
Kau tidak harus terlihat selalu tegar, ada kalanya kau juga harus rapuh. Agar kau bisa menjadi orang yang tangguh.
"Oke anak-anak kumpulkan PR yang kemarin ibu kasih" kata seorang guru perembuan yang cantik dan masih muda bernama ibu Ratna.
"Duh gue lupa nih" ucap Allan menepuk jidatnya.
"Lupa aja terus Al" celetuk Dicky malas. Pasalnya Allan selalu saja lupa mengerjakan PR jika ada PR. Biasanya orang itu akan mengerjakannya dikelas bukan dirumah."
"Emang lo udah?" tanya Allan.
"Belum" jawab Dicky.
"Tapi bo'ong" lanjutnya tertawa.
Sontak saja ucapan Dicky membuatnya mendapat jitakan di kepalannya dari Allan.
"Za, lo udah ngerjain?" Tanyanya kepada Reza.
Reza mengangguk "Udah" ucapnya. Jawaban Reza membuat Allan beralih bertanya kepada Kevin.
"Vin lo udah ngerjain?" kini Dicky yang bertanya dan hanya mendapat jawaban berupa anggukan singkat dari Kevin.
"Sialan kalian. Masa cuma gue sih yang belum" ucapnya jengkel.
"Lo sih kemarin sok sok'an dibilangin ada PR malah jawabnya 'kenapa harus sekarang kalo bisa besok' giliran udah besok lupa kan lo" kata Dicky menirukan gaya bicara Allan kemarin malam.
Kemarin malam mereka memang sedang kumpul bersama, dirumah Kevin tentunya. Mereka juga sudah mengingatkan Allan tentang PR. Tetapi Allan nya saja yang malas.
"Temenin gue kek" ucap Allan.
"Lagi panas nih males banget gue mah" kata Dicky menolak.
"Alah si ***, jahat amat sama temen sendiri" cibir Allan kepada Dicky.
"Ribut terus" kata Kevin mengehentikan perdebatan atara Allan dan Dicky.
"Gue mau ke kantin ikut nggak" tawar Kevin kepada ketiga temannya itu.
"Kepin emang paling baik deh" ucap Allan alay.
"Jijik gue" Kevin memberikan tatapan jijik kepada Allan.
"Ikut deh, males gue dikelas" ucap Reza.
"Gue juga deh laper nih" kata Dicky.
"Hei kalian bertiga! Jangan ngobrol dikelas, kumpulkan PR kalian sekarang juga"
Ucap bu Ratna tegas.
"Lupa bu" sahut Allan.
"Kamu tuh ya, sebentar lagi ujian bukannya belajar malah malas-malasan. Sekarang keluar hormat bendera" kata Bu Ratna.
"Panas nih bu" keluh Allan.
"Itu salah kamu sendiri" ucap Bu Ratna tak terbantahkan.
"Yaudah deh" pasrah Allan.
Kemudian Allan keluar dari kelas. Dibelakang, Dicky, Reza, dan Kevin menyusul.
"Kalian bertiga mau kemana?" tanya Bu Ratna.
"Keluar lah bu" jawab Dicky.
"Kalian juga tidak mengerjakan PR" Bu Ratna kembali bertanya.
"Tidak bu" jawab ketigannya kompak.
"Sama-sama bandel, sama-sama tidak mengerjakan PR, pakaian sama-sama dikeluarin, tidak memakai dasi" ucap Bu Ratna tak habis pikir dengan ke empat muridnya itu.
"Kita kan setia kawan bu. Ya nggak Al"
"Yoi" Allan dan Dickypun ber tos ria.
"Kalian masukin baju kalian, dasi jangan lupa dipakai. Sana keluar" usir Bu Ratna kepada ke empat muridnya yang terkenal bandel.
"Siap laksanakan" ucap Allan sambil hormat.
Akhirnya mereka ber empat keluar dari kelas. Tetapi bukannya keluar untuk hormat bendera malah menuju kantin. Seperti tujuan awal mereka tadi, pergi ke kantin untuk makan.
"Eh kelasnya Jessy tuh" celetuk Dicky saat memasuki kantin. Dia melihat adat Jessy dan kedua temannya serta sebagian teman satu kelas Jessy. Mungkin karena jamkos mereka mengisinya dengan makan dikantin.
"Kesana" kata Kevin singkat kemudian berjalan mendahului.
"Wah ada yang lagu jatuh cinta nih" ledek Allan setelah menyusul Kevin yang tadi berjalan duluan.
"Ekhem. Kalo udah jadian jangan lupa traktirannya Vin" ucap Dicky menaik turunkan alisnya.
"Pepet terus Vin" ucap Reza menambahkan.
"Berisik kalian" ucap Kevin sebal dengan keempat temannya.
"Hallo adik-adik manis" Sapa Allan sesaat setelah sampai dimeja dimana tempat Jessy dan kedua temannya duduk.
"E-eh hai kak" ucap Belva membalas sapa'an Allan dengan sedikit canggung dan terkejut.
Tiba-tiba saja saat dia sendang mengobrol bersama Sisil dan Jessy
ke-empat kakak kelasnya itu datang dan menyapa mereka.
"Hai juga" balas Sisil singkat.
Sedangkan Jessy acuh saja, toh kedua temannya juga sudah menjawab sapaan Allan.
"Tempat masih luas" sahut Jessy cepat.
"Jessy" kata Belva lirih tapi tajam.
"Boleh kok kak, jangan dengerin omong si Jessy tadi hehe" lanjut Belva berusah merubah suasana menjadi cair.
"Sans aja" balas Dicky. Kemudian mereka berempat duduk. Posisi duduknya, Jessy berada ditengah. Dikanannya ada Belva dan dikirinya ada Sisil.
Di kanan kiri meja ada Reza dan Dicky. Sedangkan Allan didepan Sisil dan Kevin duduk didepan Jessy.
"Woi lo pada cuma mau diem aja? nggak makan?" tanya Allan mengintrupsi. Pasalnya setelah samapi mereka langsung duduk dan tidak memesan apa-apa.
"Lo aja deh yang pesen, gantian" ucap Dicky. Kemarin dia sudah pernah memesan jangan sampai dia suruh lagi.
"Cepet, nggak pakek lama" sahut Kevin agar Allan segera memesan.
"Gue kaya biasa" kata Reza.
"Iya deh iya" ucap Allan pasrah. Sudah pasti ia kalah suara.
Setelah kepergian Allan, Dicky memulai perbincangan untuk memecahkan keheningan yang terjadi.
"Eh minggu depan kan udah ujian nih, gimana kalo sebahis ujian kita pergi jalan-jalan bareng. Ini sih cuma sekedar rencana doang sih, biar sehabis ujian otak kita fresh" Ucap Dicky memberi usul.
"Wah boleh tuh kak" sahut Sisil girang.
"Hem seru tuh kayaknya" kini giliran Reza yang memberikan pendapat.
"Gue sih oke oke aja kak. Lo gimana Jes? Ikut ya" ucap Belva.
"Sibuk gue" balas Jessy.
"Sibuk apaan?" tanya Dicky.
"Kepo kek dora" balas Jessy ketus.
Ternyata gini rasanya jadi Joni. Jon kita senasib, batin Dicky.
"Heh sok sibuk lo Jes. Palingan juga cuma rebahan sama ngalamun doang" kata Sisil.
"Rumah sepi aja sibuk haha-- eh" Belva menghentikan tawanya karena teringat jika Jessy pasti akan sedih setelah menyinggung tentang rumahnya yang sepi. Bagaimana dia bisa lupa?
Ya ampun Bel, lo gimanasih! Aduh
Batin Belva menyesal.
"Jes gue--"
"Eh iya ya rumah sepi" ucap Jessy tanpa nada. Tersirat kesedihan di kedua bola matannya.
"Hem gue ikut. Gue pergi dulu" kata Jessy kemudian beranjak pergi dari tempat duduknya tanpa menunggu balasan.
"Sil gimana nih, gue lupa" Ucap Belva sedih.
"Udah tenang, paling juga sebentar doang" kata Sisil menenangkan.
"Emang kenapa sih, kan dia udah setuju mau ikut. Bukannya itu malah bagus?" ujar Dicky.
"Iya sih tapi--"
"Emang kenapa kok rumah Jessy sepi?" kata Reza bertanya.
"Mereka tuh kerja kak. Pulang pun jarang banget" kata Sisil menjelaskan.
"Dia dirumah sendirian?" Tanya Kevin penasaran.
"Iya bener, Jessy dirumah sendirian. Cuma pagi sampai sore aja dirumahnya ada orang. Itupun juga cuma pembantu sama supir" balas Belva.
Jadi malam itu raut wajahnya berubah karena ini? tanya Kevin menebak dalam hatinnya.
"Orang tuanya sering komunikasi sama Jessy?" tanya Dicky.
"Jarang sih kak. Kalaupun komunikasi cuma lewat telepo. Itupun kalau telepon pasti Jessy duluan yang telepon. Dan hal yang dibahas hanya tentang sekolah" jelas Sisil.
"Iya, kalau tanya kabar itu cuma sekedar basa-basi doang. Bukan karena bener bener kangen" sahut Belva menambahkan.
Reza dan Dicky mengangguk mengerti. Pantas saja Jessy terlihat dingin dan jarang mengekpresikan perasaanya.
"Kemana Vin?" tanya Dicky yang melihat Kevin tidak ada ditempatnya duduk semula.
"Pergi" jawab Kevin singkat kemudian berlalu pergi entah kemana.
"*** gue juga tau kalik" Sungut Dicky kesal.
"Kayak nggak tau aja Dic" celetuk Reza.
Sedangkan Sisil dan Belva tertawa.
"Hei kok tinggal empat" kata Allan yang tiba-tiba saja sudah kembali lagi.
"Pergi mereka" balas Reza singkat.
"Kemana?" tanyanya lagi.
"Mana gue tau" jawab Reza.
"Duduk dulu kenapa? Nggak capek lo?"
sahut Dicky menyuruh Allan agar duduk.
Setelah Allan duduk, mereka menceritakan rencana mereka yang akan pergi jalan-jalan setelah ujian selesai. Dan juga menceritakan tentang Jessy yang pergi.
WOI KEPIN LO MAU KEMANAAA