
setelah Dina menenangkan dirinya dan kak Rohman sedikit meredam emosinya, kak melati memulai pembicaraan.
"jadi sekarang, apa yang Dina rencanakan dan perlu bantuan apa dari kami?"
"kak Mel yakin, kau tak akan melakukan hal yg diluar perencanaan" tegasnya dengan menatap tegas k arah Dina.
kak Rohman yg d depannya pun ikut penasaran namun tetap mempertahankan tatapan tajamnya.
Dengan membuang napas berat namun pasti. Dina mulai mengutarakan apa tujuannya datang k rumah ini.
"Dina telah menemukannya..." jawabnya dengan serius menatap langsung k arah kak Rohman. dengan tiba2 membulatkan matanya, kak Rohman menajamkan pandangan dan mengeraskan rahangnya.
"ya, Dina sdh menemukan pelaku kasus seri bunuh diri itu"
"Dina sembilan puluh tiga persen yakin dialah pelakunya. Dina sdh menelusuri, dan dia sdh melakukannya sejak ia masih remaja"
"tap...."belum sempat Dina melanjutkan, kak Rohman tiba-tiba berseru.
"apa maksudmu kau sdh menemukannya? bagaimana kau menemukannya?" tanya kak Rohman tak mampu mengendalikan emosi dan rasa penasarannya.
"kau tidak mengada-ada kan? bahkan timku d Bareskrim tak bisa menemukan secuil bukti kalo memang itu adalah kriminal"
"meskipun aku dan salah satu temanku yakin 100% itu adalah pembunuhan, tetap tak mengubah fakta kalo tak ada bukti yg mencurigakan"
"bahkan atasanku berpendapat kalo aku melakukannya karena dipengaruhi emosi, yg akhirnya aku diberhentikan dari penyelidikan tersebut" sambungnya tampak kesal mengenang peristiwa tersebut.
"benar kak, Dina sdh menemukannya dan bagaimana pelaku tersebut saat ini" jawab Dina meyakinkan.
"tapi...." ada jeda sejenak dalam suaranya, dan dengan hembusan nafas yg berat ia melanjutkan.
"tapi, orang ini akan sangat sulit ditangkap" sambungnya
"selain kurangnya bukti yg langsung mengarah ke dia. karena orang ini sangat berhati-hati dan juga detail. dia termasuk anggota keluarga orang besar d negeri ini"
"tentu saja, jika kita mampu menangkap dan mengadilinya. Dina tidak yakin kalo orang ini akan dihukum setimpal dengan perbuatannya" ucap Dina menyelesaikan
kak Rohman dan kak melati saling memandang satu sama lain, mereka berusaha mencerna apa yg Dina ceritakan. ketidakpercayaan, kengerian, dan penasaran terpampang jelas di wajah mereka.
"sudah hampir setahun ini Dina dan Andika mengawasinya. sebisa mungkin Dina dan Andika mencegah terjadinya korban, dan beberapa berhasil kami cegah. namun semalam dia berhasil" sambil memejamkan mata dan bergidik Dina geram mengingat peristiwa yg dilihatnya langsung semalam melalui cctv yg Dika pasang.
"apakah kakak menerima laporan kasus bunuh diri seorang mahasiswa universitas d Bogor pagi tadi? tanya Dina mengkonfirmasi
"bagaimana kau..., apakah itu juga ulahnya?" tanya kak Rohman makin geram.
"hmm..." angguk Dina membenarkan
"bisa dibilang begitu, karena dia tak melakukannya secara langsung. seperti cara-cara sebelumnya. dia melakukan hal-hal yg sifatnya persuasif ke korban"
"karena itulah akan sangat susah untuk membuktikan kalo dialah pelakunya" geram Dina sambil memejamkan matanya.
"yg bisa Dina dan Andika lakukan adalah menikungnya d tengah dengan memberi dorongan dan saran pada korban, saat mereka menunjukkan tanda-tanda akan bunuh diri dengan tetap menjaga agar pelaku tak menyadari keberadaan kami"
"namun, sepertinya dia agak terburu-buru untuk kasus hari ini" Dina mencoba mengingat-ingat kembali kejadian-kejadian sebelumnya yang entah mengapa ada hal yang dirasa mengganjal.
"ada apa, Din?" tanya kak melati memperhatikan
"iya kak, memang ada yang aneh dengan cara tenggelamnya korban" coba Dina berusaha mengingat
"kau melihatnya langsung saat itu atau bagaimana? kenapa kau tak berusaha mencegahnya" hardik kak Rohman beruntun
"Dina tak bisa apa-apa kak!" sanggah Dina, namun sebelum melanjutkan, kak Rohman memotong.
"kenapa kau tak bisa berbuat apa-apa? kau ketakutan atau malah menunggu pelaku menunjukkan batang hidungnya? jadi kau bisa menangkapnya dan membiarkan timbulnya korban!" berondong kak Rohman tak percaya sekaligus kecewa
"mas, sabar... Dina kan belum menyelesaikan kata-katanya" segera kak melati menenangkan suaminya tersebut
"kejadiannya lewat tengah malam, kak!" Dina menjelaskan
"dan Dina masih di kamar Dina sedang tidur. kemudian Dina terbangun karena mimpi kurang baik, yang akhirnya Dina langsung sholat tahajud"
"setelah itu seperti biasa Dina memperhatikan monitor. seperti yang Dina jelaskan tadi, kalau Dina dan andika mengikuti segala gerak-gerik pelaku dan calon korbannya"
"dina sadar beberapa tindakan Dina melanggar privasi, namun tak ada satu pun dari hal tersebut Dina lakukan demi keuntungan pribadi"
"akhirnya ada beberapa chat yang Dina baca ada yang tidak beres. kemudian Dina memeriksa kamera kamar asrama korban, namun Dina tak melihat dia ada di sana"
"saat itulah Dina mulai gelisah, dan meminta andika ikut mencari dimana kira-kira korban berada. dan kami menemukan korban berjalan menyusuri danau kampus, kemudian masuk ke dalamnya. selang beberapa waktu, tubuhnya mulai mengambang"
"dia meninggal begitu saja?" tanya kak Rohman heran
"innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap kak melati
"ya kak, korban meninggal. itulah yang Dina tak menyangka. tak mungkin orang yang berniat bunuh diri bertingkah laku seperti itu. saat Dina memperhatikan dia masuk k danau pun, airnya tak terlalu beriak. seharusnya jika ia mulai kehabisan oksigen, korban pasti ada reflek meronta walaupun sedikit"
"benar seharusnya begitu..." Dina mulai menajamkan kembali ingatannya
"seolah-olah ada orang yang sudah ada di dalam danau menunggunya, kemudian menariknya ke dasar, sehingga tak akan terlihat kalau ada penyerangan di dalam danau"
"tapi timingnya harus sesuai..."ucap Dina merasa tak percaya dengan analisisnya
"timing?" kak Rohman tak percaya dengan apa yang didengarnya
"maksudmu semua sudah diatur?"
"hmm.." angguk Dina
"semua-semua yang dilakukannya pasti sudah direncanakan sedemikian rupa. tapi untuk yang satu ini, dia pasti sangatlah hebat hingga mampu memprediksi kejadiannya sangat pas"
"atau jangan-jangan korban telah meninggal sebelumnya, dan yang Dina saksikan itu semua adalah rekaman" terus berargumen sendiri dengan pikirannya, Dina lupa jika kedua orang di sebelahnya memperhatikan penasaran
"jadi seperti itu, kenapa aku sama sekali tak terpikir ke arah sana, damn..." belum selesai Dina mengumpat, ia sadar ada 2 pasang mata yang sedari tadi memperhatikannya dengan penasaran
"maaf kak, Dina g bermaksud..." segera Dina merasa kurang sopan pada si pemilik rumah.
"sebentar, Dina harus memberi tahu andika"
ucap Dina kemudian mengambil hpnya
"halo ndi, tolong periksa lagi rekaman tadi, dan apa bisa diketahui kira2 kapan atau di jam berapa rekaman itu mulai direkayasa" pinta Dina pada temannya tersebut
"kalo bisa, apa kamu bisa mendapatkan rekaman aslinya? tapi kau harus berhati-hati, terakhir kali kita melakukannya, dia hampir menyadarinya, bukan. dia mungkin sudah tak menyimpannya di situ. tapi coba periksalah dulu. coba periksa dulu sebelum masuk, mungkin ada beberapa jebakan yang sudah ia persiapkan"
hmm, aku akan ke tempatmu nanti. terimakasih, hati-hati. assalamualaikum" Dina mengakhiri sambungan teleponnya