
Dina telah sampai d unit 312. berbeda dengan unit yg ditempati Andika, ia memberikan pengaman ganda d pintunya, dan hanya dirinya yang bisa memasukinya. namun tak ia pungkiri, pasti Andika sudah pernah berusaha memasuki unit kamarnya tanpa sepengetahuannya.
"assalamualaikum" salam Dina, walau ia tahu tak akan ada sahutan atas salamnya. itu kebiasaannya setiap memasuki ruangan, tentu selain toilet.
unit yg ia tempati lebih mungil dari yg ditempati Andika. walau sama2 unit studio, namun miliknya tak ada cukup ruang untuk berlesehan. ia sengaja milih unit ini walau hal itu membuat Andika kesal. Dina paham sifat gentle Andika agak terusik setiap kali Dina menunjukkan kemandirian dan keengganan untuk meminta bantuan lebih.
"hhhh...aaargh..." teriakan namun tanpa suara Dina lampiaskan begitu merentangkan tubuhnya d kasur. dengan menggaruk-garuk kasar kepalanya setidaknya ia merasakan frustasinya lumayan berkurang.
setelah minum air putih kemudian mandi, Dina segera menuju meja d dekat kasurnya. sebelumnya Dina mengatur posisi duduknya sedemikian rupa, kemudian ia mengeluarkan SD card yg ia peroleh dari dari orang yg membereskan semua cctv d TKP. Dan dikeluarkannya pula kedua laptop dan ponselnya.
dibukanya file yg dikirim Andika d laptop yg biasa ia bawa, dan dibukanya file video cctv d laptop satunya. Diperhatikannya kembali video yg tadi dilihatnya bersama Andika, kemudian mencocokkannya dengan salah satu video cctv yg sengaja Dina pasang d lokasi gerbang keluar universitas, tak jauh dari danau (TKP).
Diputarnya video d jam 7 -11 malam. Dikernyitkan matanya, karena kondisi sekitar danau memang kurang ada pencahayaan. Dalam video tersebut sangat jelas bagaimana peristiwa tersebut terjadi. meskipun suasana agak gelap, dapat terlihat ada 2 orang yg semula bercakap-cakap biasa, kemudian menjadi aksi pembunuhan disaat korban berjalan akan meninggalkan pelaku. kemudian dari belakang si pelaku membekap dan menarik korban k arah danau.
Dengan perbedaan postur badan yg signifikan, sangat mudah bagi pelaku menggeret korban k danau dan menenggelamkannya. Meskipun video tersebut tidak begitu jelas menunjukkan wajah si pelaku, namun hal tersebut sangat cukup buat Dina agar peristiwa tersebut bukanlah kasus bunuh diri. setelah menduplikasi video tersebut, Dina menyimpan SD card tersebut k tempat aman. sedangkan untuk salinan video, Dina simpan k folder bernama "Runer20".
setelah dirasa cukup, dengan menggunakan ponsel kedua, Dina mengirim pesan singkat k seseorang.
Ami81: assalamualaikum, besok siang jam 10, akan ada sebuah amplop hijau d meja kakak. d dalamnya terdapat rekaman bagaimana pelaku melakukan aksinya. semoga bisa jadi titik terang untuk dapat dilakukan penyidikan. terimakasih, wassalamu'alaikum. send.
Ami81: pesanan untuk 2* ready kirim jam 10, terimakasih. 312. send.
setelah berkutat dengan video, Dina beralih membaca data pribadi akun @dnangel yg tadi dimintanya. disitu Dina langsung megerti kenapa pemilik akun tersebut diincar. akhirnya Dina mulai memikirkan strategi, kemudian ia segera menelepon.
***
d unit bawah, Andika mengamati monitor d depannya. kemudian ada panggilan masuk k ponselnya. dilihatnya siapa yg menelepon. salah satu sudut bibirnya terangkat, menunjukkan rasa puas d hatinya.
"ya Din, ...." didengarnya instruksi yg Andika terima
"....."
"hmmm..., hmmm..., kalo kamu mendekatinya tiba-tiba akan mencurigakan Din. Jangan buru-buru, ikuti arus aja dulu. nanti d tengah-tengah aku akan menciptakan peluang untukmu agar kau bisa berteman dengannya"
"......"
"jangan khawatir, tidak akan ada yg berbahaya. aku paham kekhawatiran mu. dan bagiku keselamatanmu adalah prioritasku"
"......"
"i iya iyaa, wanita itu juga. sudahlah, jadi besok kau akan berangkat jam berapa?"
"......"
"hmm..., baiklah. sudah, istirahatlah. aku akan mempersiapkan apa saja yg kau perlukan besok, dan jaga dirimu. sweet dream, assalamualaikum" Andika mengakhiri panggilan tersebut. terpancar raut khawatir, sedih, sekaligus senyum hangat d wajahnya.
Andika merasa dirinya sedikit demi sedikit berubah dari pribadinya yg dulu. entah apa yang akan terjadi pada dirinya jika saja ia tak bertemu dengan Dina. Ada dilematis yang begitu kuat d hatinya saat ini. seketika diraup wajahnya dengan kasar, menandakan kesedihan dan sayang secara bersamaan.
*****
Dina mengakhiri panggilan teleponnya. perasaannya sedikit lega, setidaknya sudah beberapa langkah yang sudah ia lakukan dan persiapkan. dan akhirnya sehari pun terlewati dengan baik.
dilihatnya jam hampir menunjukkan tengah malam. dirapikan kedua laptop dan ponselnya dan semua perlengkapan lainnya, dan disimpannya pada tempatnya. kemudian ia menuju kasur empuknya.
"terimakasih, ndi. maaf..., ini harus aku lakukan. semoga kau bisa segera menentukan, pihak mana yang akan kau lindungi" batinnya. Dengan menutup mata, dipanjatkan doa untuk dikuatkan iman dan hatinya. dirinya hanya berharap, apabila prasangka yang ia rasakan benar, semoga hal itu tak terlalu melukai orang2 tersayangnya. dan akhirnya ia pun terlelap dalam tidurnya.
*****
"tidak Van, aku tidak bisa" ucap Dina frustasi. trauma masih menghantui pikirannya. begitu jelas bagaimana ia menemukan korban sudah tak bernyawa. padahal tinggal sedikit lagi ia akan menangkap pelaku. namun korban yang ia sangka telah berhasil dibujuk untuk segera pulang ke rumah orangtuanya. ternyata ia telah tergantung tak bernyawa d apartemennya.
"aku harusnya tidak ikut campur, ini salahku, harusnya aku tahu, aku tahu ada yg g beres. bagaimana bisa aku sebodoh itu" ceracau Dina g berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"HENTIKAN, DINA" teriak Vania g sabar. hatinya sakit melihat sahabatnya itu tampak begitu lemah. "kau bukan Tuhan, Din. bukan kamu yang menentukan hasil ini harus terjadi atau tidak. kamu cukup melakukan apa yang mampu dilakukan semaksimal mungkin. pasrahkan hasilnya pada Tuhan. jangan menyalakan dirimu sendiri atas apa yang bukan kendalimu"
"tapi salahku lah dia meninggal. aku terlalu pongah karena tidak menghiraukan ketakutan dan penderitaannya. aku meremehkan trauma psikisnya, yang secara tidak langsung, aku sendiri lah yang mengarahkan dia untuk bunuh diri. aku tak ada bedanya dengan si pelaku itu sendiri" ucap Dina yg tak berhenti hingga tangisannya tak terbendung lagi
"kumohon Dina jangan seperti ini" pinta Vania yg ikut menangis bersama temannya itu.
"kau berbeda dengan si pelaku. kau masih merasakan sedih dan bersalah atas apa yang terjadi. masih ada rasa empati dalam dirimu. kau boleh sedih, kau boleh marah, kau boleh kecewa, tidak apa-apa Dina. tapi bukan sekarang. kita tidak boleh membuang waktu. kalau tidak semua akan sia-sia"
dengan tatapan sedih namun ada sedikit amarah dalam dirinya. kemudian Vania bangkit, menghapus air matanya, dan menatap tajam mata Dina. "kalau kau tidak sanggup, maka aku yang akan melanjutkan dan pergi menangkap pelaku itu sendiri"
"aku bukan orang lemah tak berdaya yang lari dari kewajiban" dengan melepaskan genggamannya, Vania berlalu pergi meninggalkan Dina.
"tidak Van, tungggu..." dengan suara tertahan, Dina mencoba meraih tangan Vania.
"tunggu Van... Vania..."
"Van..."
.
.
.
.
tangan Dina terus berupaya menggapai, namun saat membuka matanya, ia sadar bahwa ia hanya menggapai k udara kosong. napasnya sedikit terengah dan peluh keringat membasahi dahi dan lehernya.
"mimpi ini lagi..." batinnya. Dina mengusap keringat d dahinya, dan mulai mengatur napasnya. ia memejamkan matanya dan tanpa sanggup ia tahan, air matanya mulai menetes. Dina pun mulai menangis tertahan dalam diamnya.
"maafkan aku Van...."