
Rohman sadar tak seharusnya ia berpikiran buruk. namun kehilangan Vania, adik satu-satunya, tak sanggup ia hilangkan begitu saja. dia juga sangat menyayangi Dina, jika ia kehilangan untuk kedua kalinya, ia merasa tak akan sanggup menerimanya.
sedari tadi melati memandang suaminya dengan sedih dan khawatir. ia paham bagaimana perasaannya, namun yang mampu ia lakukan adalah menguatkan hati suaminya. meskipun nanti keputusannya akan mengecewakan Dina, ia akan tetap mendukungnya.
Dengan lembut ia memegang tangan suaminya, dipandangnya kedua mata suaminya, dan dengan senyum lembut ia berkata, "mas, jika ragu, sholat lah, insyaAllah hati mas lebih tenang".
kemudian ia menoleh ke arah Dina, "Din, terimakasih sudah menceritakannya ke kami. kak meli dan kak Rohman juga sangat menyayangimu. kau sudah kakak anggap adik sejak Vania mengenalkanmu. kak Meli minta kau mau memberi kak Rohman waktu, dan kak Meli hanya akan mendukung apa yang kak Rohman putuskan" tegasnya
"dan kak meli minta, walaupun jawaban yang didapatkan nanti tidak seperti yang diharapkan, kamu g boleh g mampir k sini atau menghilang tanpa kabar lagi. sesulit apapun atau seberbahaya apapun situasinya, kalo memang kamu menyayangi kami, kamu harus memberi tahu kami" sambungnya
"ehm, Dina mengerti kak" jawabnya
setelah hening beberapa saat, akhirnya Dina bangkit dari duduknya. "kalo gitu Dina pamit ya kak" ucapnya
"kamu g nginap aja Din, kamu g kangen sama kita?" tanya melati merasa berat harus melihat Dina pergi.
"kak, boleh aku memelukmu?" tanyanya yang tanpa menunggu jawaban dari melati, langsung menghamburkan dirinya memeluk wanita dihadapannya itu.
"aku sangat merindukanmu kak, aku sangat menyayangi kalian" ucapnya dengan memeluk erat tubuh melati yang sudah sangat ia rindukan. melati terharu mendengar ucapan Dina, dia membalas pelukan Dina dengan erat pula dan mengelus punggung gadis itu. dengan mata berkaca-kaca ia memandang suaminya yang sedari tadi juga memandang keduanya penuh haru dan tangannya juga mengelus kepala dina dengan perasaan rindu.
setelah puas melampiaskan kerinduannya, Dina melepaskan pelukannya. "Dina ingin sekali menginap, tapi Dina harus menemui andika. Dina mungkin tak bisa sering datang berkunjung karena Dina harus berhati-hati. tapi Dina tiap hari akan mengabari kakak dan menceritakan perkembangan apa saja yang Dina kerjakan" sambil memandang keduanya, ia pun akhirnya tersenyum dan pamit pergi.
melati masih belum beranjak memandang pintu pagar dimana Dina pergi. Rohman kemudian menggandeng tangan istrinya tersebut dan menuntunnya masuk kembali ke dalam rumah. ia mendudukkan dirinya dan istrinya d kursi. ia diam cukup lama tenggelam dalam lamunannya.
sebagai seorang penegak hukum, tentu ia sangat ingin menangkap pelaku tersebut dan mengerahkan semua sumber dayanya untuk membantu Dina. apalagi ketika Dina mengatakan jika pelaku adalah salah seorang dari anak seorang petinggi d negeri ini. jiwa keadilannya seketika meningkat. ia tak rela ada kesewenangan merajalela d negeri ini. walau ia belum mampu memberantas semuanya, setidaknya ia berusaha hal itu tidak terjadi d sekitarnya. namun di sisi lain, keselamatan Dina adalah prioritas utamanya.
melati menyentuh tangan suaminya, "mas, sholat lah, meli juga akan berdoa buat mas dan keselamatan Dina" ucapnya dengan mengelus tangan suaminya untuk menguatkan.
Rohman tertegun dengan ucapan istrinya, yg begitu memahaminya. kemudian ia mengecup kening istrinya, "terimakasih, sudah sangat sabar dengan mas yang seperti ini. mas bahagia kau selalu berada di sisi mas bagaimanapun situasi mas, terimakasih" Rohman memeluk istrinya dalam dekapannya dengan erat, seolah-olah ia seperti mentransfer semua kegelisahannya.
Rohman paham betul, ia bukanlah sosok suami yang sempurna bagi melati. karena pekerjaannya, ia sering meninggalkannya berhari-hari untuk menyelesaikan kasus. namun ia tak pernah khawatir karena dulu ada Vania yang bisa menemaninya d rumah. namun sejak Vania meninggal dan kepergian Dina lima tahun lalu itu tak hanya menyakitinya, namun juga sangat memukul hati istrinya. tak sengaja ia sering mendapati istrinya menangis dalam diam d kamar sambil membuka-buka album foto Vania dan Dina.
"mau sholat bareng? setidaknya keputusan mas bisa lebih dikuatkan jika kita sholat bareng" ajaknya
"ehm, ayo" angguk melati dan menyambut gandengan tangan suaminya untuk sholat istikharah bersama.
di perjalanan menuju apartemen Andika, Dina masih tenggelam dalam lamunannya. ia tahu ini tidak akan mudah. meskipun saat ini pelaku masih belum menyadari/mengenalinya, tapi di saat hari itu datang, ia harus siap dengan segala konsekuensinya.
pikiran Dina terus bekerja membayangkan berlapis-lapis rencana untuk melindungi orang-orang disekitarnya. kemudian ia mulai mengirim pesan dengan ponsel keduanya, ponsel yg hanya ia gunakan untuk menghubungi Yu Chen. itu adalah ponsel khusus yang diberikan oleh Yu Chen agar siapapun tak bisa melacak ato mensabotase ketika ia berinteraksi dengannya.
"I'll use one of my Grant tonight. I'll send u the detail later" ketiknya, dan mengirimkannya.
kemudian beralih k ponsel yang biasanya, Dina menelepon Andika.
"assalamualaikum ndi, bentar lagi aku nyampe. dan malam ini aku akan nginap d atas" infonya pada Andika, yg tanpa mendengarkan apa jawaban, Dina mematikannya.
Sesampainya d dekat apartemen, Dina pun meminta sopir taksi online untuk berhenti. setelah ia turun, tak seperti penghuni/pengunjung apartemen tsb pada umumnya, Dina menuju k pintu khusus staff. Untuk kamuflase, agar tidak terlacak dikemudian hari, Dina meminta bantuan Lauren untuk bekerja part time sebagai cleaning service d apartemen tsb. Tentu saja d situ pula Dina memintanya untuk menyewakan salah satu unit d lantai 2 dan 3 untuk Andika.
*flashback on*
7 bulan yg lalu d kota S d New Zealand.
"Lauren, I need my Grant what u promise last time" ucap Dina segera. "I need u let me work as a part time cleaning service in one of ur apartment building in Jakarta. and I'll tell u which unit I need to rent when I'm in Indonesia"
Lauren yg sebelumnya senang melihat kedatangan Dina k kantornya tiba2 mengernyitkan dahinya. "are u leaving?" katanya. "but why so sudden? u're not in trouble, aren't u!"
"no Lauren sweetie, it's time for me to move on and make it on the track" jelas Dina, yang tentu saja hal ini sdh pernah ia ceritakan pada Lauren, bahwa akan datang hari dmn ia harus mengakhiri perantauannya.
Lauren menatap rekan kerja sekaligus teman satu-satunya itu dengan tidak rela. namun apa daya, ia tahu bahwa hal yg tidak mungkin bagi Dina untuk mengubah keputusannya, yg pasti telah direncanakan jauh-jauh waktu.
"are u sure it's the time? u don't wanna stay a little longer here? what should I do with my scripts and all of this papers if u not here to help me!" ucap Lauren, berusaha agar Dina tak pergi.
dengan membuang napasnya yg berat, Dina mendekati Lauren dan menggenggam tangannya. "u know I have to finish it, don't u!"
"u're one of my best friend, and i don't wanna lost it for second time. i hope u support my decision, and it's enough for me. and for all of ur papers, u know better than me to deal with it. Don't underestimate ur talent" bujuk Dina
"well, if u stand for it, I'll support u. but u have to keep it in ur mind n ur heart, that u have me and my mom here, in New Zealand. never hesitate to contact me whenever u need it" jelas Lauren dengan balas menggenggam erat tangan Dina
"i'll let u know when i get there. and u have to confident what in ur heart, it's ok to look weak, it's ok if it's not perfect, we're human, we're not The God. but never let people take advantage from it. u're smart and always out of box, u've just need to release it" pesan Dina pada Lauren untuk kesekian kalinya. Dina hanya berharap sahabatnya ini mampu mengatasi kelemahannya. karena ini mungkin akan menjadi hal terakhir yg diucapkannya pada Lauren.