
"ya, aku hanya perlu waktu 30 hari untuk pembersihan ini" ucap Dina mengulangi
"tapi tidak kita lakukan sekarang. tapi 4 bulan lagi. saat kompetisi kalian d Singapura tahun depan"
"aku g ngerti" tanya Albert yg duduk d sebelah Cindy
"aku juga, terus kenapa kita berkumpul di sini kalo nunggu 4 bulan lagi?" Koga ikut menimpali
"aku ingin memberikan informasi orang2 ini dan situasi di sekitar mereka dan target. dan juga aku ingin bertemu kalian semua. sudah lama kan kita g kumpul seperti ini, aku merindukan kalian" Dina tersenyum, namun senyum itu tak ditanggapi suka cita oleh yang lainnya.
Sangat jelas dipendengaran mereka, bahwa suara itu menyiratkan perpisahan. Andika memalingkan wajahnya karena tak mampu menatap wajah wanita di sampingnya itu. ia khawatir, sedih, dan geram secara bersamaan. "kenapa harus selalu seperti ini!" batinnya
Cindy, Lee, Albert dan Koga membisu, tak sanggup mengungkapkan isi hati mereka. "I'd ever told u that u just come with us. leave all that **** behind and let it go. I can give u everything, just let it go!" ucap Yu Chen geram sekaligus putus asa. Namun Dina hanya menatapnya dengan tersenyum dan menyiratkan perhatian dan terimakasih padanya.
"sudah-sudah, kembali k topik. lalu sekarang apa yang harus kita lakukan. aku yakin 4 bulan bukanlah waktu yang cukup untukmu mempersiapkan pembersihan ini. Jadi jelaskan sekarang!" Lee berusaha mengembalikan suasana.
"selama 4 bulan, secara bertahap aku minta tolong Albert dan Koga untuk mengalihkan perhatian target k kasus2 yang dulu pernah mereka tangani. Jadi secara otomatis masyarakat akan lebih memperhatikan tindak-tanduk target, yang mana itu akan mempengaruhi ruang gerak mereka dan tindakan yang akan kita jalankan selanjutnya. Jika sesuai perkiraan, maka langkah kita selanjutnya akan sangat mudah. jika tidak, kita hanya perlu meningkatkan porsi tindakan selanjutnya yang mana hasilnya akan tetap sama. yang membedakan hanya sempit ato lenggangnya jalan untuk rencana ini" Dina menjabarkan sedikit dan itu ditanggapi secara mengambang oleh Albert dan koga.
Dina memahami masing-masing karakter kelebihan dan kekurangan dari teman-temannya, karena itu ia membagi porsi apa-apa saja yang harus dilakukan dan dipersiapkan hingga 4 bulan kedepan.
Berbeda dengan Lee, yang sebelumnya ia gundah, namun sekarang adrenalinnya secara otomatis merasa tertantang dan tidak sabar. dia terkekeh tak mampu menyembunyikan antusiasnya.
"hehehe... kau benar-benar di luar dugaan. aku jadi penasaran, jangan-jangan kau pun merencanakan pertemuan kita dulu atau ini memang takdir yang disiapkan untukmu?"
Dina mengangkat bahunya merasa tersanjung sekaligus beruntung dengan takdirnya bertemu teman-temannya yang sekarang. "yaaa bilang saja aku beruntung dipertemukan dengan kalian. Tapi mungkin ini takdir yang disiapkan Tuhan untukku agar aku menyelesaikan kasus ini dan menghentikan orang itu bertindak lebih jauh. awalnya aku frustasi dan menyangkal semuanya, aku lari tak mau lagi berhubungan dengan yang namanya APH (aparat penegak hukum). tapi orang2 yang dekat denganku dan juga kalian menyadarkanku. salah satunya memberiku nasehat, 'berhenti sejenak saat kita lelah pada perjalanan itu wajar, setelahnya lanjutkan lagi perjalanannya, jangan berhenti ditengah jalan, kalu tidak kau akan menyesalinya seumur hidupmu'. itulah yang memotivasiku untuk melangkah lagi. namun bedanya, kali ini aku memulainya dengan menurunkan kesombonganku yang dulu dan memohon bantuan pada kalian. aku tahu ada rasa keberatan dan was-was pada diri kalian. oleh karena itu aku membagi porsi tugas. Dan apabila hasilnya gagal, dampak terburuknya hanya akan sampai kepadaku bukan kalian. Namun jangan khawatir juga, karena walaupun aku kenapa-napa, sedikit banyaknya mereka juga akan kena imbasnya" ucap Dina dengan menampilkan senyum penuh kepuasan.
"kenapa kau selalu seperti ini?" ucap Andika yang akhirnya tak lagi mampu memendam rasa geram dan gundanya. Berbeda dengan Lee yang merasa adrenalinya tertantan, Andika justru merasakan kepedihan dan kecewa. "kau selalu bilang kita adalah temanmu dan kau memerlukan bantuan kami. Tapi nyatanya tetap saja kau yang memikul segalanya. kau membeberkan dan membagi tugas-tugas ini, namun tetap saja kau sendirian yang memeras otak dan tenagamu supaya kita tak terlalu berat melakukannya. sebenarnya konsep teman dan bantuan dalam hati dan pikiranmu itu APA? apa itu yang kau sebut MENURUNKAN KESOMBONGAN? bagiku kau sama saja meremehkanku. yang namanya teman saling membantu itu bersama-sama meringankan, bukan BERAT SEBELAH seperti ini"
Dina tertegun sejenak tampak tak mampu berkata apa-apa dengan apa yang Andika utarakan. Sekali lagi, bayangan sosok Vania muncul. kelebatan-kelebatan peristiwa 6-5 tahun lalu muncul layaknya proyektor film yg diputar ulang. Sosok Vania yang riang dan apa adanya yang menemani hari-hari Dina saat itu. Hingga saat hari kemarahan Vania yang geram dengan tindakannya yg saat itu mengurung diri karena kegagalan pertamanya menyelesaikan kasus yang mana menyebabkan adanya korban dan pandangan remeh pada dirinya. Bagi Dina yang sangat menjunjung tinggi kemampuan analisa deduktif dan akademik, hal tersebut sangat memukul ego dan harga dirinya.
Vania yang geram langsung menggebrak pintu kamar Dina dan mengeluarkan kata-kata sarkasnya demi menyadarkannya untuk segera move on. karena jika terus terpuruk, maka pelaku akan merasa di atas angin dan akan timbul lagi korban.
Dina memandang teman-temannya yang ada di ruangan ini satu per satu, dan masing-masing menyiratkan pandangan yang sama dengan Andika. Matanya mulai berkaca-kaca, kemudian ia menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya menutupi wajahnya. bahunya mulai bergetar dan mulai terdengar isakan.
Andika mendekat dan memeluk bahu Dina berusaha untuk menenangkannya. ia sedih sekaligus tak tega melihat Dina seperti itu. Namun ia harus mengungkapkannya karena tak mau melihat Dina menanggung semuanya sendiri. terdengar istighfar lirih dalam isakan Dina, kemudian Cindy dan yang lainnya ikut mendekat dan mengusap-usap bahu Dina untuk ikut menenangkan.
"maaf, maafkan aku..." ucap Dina sambil terisak. "aku cuma g ingin kalian kenapa-napa. aku sangat menyayangi kalian, kalian..." Dina tak mampu melanjutkan.
"kita juga menyayangimu, Din" ungkap Cindy. ia meraih bahu Dina dan mengarahkannya agar menatapnya. "kami juga sadar meskipun yang kau kejar itu hanya seorang, namun dibelakangnya adalah orang2 besar yang memang menjadikannya alat bagi mereka. kami percaya jika rencana ini akan sangat membantu masa depan banyak orang. karena itu kau jangan ragu meminta bantuan ke kita-kita. ya tentu saja ada kecemasan di diriku, tapi aku percaya jika kita bersama-sama, semua akan baik-baik saja"
"Never underestimate my power, I'll protect u with my all Ru Chan" Yu Chen memegang bahu Dina dengan mantap.
"hahhh.... jangan terlalu memikirkan segala sesuatunya sendiri, Din" sambung Lee. "kalo kau bilang g ingin kita kenapa-napa, sebenarnya itu sangat melukai harga diriku. kau tahu sendiri aku ini orang yang sangat suka hal-hal yang berbau menantang adrenalin. kalopun harus berhadapan dengan pihak2 yang d luar nalar pun, my heart can handle it"
"cih, a Hero is never match with ur face, so forget it" sindir Yu Chen yang merasa Lee telah menyerobot dirinya yang ingin tampil bak pahlawan d hadapan Dina.
"kau nyindir diri sendiri ato siapa nih!" yang justru tak melewatkan kesempatan untuk membalas Yu chen.
"oh God, please!" keluh Cindy menghentikan keduanya. "sekarang yang penting dengarkan apa yang sudah dina rencanakan dan apa yang bisa kita share untuk memuluskan rencananya dan meringankan beban Dina walau sedikit. Jadi apa rencana yang sudah kau siapkan? baru nanti kita akan lihat apa yang bisa kerahkan untuk menyederhanakannya"
sekali lagi Dina memandang tiap wajah teman-temannya satu per satu. "sebelumnya ijinkan aku berterimakasih pada kalian. sungguh aku sangat berterimakasih karena telah dipertemukan dengan kalian. padahal jika diingat-ingat pertemuan kita bukanlah pertemuan dalam suasana yang menyenangkan. aku sangat bersyukur dengan adanya kalian, aku bisa mewujudkan rencana ini lebih cepat dari yang aku harapkan. Dan aku bahagia dengan takdirku, karena kalianlah yang mungkin akan menyempurnakannya. terimakasih!"
"aku lah yang seharusnya berterimakasih, karena berkat dirimu aku tahu tujuan perjalananku. berkat dirimu aku menjadi manusia yang lebih baik" ucap Andika
"ya, aku juga berterimakasih, berkat dirimu aku dan koga bisa mencapai level kompetisi internasional. padahal dulunya kami hanya bocah yang hanya bisa menghabiskan uang orang tua untuk bermain game. namun sekarang kita bisa menghasilkan uang dari bermain game. kau juga membantu kami menguasai trik dan cheat main game" Albert ikut menyambung ucapan Andika.
"aku tak perlu menyebutkan apa-apa saja yang sudah kau lakukan untuk aku, Yu Chen, Lee, dan kelompok kami untuk sedikit demi sedikit keluar dari dunia bawah" sambung Cindy diikuti anggukan dari Lee dan Yu Chen.
semua mata memandang Dina dengan sorot kagum dan berterimakasih. bagi mereka inilah saatnya mereka membantu atau istilah kasarnya membalas budi atas apa yang sudah Dina lakukan untuk mereka. Dina membalas tatapan mereka dan tersenyum, "benar-benar takdir yang hebat".