
"Bangun selagi bisa, bangkit selagi mampu dan jangan pernah menyerah selagi kau bisa"
Saat sang mentari masih malu untuk bertatapan dengan orang-orang, gadis cantik itu membuka matanya dengan enggan. Entah dia yang masih mengantuk atau malas untuk bangun. Mungkin dia lelah karena semalam mengerjakan tugas yang menumpuk.
Saat dia mulai sedikit sadar dari tidurnya, dia bangun dengan terpaksa, dan menuju ke jendela kamarnya untuk membuka korden dan membiarkan sinar sang mentari masuk ke kamarnya untuk bertamu.
Tak lama setelah itu gadis cantik itu melangkahkan kaki kecilnya menuju ke ruangan di dalam kamarnya. Ruangan itu adalah kamar mandinya. Dia ingin mandi untuk menyegarkan bandanya sebelum kesekolah.
Setelah selesai dia memakai pakaian seragam sekolahnya. Dia juga merapikan rambutnya. Rambutnya hitam, panjangnya sepinggang dan lurus. Dia membiarkan rambutnya terurai.
Saat sinar sang mentari telah terlihat semakin terang, gadis cantik itu sudah siap untuk berangkat sekolah.
Gadis itu adalah Jessy Natalia Putri yang biasa dipanggil Jessy. Dia adalah gadis yang cantik, matanya sangat indah membuat orang yang melihatnya terpana. Dia juga memiliki kulit yang putih dan mulus.
Setelah selesai Jessy turun dari lantai atas atau lantai dua yaitu letak dimana kamarnya dan menuju ke ruang makan untuk sarapan.
Dia sarapan sendiri karena orang tuanya bekerja di luar negeri dan pulang ketika liburan atau saat ada acara. Orang tuanya adalah orang yang gila kerja. Yang ada difikiran mereka hanyalah kerja, kerja, dan kerja.
Orang tua Jessy kerja untuk Jessy, anak gadis mereka. Namun mereka terlalu fokus dengan pekerjaan, hingga lupa dan jarang kumpul dengan anaknya. Bahkan hanya untuk tinggal bersama, mereka enggan melakukan karena tuntutan pekerjaan yang jauh dari rumah.
Jessy tinggal dirumah bersama pembantunya atau bisa disebut bi Inem serta satpamnya sekaligus supirnya.
Bi Inem sudah bekerja dirumah Jessy selama bertahun tahun, dari Jessy kecil sampai Jessy dewasa dan merawat Jessy seperti anak kandungnya sendiri. Jessy sudah menganggap bi Inem sebagai ibu keduanya. Karena ibu Jessy tinggal di luar negri bersama ayahnya.
Setelah selesai sarapan Jessy pergi berangkat sekolah. Dia masih berstatus sebagai pelajar SMA.
Jessy adalah murid SMA STRASMOON. Sma ter famous di kotanya, kota Jakarta.
Jessy sekarang duduk di kelas X IPS 1. Dia memang masih kelas 10 dan bisa dibilang murid baru walau sudah hampir satu semester dia sekolah disana. Bisa dibilang setengah semester.
Jessy termasuk anak yang pintar, awalnya dia ditepatkan dikelas X IPA 1 tapi karena dia tak mau di kelas IPA jadi dia pindah ke kelas IPS yaitu X IPS 1. Alasanya cukup sederhana, karena jarang ada jamkosnya atau jam kosong.
»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
"Bi aku berangkat sekolah dulu ya" ucap Jessy ketika melihat bi Inem.
"Ya non, hati hati dijalan~" jawab bi Inem dengan suara lembut dan mengeluarkan senyuman tulus.
"Iya bi..." Jessy menatap dan membalas kembali sapaan senyuman bi Inem.
Ehm, hari ini naik bus lagi aja ah, batin Jessy
Ayahnya sebenarnya sudah menyuruhnya menggunakan mobil yang dihadiahkan ayahnya kepada Jessy ketika ulang tahun Jessy yang ke 17. Tapi Jessy bersikeras agar dia berangkat pakai bus saja. Pada akhirnya mobilnya hanya menjadi pajangan di rumahnya dan hanya Jessy gunakan ketika pergi jauh, seperti ke mall dan yang lainnya.
"Pagi non" sapa pak satpam sekaligus supir Jessy.
"Pagi juga pak Ujang" membalas sapaan pak Ujang dengan Ramah
"Berangkat naik bus lagi non?" tanya pak Ujang.
"Hehe iya pak" Jessy hanya menyengir.
"Tidak sama den Reno non?" tanya pak Ujang lagi.
"Enggak pak. Kak Ren berangkat pagi, jadi ga bisa bareng" jelas Jessy
Memang terkadang Jessy berangkat ke sekolah dengan teman masa kecilnya. Tapi karena hari ini temanya itu sibuk jadi dia berangkat dengan menaiki bus dan biasanya Jessy menunggu bus di sebuah halte dekat sebuah Cafe.
Nama cafenya adalah Cafe Mars. Sebuah cafe favorit yang selalu Jessy datangi sepulang sekolah atau saat weekend. Saat Jessy merasa jenuh dirumah terkadang dia pergi ke cafe itu untuk menghilangkan kejenuhanya.
"Pak tolong anterin Jessy ke halte dong." pinta Jessy.
"Siap non, bentar saya ambil mobil dulu." pamit pak Ujang.
"Oke pak" balas Jessy ramah.
Setelah sampai di halte, Jessy turun dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada pak Ujang. Setelah itu dia menunggu bus tiba.
Saat bus tiba, Jessy masuk kedalam bus. Biasanya jika ada tempat duduk Jessy duduk tapi hari itu entah kenapa tidak ada tempat duduk yang kosong dan dengan terpaksa dia berdiri dengan satu tanganya memegang besi pegangan agar tidak jatuh. Dia berdiri sampai nanti ke tempat tujuanya yaitu sekolahnya.
**INI ADALAH CERITA PERTAMA
AKU DAN SEMOGA KALIAN SUKA
DI BAB INI AKU CUMA MAU MENCERITAKAN TENTANG JESSY DAN KEHIDUPAN JESSY SECARA SINGKAT.
PENASARAN DENGAN TEMAN MASA KECIL JESSY? BACA AJA EPISODE SELANJUTNYA
JANGAN LUPA FOLLOW, VOTE DAN KOMENTARNYA UNTUK CERITA JESSY****