
Ke esokan harinya Jessy bangun pagi-pagi sekali untuk jalan-jalan dan mencari sunrise. Karena udaranya dingin, dia mengenakan jaketnya. Sedangkan jaket Kevin dia simpan untuk dia kembalikan nanti seusai jalan-jalan.
Setelah berjalan agak jauh dari tenda dia menemukan pemandangan yang sempurna untuk difoto bersamaan dengan matahari terbit. Tepat didepannya ada sebuah bunga yang cantik. Jika kamera difokuskan ke bunga pasti hasilnya cantik, pikir Jessy.
Tetapi dia harus hati-hati, karena tepat didepanya ada sebuah sungai. Tapi bagus juga jika nanti memfoto sunrise yang dipantulkan ke air.
Tiba-tiba ada suara ranting yang patah dari arah belakangnya. Dan saat dia menengok kebelakang ternyata itu adalah Ninda beserta kedua temannya.
"Ngapain kalian disini?" Tanya Jessy ketus.
"Lo sopan dikit dong jadi adek kelas"
"Iya bener. Nggak usah belagu deh lo"
"Gue? Sopan sama kalian? Jangan mimpi"
"Wah sombong nih anak"
"Belum kapok yang kemarin? Hah!"
"Nggak ada takut-takutnya ternyata"
"Woi kak, kalian bukan tuhan. Kenapa gue haris takut sama lo"
"Hajar langsung aja. Banyak b*c*t lo!" Ninda akan memukul Jessy, tetapi Jessy berhasil menghindarinya.
"Udah kasar, main kroyokan lagi"
Dengan cepat teman Ninda langsung menjambak rambut Jessy.
"Haha kena lo"
"Tarik yang keras hahaha"
"Apaan nih, pake ginian segala. Buang aja" Ninda melepaskan jepit rambut yang Jessy kenakan.
"Sialan, jangan buang barang gue"
"Oh makin berani ya lo! Ambil kameranya sekalian haha" Dan kamera Jessy juga mereka ambil.
Jessy memberontak dan berhasil melepaskan diri. Dia berusaha merebut kameranya kembali.
"Balikin kamera gue" Jessy mencoba meraih kameranya.
"Pergi sana jangan deket-deket" Ninda mendorong Jessy ke arah sungai.
Byurr
Jessy terjatuh ke sungai, Ninda dan kedua temannya hanya tertawa dan kemudian berjalan kembali ke arah tenda.
"To-Tolong!" Teriak Jessy, tetapi sayang tidak ada yang mendengar.
Sedangkan dilain sisi, sedari tadi Belva dan Sisil sedang mencari Jessy.
"Duh kemana sih dia" Ucap Belva panik di depan tenda mereka.
"Iya mana hpnya nggak dibawa lagi" Sahut Sisil.
Dari arah depan Reno berjalan menghampiri mereka "Kok cuma berdua? Jessy mana, gue ada bawain sarapan nih buat dia" Ucap Reno menunjukkan rantang makanan.
"Nah makanya itu kak, gue juga nggak tau" Kata Belva.
"Kita udah nyari dia ke area perkemahan tapi nggak ada sama sekali" Kata Sisil.
"Hilang?!" Reno tentu saja terkejut bercampur panik. Dia langsung saja berlalu pergi dari hadapan Belva dan Sisil menuju ke arah tenda para guru untuk melapor.
"Woi berita anget woi" Teriak Allan berjalan mendekat ke arah tendanya. Disana ada Kevin, Reza dan Dicky yang sedang bersantai didepan tenda.
"Apaan sih lo, pagi-pagi udah berisik" Sewot Dicky.
Allan tidak mengubris perkataan Dicky, dia beralih menatap Kevin.
"Je -Jessy Pin! Jessy!" Ucap Allan sedikit terpotong-potong karena lelah berlari.
"Kenapa?" Tanya Kevin.
Deg
Sontak saja perkataan Allan membuat Kevin langsung berdiri dari duduknya.
"Kita cari dia sekarang" Ucap Kevin, kemudian mereka mencari Jessy bersama-sama.
Saat akan berjalan keluar dari area perkemahan, mereka bertemu Ninda serta kedua temannya.
"Bagus juga nih jepit rambut, dapet darimana dia" Ucap Ninda.
Kevin sejenak memandang jepit rambut yang dipegang oleh Ninda. Lalu kemudian merampasnya dengan kasar.
"Lo dapet ini dari mana" Tanya Kevin dingin. Dia menggenggam erat jepit rambut itu.
Ninda yang mendengar nada suara dari Kevin sontak saja ketakutan "I-itu punya gue kok"
"Lo dapet dari mana brengsek!" Kata Kevin tajam, mencengram dagu Ninda.
"Kevin lepaskan Ninda, jangan buat keributan" Tegur seorang guru yang melihat kejadian itu.
Kevin mengacuhkan guru itu, dia tetap mencengkram dagu Ninda.
"Gu- Gue nggak bohong. Itu beneran punya gue" Kata Ninda membela diri.
"Jangan bohong! Kasih tau gue dimana dia!" Bentak Kevin.
"Dia siapa?"
"Nggak usah pura-pura brengsek! Cepat kasih tau, dimana Jessy sekarang"
Karena takut akan kemarahan Kevin, Ninda memberitahu tempat dimana tadi dia bertemu dengan Jessy. Kevin langsung saja berlari secepat mungkin ke arah yang dituju. Sedangkan kedua temanya menyusul dibelakang di ikuti dengan yang lainnya.
"To- tolong! To- to---" Jessy sudah tidak sanggup lagi berteriak dan kesadarannya juga sudah mulai menghilang.
"JESSY!" Kevin langsung saja melompat ke sungai untuk menolong Jessy. Lalu membawa Jessy ke daratan, dan membaringkannya.
"Hei bangun!" Panggil Kevin panik, menepuk pelan pipi Jessy, berharap agar Jessy sadar.
Tetapi Jessy tak kunjung sadar, akhirnya Kevin melakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau resusitasi jantung paru.
Kevin menekan telapak tangan di bagian tengah dada yang sejajar dengan ******. Dia menekannya dengan menggunakan dua tangan yang saling tumpang tindih. Menekan sedalam kurang lebih 5 cm dengan hati-hati, sebanyak 30 kali dengan rata kecepatan sekitar 100 kali tekanan per menit. Dengan kata lain, menekan sebanyak 30 kali dalam waktu sekitar 20 detik.
Kevin memastikan dada kembali ke posisi semula sebelum ditekan kembali. Kemudian memastikan apakah Jessy sudah bernapas.
Jessy belum juga bernapas setelah dilakukan resusitasi jantung paru. Lalu Kevin mencoba membuka jalan pernapasan dengan menengadahkan kepala Jessy dan mengangkat dagunya. Namun, ia hati-hati saat memegang leher Jessy, karena ada kemungkinan terjadinya cedera leher atau tulang belakang. Kevin memencet hidung Jessy, kemudian ia tiupkan udara ke arah mulut Jessy. Meniupkan dua kali dalam satu detik.
Jessy akhirnya sadar dengan terbatuk-batuk. Dan wajahnya yang sedikit pucat.
"Fyuh... akhirnya lo sadar" Kevin bernafas lega dan tanpa sadar memeluk erat Jessy.
"Di- Dingin" Ucap Jessy mengigil kedinginan.
"Za pinjem jaket lo" Ucap Kevin kepada Reza. Disana sudah ada beberapa orang yang tiba, termasuk juga teman-teman Kevin dan Jessy.
Reza memberikan jaketnya kepada Kevin. Sebelum mengenakan jaket itu kepada Jessy, ia melepaskan terlebih dahulu jaket Jessy yang basah. Lalu baru setelah itu mengenakan jaket Reza dan mengendongnya kembali ke area perkemahan.
**OKE AKU KASIH TAU CARA CPR YANG BENAR, JADI BUKAN HANYA SEKEDAR CIUMAN YA:V
DAN INI AKU DAPETNYA TENTU SAJA DARI GOOGLE HEHE:D
Cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru dengan menekan telapak tangan di bagian tengah dada yang sejajar dengan ******.
Jika perlu, Anda dapat membantu menekan dengan menggunakan dua tangan yang saling tumpang tindih.Tekan sedalam kurang lebih 5 cm dengan hati-hati, sebanyak 30 kali dengan rata kecepatan sekitar 100 kali tekanan per menit. Dengan kata lain, menekan sebanyak 30 kali dalam waktu sekitar 20 detik. Pastikan dada kembali ke posisi semula sebelum ditekan kembali. Kemudian periksa apakah korban sudah bernapas.
Jika korban belum juga bernapas setelah dilakukan resusitasi jantung paru, coba membuka jalan pernapasan dengan menengadahkan kepala korban dan mengangkat dagu. Namun, hati-hati saat memegang leher korban, karena ada kemungkinan terjadinya cedera leher atau tulang belakang. Pencet hidung korban, kemudian tiupkan udara ke arah mulut korban. Tiupkan dua kali dalam satu detik.
Setelah itu, coba Anda perhatikan apakah dada mengembang saat udara ditiup. Kemudian kembali ke prosedur menekan dada 30 kali. Lakukan secara bergantian sebelum pertolongan darurat datang.
Yang penting Anda ingat saat menolong orang tenggelam yaitu tetap tenang. Hindari tindakan tergesa-gesa yang dapat membahayakan diri Anda. Lalu, segera hubungi layanan darurat yang menyediakan pertolongan ahli.
NAH JADI GITU TEMAN-TEMAN**