Is It YOU?!!!

Is It YOU?!!!
Lebih Dekat



Hari mulai gelap, beberapa karyawan mulai terlihat mempersiapkan diri untuk pulang. Dina di mejanya masih berkutat dengan laptopnya. ia telah mempersiapkan beberapa dokumen dan report yg akan difollow up esok hari.


tak berapa lama telpon d mejanya berdering. setelah menjawab telepon tersebut, ia membereskan pekerjaannya dan merapikan mejanya. ia menenteng tasnya dan menuju ruangan Ahmad.


'tok..tok...' Dina mengetuk pintu ruangan Ahmad berada.


"masuklah" ucap Ahmad d dalam


"apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Ahmad saat melihat Dina telah masuk ruangannya.


"sudah pak, ada apa bapak memanggil saya?"


"aku dengar kamu bisa data analisis. apa kamu bisa buat presentasi d tableu" tanya Ahmad to the point


"untuk tableu, saya bisa. tapi buat apa ya pak? setahu saya data set yg kita miliki tak memerlukannya" tanya Dina balik penasaran.


"ini bukan data perusahaan, aku ada data market dan brand health dunia. aku perlu buat proyeksi untuk tahun depan dan 3 tahun kemudian. kamu instruksikan saja apa yg perlu aku lakukan" ucap Ahmad, kemudian menggeser laptopnya agar Dina bisa melihat dan lebih leluasa memberikan instruksi.


seperti sebelumnya, Disty memperhatikan Dina masuk k ruangan Ahmad. karena tiap ruangan category manager hanya dibatasi oleh kaca setengah buram, sehingga interaksi d tiap ruangan pasti terlihat dari luar.


d dalam ruangan Ahmad Dina memberikan instruksi sesuai apa yg Ahmad perlukan. sambil memberikan instruksi, Dina memperhatikan sekitarnya. ia menerka-nerka apa yang diinginkan orang disampingnya ini.


"apa ada yg ingin kau tanyakan?" ucap Ahmad tiba-tiba.


"eh, nggak, nggak pak. bukannya saya yg seharusnya menanyakan hal itu?" jawab Dina dengan mengerutkan dahinya, penasaran.


"ya karena kamu dari tadi melirik-lirik" ucap Ahmad memancing


"maaf, saya g bermaksud aneh-aneh koq pak. saya cuma heran sama bapak, d perusahaan ini kan ada data analyst, kenapa minta tolong k saya?"


"pertama,..." ucap Ahmad dengan mengambil napas dalam-dalam


"kalau d dekatku ada yg bisa aku minta tolong, kenapa aku mesti jauh-jauh ato ribet manggil yg jauh"


"kedua, kalau minta tolong kamu, aku g perlu khawatir apa yg aku kerjakan diketahui orang lain. aku tahu karena kamu orangnya g banyak ngobrol sana-sini. hal ini sifatnya adalah rencana yg akan aku capai. jika banyak yg tahu, ntar ada yg ambil. meskipun beda divisi, konsep yg aku kerjakan bisa diaplikasikan oleh yg lain. kalau yg lain juga menggunakannya, apa yg aku buat g original lagi, yg ada bukan aku lagi yg memulai ide ini"


"yang ketiga, please kau jangan panggil aku 'bapak'. umur kita kan cuma beda dua tahun. bahkan usiamu d atas ku. aku kurang nyaman mendengarnya. kau memanggil Demian, Brian, Roy dan Surya dengan 'Mas'. bahkan kau panggil Lia dan Calista dengan 'Kak'. kenapa hanya padaku kau memanggil 'bapak'" Ahmad mengakhiri penjelasannya dengan komplain panggilan bapak yg Dina lakukan padanya.


"maaf pak, eh... Mas" ucap Dina terbata karena Ahmad memandangnya dengan geram saat memanggil 'pak'.


"saya hanya merasa kurang sopan jika saya memanggil 'Mas'. karena secara kasat mata, Mas Ahmad, posisinya terdekat dengan bu Wati. selain itu, saya merasa mas Ahmad sepertinya akan melebihi itu" ungkap Dina


"kau menyanjungku? aku memang akan sangat senang sekali kalau kamu jadi asistenku, tapi sanjungan itu g akan mempan" ujar Ahmad yg merasa geli sendiri karena ada yg menyanjungnya.


"maaf, saya tidak ada niat menyanjung, tapi saya rasa Bu Wati pun juga berpendapat seperti itu" ungkap Dina


"dari mana kau mendapat kesimpulan seperti itu?" Ahmad mengerutkan dahinya.


"maaf ini hanya pendapat pribadi, saya hanya melihat jika potensi yang mas punya dan hubungan mas dengan owner perusahaan, saya merasa mas adalah kandidat penerus yg telah dipersiapkan untuk itu"


"kau, ba.. bagaimana kau...?" Ahmad kaget tak mampu menyelesaikan ucapannya. ia tak menyangka ada orang yang mengetahui hal ini. karena hanya petinggi-petinggi perusahaan yg mengetahui hal ini.


"sebenarnya saya hanya berspekulasi. di saat mas hadir d rapat direksi kemarin lusa. saya beranggapan jika mas hadir karena mendampingi Bu Wati. tapi kemudian saya melihat mas berbicara sangat akrab dengan pak Zidan dan memanggilnya paman. kemudian, mungkin tanpa sengaja saya samar mendengarnya memanggil mas 'Tuan'. ya secara otomatis sel-sel kepala saya berasumsi kalo mas adalah keluarga pak Yahya"


"maaf kalo saya straight to the point mas, but kemungkinan akan menjadi fakta jika bukti dan logika saling beriringan dan menghilangkan keraguan." Dina mengakhiri penjelasannya dengan senyum mengembang bangga. dimana pun di dunia ini, tak ada orang yang sungkan menunjukkan kemampuannya. Namun orang bijak paham kapan dan dimana hal itu dilakukan.


Ahmad menatap wanita di depannya dan tertegun beberapa detik. Kemudian ia mengedipkan matanya beberapa kali guna menyadarkan dirinya. ia tersenyum kemudian kembali fokus pada monitornya.


"tidak ada yang sempurna d dunia, mas" ucap Dina


"karena kesempurnaan hanya milik Tuhan" Ahmad langsung menanggapi.


"ya, kesempurnaan hanya milik Tuhan. dan kesempurnaan yg Tuhan karuniakan kepada ciptaanNya adalah akal dan hati nurani, yang mana itu hanya ada untuk Manusia" Dina melanjutkan.


"akal dan hati nurani lah yang membedakan manusia dengan Malaikat, yg membedakan manusia dengan Setan & iblis, dan yang membedakan manusia dengan hewan dan tumbuhan. Tinggal kita sebagai manusia, mau memilih jalan yang mana"


"apa tidak ada pilihan jalan yang sama dengan Tuhan?" tanya Ahmad, yang mana membuat Dina seketika mengerutkan dahinya, namun kemudian tersenyum penuh arti.


"memangnya mas Ahmad mau ngapain kalo jadi Tuhan?" tanya Dina.


"hmm, entahlah, membuat Dunia menjadi tempat yang lebih baik mungkin!" jawab Ahmad sekenanya


"menjadi lebih baik atau menjadi sempurna di impian tiap orang berbeda-beda, mas. Tuhan telah menciptakan Dunia dan isinya dengan berbagai macam jenis dan memiliki perbedaan serta keunikannya masing-masing. karena itu dibuat untuk jadi saling melengkapi, bukan saling membinasakan" sanggah Dina, yang kemudian suasana menghening.


"he he he, kenapa kita jadi bahas hal beginian, ya?! koq saya berasa jadi orang sok bijak gini. wah, jangan-jangan tempat ini dulunya tempat wali berdakwah" cengir Dina yang berusaha mengalihkan kecanggungan.


"bisa aja kamu, Din. ternyata kamu ini bisa juga ya banyak bicara gini" Ahmad tersenyum


"he he he, g juga mas, saya cuma nyaut sekenanya aja" jawab Dina sambil menggaruk kepalanya yg tidak terasa gatal.


Ahmad geleng-geleng melihat tingkah Dina yang dirasa unik, namun dalam hatinya terbesit suatu perasaan yang familiar.


"ok sudah..." akhirnya Ahmad menghembuskan napasnya lega. "terimakasih ya, Din. dengan begini aku bisa sedikit beristirahat besok. Jadi, apa yang kamu inginkan sebagai imbalannya? secara kamu sangat membantu saya hari ini, tapi jangan yang mahal-mahal ya!" tawar Ahmad kepada Dina.


"yakin, mas!?" jawab Dina sambil tersenyum meyakinkan pria d depannya.


"ya..yakin lah" ucap Ahmad agak ragu tiba-tiba.


"ekhem, kapan-kapan saja mas. untuk saat ini saya masih belum ingin apapun. tapi tenang aja, saya g akan minta yg mahal dan menyusahkan" jawab Dina menenangkan.


"ya sudah kalo gitu aku antar kamu pulang, sudah hampir jam 8 juga. g nyangka lama juga kita ngerjain ini. terimakasih ya" Ahmad melihat jam tangannya dan segera merapikan mejanya. begitu juga Dina yg ikut mengambil tas dan jaketnya. Setelah Ahmad memakai jaketnya, ia membukakan pintu dan mempersilahkan Dina untuk keluar terlebih dahulu diikuti dirinya, kemudian menuju lift untuk turun.


"rumahmu dimana?" tanya Ahmad saat keduanya telah memasuki lift.


"eh, oh g perlu nganter saya pak. sebenarnya saya ada janji sama teman-teman saya" tolak Dina


"g kemalaman kamu jam segini g langsung pulang? jangan-jangan kamu memang sengaja buat menolak tawaran saya!" Ahmad memicingkan matanya meragukan kata-kata Dina


"bukan mas, saya memang ada janji dengan teman hari ini. saya juga sudah bilang kalo datang agak telat tadi" Dina menjelaskan.


"baiklah, tapi tetep aku antar k tempat janjian kalian. terus pulangnya gimana? temenmu tu cowok ato cewek" tanya Ahmad terlihat khawatir.


"ada cowok, ada cewek. tenang aja mas, mereka akan mengantarku pulang nanti"


"ok, ayo.." Ahmad meraih tangan Dina dan menggandengnya menuju tempat mobilnya terparkir.


"eh... tunggu" Dina berusaha melepaskan tangannya yang tiba-tiba digandeng


"oh maaf, reflek" Ahmad segera melepaskan tautan tangannya dan mereka pun meninggalkan gedung kantor.


dan sekali lagi, ada yang mengamati interaksi kedua orang tersebut d salah satu mobil yg terparkir tak jauh dari mereka.