Jessy

Jessy
Pulang



"Aku ingin kau menjadikanku tempatmu untuk pulang"


Jam pulang telah tiba. Semua murid Sma Starsmoon berkemas-kemas untuk pulang kerumah masing-masing atau pergi main bersama teman mereka. Walau ada juga yang sudah siap untuk pulang, mungkin karena tadi jam terakhir kelas mereka kosong.


Ada satu gadis dan dua temannya yang masih dikelas. Entah apa yang mereka lakukan.


"Jes, lo pulang bareng siapa nih?"tanya Belva kepada Jessy. Pasalnya Jessy pulang selalu tak tentu. Terkadang ia naik bus, dijenput supirnya dan yang terakhir pulang bersama Reno.


"Naik bus" jawab Jessy singkat.


"Ga bareng gue aja?" tanya Sisil.


"Ga usah. Lagian rumah lo sama gue ga searah." jawab Jessy. Memang benar rumahnya dan rumah Sisil serta Belva berbeda arah. Akan sangat merepotkan nanti jika salah satu dari mereka mengantarkanya pulang terlebih dahulu.


"Gapapa Jessy, dari pada lo nanti harus nunggu bus" Sisil berusaha meyakinkan Jess.


"Ga usah Sil, meding lo pulang duluan gih. Ntar dicariin lagi, jam segini belum pulang." suruh Jessy.


"Ya udah gue pulang dulu ya Jes, Bel" pamit Sisil, lalu keluar kelas dan melambaikan tangan ke arah Jessy dan Belva.


"Gue juga pulang dulu ya Jes udah dijemput nih" ucap Belva bergegas pergi. Karena supirnya sudah datang menjemputnya.


"Iyaa, thanks ya udah nemenin gue piket" ucap Jessy.


"Oke" jawab Sisil dan Belva serempak.


Sementara dilain tempat, Kevin dan ke tiga temanya masih menongkrong di sebuah warung dekat halte bus.


Halte bus itu letaknya juga tidak jauh dari sekolah mereka. Malah bisa dibilang dekat dengan sekolah mereka.


Jadi, warungnya juga dekat dengan sekolah mereka tapi letaknya di sebrang jalan. Maka dari itu, karena letaknya dekat dengan sekolah, tempat itu sering dijadikan tempat untuk membolos para siswa Sma Starsmoon.


Warung itu sudah seperti tongkrongan bagi Kevin dan teman-temanya sepulang sekolah dan sewaktu bolos jam pelajaran. Selain warung itu Kevin dan ketiga temanya juga sering nongkrong di sebuah Cafe ataupun rumah mereka. Paling sering sih dirumah Kevin.


»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊‎​​:✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶


Jessy yang sudah mengemasi buku- bukunya lalu berjalan ke luar kelas dan menuju gerbang. Dia berjalan sendirian ke arah halte bus, untuk menunggu bus datang.


"Bis nya mana sih ga keliatan dari tadi, cih udah sore lagi." caci Jessy yang sebal dari tadi menunggu bus tapi tidak ada satupun bus yang lewat dari tadi.


"Eh itu bukannya adik kelas yang tadi ya?" tanya Dicky sambil menunjuk ke arah Jessy. Tadi tanpa sengaja tatapanya mengarah ke arah halte bus.


Suara Dicky membuat ke tiga temannya itu menengok ke arah yang dituju Dicky. Dan benar saja disana ada seorang gadis yang sedang menunggu bus sendirian di halte dekat sekolah.


"Vin buruan gih samperin" goda Allan dengan menyenggol lengan Kevin. Siapa tahu Kevin maukan?


"Bukan urusan gue" ketus Kevin sebal. Memangnya siapa cewek itu? Saudara bukan, temen juga bukan. Apalagi pacar juga bukan.


"Kasian tuh dari tadi nungguin bus, tapi ga ada yang lewat" kata Dicky yang sedang minum es tehnya.


"Jam segini mana ada bus yang lewat sini" sambung Reza memberitahu.


"Ya elah Vin buruan samperin gih, kasian tuh." kata Allan.


"Iya bener kata Allan, terus nanti lo sekalian minta maaf soal yang tadi pagi" usul Reza


"Apa gue aja nih yang nyamperin. Terus gue anter pulang deh. Kan lumayan jok motor gue ada yang ngisi" goda Dicky.


"Berisik kalian" ketus Kevin yang sebal dengan teman temannya.


Kevin berjalan mengambil jaket dan kunci motornya lalu pergi menuju motornya.


"Gue cabut dulu" kata Kevin dengan muka datarnya sambil menaiki motor sportnya yang berwarna hitam.


"Hah? Kemana?" tanya ke tiga lelaki itu kompak.


"Tuh" jawab Kevin dengan mengarahkan kepalanya ke arah Jessy.


"Wah benih benih cinta nih" goda Allan.


"Bacot" ketus Kevin singkat dan melajukan motornya menuju ke arah halte bus, tempat Jessy menunggu bus.


Jessy sedang memainkan hpnya, dan tiba tiba ada motor yang berhenti didepannya. Jessy langsung melihat ke arah motor itu dan matanya membulat terkejut ketika melihat orang yang menaiki motor sport hitam itu.


"Naik" titah Kevin setelah dia melepaskan helmnya.


"Ha?" tanya Jessy masih dalam lamunannya.


"Gue anter lo pulang, cepet naik" kata Kevin yang geram dengan Jessy.


"Ga usah" tolak Jessy.


"Lo mau nunggu bus sampe malem? Jam segini ga bakalan ada bus yang lewat" jelas Kevin.


"Oh" jawab Jessy singkat dan tetap pada posisi awalnya tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya.


"Malah oh-_- buruan naik gue tinggal nanti" kesal Kevin kepada Jessy.


"Nih" Kevin memberikan jaketnya kepada Jessy sebelum Jessy naik.


"Buat?" tanya Jessy.


"Nutupin paha lo" ucap Kevin.


"Oh" kata Jessy dengan mengambil jaket yang diberikan Kevin.


Busett nih cewek dari tadi irit kata,


Batin Kevin.


"Padahal ga usah juga kalik. Kan rok gue ga pendek pendek amat" ujar Jessy.


Eh! iya juga ya? Ngapain juga gue tadi ngasi jaket ke dia? Batin Kevin bingung sendiri.


"Buat jaga jaga" ujar Kevin.


"Hem yaya serah, buruan jalan" ucap Jessy.


Kevin pun segera melajukan motornya menjauh dari halte bus.


»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊‎​​⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶


Di perjalanan, tidak ada pembicaraan panjang di antara mereka berdua. Hanya Jessy saja yang berbicara, itupun dia berbicara karena memberi arahan untuk Kevin menuju rumahnya.


Hanya hening yang ada, hingga Kevin pun memutuskan untuk memecahkan keheningan di antara mereka berdua. Entah kenapa, jika berada didekat Jessy, dia tidak suka keheningan.


"Maaf" kata Kevin di tengah perjalanan.


"Untuk?" tanya Jessy bingung, sambil melihat ke Kevin.


"Yang tadi pagi"


"Oh" kata Jessy datar.


"Terus?" tanya Kevin penasaran.


"Iya" jawab Jessy singkat.


"Iya apa?" kevin menengok ke arah spion.


"Iya aku maafin kamu"


"Sejak kapan aku kamu?"


"Sejak tau kamu kakak kelas aku" jawab Jessy.


"Ga usah pake aku-kamu, lo nggak cocok jadi adek kelas sopan"


"Ish! Gue juga punya sopan santun kalik kak" ujar Jessy.


"Iya iya bawel" ketus Kevin.


"Dasar kak... Em kak siapa namannya?" Tanya Jessy.


"Emang lo ga tau siapa gue?" tanya Kevin penasaran.


"Nggak" jawab Jessy singkat. Sebenarnya dia tahu, toh tadi Belva dan Sisil memberitahunya. Tapi dia lupa. Hem sama saja.


"Gue Kevin Orlando Prasetya, kelas XI IPS 1, lo Jessy kan?" Kevin melihat ke arah spionnya.


"Iya Jessy Natalia Putri dari kelas X IPS 1" Jessy menatap ke arah Kevin lebih tepatnya ke arah spion motor Kevin.


"Oh" Kevin hanya membalas singkat. Karena sebenarnya di sudah tahu dari name tagnya dan bed kelasnya.


Lalu hening kembali, tidak ada percakapan lagi di antara mereka berdua.


»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊‎​​⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶


Setelah tadi Jessy memberi arahan kepada Kevin menuju rumahnya, akhirnya mereka sampai di rumah Jessy. Dan ternyata dia pulangnya satu arah dengan Kevin.


"Makasih tumpanganya dan jaketnya" ucap Jessy setelah turun dari motor, dan memberikan jaket Kevin kembali.


"Ya, anggep aja sebagai permintaan maaf gue" kata Kevin dan mengambil jaketnya.


"Permintaan maaf diterima. Hati hati di jalan" ucap Jessy.


"Ya" Jawan kevin singkat.


Kevin menyalakan motornya lalu pergi meninggalkan Jessy yang masih digerbang.


Jessy hanya menatap punggung Kevin yang semakin menjauh lalu hilang tak terlihat, kemudian masuk kedalam rumahnya.


"Hah ngeselin banget tuh orang. Gue juga punya sopan santun kalik. Ya walaupun banyak judesnya" gerutu Jessy saat berjalan ke arah pintu rumahnya.