
Usaha memang tidak akan menghianati hasil, tapi teman mungkin bisa saja menghianati wkwk
"Heh Joniii, balikin!" teriak Jessy. Dia sedang mengejar Joni, teman sekelasnya karena teman sekelasnya itu mengambil bukunya.
"Ambil sini kalo bisa" tantang Joni sambil terus berlari menjauh dari kejaran Jessy.
"ISH NGESELIN BANGET SIH LO, BURUAN BALIKIN!" Jessy kembali berteriak lantang, membuatnya menjadi pusat perhatian disepanjang koridor.
Pasalnya sekarang kegian belajar mengajar digantikan menjadi tugas karena para guru sedang melaksanakan rapat untuk ujian di awal bulan depan.
Walaupun sudah dikasih tugas, tak sedikit dari mereka yang tetap berada diluar kelas, walaupun tetap ada yang dikelas mengerjakan tugas yang diberikan guru mereka.
Jessy sebenarnya masuk dalam kategori murid yang mengerjakan tugas. Akan tetapi karena si Joni mengambil bukunya dia tak dapat mengerjakan tugasnya. Dan berakhir dia kejar-kejaran dengan Joni. Atau lebih tepatnya Jessy mengejar Joni untuk mendapatkan bukunya kembali.
"JONII BALIKIN SEKARANG!" Jessy kembali berteriak.
Joni menengok kebelakang. Dia tertawa puas melihat Jessy yang beradah jauh dibelakangnya.
"Hahaha lemot lot Jes" ejeknya sambil terus berlari tanpa melihat ke arah depan.
Brukh
"Aduh sakit, maaf" ucap Joni sembari berdiri.
"Eh bang Kevin" ujarnya kikuk.
"Jalan tuh liat-liat" sahut Dicky.
"Sorry bang, buru-buru ini" Joni membela diri.
"Udah sans aja, emang ngapain lo buru-buru?" tanya Reza penasaran.
"Gue lagi dikejar macan cantik nih" ucap Joni menjawab.
"Heh yang bener lo, mana ada macan disekolah" cerocos Allan.
"Yaelah bang beneran gue, ini macanya enggak cuma cantik tapi juga galak"
"Ga lucu lo" ucap Dicky.
"Yeee siapa juga yang lagi ngelawak" kesal Joni.
"Udah-udah, ribut mulu kalian. Heh Jon, ganti rugi" ujar Allan.
Joni dibuat bingung oleh Allan. Pasalnya dia merasa tidak berbuat sesuatu yang merugikan Allan.
"Ganti rugi apaan dah"
bingungnya.
"Lo udah nabrak gue. Masak abang sendiri lo tabrak. Sakit nih badan gue"
Allan memang adalah kakak kelas Joni yang sekaligus merangkap menjadi kakak kandungnya. Makanya Joni dapat berbicara santai kepada Allan dan teman-teman Allan.
"Ya elah bang, segitu aja masa sakit. Cupu lo bang" ejek Joni, adik Allan.
"Heh kualat lo ntar sama gue, kena karma baru tahu rasa lo" ketus Allan.
Kedua kakak adik itu memang sering sekali memperdebatkan masa kecil. Karena katanya biar ada topik.
Pembicaraan kedua kakak beradik itu berhenti karena suara seorang gadis.
"Heh Joni, akhirnya ketemu juga lo" ucap Jessy sembari mengatur nafasnya. Dia kelelahan karena mengejar Joni sedari tadi.
"Eh Jessy" kata Joni cengegesan.
"Mana buku gue, balikin!" pinta Jessy masih dengan amarah yang belum mereda.
"Oh ini maksud lo Jon, yang katanya macan cantik" ujar Dicky mengompori.
"Hah?" Jessy tentu saja kaget. Apa-apaan maksudnya tadi dia dibilang macan. Dari mananya dia kelihatan seperti macan?
"Ohhh, yang tadi ya Dic. Yang katanya macanya cantik tapi galak" Allan ikut mengompori.
"Apa??" beo Jessy.
Jessy menendang tulang kering Joni. Membuat sang empunya merintih kesakitan. "Heh Joni, lo bilang apa aja sama mereka?" tanyanya galak.
"Nggak bilang apa-pa kok Jes, mereka berdua bohong" ujar Joni membela diri, bisa gawat dia kalau semisal Jessy marah. Bisa dijamin dia nggak bakal daper contekan waktu ujian.
Dasar si Joni, dia ngambil buku Jessy aja udah buat si Jessy marah.
"Bohong tuh Jes si Joni"
elak Dicky.
Allan mengangguk, ikut-ikutan mengompori "Nah betul tuh betul"
Joni menjauhkan bukunya dari jangkauan Jessy ke atas "Eitss, ga bisa dong. Ambil nih kalo bisa"
"Rese ya lo" Jessy berusaha mengambil bukunya dari Joni.
"Heh lo bertiga! Bantuin dong, malah diem aja dari tadi" tegurnya kepada ke empat kakak kelasnya itu"
"Siapa lo nyuruh kita" tantang Dicky.
"Adek kelas lo lah" balas Jessy sengit.
"Eh bener juga dia" Allan mangut-mangut membenarkan.
"Si *****, semua orang juga tau kita kakal kelasnya" Dicky menjitak kepala Allan, biar tololnya ilang katanya.
"Udah Jon balikin aja gih" Hanya Reza yang paling dewasa dan paling bijak. Sedangkan Kevin sejak awal tadi hanya diam saja memperhatikan perdebatan Jessy dan Joni.
Dalam diam, Kevin memperhatikan Jessy. Melihatnya dekat dengan Joni ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Seperti rasa.. kesal?
Tetapi dia mencoba menampik perasaan yang aneh itu. Karena dia bukan siapa-siapanya Jessy. Mereka hanya sebatas kakak kelas dan adik kelas yang pernah mengobrol dan pulang bersama. Hanya itu saja.
"Duh bang maap ni ye, gue nggak mau" ucap Joni membantah.
"Beneran ga mau balikin?" tanya Jessy.
"Iya dong, ngapain juga gue balikin. Ambil sendiri nih kalo bisa" Joni semakin mengangkat buku Jessy tinggi-tinggi.
"Ya udah nggak bakalan gue kasih permen lagi nih" ancam Jessy.
"Heh lo aja jarang kasih gue permen" ketus Joni.
"Oh ya udah. Nggak akan gue kasih contekan lagi lo" Jessy kembali mengancam.
Sepertinya ancaman kedua ini berhasil. Joni seketika mengembalikan bukunya Jessy. Bisa gawat dia kalau tak mendapat contekan. Kan sebentar lagi ujian tuh. Gimana kalo nilainya Jelek?
"Nggak asik lo Jes. Sukanya ngancem, mana acemannya serem lagi. Nig buku lo" Allan, Dicky dan Reza yang mendengar ocehan Jessy hanya tertawa saja.
Jessy menyabar bukunya dari Joni secepat kilat "Gitu kek dari tadi, dasar!"
"Permenya mana?" pinta Joni.
"Nih permen" Jessy menendang kaki Joni. Yang membuat Joni merintih kesakitan. Hari ini sudah dua kali dia kena tendangan Jessy.
"*****, sakit Jess!" teriaknya kepada Jessy yang sudah berjalan pergi. Kembali ke kelas mungkin.
"Pfft, rasain lo" kata Dicky menahan tawanya.
Berbeda dengan Dicky, Allan sudah tertawa keras. Menertawakan adiknya yang malang "Kena karma lo" ucapnya.
Reza menepuk-nepuk pundak Joni "Sabar aja ya, mungkin emang takdir kaki lo buat di tendang" ujarnya.
"Sialan" umpat Allan.
"Sukurin!" Kini giliran Kevin yang menambahkan. Kasian sekali Joni, Kevin pun malah ikut-ikutan mengejeknya.
»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊⌣✽ ̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
"Udah dapet bukunya Jes?" Belva bertanya saat Jessy sudah kembali ke kelas.
"Udah" ucapnya singkat.
"Hahaha pasti tadi lo kejar-kejaran lagi ya sama dia" ucap Sisil sambil tertawa. Sudah jelas yang dimaksud dia itu Joni.
"Auah males gue" balas Jessy.
"Eh gue pinjem tugas lo" lanjut Jessy.
Belva menyerahkan buku tugasnya "Nih, tumben" pasalnya Jessy jarang sekali menyalin tugas orang lain. Kecuali kalo dia lupa, diakan orangnya pelupa.
"Males ngerjain, habis ini gue mau pergi" kata Jessy sembari menyalin tugas.
"Kemana?" tanya Sisil.
"Kantin terus terus ke ruang osis" ujar Jessy masih fokus dengan kegiatannya.
"Ngapain?" Kini giliran Belva yang bertanya.
"Biasa" jawabnya singkat. Kedua temannya itu hanya menngangukkan kepala pertanda mengerti.
Yang mereka tahu, Jessy kalau ke kantin pasti ingin membeli permen. Dan jika ke ruang osis, sudah dipastikan dia mencari sang ketua osis, kakak kelas mereka Reno.
**USAHA MU TIDAK SIA-SIA JES UNTUK MENDAPATKAN BUKUMU
LELAHMU SUDAH TERBAYAR JES😅**