mendengarkan materi pelajaran Bhs Indonesia yang sedang di sampaikan oleh Bu Sulistya.


"Bolos yuk?" tanya Jessy yang lebih tepatnya adalah sebuah ajakan.


"Ga, lo mah enak pinter. Nah otak gue pas pasan masa gue mau bolos"


"Bolos sekali ga bikin lo bodoh" setelah Jessy berbicara dia izin pergi untuk ke toilet, sebuah alasan klasik.


Jessy telah berada di luar kelas. Dia berjalan menyusuri koridor lalu langkah kakinya berhenti di kantin sekolah.


Jessy membeli permen berjumlah 4. Setelah selesai membayar, dia melangkah pergi meninggalkan kantin dan kembali berjalan menyusuri koridor.


Kakinya melangkah menaiki tangga, hingga ke lantai 4.


Jessy membuka sebuah pintu yang ada di balik pintu. Dia sangat penasaran, mengapa disini hening tidak ada suara.


Ceklek!


Pintu terbuka, menampilkan sebuah atap, atau lebih tepatnya rooftop.


"Bagus juga" ucapnya dengan menyunggingkan senyum.


Jessy duduk di kursi panjang yang terletak di pinggiran rooftop lalu memakai headset dan memakan permenya.


Hembusan angin menerpa wajahnya. Suasana sangat menenangkan. Karena terhanyut dalam suasana, Jessy sampai tak sadar bahwa di pintu telah berdiri seseorang yang sekarang sedang memandangnya.


Seseorang itu mendekat ke arah Jessy.


"Ehem"


deheman laki laki itu.


Jessy tak mendengarkanya, karena dia memakai headset.


Laki laki itu mecabut headset yang ada ditelinga Jessy.


"Eh?" Jessy menengok kebelakang. Betapa terkerjutnya dia melihat seorang laki laki berdiri di belakangnya tanpa ekspresi.


"Ngapain?"


tanya laki laki itu.


"Ha?" bingung Jessy.


"Ck, lo ngapain disini"


"Masak" ucap Jessy asal.


"Bukanya lo lagi duduk ya"


"Udah tau nanya"


ketus Jessy.


Laki laki itu duduk disamping kanan Jessy.


"Ngapain ikutan duduk" tanya Jessy ketus.


"Ga boleh?"


"Oh boleh kok kak. Yaudah gue pergi dulu"


Saat Jessy akan beranjak pergi, tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh laki laki tadi.


"Ngapain pergi?" tanyanya.


"Serah gue dong" ketus Jessy.


"Ck, duduk lagi cepet"


perintah laki laki itu dengan ketusnya.


Jessy menurut, toh dia juga pengen lama lama disini. Karena suasananya tenang.


Hening


Hingga akhirnya laki laki itu yang mulai membuka suara terlebih dahulu.


"Lo bolos ya"


"Iya"


Buset jujur banget batin laki laki itu heran.


"Kenapa?"


"Bosen" singkat Jessy.


Keheningan menyelimuti mereka kembali.


"Lo suka permen ya?" tanya Kevin kembali memecahkan keheningan.


"Iya"


"Kok lo dingin banget"


"Ngaca"


Eh iya ya gue kan juga dingin batin Kevin heran.


"Gue kan cowok" balas Kevin.


"Diem deh kak, dari tadi lo cerewet mulu"


Eh? iya juga ya? kenapa gue tiba tiba jadi cerewet?


"Suka suka gue dong"


Balas Kevin ketus.


"Serah lo aja deh, nih ambil buat nyumpelin mulut lo" Jessy mengulurkan permennya ke arah Kevin.


**ADUH, GUE KOK JUGA PENGEN PERMEN YA:(


TAHAN LAGI PUASA**