
"PLAK"
"auhh" ringis Key saat pipinya di tampar dengan keras.
"ini dia orangnya, si pembawa sial. Dasar wanita matre, tahunya hidup bergantung sama orang"
"bisa-bisanya anak saya berteman dengan anak haram yang tidak mempunyai orang tua ini. Wanita miskin keparat" maki seorang wanita paruh baya pada Key. Wanita paruh baya itu kembali menampar Key.
"PLAK"
"Mam udah, Mama keterlaluan banget yah sama sahabat Clara" ujar Clara memeluk Key yang tertunduk menangis.
"Tante apa-apaan sih, tante keterlaluan tau gak" marah Nayla, ia ikut memeluk Key.
"Bela saja teman kalian itu, bela. Seorang teman yang miskin dan tidak berguna itu tidak pantas berteman dengan kalian" maki Wanita paruh baya itu lagi dan ternyata itu adalah nyokap nya Clara, yang biasa di sapa Nyonya Reva.
"Mama yang tidak pantes di sebut sebagai orang tua, Mama itu terlalu mengukur materi. Mama jahat" ujar Clara mengusap bekas tamparan sang nyokap di pipi Key.
"set" Nyonya Reva menarik Clara dan Nayla mundur kebelakang, tangan nya bergerak menjabak kuat rambut Key.
"liat gara-gara kamu!! Anak saya jadi seorang pembakang. Dasar pembawa sial, mantre"
"saya tau kamu itu berteman dengan anak saya karena kami keluarga kaya kan? kamu orang miskin memperalat anak saya dan Nayla sebagai ATM berjalan kan, dasar sialan" Nyonya Reva mendorong Key kuat dan terjembab.
"KEY" seru Gilang yang baru datang dan Nayla, mereka membantu Key berdiri.
"sa...saya tidak pernah memanfaatkan atau memperalat Clara maupun Nayla. Saya tulus berteman dengan mereka tante" ujar Key dengan terisak, ia tidak berani mendongak atau menatap langsung Nyonya Reva atau Nyokap Clara.
"Masih berani kamu berbicara ya!!" geram Nyonya Reva mendengar suara Key.
"Mam sudah Mam, mending Mama pergi dari sini" usir Clara menunjuk gerbang keluar.
"Clara kamu mengusir Mama" ucap Nyonya Reva menatap nyalang Clara.
"iya"
"fine sekarang Mama pergi, tapi kamu juga ikut membereskan barang-barang mu. Kita pergi dari kosan kumuh ini" kata Nyonya Reva dengan angkuhnya.
"aku tidak mau, aku lebih suka memisah diri dari Mama. Daripada aku selalu mendengar perkataan Mama yang terus merendahkan orang" kata Clara menahan kesal.
"heh tapi itu lebih baguskan, daripa~"
"MAMA PERGI SEKARANG" teriak Clara dengan terengah-ngah.
"huh, liat gara-gara kamu anak saya membentak Ibu nya sendiri, tunggu saja kau dasar wanita kurang ajar" Nyonya Reva berlalu begitu saja dengan dagu terangkat.
"Key ini harus di kopres, pasti sakit ya?" kata Nayla mengusap-ngusap pipi Key terlihat memerah.
"Key gw minta maaf atas nama nyokap gw, gw merasa sangat bersalah" ujar Clara memegang tangan Key.
"gak apa-apa Clar, ini bukan salah lo. Mungkin memang benar kata nyokap lo gw ini wanita pembawa sial, yang bisanya nyusahin kalian" kata Key terisak.
"gak Key lo bukan pembawa sial, lo juga gak nyusahin kita kok. Lo jangan beranggapan seperti itu" kata Clara lagi dengan ikut menangis.
"Clara lo jangan nangis" Key mengusap air mata Clara.
"Nay, Clar gw pulang dulu yah, kapan-kapan dwh main nya, kayaknya bos gw udah nyariin nih" pamit Key mengusap air matanya.
"Lo gak nginep di sini aja Key?" tanya Nayla.
"Gak gw lagi kerja, mana bisa gw nginep"
"Yaudah gw anter" tawar Gilang yang sedari tadi hanya diam.
"ok deh, gw pulang dulu ya bye" Key berjalan mengiring Gilang yang menaiki motor sport nya.
•••
"Key gak sekalin kita kepuskesmas, buat obati memar di pipi lo" kata Gilang di tengah perjalanan.
"Gak perlu. Cuman memar doang, gak bakalan buat nyawa gw melayang" ujar Key dengan tersenyum.
"oh ya, lo udah liat hadiah dari gw?" tanya Gilang kembali fokus pada jalan.
"Udah!! Bagus banget. Makasih ya" ucap Key berpegangan pada pundak Gilang.
"Yo'i. Btw pegangan nya di pundak doang nih?!! Gak sekalian di pinggang gw, kasian pinggang gw dianggurin" canda Gilang.
"ihh, apaan sih nih bocah" Key mencubit pelan pinggang Gilang dan tertawa bersama.
Sampai nya di kediaman Rey...
"Nih helm lo, makasih ya udah anterin lumayan kan gak bayar ojek" cengir Key.
"Sama-sama. Tapi jangan lupa yah nanti kompres memar lo!" kata Gilang mengelus pelan pipi Key.
"Iya-iya, gausah khawatir. Yaudah gw masuk dulu ya"
"Tunggu dulu" cegah Gilang memegang tangan Key.
"Apa?!!" Key mengeryit heran.
"Semoga sakit hatinya cepat sembuh yah Kakak"
"Cup" Gilang mengecup punggung tangan Key.
"Eh bocah bisa-bisanya lo ya" ujar Key terkekeh.
"Hehe, yaudah gw balik dulu" pamit Gilang.
"Bey" Gilang melajukan mitir sport nya.
"Siapa itu?" kata Rey dingin di belakang Key.
"Eh bhuset, sejak kapan Bos ada di sini" kaget Key memegang dadanya.
"Sejak satu-satunya dinosaurus ngelahirin anak pertama" jawab Rey datar.
"Bercanda lo Bos!!"
"tunggu-tunggu pipi lo kenapa? Siapa yang nampar" ujar Rey kaget melihat kedua pipi Key yang memarr memerah.
"itu, anu emm... Preman iya preman di jalan, yang mau ngerampok gw, utung ada Gilang yang bantuin" ujar Key beralasan.
"Sini gw kompresin" Rey mengendong Key dengan gaya ala-ala bridal dan membawa masuk.
"Bos turunin gw, gw masih bisa jalan. Kaki gw gak kenapa-napa"
"Diam lo" Rey menurunkan Key dengan hati-hati di sofa ruang tamu, dia meleset menuju dapur untuk mengambil es batu dan handuk kecil.
"jadi itu tadi Gilang yah?" tanya Rey mulai mengompres pipi Key dengan es batu.
"He'em, gantengkan" kata Key tersrnyum.
"Cih gantengan gw" sungut Rey merasa tidak suka.
"tapi dia itu lebih fres, masih ABG" kata Key dengan tersenyum lebar, mata nya terus menyorot wajah Rey.
"Bos dari dekat ganteng banget yah, mirip oppa-oppa korea, tapi sayang hatinya udah beku buat Regelin" batin Key.
"Ck, jangan muji cowok lain di depan gw, gw gak suka" Rey tiba-tiba mendekat bibir nya ke bibir ranum milik Key. Andai saja dia tidak teringat nama Regelin mungkin dia sudah melepaskan ciuman pertama nya untuk Key.
"B...bos lo ng...ngapain" Key mendorong Rey yang terlalu dekat dengan nya.
"Akh sial" Rey mengacak-ngacak rambutnya dan berlalu begitu saja menuju kamarnya.
"Lho itu Bos kenapa?" tanya Key sedirian pada angin-angin yang lewat.
TBC
●●●