Is It YOU?!!!

Is It YOU?!!!
Pengamatan 1



diedarkan matanya memandangi sekeliling kamarnya. dilihatnya jam dinding yg menunjukkan waktu hampir subuh. Dina masih termangu dalam hening untuk sesaat. dipejamkannya matanya sambil merapalkan doa untuk dikuatkan dan diteguhkan hatinya, ia pun berjalan menuju kamar mandi dan bersiap memulai harinya.


setelah siap akan berangkat, ada pesan masuk d ponselnya. dibacanya pesan tersebut kemudian dibalasnya singkat.


sesampainya d ruang staff & janitor, ia menuju lokernya. dibuka dan diletakkanlah amplop hijau dan selembar kertas instruksi. setelah itu Dina berangkat memulai hari pertamanya sebagai staff merchandise d perusahaan kemarin ia interview.


Berselang setelah kepergian Dina, ada seseorang mendekati lokernya tadi. Lama ia berdiri menghadap loker tersebut. Dengan beberapa trik ia coba lakukan untuk membukanya, namun hasilnya gagal. akhirnya ia menggunakan usaha terakhir, ia keluarkan alat kecil berwarna hitam. ditempelkannya alat itu, setelah beberapa detik dengan sekali pencet, loker Dina langsung terbuka.


suasana gugup melanda seketika. ia tampak berpikir, kemudian digelengkannya kepalanya dan dijulurkan tangannya hendak mengambil apa yg ada dalam loker tersebut.


"jangan coba-coba, ndi!" ucap suara dibelakangnya tiba-tiba, dan Andika berbalik serta terbelalak melihat pemilik suara tersebut.


"Dina, a..aku..." ucap Andika terbata-bata.


"tak perlu kau jelaskan, tutup kembali lokernya dan berikan padaku benda kecil hitam itu" ucap Dina dengan menunjuk pada alat yg digunakan Andika untuk membuka lokernya barusan.


"beri tahu padaku bagaimana cara kerja dan penggunaannya" perintahnya setelah diterimanya alat itu.


"alat ini berguna untuk menampilkan berbagai jenis kombinasi kata sandi kunci digital. saat aku mendekatkan alat ini k objek, secara otomatis akan menampilkan angka, simbol dan huruf dari kombinasi sandi/password yang digunakan. kemudian kau tinggal pencet tombol enter ini, dan sudah, terbuka semua jenis pintu/loker" Andika menjelaskan dengan sedikit mencuri pandang k Dina, memperhatikan reaksi apa yang akan dilakukannya.


"hmmm, apa kau punya alat serupa lagi yg kau sembunyikan?" tanya Dina memandang tajam.


"tidak, tapi Din, kumohon kau jangan salah paham, aku, aku hanya..." belum selesai Andika menjelaskan, Dina mengangkat tangannya meminta ia berhenti.


"sudah aku bilang tak perlu kau jelaskan. sekarang kembalilah ke tempatmu atau kemana saja kau ingin pergi. aku tak pernah melarang/keberatan, bukan!"


"yg bisa aku katakan adalah, aku percaya kau punya alasan sendiri melakukan hal itu. kau adalah temanku, dan aku mempercayaimu dan akan menjagamu. but....aku bukan orang yg segan atau setengah-setengah jika berniat menghukum seseorang. sekalipun itu orang yg paling aku sayangi" dengan menyipitkan mata dan menajamkan tatapannya saat mengucapkan kalimat terakhir.


"maaf Din" hanya itu kata-kata yg keluar dari mulut Andika. setelah beberapa saat hening, Andika hanya menatap penuh arti dan berusaha membaca apa yang dipikirkan Dina. namun tak ada suara dan hanya tatapan datar. akhirnya Andika beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan temannya itu sendiri.


Dina terus mengawasi Andika pergi hingga bayangan punggungnya tak terlihat lagi. Dina menatap sendu dan khawatir tempat dimana Andika tadi berdiri. dilihatnya kembali alat hitam itu dan digenggamnya erat, dengan menghembuskan napas panjang dan berat, ia mencoba mendapatkan kembali keteguhan hatinya.


ia menuju loker dan membuat kembali password ganda untuk loker tersebut. diketiknya pesan pada ponsel keduanya dan dikirim k nomor yg baru ia peroleh. setelah itu ia beranjak pergi kerja.


*****


Andika sampai d kamarnya, setelah menutup pintu, ia mengepalkan tangannya dan meninju tembok d sampingnya dengan kuat. ia meninjukan tangannya berkali-kali guna melampiaskan kekesalannya hingga buku-buku jarinya merah.


kesal, frustasi, sedih sekaligus kecewa campur aduk dalam hatinya. sekali lagi ia merasa bagai orang gagal. ia kesal karena Dina, yg dibilangnya percaya pada dirinya, ternyata banyak menyimpan rahasia darinya. ia frustasi, karena ia merasa hanya dimanfaatkan secara sepihak. namun di hati kecilnya ia percaya jika Dina memang punya alasan bersikap seperti itu. justru dirinya lah yang telah bertindak diam2 di luar sepengetahuan Dina. itulah kenapa ia sedih dan kecewa pada dirinya sendiri.


"aku harus bagaimana?" gumamnya


"berwudhu lah, Ndi" ada suara kecil kemudian mengingatkan dirinya


"huh, lagi2 kau selalu tahu, Din" andika tersenyum sendiri mengingat ketika dirinya pada situasi sulitnya bersama Dina saat masih d New Zealand.


kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berwudhu.


*****


saat ini d ruang makan, Rohman dan istrinya sedang sarapan. sejak kedatangan Dina kemarin, suasana sangat hening. hanya suara dentingan sendok-garpu pada piring yg terdengar. sang istri, Melati, hanya mampu menahan diri untuk tidak bertanya. ia hanya sering2 mengusap punggung suaminya tersebut agar diteguhkan hatinya.


Rohman melihat kembali ponselnya, dan sekali lagi dihembuskannya napas panjang dan berat, menandakan kebimbangan hatinya.


"kenapa, mas?" akhirnya melati memberanikan dirinya untuk bertanya.


"hahhh...pesan dari Dina" jawab Rohman


"dia bener2 tahu cara membujukku, g bukan, dia tahu caranya mengelabuhiku. Bagaimana bisa dia berwajah sedih dan memohon, dengan mata kucingnya, seperti itu kemarin, tapi tetap saja ujung-ujungnya dia sudah tahu kalau mas akan membantunya. Dina bahkan tahu nomor hp mas, bagaimana dia seyakin itu kalo nomor hp mas belum ganti?" lanjutnya makin kesal


"mas, jangan gitu, mas tahu kan Dina bukan seperti itu" tersenyum sambil dielusnya tangan suaminya berusaha menenangkan


"memang pesan apa yg Dina kirim?" tanyanya


Rohman menggeser ponselnya untuk dilihat istrinya, pesan apa yg dikirim Dina.


"hmmm, ya sudah, lihat saja dulu apa isinya, kalo memang mas masih ragu, mas cerita ke meli, insyaAllah meli akan bantu" ucap meli setelah membaca pesan tersebut.


"anak ini bener2 kelewatan cerdasnya" melati membatin.


setelah berkutat dengan kebimbangan dan kekesalannya, akhirnya Rohman pamit berangkat ke Mabes. Dalam perjalanannya ia makin penasaran, kira2 paket apa yg dikirim Dina. "huh, hijau, dia selalu menggunakan warna mencolok, bener2 tahu caranya menarik perhatian" dengan geleng2 tanpa sadar adrenalinnya berpacu, dan ia mengingat kembali saat masa2 penyidikan bersama Dina 5tahun lalu.


*****


berbeda dengan kemarin, saat ini Dina berangkat naik taxi online.


"padahal masih pagi, tapi kenapa rasanya lelah banget, ya Allah!" batinnya berkeluh kesah.


diambil ponsel keduanya, dan dicari salah satu nomor kontak yg ia kenali, kemudian ditelepon lah orang tersebut.


"assalamualaikum kak Meli" ucap Dina.


"....."


"kak Rohman berangkat sambil ngedumel, ya kak Mel?"


"....."


"maaf kak, Dina kirim cuma buat kasih tunjuk bukti aja. semoga bisa jadi pertimbangan buat kak Rohman dan rekan-rekannya d Mabes"


"....."


"kak Mel, apa yg kak Mel lakukan jika tindakan kak meli nantinya akan sangat menyakiti teman atau orang2 terdekat kakak? walaupun hal itu dilakukan demi terungkapnya kebenaran" tanyanya dengan mata menyiratkan kesedihan


"Dina g bakal sanggup jika harus kehilangan lagi, seperti Dina kehilangan Vania. apa Dina sudah melakukan hal yg benar? ataukah malah melampaui batas?" suaranya mulai sedikit terisak.


"....."


"hmm, ya kak Mel. hmm..., doakan Dina ya kak Mel!"


"maaf, Dina tidak bisa berkunjung k rumah. Dina harus berhati-hati dan membatasi pergerakan. kak meli dan kak Rohman jangan sampai lengah. begitu ada yg terasa ganjil, walau hanya firasat g jelas, segera info k Dina. bisa saja hal tersebut akan jadi petunjuk"


"....."


"ya kak, terimakasih sudah bantu Dina jadi lebih tenang. salam juga buat kak Rohman. Assalamualaikum"


"....."


tut...tut...tut...


Dina mengakhiri panggilan teleponnya, dan beberapa menit kemudian ia sampai k tempat kerja barunya.