
"Jangan suka menebak, takutnya nanti patah hati"
Tok tok tok
Suara ketukan pintu di sebuah ruangan yang bertuliskan ruang osis.
"Masuk" ucap seseorang yang berada di dalam ruangan. Kemudian orang yang tadi mengetuk pintu pun masuk sesuai dengan intruksi dari orang yang berada didalam ruang osis.
Terlihat di dalam seorang cowok duduk di sebuah sofa dan sedang fokus melihat kertas-kertas dihapadannga yang berada di atas meja depan sofa.
"Kak, Reno" panggil orang yang tadi mengetuk pintu.
"Eh, Jessy. Kenapa?" tanyanya lembut. Memang ya Reno itu adalah sosok malaikat yang baik hati.
Dan bagi Jessy, sebuah keputusan yang tepat datang kesini saat suasana hatinya sedang buruk. Karena Reno selalu bisa mengubah suasana hatinya.
"Eh sini dulu, duduk" ujar Reno menepuk tempat duduk yang kosong didekatnya.
Jessy menururuti perkataan Reno. Dia melangkah mendekat mengambil duduk disebelah Reno. Kemudian merogoh kantung roknya, mengambil sebuah permen dari sana dan memberikannya kepada Reno.
"Buat aku nih?" tanya Reno.
"Nggak buat setan" jawab Jessy ketus. Dasar Reno, disanakan cuma ada mereka berdua. Sudah pasti permen itu buat dia.
Reno mengambil permen yang diberikan oleh Jessy "Gitu aja marah" ucapnya sambil terkekeh.
"Habis dari kantin ya?" tebaknya dan Jessy mengangguk. Memang benar dia habis dari kantin, sekedar untuk membeli permen.
"Udah makan?" tanya Reno perhatian. Karena dia tahu, pasti Jessy belum makan.
Jessy menggeleng "belum" tuhkan Reno benar. Dia memang selalu tahu tentang Jessy dan kebiasaanya.
"Yuk temenin gue makan, laper nih" Reno menarik tangan Jessy untuk berdiri dan mengajaknya ke kantin
.
"Buat nemenin apa nyuruh aku makan nih" sinis Jessy. Karena dia tahu, pasti Reno nanti juga akan menyuruhnya makan.
"Dua-duanya hehe" ucapnya.
Jessy menarik sudut bibirkan keatas melengkung, membuat sebaris senyuman.
»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
Mereka berjalan menuju ke arah kantin. Banyak pasang mata memandang ke arah mereka berdua.
Reno merangkul Jessy kemudian berucap, "Udah jangan dipeduli'in biarin aja. Mereka golongan manusia yang iri sama lo" ucapnya.
Jessy mengangguk "Iya" Toh dia juga malas meladeni orang-orang yang hanya bisa mencibir saja.
"Secara lo kan jalan sama ketos ganteng" lanjut Reno membuat Jessy mendelik menatap Reno.
"Ganteng dari mananya coba" ejeknya kepada Reno.Apa-apaan orang yang ada disampinya ini? Narsisnya kumat kalik.
"Gini ya, coba deh gue tanya. Aku sama kamu gantengan siapa?" tanyanya.
"Gantengan kamu lah, aku kan cewek" kata Jessy sebal.
"Tuh barti gue ganteng dong" Reno menaik turunkan alisnya.
"Iyain aja biar seneng" Jessy terkekeh.
Mereka berjalan memasuki kantin dengan tertawa. Dan dengan tangan Reno yang masih merangkul Jessy. Sudah seperti orang yang pacaran saja.
Tidak sadarkah mereka? Saat memasuki kantin dengan tertawa saja sudah menjadi pusat perhatian. Apalagi dengan tangan Reno yang merangkul Jessy. Sudah dipastikan mereka sekarang sudah bergosip ria. Menggosipkan tentang Jessy dan juga Reno.
"Eh si ketos sama dedek gemes pacaran ya? Kok mesra gitu" tanya Allan. Dia sangat tidak ikhlas jika dedek gemesnya sudah ada yang punya. Pengecualian jika yang punya si Kevin, dia akan mengikhlaskanya.
Katanya, kasian si Kepin jomblo dari lahir. Dasar Allan.
"Tau tuh nempel terus" kini giliran Dicky yang berucap.
"Positif aja, siapa tau cuma temen" Reza berusaha menenangkan kedua temanya itu. Sudah dapat dipastikan mereka tidak rela jika Jessy bersama orang lain kecuali Kevin.
"Coba deh tanya sama Joni" usul Dicky. Memang benar Joni sedang duduk bersama keempat kakak kelasnya itu.
Setelah kejadian di koridor, dia diajak ke kantin hanya untuk disuruh menaktrir Allan. Katanya buat ganti rugi inseden tabrakan tadi. Ada-ada saja si Allan.
"Eh lo kan temen sekelasnya si Jessy, nah lo pasti tau kan hubungan dia sama si ketos apaan?" tanya Allan.
"Mana gue tau dia aja setiap gue tanya mesti jawabanya gini 'kepo lo kek Dora' kan bikin kesel tuh" ucap Joni kesal.
Yang berada dimeja itu tertawa mendengar kesialan Joni, kecuali Kevin. Dia fokus dengan gamenya. Walau tadi dia juga sempat melirik ke arah Jessy dan mendengarkan percakapan temanya.
"Ketawa aja terus" kesal Joni.
»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
"Kok pake nasi sih Kak" keluh Jessy. Pasalnya Reno memesankan soto dengan nasi.
"Kan kamu jarang makan nasi, sekalinya makan cuma sedikit. Nah karena udah disini, kamu makan nasi ya" ucap Reno selembut mungkin.
"Tapi kak, aku gamau" rengek Jessy.
"Aku suapin ya?" bujuk Reno agar Jessy mau makan nasi.
Jessy menggeleng "Ga mau" tolaknga.
Reno menyodorkan sendoknya "Buka mulutnya, aaa~"
Jessy menghindar dari suapan Reno, pertanda dia tidak mau makan.
"Jess.. buka mulutnya dong" pinta Reno.
"Nggak mau kak Ren" tolak Jessy. Sungguh keras kepala.
"Makan ya, nanti aku kabulin deh 1 permintaan dari kamu" ucapnya.
"Bener nih?" tanya Jessy memastikan.
"Iya" jawab Reno.
"Ya udah nanti pulang sekolah ke Cafe Mars ya" pinta Jessy.
"Iya iya, tapi makan dulu"
"Oke, aaa" Jessy membuka mulutnya dan Reno mulai menyuapi Jessy. Dan lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian di kantin.
"Wagelaseh, pake suap-suapan segala lagi" ucap Allan keki.
"Wah parah" komentar Dicky.
"Bujuknya pakek apa ya, kok Jessy mau makan. Secara, tadikan dia ga mau" ujar Joni.
"Hem bener juga tuh" ucap Allan membenarkan.
"Pelet mungkin" celetuk Kevin. Entah kenapa melihat Jessy bersama dengan Reno membuatnya kesal. Apalagi mereka terlihat mesra seperti sepasang kekasih.
Gue kenapa sih? batin Kevin.
Perkataan Kevin membuat ke empat orang yang berada dalam satu meja itu beralih menatap seorang Kevin.
"Apa benar tadi itu babang Kepin yang berbicara permisa? Ternyata oh ternya babang Kepin suka bergosip permisa" heboh Joni.
"Uwaw" Allan ikut mengomentari.
"Besok kita syukuran Za" kini Dicky ikut-ikutan.
"Boleh juga Dic" balas Reza ikut-ikutan.
"Sinting lo semua" ketus Kevin merasa kesal.
»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
"Oke anak-anak, jadi tugas kalian adalah membuat makalah tentang sejarah manusia purba yang ada di Indonesia" ucap seorang guru sejarah, bu Beti.
Sekarang kelas Jessy, sedang mempelajari tentang sejarah.
"Eh barti kita buat sejarah tentang Doni dong bu" celetuk Joni membuat semua teman sekelasnya tertawa.
"Joni, sesama teman tidak boleh mengejek" peringat bu Beti tegas.
"Tau tuh bu, Joni kalo punya mulut ga bisa dijaga" ucap Sisil.
"Diem lo toa" ejek Joni.
"Heh siapa yang lo bilang toa" tantang Sisil tak terima. Enak saja bilang toa, menurutnya suaranya itu mirip Ariana Grande.
"Joni, Sisil diam sekarang atau kalian berdua keluar" tegur bu Beti. Beliau sudah muak dengan kedua muridnya itu.
"Keluar aja deh bu, bentar lagi juga pulang" balas Joni.
"Kamu tuh ya, kalau di bilangin sukanya jawab terus" heran bu Beti.
"Kan gunanya mulut buat ngomong bu" celetuk Joni.
"Salah Joni, mulut itu digunakan untuk makan. Jika digunakan untuk bicara, nanti semua orang cerewet kayak kamu" balas Bu Beti.
Perkataan Bu Beti membuat siwa-siswi kelas X Ips 1 tertawa. Menertawakan Joni yang kalah adu mulut dengan Bu Beti.
Nasib.. nasib.. perasaan dari tadi gue diketawain terus dah, batin Joni.
Kasian Joni #sadboy 🤣