
setelah melalui serentetan prosesi administrasi dan induction dari tim HRD, Dina dan beberapa karyawan baru yg memulai hari pertamanya diantar ke divisinya masing-masing. Dina bersama 3 orang rekan barunya di divisi Merchandising diberi arahan dimana ruangan dan siapa saja rekan dan atasannya.
diedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mengamati siapa, dimana dan bagaimana kondisinya. dilihatnya dimana letak cctv dan titik butanya. Dengan memperhatikan masing-masing wajah dari rekan kerjanya satu per satu, disitu ia sadar tak hanya dirinya yg melakukan hal serupa. seketika Dina memejamkan matanya dan menarik nafasnya perlahan, "wajarlah Dina, jangan terlalu menunjukkan ketertarikannya, bersikaplah layaknya karyawan baru" batinnya.
"baiklah, semoga kalian semangat bekerja dengan baik dan jangan sungkan untuk bertanya kalo ada kesulitan atau uneg2 yg mengganggu" Bu Letty, staff HRD yg mengantarkan mereka, memberikan nasehat terakhir sebelum ia beranjak pergi.
"saya tidak mentolerir adanya perselisihan d tim saya" ucap seorang wanita dengan pembawaan superiornya. ia adalah Bu Wati, pimpinan divisi merchandising.
"jika ada permasalahan personal, silahkan selesaikan secara pribadi atau bisa langsung k saya, saat saya senggang. Di sini kita bekerja tim, bukan meninggikan satu-dua orang saja. kalian paham" sambil memperhatikan masing2 staff, Bu Wati menyalami ketiganya.
namun mata itu berhenti pada sosok Dina. Dina yg merasa diperhatikan secara seksama berusaha untuk bersikap biasa, layaknya pegawai baru.
"Kau" ucap Bu Wati sambil menunjuk k arah Dina. "ikut saya sebentar"
kaget, tentu saja tak hanya Dina yg merasakan. staff yg lain pun, baik yg baru maupun yg senior ikut bingung.
Walau terkejut, Dina berusaha terlihat biasa saja. Dengan langkah tenang ia mengikuti Bu Wati k ruangannya.
"duduklah" perintah Bu Wati
Dina pun duduk sambil memperhatikan kondisi dan tata letak kantor atasannya. Tentu saja ia melakukannya sewajarnya pegawai baru saat memasuki ruangan atasan. Dalam beberapa saat, sudah ada rencana yg bermunculan d kepalanya. Dan yang paling utama adalah dimana ia harus memasang kamera pengintai tanpa menimbulkan kecurigaan.
Agar terlihat wajar, Dina memainkan jari-jarinya sambil memandang kanan-kiri layaknya fresh graduate. Dilihatnya Bu Wati membaca kertas ditangannya. kemudian melirik sebentar k arah Dina, dan kembali membaca lagi. sebentar ia mengerutkan pandangannya.
Dina yang terbiasa menebak-nebak apa yg dipikirkan lawan bicaranya, telah ada beberapa kata yg muncul d sel-sel kelabunya.
'hmmm, kenapa? bagaimana bisa? salah ambil? tapi semua sempurna, apa penglihatanku sudah mulai uzur?' gumam Bu Wati lirih.
"mungkin kau bingung kenapa aku memanggil mu" Bu Wati memulai pembicaraan, meskipun batinnya juga masih penasaran.
"aku sebenarnya ingin menempatkanmu jadi asisten kategori grocery. tapi aku akan menjadikanmu asisten saya" terang Bu Wati sambil meletakkan kertas yg dibacanya barusan. ternyata itu adalah CV milik Dina.
"aku memerlukan kemampuan bahasa dan analisismu untuk membantuku mempercepat proses strategic plan dan prospek merchant" lanjutnya. "bagaimana?" Tanpa basa-basi Bu Wati to the point sambil menangkupkan kedua tangannya tanpa melepaskan pandangannya.
"sebelumnya saya sangat berterimakasih ibu menilai kemampuan saya sedemikian rupa. namun alangkah baiknya ibu pertimbangkan salah seorang dari tim ibu terlebih dahulu, daripada menunjukkan seseorang yg baru datang seperti saya" Dina menjawab percaya diri. walau dalam hal kemampuan dan pengalaman ia tahu dirinya mampu, namun saat ini prioritasnya adalah menjaga agar dirinya tak terlalu menonjol.
"maaf, bukan bermaksud menolak tawaran ibu. namun saya saat ini lebih percaya diri sebagai asisten merchandise. karena saya lebih siap d posisi tersebut. saya akan sangat berterimakasih jika ibu bersedia memakluminya"
Jika ditanya 'siapa sih yg berharap posisi yg lebih tinggi?' tentu jawabannya pasti MAU pake banget. namun itu g berlaku untuk Dina. tujuan hidupnya saat ini sudah sangat jelas, meskipun tahu hal itu mengancam jiwanya.
Sejak pertama Bu Wati menginterview Dina, ia sudah tahu wanita dihadapannya berbeda. Ia tertarik secara tidak langsung dengannya. Terlihat aneh memang, namun ini lebih kepada hal yg membuatnya penasaran. karena dirinya merasa tak pernah memberikan list CV milik Dina kepada HRD.
"hahhh, Sebenarnya selama ini aku tak pernah memiliki asisten..." dengan sedikit menjedah ucapannya, Bu Wati melanjutkan. "namun tanggung jawab yg mulai bertambah, aku mulai mempertimbangkan keberadaan asisten"
"aku akan memberikan masa probation tersendiri untukmu. kau akan tetap menjadi asisten kategori grocery selama 1 tahun kerja. Setelah itu, kita akan lihat selanjutnya bagaimana dan aku harap kamu mempertimbangkan kembali keputusanmu". tampak sedikit kekecewaan dalam gurat wajah Bu Wati, dan ia memaklumi serta mencoba memberi waktu.
Tentu hal ini menjadi dilema tersendiri bagi Dina. hal ini diluar perencanaannya, dan secara tidak langsung ia harus segera menyelesaikan rencananya secepatnya.
"baiklah Bu, saya akan berusaha" jawab Dina singkat. Baginya, jawaban yg panjang dan berbelit-belit terlalu beresiko.
"kalau begitu tolong panggilkan yang lain masuk" perintahnya
"karena perkenalan staff baru tadi sudah, sekarang saya akan membagi tugas" ucap Bu Wati yang kemudian mengarahkan pandangannya k salah satu staff baru.
"kamu, Calista.." ujar Bu Wati
"ya Bu" jawab Calista
"kau akan bersama Rena d kategori Beauty"
"baik Bu" jawab Calista dan Wanita bernama Rena bersamaan
"untuk Roy, akan bersama Demian d kategori Health. kau bisa serah terima dengannya"
"baik Bu" jawab Roy dan Demian diikuti dengan anggukan dari Ahmad, manajer kategori Health.
"Demian, pastikan kau membantu dan memberikan semua informasi yg diperlukan Roy. Kau bantu dia juga ya Ji" ujuar Bu Wati sambil melihat k arah Ahmad
"baik Bu", "Siap Bu" sahut Demian dan Ahmad sambil menunjukkan sikap tangan hormat ke Bu Wati
Bu Wati hanya menggelengkan kepala dengan sikap Ahmad. kemudian, "dan Dina akan membantu Lia d kategori grocery"
"baik Bu" jawab Dina dan Lia bersamaan.
"Baiklah, kalian bisa kembali ketempat kalian, dan nanti jam istirahat, kita makan siang bareng. Ji, tolong bantu reserve tempat d restoran ato cafe, terserah yg mana"
"wah ini yang ditunggu-tunggu, d restoran yang biasa ya Bu?" ucap Ahmad diiringi senyum happy nya, diikuti tepuk riuh staff yg lain.
"ya kalau kalian g bosan, g masalah, reserve saja"
"yea....."sahut semua staff
"ya sudah, sana kembali kerja! Ingat target!!!" usir Bu Wati bercanda namun tetap mengingatkan staffnya.
"siap Bu" jawab staffnya bersamaan.
Dina berjalan mengikuti Lia menuju mejanya.
"mejamu d sini, dan untuk sementara lihat2 ato baca2 dulu aja ya" Lia menjelaskan. "nanti kalo aku sudah agak longgar kita mulai sharing time nya"
"baik kak Lia" walau Dina lebih tua dibanding Lia, untuk sopan-santun, ia tak mungkin memanggil sebutan nama saja.
"oy, kau sudah ada akses k share folder dan aplikasi yg diperlukan, belum?" tanya Lia yg sadar kalo staff baru pasti perlu waktu untuk prosedur ijin akses tersebut.
"aku cek dulu kak, tapi kalo bisa, kakak tulis aja akses dan aplikasi apa saja yg diperlukan dan harus minta k siapa. Nanti aku coba urus sambil tanya2 lagi k kakak kalo kurang paham" jawab Dina
"ok, ini-ini yg kamu perlukan, dan bisa email atau chat k sini" Lia menuliskan apa saja yg diperlukan pada secarik kertas dan menyerahkannya k Dina.
"baik kak" Dina menerimanya dan memulai aktivitasnya.