Jessy

Jessy
Permen



"Lo kayak permen, manis"


-?-


"Diem deh, dari tadi lo cerewet mulu" kesal Jessy.


Eh? iya juga ya? kenapa gue tiba tiba jadi cerewet? Kevin membatin.


"Suka suka gue dong"


Balas Kevin ketus.


"Serah lo aja deh, nih ambil buat nyumpelin mulut lo" Jessy memberikan permenya ke Kevin.


Kevin menatap permen yang berada di tangan Jessy.


"Ck buruan ambil, pegel tangan gue" ucap Jessy datar.


Kevin mengambil permen pemeberian Jessy dan meletakkanya di saku bajunya.


"Ck, bilang makasih kek" ucap Jessy.


"Iya sama sama" ucap Kevin.


Dasar nyebelin, batin Jessy sebal.


Jessy tidak membalas perkataan Kevin dia membuang stik permennya dan menggantinya dengan permen yang baru saja dibukanya.


Tidak ada percakapan kembali di antara mereka.


Ting!


Suara notifikasi pesan masuk dari hp Jessy terdegar di antara kehingan yang ada. Kevin hanya sekilas melirik ke arah Jessy, setelahnya dia kembali menatap ke arah depan. Berusaha untuk tidak peduli, toh ini juga bukan urusanya.


Setelah Jessy membuka hpnya ternyata ada notif pesan dari Belva. Disana Belva menyuruh Jessy untuk menemuinya dikantin, karena kelas sedang jamkos.


"Gue duluan" ucap Jessy dan di angguki oleh Kevin.


Kevin menatap punggung Jessy yang semakin jauh, hingga punggung itu tak dapat lagi dilihatnya.


»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊‎​​⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶


Panas matahari yang menyengat, tak menghentikan seorang laki laki yang sedang bermain basket di tengah lapangan.


"Gila kak Kevin kuat ya, tahan panas" ucap salah seorang siswi yang melewati lapangan.


Memang benar, laki laki yang sedang bermain basket di bawah panasnya sinar matahari adalah Kevin Orlando Prasetya. Cowok tampan yang memiliki daya tahan tubuh yang bagus.


Dia pandai bermain basket, tapi entah mengapa dia malah tidak mengikuti eskul basket.


Jessy yang kebetulan melewati lapangan hanya bisa membatin "Dasar gila, udah tau panas malah main basket"


Sekarang Jessy sedang berjalan bersama Belva dan Sisil di pinggiran lapangan. Mereka bertiga ingin bersantai di bawah pohon didekat lapangan, untuk sekedar menghabiskan jam istirahat.


Kevin terlihat sedang menghampiri ketiga temannya yang sedang duduk disebuah kursi dekat lapangan. Dia tampaknya telah selesai bermain basket.


"Nih minum" Reza menyodorkan sebotol air putih kepada Kevin.


Kevin menerima botol itu "thanks" lalu meminumnya.


"Gila lo panas panas gini main basket" oceh Allan.


Kevin mengedikkan bahunya


"lagi pengen aja" katanya singkat.


"Serah lo aja deh, nih seragam lo" Allan menyodorkan baju seragam Kevin. Memang benar Kevin bermain basket tidak mengenakan seragam sekolanya, tetapi memakai kaos polos pendek berwarna putih.


"Nanti aja" ujarnya.


"Ck, serasa babu lo gue" kesal Allan. Kevin yang mendengar decakan Alan hanya acuh saja.


"Minggir" usir Kevin pada Dicky.


"*** lo, gue udah pw duduk disini" kesal Dicky, yang tempat duduknya direbut oleh Kevin.


"Serah gue" balas Kevin tak terbantahkan.


"Bilang aja biar dari sini lo bisa liat dedek gemes gue" Allan ikut menimbrung, membuat ketiga temanya itu bingung.


"Siapa?" tanya Dicky si cowok kepo.


"Noh" Allan menunjuk ke arah sebuah pohon yang di bawahnya ada sebuah tempat duduk yang sedang diduduki oleh tiga gadis. Ketiga gadis itu tampak sedang membicarakan sesuatu.


"Sisil?" tanya Dicky.


"Bukan, ogah gue nyebut si toa itu gemes" cerca Allan.


"Terus? Belva?" tanya Dicky yang masih penasaran. Emang dasar si Allan kalau ngomong cuma setengah-setengah doang.


Dicky menggeleng "Nggak nggak dia punya gue" Dicky menolak keras ucapan Allan yang tadi mengatakan kalo Jessy adalah dedek gemesnya.


"Halu lo Dic" ejek Allan.


"Lo yang halu Lan" balas Dicky.


"Kalian yang halu" ujar Reza, mengehentikan pertengkaran kecil antara Allan dan Dicky.


Sedangkan Kevin tidak menanggapi ketiga temanya itu. Sejak Allan menunjuk ke arah Jessy, Kevin terus saja memperhatikan Jessy.


Disana dibawah sebuah pohon yang rindang, Jessy tengah duduk bersama kedua temanya di kursi panjang yang ada disana. Terlihat disana mereka tengah bercanda ria. Ralat, hanya dua orang saja sedangakan Jessy tidak.


"Eh ada permen" ucapan Allan membuat Kevin menolehkan kepalanya yang semula ke arah Jessy sekarang ke arah  Allan yang sedang memegang bajunya.


"Sini buat gue aja" Dicky merebut permen itu dari Allan.


"Eh kunyuk gue duluan ya yang liat, jadi itu punya gue" kesal Allan.


Belum sempat Allan merebut permen itu dari Dicky, permen itu sudah lebih dulu direbut dengan kasar oleh seseorang.


"Eh" kaget Dicky.


"Apa" balas orang itu dingin.


Mendengar nada bicara dari orang itu membuat Dicky nyalinya ciut "Gak gapapa"


"Pin kasih gue dong tu permen" pinta Allan.


"Beli sendiri" balas Kevin dingin.


Allan mendengus kesal "Pelit lo pin"


»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊‎​​⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶


Setelah acara saling berebut permen tadi, Kevin masih setia duduk ditempatnya. Sedangkan ketiga temanya sedang pergi ke kantin, lapar katanya.


Kevin tengah memandang seseorang yang berada di bawah pohon. Seseorang itu adalah Jessy. Entah mengapa ia begitu tertarik untuk memandang gadis itu.


Semua gerak gerik Jessy tak pernah luput dari mata elang Kevin. Dari dia berbicara sampai sampai tertawa. Menurut Kevin tawanya sangat manis. Jika saja Jessy banyak tertawa mungkin saja dia akan terlihat lebih cantik dan juga manis.


Bel masuk berbunyi nyaring, membuyarkan lamunan Kevin tentang Jessy. Buru buru dia pergi ke kelas. Walaupun dia suka bolos, tapi dia tidak pernah selalu bolos.


"Eh udh bel masuk yuk" ajak Belva.


"Duluan aja, gue mau ke toilet" tanpa menunggu balasan temannya Jessy segera pergi menuju toilet.


"Tu bocah main nylonong aja, ck ck ck" ucap Sisil.


"Udah biarin, mending kita langsung ke kelas" ujar Belva mulai melangkahkan kakinya menuju kelas, dan disusul oleh Sisil.


Dilain sisi Jessy tengah terburu buru menuju toilet.  Tinggal belok dan...


Brukk!


Aw!


"Jalan pake mata" ketus orang yang Jessy tabrak.


"Sorry gue tadi--" ucapan Jessy seketika terhenti ketika melihat wajah orang yang ada didepanya. Seorang cowok yang tengah berdiri dengan cool dan permen dimulutnya, Kevin.


"Eh, maaf kak Kep.. Kev.. Ket.. Kep.."  aduh gue lupa namanya, rutuk Jessy dalam hatinya.


"Kevin" ketus Kevin. Bagaimana bisa cewek yang berada di depannya ini melupakan namannya.


"Eh iya maaf lupa" ucap Jessy dengan senyum manisnya.


"Lo kaya' permen" kata Kevin tiba tiba dengan mengeluarkan permen yang ada dimulutnya.


"Ha?" Jessy bingung dengan ucapan kakak kelasnya yang satu ini. Apa maksudnya tadi? Diakan manusia.


"Manis" ucap Kevin dengan memasukkan permenya lagi kedalam mulut.


"Ha?" Jessy semakin dibuat cengo oleh Kevin. Menurutnya kakak kelasnya yang ini sedang sakit. Mana ada orang sehat bicara ngasal kaya' dia.


Apa katanya tadi? kaya' permen? manis? Dih dia gila apa, ngomong kayak gitu tiba-tiba, batin Jessy.


Kevin terkekeh melihat respon Jessy yang menurutnya "Lucu" ucapnya tanpa sadar.


"Gaje lo kak, minggir gue mau ke toilet" ketus Jessy.


**SI KEPIN KENAPA TUH


BIASANYA AJA DINGIN NAH ITU MALAH JADI ORANG GAJE.


ADA YANG TAU**?