
Dina telah sampai pada tempat tujuannya. Ahmad memperhatikan gedung itu. ia mengerutkan dahinya dan menatap Dina dengan tatapan bertanya.
"bener janjian di sini?" tanyanya. ia merasa heran, karena tampilan Dina bukanlah orang yang terbiasa dengan hal yang tampak glamor. ya, gedung di depannya adalah gedung hotel level diamond, yang mana g sembarang orang mampu menginap di tempat seperti ini.
"ya mas, temenku stay di sini selama dia di sini. kenapa?" tanya Dina heran.
"nggak papa, berarti temen kamu bukan orang sembarangan ya?!"
Dina hanya tersenyum menanggapi ucapan yang dilontarkan Ahmad.
"bener kamu nanti ada yang ngantar pulang? apa perlu aku tunggu aja dan ngantar pulang"
"g perlu mas, temenku orang yang sangat perhatian semua. terimakasih mas" Dina turun dari mobil Ahmad dan langsung jalan menuju lounge hotel.
Ahmad terus memandangi k arah Dina jalan, hingga tak terlihat bayangannya, ia pun melaju pulang. dalam perjalanannya tak sedetikpun senyumnya luntur.
di lounge hotel, Dina mengedarkan pandangannya dan akhirnya menemukan sosok yg ia cari.
"what's up?" sapa salah seorang d meja yg melihat Dina mendekati mereka.
"as always, ... throw that **** if u wanna win next week, Yu" ucap Dina agak meninggi nadanya saat melihat Yu Chen memegang alkohol d tangan kanannya.
"oh come on Ru Chan, it's just a sip for my winning celebration last night. did u see my performance?" wajah yu Chen memelas yg kemudian berbinar menunggu tanggapan dari Dina mengenai pertandingan e-sport nya semalam.
"not bad, and u've scale up ur skill from last competition. may be u'll able to handle Roger next week" puji Dina
"yosh, u hear that Lee, next week I'll handle that blue guy" dengan pongahnya yu Chen pamer k teman yg duduk d sebelah mejanya. Namun hal itu sama sekali tak mempengaruhi temannya itu.
"jangan menyanjungnya terlalu tinggi, Din" ucap Lee yg kemudian pindah k samping Dina dan memberikan segelas minuman lemon jahe untuknya.
"terimakasih, tapi aku nggak berlebihan, dia pasti bisa mengalahkan Roger minggu depan. aku sudah melihat pertandingannya kemarin lusa. dan kemampuannya sama sekali g berkembang. kalaupun ia sengaja menyembunyikan kemampuannya, yu Chen bukan orang yang mudah dimanipulasi oleh orang setipe Roger" Dina menjelaskan.
"English, please. Don't gossiping me at my back" Yu Chen memicingkan matanya k arah Lee dan Dina.
"heh, buat apa kau hire guru buat ngajarin kamu bahasa secara eksklusif, kalo kamu masih belum bisa ngomong bahasa" ejek Dina
"what... how u..., who's told u that?" yu Chen kaget, kemudian ia mengedarkan pandangannya k arah rekan dan anak buahnya mencari siapa yg membocorkannya.
"kau ini, tadi bilang tu bocah bukan orang yang mudah dimanipulasi, buktinya?!" Lee ikut mengejek.
Dina nyengir dan berusaha menahan tawanya. "kan aku bilang tidak bisa dimanipulasi oleh orang setipe Roger, kalo aku, ya beda lah levelnya"
"u...u... hah, I hate both of u" yu Chen memandang geram k arah Dina dan Lee bergantian.
"come on Yu, we need ur hand to end this" Cindy mengulurkan tangannya k yu Chen
"come, I'll ask Andika to teach u trick for kick Roger's ***" ajak Dina juga
"I don't want that ashole to teach me, I'll choose eat wasabi than get lesson from him" sungut yu Chen. ia sangat membenci Andika sejak ia kena mental ditipu habis-habisan olehnya. Dan karena Andika pula, mau g mau ia harus menyetujui syarat sang Ayah untuk menggantikannya sebagai pemimpin saat ia meminta bantuan anak buah ayahnya untuk mencari dan menangkap Andika. Ia merasa kehidupan bebasnya jadi hilang. Ia pun tak bisa menghabisi Andika karena Dina menghalanginya. Walaupun demikian, ia mulai menerimanya, dan tentu saja itu berkat negosiasi dan saran yang ditawarkan oleh Dina.
ia menikmati hidupnya saat ini, karena ada kakaknya, Cindy, dan Lee Youming didekatnya untuk meringankan bebannya sebagai pemimpin. di lain pihak, Dina juga telah menawarkan kerjasama yang akan membebaskannya dari beban tsb dalam waktu dekat.
Yu memegang tangan Dina, tangan yang dalam hatinya 'tak akan ia lepaskan' apa pun yang terjadi. sejak ia menerima karakter game yg Dina berikan untuknya sebagai salah satu bentuk barter yg ditawarkan untuk menyelamatkan Andika. sejak saat itulah ia jatuh hati pada Dina. dan sejak itu ia memanggilnya "Ru Chan". nama pendek dari kata 'Hikaru' yg berarti 'Cahaya', dan baginya Dina adalah Cahaya nya.
di sisi lain, Dina merasakan apa yang Yu Chen rasakan pada dirinya. Namun sayangnya, perasaan Yu Chen berbanding terbalik dengannya. karena sejak peristiwa kasus 5 tahun lalu, ia membatasi perasaannya agar tak memiliki ikatan yang terlalu dalam dengan siapapun. ia hanya memperlakukan mereka sebatas rekan atau teman, tak lebih. karena Dina sadar resiko yang akan dina hadapi dalam membuka kasus ini. Dengan senyum yang masih terpampang di wajahnya, ia melepaskan tangan itu dan menghampiri pintu di depannya.
saat pintu terbuka, masing-masing menuju tempat duduk d dalamnya. Namun hanya Yu Chen yang kaget melihat apa yang ada d dalam ruangan itu. d dalamnya telah ada orang yang sangat dibencinya, Andika, dan 2 orang lagi lainnya.
"baiklah, sudah saatnya kita bergerak. Yu, dudulah" titah Cindy mengawali percakapan. dan yu Chen menurut kemudian duduk d sebelah Lee, karena Dina telah duduk diantara Andika dan Lee.
setelah semua duduk dan menunggu, akhirnya Dina mengeluarkan beberapa lembar data2 orang yang kemudian membaginya k semua orang yang ada di situ.
"mereka adalah orang-orang yang untuk saat ini di alihkan atau setidaknya dijauhkan dari target. karena dengan begitu mereka akan bisa gunakan sebagai pihak netral dalam penyelidikan dan pengembangan kasusnya nanti"
"pihak netral? maksudnya?" tanya Cindy tak paham. karena yang Cindy baca, latar belakang orang2 tersebut tak jauh berbeda dengan target mereka.
"ya, mereka adalah aparat yang bisa dibilang bermuka dua. Namun mereka bukan orang tolol yang akan dengan mudah dimanfaatkan target untuk membantu. untuk saat ini, target masih belum memiliki kartu as dari mereka. mereka hanya bermain d skala kecil, yang jika dilakukan sidang indisipliner, hal itu tak akan berpengaruh pada pada pangkat dan pundi-pundi emas mereka. tapi jika kasus ini mencuat, hal itu akan menciutkan nyali mereka untuk meneruskan kegiatan mereka. Dan selama mereka vakum, sikon disekitar mereka sudah berubah lebih ketat dan lebih kondusif" ungkap Dina
"kau yakin dengan ini semua, Din?" tanya Lee tampak khawatir. "yang kita hadapi bukan orang sembarangan. apa tidak sebaiknya kita habisi saja psikopat gila itu tanpa perlu melakukan pembersihan seperti ini" saran Lee, karena ia ragu sekaligus khawatir. ia yakin, kalau Dina pasti tidak mengungkapkan semua dampak yang akan terjadi nantinya.
"kita harus melakukan ini, aku tahu ini tidak akan menghilangkan orang-orang jahat lainnya yang menjadikan anak2 menjadi psikopat lainnya. menjadikan anak2 atau saudara2 lainnya untuk dijadikan alat pembunuh. aku tidak terima hal itu. dan aku yakin kalian sependapat denganku" Dina mengedarkan pandangannya untuk mencari pancaran yang dan dukungan.
Andika yang mendengar hal itu seketika jantungnya berdegup kencang dan matanya melebar. ia merasa apa yang diucapkan seperti sinar Rontgen yang menembus dadanya. dan sadar jika Dina telah mengetahui apa yang selama ini ia sembunyikan.
"Dan aku akan selalu ada untukmu kapanpun dan dimana pun kau memerlukanku" sahut Yu Chen tak gentar sedikitpun. "kalaupun tak ada seorangpun yang duduk di sini yang mendukungmu, aku bukan seorang PENGECUT yang membiarkan temannya berjuang seorang diri" lanjutnya dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh orang yang hadir saat ini.
Cindy dan Lee yang sefrekuensi, menghembuskan nafas berat bersamaan. "aku bukan tidak mendukung apa yang Dina rencanakan" Lee mencoba menjelaskan.
"aku hanya mencoba alternatif lain yang lebih masuk akal dan sedikit korban, karena yang kita hadapi ini bukan skala wilayah/daerah layaknya d Hongkong. tapi Nasional, se-Indonesia. apa kau tak membayangkan dampaknya ke seluruh negeri ini? apalagi kita hanyalah orang luar, orang asing, pastinya gerakan kita sangat terbatas d negeri ini"
"Lee benar, kita tak bisa sembarangan bertindak jika kita benar-benar akan menjalankan ini. selain tindakan kita yang terbatas, waktu kita pun terbatas. kita hanya bisa d sini maksimal 30hari, itupun kita harus bolak-balik Singapura atau Malaysia agar visa turis kita aman" sanggah Cindy
"itu sudah cukup" jawab Dina dengan percaya diri
"maksudmu?" sahut Cindy kaget begitupula dengan yang lainnya. semua mata tampak kaget dan penasaran dengan kepercayaan diri seorang Dina.