
Perjalanan menuju restoran dilalui dengan berbagai obrolan biasa d mobil Ahmad. Layaknya staff baru, Dina hanya sebagai pendengar setia, dan itu dimanfaatkannya dengan memperhatikan setiap orang satu-persatu. Begitu pula saat makan bersama, Dina mulai mencatat dalam sel-sel kelabunya tiap orang yg ada d sana.
Saat acara makan bersama usai, beberapa staff ikut nebeng d mobil Bu Wati, salah satunya Dina. Bu Wati langsung menyuruhnya ikut mobilnya, walau sebenarnya langkahnya akan mengarah k mobil Ahmad.
Tak banyak obrolan dalam perjalanan kembali k kantor. Dan ketika sampai d kantor pun tiap orang langsung fokus dengan kegiatannya masing-masing.
*******
di minggu kedua Dina bekerja, ia telah menyesuaikan diri dengan sangat baik. Tantangan yg paling sulit adalah ia harus mencari titik aman meletakkan kamera pengintai dan alat sadap yang tidak dicurigai. dan selalu, tempat teraman justru adalah tempat yang paling berbahaya, dan d situlah ia meletakkannya.
seperti yang telah diketahui sebelumnya jika hari ini staff yang bernama disty dan Brian masuk kerja. dan beberapa staff kantor mencuri pandang k mereka ato sekedar berbisik-bisik saat keduanya lewat.
Brian berjalan biasa saja, namun berbeda dengan disty yg terlihat sangat kurang nyaman. Dengan langkah tenang, Brian jalan menghampiri Demian dan Ahmad yg sama2 akan memasuki lift.
Brian menepuk pundak keduanya, "Pagi" sapanya.
"eh, pagi" jawab keduanya bersamaan.
"sehat San?", "gimana liburan?" sapa keduanya basa-basi
"sehat, sangat sehat & refresh" jawab Brian
""bawa oleh2 g mas Yan?" tanya orang dibelakang mereka yg ternyata adalah Surya.
"ada, nih" jawab Brian sambil menunjukkan tentengannya.
"buatan mamamu San?" tanya Ahmad yg kenal dengan aroma dari tentengan yg Brian bawa.
"yoi, mamaku titip salam buat mas. seperti biasa, mamaku masih ngarep banget mas jd mantunya" Brian tersenyum meledek k arah Ahmad
Ahmad menghela dan memutar bola matanya, ia merasa tak perlu menanggapinya. Walau Brian, Demian dan Surya berbincang seputar liburan Brian, namun seperti biasa Ahmad hanya menanggapi dengan anggukan ato menggumam. Kemudian tanpa sengaja melihat Dina ada diantara orang yg barengan masuk dalam lift. Seperti ada magnet tak terlihat, Ahmad tak mengalihkan pandangannya sedetikpun. Dan hal itu disadari oleh Brian dan salah seorang yg memang sedari awal memperhatikan gerakan keempat pria tersebut.
'Ting'
pintu lift terbuka dan Dina beserta keempat pria MD keluar.
"lagi dengerin apa?" Ahmad mendekati Dina dengan sedikit mengarahkan telinganya k telinga Dina.
"astaghfirullah" Dina reflek menjauh sambil mengepalkan jari-jarinya seolah akan meninju seseorang.
"eits..." Ahmad pun menjauh dengan salah satu tangannya terangkat menghalau gerakan tangan Dina
"maaf, maaf, g maksud ngagetin koq" ia menjelaskan.
"jangan dipukul dong, sayang nih wajah aset negara, ntar mamaku kehilangan calon mantunya" dengan tersenyum meledek dan memperhatikan Dina lebih detail, karena tadi hanya bisa melihatnya dari belakang.
"maaf pak, saya cuma..." belum sempat Dina menjawab, Ahmad tersenyum dan memakluminya.
"it's ok, saya yg salah. maaf ya"
"emm, permisi" Dina menganggukkan kepalanya dan berlalu k mejanya. Diikuti oleh Brian yg melewati Ahmad sambil cekikikan menahan tawanya. Baginya ini adalah hal yg di luar kebiasaan rekan kerjanya itu. Ahmad melihatnya langsung melototi Brian dan berlalu k ruangannya. Sedangkan Demian dan Surya hanya mengangkat bahu tak mengerti ada apa gerangan, karena bukannya mereka tadi lagi asik ngobrol.
Sebelum beberapa menit jam makan siang tiba, seperti biasa, Brian mampir k ruangan Ahmad. "makan dmn kita?" tanya Brian yg langsung duduk dihadapannya
"astaga mas, rajin boleh, tapi pikirin juga kondisi diri mas" ujar Brian yg geleng-geleng melihat Ahmad yg baginya terlalu work a holic.
"bukannya pengganti Demian sudah ada, berbagilah kerjaan dengan dia, siapa namanya? Roy ya?!" Brian menasehatinya
"Ya, nanti kalo dia sdh lancar aku bakal bagi kerjaan k dia. saat ini aku masih bisa menghandle segalanya" jawabnya singkat
"hahhh, ya sudah aku k bawa cari makan. nitip sesuatu g?" tawar Brian
"kau, bagaimana urusanmu dgn Disty?" tanya Ahmad tiba-tiba tanpa mengubris tawaran Brian.
"Dia tu hanya ingin mas peka dan menerimanya. kalo pun nas menolaknya juga jangan bersikap dingin k dia" jelas Brian, menutup pintu rapat-rapat dan kembali duduk.
"aku hanya bisa menenangkannya, karena memang paham mas berbuat seperti itu karena g mau kasih kesempatan k dia. Tapi g ada salahnya ngomongin baik2 kan! apa perlu aku atur buat kalian agar bisa ngobrol bareng?"
"g perlu, maaf ya kau jadi ikutan kena karena aku. terimakasih sudah sangat paham situasiku. aku bukanlah orang yg bisa bebas memilih siapa yg harus berdampingan denganku. semua sudah ditentukan dan aku tidak ada hak untuk menolak" ucap Ahmad dengan raut wajahnya yang dingin. Namun Brian merasakan kegetiran dari ucapan rekan kerjanya tersebut.
"ya sudah, aku k bawah dulu cari makan. beneran g ada yg mau dititip?" tawarnya lagi
Ahmad hanya menggeleng dan kembali pada monitor d depannya, dan Brian pun berlalu.
Pintu lift menuju k bawah akan menutup, Brian pun segera berlari dan mengeraskan suaranya.
"tunggu..."
"huft... terimakasih" ucapnya lega karena orang yang d dalam lift mencegah pintu agar tidak tertutup.
"eh, Dina..., cari makan juga k bawah?" tanyanya pada orang yg tadi mencegah pintu lift tertutup yg ternyata adalah Dina.
Dina menjawab dengan gelengan. "mau sholat d masjid bawah pak, saya puasa"
"oh.. gimana dengan Lia, dia g jutekin kamu kan?!" tanyanya basa-basi.
"mba Lia baik. saya juga orangnya juga g biasa banyak omong. jadi biasa aja buat saya"
"ooo...." Brian hanya berohria
'ting' pintu lift terbuka, dan mereka keluar dan berpisah jalan d pintu keluar gedung.
"fiuh, bener-bener dah, canggung banget" Brian merasa lega setelah berpisah dari Dina. "emang cocok banget sama Lia yg g banyak omong. eh, tunggu dulu, apa itu sama aja secara tak tersirat ia mengatakan kalo aku ini banyak omong? OMG, ini g bisa dibiarkan" sungut Brian kemudian.
Bisa dibilang Brian adalah PR nya divisi MD. Sifatnya yg extrovert dan likeable, menghadapi orang introvert dan wajah jutek Lia saja sudah sangat menguras senyuman mataharinya. sekarang ia harus berhadapan dengan staff baru yg serupa dengan Lia. Walaupun begitu, ia mengakui kemampuan Lia dalam negosiasi dengan supplier. Selain Ahmad, Lia adalah sosok yang mampu menyaingi kemampuan Ahmad dan selalu diperhitungkan oleh Bu Wati. Dan itulah yang saat ini ada dalam kepalanya. Setelah Ahmad, ada Lia yg jadi saingannya untuk bisa memanjat jadi orang nomor 1 d divisi MD. Dan sekarang sepertinya ada 1 orang lagi yg akan menghalanginya.
Baginya jadi nomor 1 d divisi MD akan sangat mempengaruhi karirnya untuk bisa selangkah lebih cepat menjadi orang nomor 1 k perusahaan incarannya. karena itu ia mulai berusaha meningkatkan citra dirinya agar bisa jadi orang yang bisa diandalkan Bu Wati.
Ditengah pemikiran Brian yg berusaha mencari cara untuk mendekati orang2 yg berpotensi membantunya meningkatkan citranya. Di sisi lain, Dina sebenarnya sudah mencoba mencari tahu bagaimana sosok Brian dan Disty. Seperti rencananya, ia hanya akan memantau, dan tak terlalu menonjolkan diri, namun juga tak menyembunyikan kemampuannya. kemampuan yg membantunya mendapatkan apa yg perlu ia tahu dan ia butuhkan, 'mendengarkan dan memperhatikan'.
Di perjalanannya k masjid, ia terus menghela napas beratnya. Dengan terus menyebutkan istighfar dalam hatinya. Dina yang dulunya begitu sarkas dan sombong, sangat geram melihat orang yang seharusnya bisa melihat potensi d depan dirinya sendiri, namun buta karena ditutupi oleh ambisi yg belum tentu layak diperjuangkan. Dina yg dulu pasti tak akan segan mengeluarkan ucapan sarkas, seolah ia mampu merubahnya k arah yg semestinya. Namun pelajaran 5tahun lalu telah menampar mukanya.
"bersabarlah Dina, 'kebencian' tak akan membawamu k tujuan yang sebenarnya. itu hanya akan menyesatkan" ucapnya dalam hati diiringi istighfar yg tak berhenti hingga ia sampai k masjid.