
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, dan beberapa karyawan mulai meninggalkan kerjaan mereka untuk makan siang dan ibadah. Tak terkecuali d divisi MD (merchandise).
"Ayo Li" panggil Ahmad yg tiba2 menepuk lengan Lia d belakang.
"eh... oh, ok ok, tunggu 5menit, masih mau nge blass email dulu" tanpa menoleh Lia masih berkutat dengan keyboardnya.
"gimana kerja sama Lia?" tanya Ahmad k Dina. "jangan baper ya, Lia cm awal2 aja keliatan jutek, tapi orangnya baik koq"
"ya pak" jawab Dina tersenyum
"kalian berangkat dulu jg gpp ji, ntar aku nyusul. kau WA aja lokasinya dmn" jawab Lia, yg terlihat kesulitan dengan email nya.
"jangan gitu, kita bareng2lah berangkatnya. g enak sama Bu Wati kalo jalannya misah2 gitu"
"emang kenapa? masih lama kirim email nya?" Ahmad yg kemudian bergeser k samping Lia dan mencoba membantu.
Dina yg dibelakang mereka, memperhatikannya dalam diam.
"iya nih, lola banget, padahal lampirannya g sampe 3MB, lama banget" Lia menjelaskan.
"coba sini" Ahmad mulai mengambil alih. "kalo kayak gini, mending copy dulu text nya, kemudian restart" tangannya mulai menggerak-gerakkan mouse dan keyboard. hanya beberapa detik email sdh d send.
"apapun akan beres kalo d restart" Ahmad dengan gesture membanggakan dirinya sendiri.
"waw, thanks bgt ji, setidaknya ntar tinggal tunggu respon supplier aja. ya dah nyok cus..." g pake lama Lia menyambar tas dan HP nya.
"ayo Din" ajaknya k Dina
"naik mobil siapa aja?" tanya Lia sambil jalan k arah lift bareng dgn yg lain.
"eh, mana Bu Wati?" yg sadar tak melihat keberadaan atasannya diantara yg lainnya.
"Bu Wati sdh d sana duluan, dia meeting sama Sharon group tadi jam 11. dan biar g ribet aku sekalian reserve buat 2 kali service" Ahmad menjelaskan sambil daritadi tangannya tidak lepas dari HPnya menscroll ato mengetikkan sesuatu.
"dan kita naik mobilku dan Demian, tapi kalo kamu mau bawa mobil sendiri ya g masalah"
"yeee, tadi bilangnya berangkat bareng2, malah diminta pake mobil ndiri" omel Lia bercanda.
"aku bilang berangkat bareng2, bukan berarti harus semobil bareng. pasti g muat lah" Ahmad menjawab masih setia dg gadgetnya.
'Ting..' pintu lift terbuka d basement parkiran mobil
"dmn mobilmu Yan?" tanya Ahmad menyamakan langkahnya dengan Demian.
"d G1, tapi mending pake 3 mobil deh Mas, kita kan ber sepuluh" saran Demian yg melihat k arah beberapa rekannya yg berbadan lebih.
"g perlu, d belakang bertiga muat koq" jawab Calista yg agak tersinggung dgn pandangan Demian. walau sebenarnya bukan dirinya yg dilihat Demian.
"Surya, Lia, Jihan ikut aku, dan kamu..."tunjuk Ahmad k Dina
"aku sama dengan kak Lia aja" jawab Dina yg tentu saja g mungkin berpisah dgn rekannya.
"ok, so Roy, Sam, Calista dan kamu, Rena d mobil Demian ya" Ahmad mulai membagi, dan yg lainnya menyetujuinya kemudian naik k mobil tanpa ada protes.
"Mas, si Brian dan disty kapan masuk kerja?" tanya lelaki bernama Surya.
"seharusnya Minggu depan mereka sudah masuk, but who knows" jawab Ahmad biasa
"tapi bener g sih, si Disty sampe mau bunuh diri segala hanya gara2 ditolak gitu" tanya Jihan penasaran
"hadehhhh, kalian tuh ngapain sih kepo sama hal2 yg g berfaedah. kalo ada temen kena musibah tuh empati ato didoakan yg terbaik. bukannya malah ikutan ngegosip" dengan tampang juteknya Lia mengeluarkan suaranya.
"sudah-sudah g perlu dibahas, kalo disty masuk Minggu depan, aku berharap kalian jangan ada yg membahasnya ato bertanya k dia. tahu kan gimana Bu Wati kalo sampe ada kasak-kusuk yg g ada hubungannya dgn target, abis kalian" Ahmad menengahi dan mengingatkan.
"disty itu ijinnya karena kecelakaan yg disebabkan kesalahpahaman dgn temannya. kalo Brian ijin karena ia diminta pulang oleh ibunya yg d Cirebon. so, g ada alasan mau bunuh diri karena ditolak, paham ya!" lanjutnya sambil memberikan lirikan tajam k Surya dan pandangan k spion tengah pada yg duduk d belakang. Ketiganya pun langsung diam membisu tak berani untuk protes.
Dina yg diam, namun tetap mendengarkan dengan seksama. baginya, tak akan ada asap jika memang tak ada orang yg menyalakan apinya. Justru gosip yg tersebar pasti ada motif dibaliknya. Tangannya yg sedari tadi memainkan HP, kemudian ia mulai mengetikkan pesan k seseorang. Namun entah sadar ato tidak, sedari tadi ada yg terus sembunyi2 memperhatikannya.
"oy, kamu biasa dipanggil apa Din kalo d rumah" tiba2 Ahmad berusaha membuka pembicaraan.
"hmm, aku?" tanya Dina sambil menunjuk dirinya sendiri
"ya iyalah neng, d sini kan yg panggilannya Din cm kamu, kecuali tiba-tiba si Surya mau ganti nama jd Udin, ya g tahu lagi kalo itu" canda Ahmad dengan tersenyum k arah Surya.
"Dina" ucapnya singkat
"g ada nama lain ato panggilan kak ato mba gitu" sambar Jihan ikut nimbrung
"g ada, aku anak tunggal. Dan sejak usia SMP aku sdh yatim piatu"
"oh, maaf..." jawab Jihan merasa tidak enak hati
"it's fine" Dina terlihat biasa saja
"terus selama ini, kau tinggal dengan siapa?" Ahmad jadi penasaran
"hmm, karena aku terbiasa mandiri sejak kecil, aku tinggal sendiri. dan Alhamdulillah warisan kedua orangtuaku cukup buat kebutuhan sampai aku kuliah. tentu kadang aku juga ngambil freelance nulis ato ngajar privat saat kuliah"
"waw, pasti keluargamu kaya banget, sampai bisa buat biaya kamu hingga kuliah" sambar Surya yg langsung ditatap nyalang oleh Lia
"kamu tu ya, g ada kata2 sopan ato empati sama sekali dari tu mulut" Lia mulai g bisa menahannya
"kamu g perlu ngerespon omongannya, Din. bener2 dah" sungut Lia sambil mengelus lengan Dina agar tidak tersinggung dengan ucapan Surya
Dina, yg sebenarnya g masalah dan g penting juga mengubris ucapan Surya, hanya tersenyum dan bersikap biasa sambil kembali fokus k gadgetnya.
"ekhem, ok...ok... maaf ya Din, aku g bermaksud apa-apa koq. aku orangnya cm kepo doang. abisnya kalo sepi2 aja gmn gitu" dengan wajah melasnya Surya berusaha meminta maaf.
"it's fine, no prob" jawabnya singkat sambil tersenyum.
"sebelum usia dewasa, biasanya ada wali kan. nah itu gimana?" tanya Ahmad
"hmm, om, adik ibuku yg jadi waliku sampai usia 18tahun. Dan karena penyakitnya, beliau meninggal awal bulan tahun ini" Dina mengakhiri.
"innalilahi wa innailaihi roji'un. terus apa ada kerabat lain yg masih dekat gitu" Ahmad masih penasaran
"kalo kerabat yg dekat cm om ku itu. dia adalah anak terakhir dan paling deket sama ibuku. kalo untuk yg lain aku kurang tahu, karena selama ini yg berkunjung k rumah ya cm om. dan aku g terlalu mencari tahu kalo emang dari ayah ibuku g ada niatan untuk bercerita" jelas Dina
"oy, sebelumnya kamu kerja dmn Din?" tanya Ahmad yg mencoba mengalihkan topik.
"kemarin-kemarin aku hanya freelance nulis dan riset. untuk pekerjaan tetap dulu pernah kerja d perusahaan retail dan e-commerce sebagai admin MD, rata-rata 1-2 tahunan. karena ya kerjaan freelance kan pendapatannya g tetap, dan ingin fokus nabung buat usia pensiun. makanya aku mulai apply d perusahaan"
"kau benar, hidup tu emang harus realistis biar bisa bertahan hidup. ya kali bakal ada yg kasih free money cuma-cuma. it's impossible" sahut Jihan yg dibarengi anggukan oleh Lia dan Surya menyetujui.
"Karena itu, divisi kita harus tetap solid. kalo ada hoax2 yg g jelas jgn ikut2an. Nanti kalo Disty emang pengen cerita, dia pasti ngomong. kalo g ya itu hak dan privasi dia. kita d sini tu keluarga ato teman yg saling mensupport. Ok?!!" ucap Ahmad bijak.
"siap mas" jawab yg lain serentak, kecuali Dina yg hanya mengangguk. Namun di hati dan pikirannya terngiang satu kata, 'Teman?'