
Senyumanmu manis,
namun sayang bukan untukku
🌻🌻🌻
Malam ini adalah malam minggu. Malam yang selalu dinanti orang-orang. Karena biasanya pada malam minggu sebagian besar orang lebih memilih untuk keluar rumah untuk menghabiskan waktu. Entah itu keluar dengan pacar,teman, atau pun keluarga. Tapi ada juga yang berdiam diri dirumah. Mungkin karena orang itu jomblo.
Di malam minggu ini Jessy sedang berada di cafe Mars. Sebuah cafe yang letaknya di dekat kompleks perumahan Jessy. Sekaligus cafe yang menjadi tempat favoritnya.
Cafe Mars juga sering dikunjungi oleh para anak muda. Mulai dari anak smp, sma, kuliah. Tak hanya itu, para orang dewasa yang lelah dengan pekerjaannya juga sering kesini sekedar untuk menghilangkan penat mereka.
Gadis cantik itu sedang duduk di dekat jendela. Dapat dilihat dari tempatnya duduk bahwa jalanan terlihat sangat ramai. Pemandangan yang sudah biasa di malam minggu.
"Woi" teriak seseorang menepuk bahu Jessy.
"Sisil!" geram Jessy dengan memegangi dadanya karena terkejut. Sedangkan sang tersangka hanya cengegesan tidak jelas.
"Untung gue ga punya riwayat jantung" lanjutnya dengan helaan nafas.
"Hehe sorry. Habisnya lo sih ngelamun mulu, kita udah dateng aja lo gak tau" Sisil terkekeh.
"Hem serah" kesal Jessy.
"Udah udah, pesen makanan sama minuman dulu" lerai Belva, karena dia dan Sisil baru datang dan belum memesan makanan dan minuman.
"Hayuklah, gue udah laper nih" ucap Sisil menunjukkan sederetan gigi putihnya.
"Lo sekalian nitip ga Jes?" tanya Belva kepada Jessy. Karena dilihatnya meja mereka masih kosong, yang berarti Jessy belum memesan.
"Iya,samain aja" balas Jessy.
Belva mengangguk lalu pergi untuk makanan serta minuman dan di susul Sisil di belakangnya.
Tak lama setelah kepergian Belva dan Sisil, pintu cafe terbuka. Menampakkan empat orang laki laki yang tampan. Kehadiran mereka menyita perhatian para pengunjung yang sedang berada di sana. Tapi tidak dengan Jessy. Dia tampaknya sedang asik melamun kembali hingga tak menyadari kehadiran ke-empat laki laki itu yang sekarang sedang berada di sampingnya.
"Ehem" deheman salah satu dari ke empat cowok itu memecahkan lamunan Jessy.
"Eh?" kikuk Jessy sedikit terkejut ketika melihat orang yang ada dihadapannya.
"Em kita boleh duduk disini?" tanya Allan sedikit ragu.
Ya ke empat cowok itu adalah, Allan, Dicky, Reza dan Kevin tentunya.
Jessy tampak mengerutkan alisnya pertanda dia bingung. Dicky yang mengerti dengan kebingungan Jessy segera angkat bicara.
"Jadi gini, kan cafenya penuh tuh. Nah berhubung meja lo masih kosong, dan lo juga anak Starsmoon kan? jadi kita duduk disini boleh?" kata Dicky panjang lebar yang di akhiri sebuah pertanyaan.
Jessy mengedarkan padanganya untuk meneliti seluruh isi cafe. Dan benar saja, ternyata semua kursi penuh. Jessy kembali menatap ke empat cowok itu, lalu sedetik kemudian mengangguk.
"Boleh nih?" tanya Allan memastikan yang di balas anggukan oleh Jessy.
Kemudian ke empat cowok itu duduk di meja yang sama dengan Jessy.
"Gue pesenin, kalian pesen apa?" tanya Reza kepada ketiga temannya.
"Gue samain aja" ucap Allan.
"Gue juga" kata Dicky
"Lo Vin?" tanya Reza kepada Kevin yang hanya diam saja dari memasuki cafe hingga duduk di kursi.
"Samain" kata Kevin singkat.
"Lo ga pesen Jes?" tanya Allan.
"Udah tadi" singkat Jessy.
"Ya udah gue pesenin dulu" pamit Reza.
Dimeja itu tinggal Allan, Dicky, Kevin dan Jessy yang ada di sana. Satu kata untuk mereka, canggung. Bingung harus memulai obrolan dari mana. Karena memang sebelumnya mereka tidak pernah mengobrol bersama.
"Ehem, lo sendirian Jes?" tanya Dicky membuka obrolan.
"Bertiga" jawab Jessy.
"Sama?" tanya Dicky lagi. Emang dasar si tukang kepo.
"Temen" jawab Jessy singkat.
"Oh" ucap Alan dan Dicky bersamaan.
"Apaan lo ikut ikutan" kesal Allan.
"Lo yang ngikutin gue" tuduh Dicky.
"Kok gue, lo lah" bantah Allan.
"Lo"
"Lo"
"Lo"
"Bisa diem?" ketus Kevin dengan nada dinginya, yang seketika membuat Allan dan Dicky diam.
Sedangkan Jessy hanya diam saja memperhatikan perdebatan kedua teman Kevin.
Tak lama setelah itu, Belva dan Sisil datang. Lalu dibelakangnya ada Reza.
"Eh hai kak" sapa Sisil.
"Hai juga, gue gabung gapapa kan?" tanya Dicky.
"Gapapa kok, sans aja" ujar Sisil.
"Sorry ya Jes lama" ucap Belva tak enak hati. Sedangkan yang di ajak bicara hanya mengangguk saja.
"Tadi si Sisil tuh bingung mau mesen, trus pake ketoilet, trus toiletnya trus--"
"Iya gapapa" ucap Jessy memotong pembicaraan Belva. Bisa panjang lebar kalo semisal Belva meneruskan perkataanya. Ntar yang ada malah di akhiri pertengkaran kecil antara Belva dan Sisil.
Mereka mulai berbincang dan saling bertukar cerita. Sesekali mereka tertawa bersama. Kecuali dua orang manusia, Kevin dan Jessy.
Entahlah, mereka kelihatannya hanya menunjukkan muka datar dan hanya memperhatikan teman mereka berbicara tanpa mau menimbrung obrolan mereka.
Mungkin mereka berdua tengah dilanda kebosanan.
Begitulah Kevin, yang selalu dingin kepada setiap orang. Dan juga Jessy, selalu membatasi diri dengan orang baru.
Ting!
Suara notifikasi pesan masuk dari hp Jessy. Buru-buru ia buka, dan sekilas menyungingkan senyum ketika mendapatkan notif dari Reno. Entah mengapa tetangganya itu selalu bisa menbuatnya tertawa dan tersenyum. Baik saat berbicara langsung maupun saat hanya chattingan.
Semua gerak gerik Jessy tak luput dari pandangan seseorang, Kevin. Dari senyum gadis itu, lalu tawanya dan raut wajah kesalnya. Menurutnya, tingkah Jessy sangat lucu. Walau dingin dan muka datar, tetapi ada sisi lain dari Jessy yang tak terlihat. Tanpa sadar ia tersemyum saat melihat raut kesal di wajah Jessy.
"Lo ngapain senyum senyum sendiri?" selidik Allan saat menangkap senyuman diwajah Kevin.
Seketika Kevin langsung saja merubah wajahnya menjadi raut datar kembali.
"Gapapa" jawabnya singkat.
Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Para remaja yang berada di cafe Mars berbondong bondong pulang. Walau ada sebagian juga yang masih betah disana.
Jessy melambaikan tangan ke arah Belva dan Sisil yang telah memasuki mobil mereka masing masing.
Saat mobil Belva dan Sisil tak terlihat lagi oleh matanya, Jessy melangkah pergi meninggalkan cafe dan menuju rumahnya.
"Tunggu" suara dingin serta cekalan tangan menghentikan langkah kakinya.
Jessy menoleh "apa?" tanyanya.
"Gue anter" tanpa aba-aba, orang itu menarik tangan Jessy menuju parkiran.
"Gue bisa pulang sendiri" tolak Jessy berusaha melepaskan cekalan tangan orang itu.
"Ga ada penolakan" ucap orang itu datar.
"Dasar pemaksa!" Ketusnya pada Kevin.
»̶·̵̌Ì·̵̌Ì✽̤̈̊‎​​⌣✽ ̤̥̈̊·̵̌Ì·̵̌Ì«̶
Hening yang menggambarkan suasa di antara dua orang yang berada diatas motor klx warna hitam. Malam ini Kevin menggunakan motor klx hitamnya.
Mata Kevin melirik ke arah spion motornya. Dilihatnya Jessy sedang memeluk tubuhnya sendiri.
Kevin segera menepikan motornya di jalanan yang sedikit lenggang ini.
"Kok berhenti disini" ucapnya bingung. Pasalnya mereka berhenti di jalanan yang sepi.
Kevin turun dari motor diikuti Jessy yang turun. Dia melepaskan jaketnya, memakaikan kepundak Jessy. Lalu naik lagi ke motornya dan menyuruh Jessy untuk segera naik. Gadis itu tidak menolak jaket Kevin, mungkin karena dia memang benar-benar kedinginan.
Tak lama kemudian mereka sampai didepan rumah Jessy. Karena memang jarak rumah Jessy dengan cafe Mars tidak terlalu jauh.
"Makasih" ucap Jessy, menyodorkan jaket Kevin.
Kevin mengangguk dan menerima jaket itu kemudian memakainya. Pandangannya melihat ke arah rumah Jessy.
"Lo sendirian?"
Jessy memasang ekspresi bingung. Bingung dengan maksud pertanyaan dari Kevin.
Kevin menghembuskan nafasnya. Butuh kalimat panjang untuk berbicara dengan orang di depanya ini.
"Lo dirumah sendirian?"
Jessy mengangguk tanda meng-iyakan.
"Ortu lo?"
Raut muka Jessy berubah sendu, lalu tersenyum singkat sebelum menjawab "kerja" ucapnya singkat.
"Belum pulang?" tanya Kevin.
Jessy diam. Dia bingung harus menjawab apa. Dia sendiri saja tidak tau orang tuanya akan pulang atau tidak.
"Iya" jawab Jessy seadannya.
"Emang mereka kema--" ucapan Kevin terpotong oleh ucapan Jessy.
"Udah malem" sahut Jessy memotong.
"Terus?"
"Lo ga pulang?"
"Lo ngusir gue?" Jessy mengangguk.
Kevin mendengus kesal. Lalu menaiki motornya.
"Buruan masuk" titah Kevin, dan di angguki oleh Jessy.
Setelah Jessy masuk ke rumahnya, Kevin segera melajukan kendaraanya untuk kembali pulang menuju rumahnya.
**DINGIN KETEMU DINGIN YA GINI NIH JADINYA
SEBENERNYA JESSY GA DINGIN AMAT SIH, DIA EMANG GITU SAMA ORANG YANG BARU DIA KENAL
OKE JANGAN LUPA LIKENYA YA🌻**