
Dina masih diam dan tetap mempertahankan tatapannya. "aku anggap diammu sebagai pembenaran" ucap Andika
"terkejut, tentu saja aku lumayan Amazed. Tapi setelah melihat apa yang kau otak-atik dari tadi, sdh menjelaskan beberapa hal. Yang buat aku bertanya adalah apa tujuanmu padaku dan kenapa kau memilih kami? secara dengan kemampuanmu, kau bisa bekerjasama dengan pihak-pihak yang lebih dari kami"
"jangan menilai diri sendiri atau seseorang lebih baik atau kurang" ucap Dina yang kurang suka dengan rasa rendah diri Andika. "Setiap makhluk memiliki kesempurnaannya masing-masing. bukankah aku tadi bilang, mungkin ini adalah takdir yang telah disiapkan Tuhan untukku supaya dapat berjumpa dan berteman denganmu dan yang lainnya. Tujuanku padamu, aku yakin kau sudah bisa memperkirakan apa itu. Setidaknya dengan bertemu dan mengenalmu aku bisa menggali fakta mengenai kasus ini. Dan kenyataannya Tuhan mengarahkan takdir yang diluar perkiraan, dan aku sangat bersyukur akan hal itu. Dimana aku bisa berteman denganmu, Yu, Cindy, Lee, Albert, Koga, dan anggota Grounders lainnya"
"Berencana dan berikhtiar itu diperkenankan, namun hasil tetap Hak prerogatif Tuhan. Dan disetiap rencana yang aku persiapkan semaksimal mungkin aku menyediakan ruang improvisasi untuk itu. tak hanya ruang jawab 'ya dan tidak', tapi bisa kombinasi ato bisa tidak keduanya. semua selalu ada kemungkinan dan peluang"
"Jadi, mulai saat ini, apakah aku bisa percaya 99% padamu sebagai mata-mata?" tantang Dina
"99%... kenapa? bukankah seharusnya 100%?" Andika menyipitkan matanya saat mendengarnya
"ya... 1% untuk hal-hal yang diluar kendaliku ato kalimat kerennya, kesempurnaan hanya milik Tuhan" jawab Dina sambil tersenyum.
"ck... kau ini memang selalu di luar nalar" jawab Andika dengan menggelengkan kepalanya.
"jadi, gimana?... bisa g?" tuntut Dina
"kan tadi sudah aku bilang 'absolutely'. karena aku menyayangimu dan juga adikku, jadi aku akan mengerahkan 1000% kemampuanku" jawab Andika yakin seyakin-yakinnya.
"Terimakasih, itu jawaban yang sangat berarti untukku" Dina tersenyum
"lanjut ke pertanyaan" ucap Dina kemudian. "jadi kalian berpisah saat dia masih usia 7tahun, dan kau 13tahun, benar?" tanya Dina
"hmm" Andika mengangguk
"diusia itu dia masih tinggal dengan pamanmu, adik dari ayahmu. dan beberapa bulan setelah itu dia ditempatkan d panti asuhan terdekat karena pamanmu meninggal. apa kau pernah mengunjunginya saat masih d panti?" tanya Dina
Andika menggeleng, "nggak, saat itu aku belum tahu kalo paman meninggal belum lama setelah aku kabur. aku masih luntang-lantung ngamen dan nguli d jalanan untuk bisa makan. aku baru mengetahuinya saat usia 20 an. saat aku sudah stabil secara finansial. aku kembali berniat untuk menjemput adikku. Tapi aku nggak mendapati mereka di sana. rumah itu sudah ditinggali orang lain, bibi telah menjualnya. saat itulah aku baru tahu paman meninggal, dan info dari tetangga kalo bibi menyerahkan adikku ke panti"
"aku pun mencari panti asuhan tempat adikku diserahkan. Tapi dia sudah ada yang mengadopsi selang 2 tahun dia d sana. dia diadopsi oleh keluarga terpandang di Bandung"
"setelah berminggu-minggu aku memohon pihak panti asuhan, akhirnya mereka bersedia menunjukkan padaku dimana keluarga baru adikku berada. dan aku lega dia terlihat baik, berkecukupan dan tampan. saat itu aku merasa beban dan rasa bersalahku lumayan terangkat"
"aku benar-benar kakak yang bodoh, bukan!?" sesal Andika
"aku bahkan tak mampu peka dan merasakan apa yang telah dilaluinya sejak aku meninggalkannya. aku mengira dia akan baik-baik saja dan paman akan memperlakukannya dengan baik. padahal aku saja kabur karena tak tahan dengan siksaan paman. aku sangat tolol karena mengharapkan orang bejat seperti paman tidak akan bersikap kasar pada adikku yang masih 7tahun saat itu"
"aku bahkan mengira dia bahagia karena telah diadopsi oleh keluarga yang ber'ada'. aku sangat naif hanya karena melihat lapisan kulit luar tanpa berusaha mencari tahu lebih apa dia benar-benar bahagia atau tersiksa" Andika terus mengepalkan tangannya sampai merah demi berusaha meredam amarahnya.
Dina mendengarkan dalam diam. dia membiarkan Andika untuk menenangkan dirinya. setelah dirasa cukup, ia mulai bertanya kembali.
"sejak kapan kau tahu kalo adikmu tidak baik-baik saja?"
Andika menghembuskan napasnya sejenak. "setelah aku mengenal beberapa cara nge crack CC dan bermain-main dengan akun sosmed orang. awalnya aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya dengan melihat-lihat akun sosmednya. tapi ada beberapa postingannya yang tidak bisa aku lupakan. lalu aku mencari tahu lebih dalam. setelah itu aku mengetahui ia memiliki beberapa akun dark yang di dalamnya berisi hal-hal yang...." Andika tak mampu melanjutkannya.
Dina yang paham kemudian meneruskan pertanyaannya. "apa kau mencoba menemuinya atau menghubunginya?"
"hmm" Andika menganggukkan kepalanya.
"aku mencoba menghampirinya sepulang sekolah. saat itu dia berkelompok dengan teman-temannya. awalnya dia tak mengenaliku. tapi saat teman-temannya pergi dia yang kemudian menghampiriku, dia bilang tak ingin keluarga orang tua asuhnya melihatnya berhubungan dengan orang-orang yang tak dikenal"
"jangan melihatku seperti itu" ucap Andika saat melihat Dina mengerenyitkan dahinya. "bisa dibilang aku adalah orang asing baginya saat itu. aku yang pergi begitu saja dan 10 tahun kemudian muncul tiba-tiba d depannya yg bisa dibilang sangat berkecukupan, siapapun pasti berpikiran lain"
"aku mencoba menanyakan kabarnya dan bagaimana keluarganya memperlakukannya. walaupun dia bilang dia baik dan selalu bahagia. tapi setiap hari aku g berhenti bertanya. kemudian aku memberi tahu bagaimana menghubungiku tanpa bisa terlacak oleh siapapun. saat itulah, dia mulai terbuka dan bercerita padaku"
"apakah aku bisa membaca percakapan kalian?" pinta Dina
Andika terdiam. kemudian dia beranjak ke notebooknya dan mulai login serta mengetikkan beberapa kata sandi. setelah terbuka ke homepage yang diinginkan, dia menunjukkannya pada Dina. di situ Dina menelusuri dan membaca mulai dari percakapan awal kakak-beradik itu. Namun baru beberapa scroll, Dina berhenti.
"maaf kalau ini akan menggangu privasimu, tapi tolong forward percakapan ini kepadaku!" perintahnya
"apa kau akan terus bersikap seperti ini?" tanyanya
"huh, apa?" Andika bertanya balik
"walaupun aku sangat mengharapkan 100% kau melakukan apa yang aku minta. bukankah seharusnya kau mempertanyakan juga tentang apa-apa dibalik permintaanku itu. jangan pernah memberikan 100%, selalu sediakan minimal 1% untuk kemungkinan-kemungkinan lain, apapun itu. hanya berikan 100% pada Tuhan, tapi jangan pada Manusia." ucap Dina sedikit geram.
"inilah kenapa kau gampang sekali dimanipulasi. setidaknya bersikaplah skeptis dikit"
"bukannya aku tadi bilang akan memberikan 1000% kemampuaku dan kau juga kan yang minta supaya aku jujur dan tidak menyembunyikan apapun?" tanya Andika
"Kerjasama yang benar dengan keberhasilan sempurna harus berdasar pada kepercayaan, kan" tegas Andika
"kau benar, dan Aku ingin kau jujur, iya, tapi aku ingin kau juga waspada dan skeptis dengan sekitarmu. apa kau tidak curiga dengan apa yang akan aku lakukan? aku ingin kau sedikit berhati-hati. apa kau tak menyadari apa saja yang sudah kau lakukan? kau ingin menyelamatkan adikmu, tapi lihat apa akibatnya!"
"sikap 'gampanganmu' justru menenggelamkannya, kau..." Dina terdiam tak mampu meneruskan. Dia lepas kontrol, menyesal, dan tak seharusnya ia menghakimi, itu sama saja ia menyalahkan takdir yang telah terjadi.
ia melihat wajah Andika mengeras dan merah, menahan diri dan tak mampu membalas. karena apa yang dina katakan benar adanya.
"astaghfirullah... astaghfirullah.... astaghfirullahal 'adzim" berulang kali Dina beristighfar
"maaf, aku salah. bukan salahmu. aku hanya menyayangkan kau juga akan seperti ini pada orang yang punya niat memanfaatkanmu. kau nggak salah, kau hanya berusaha untuk berbuat baik. kau begitu pun karena kau ingin menebus rasa bersalahmu pada adikmu. Dan kau perlu belajar lagi sebab dan akibat yang akan timbul dengan kebaikanmu itu. Belajarlah untuk mengenal lebih banyak karakter orang, terutama di lingkup terdekatmu"
"dan belajarlah mulai saat ini terhadap diriku" pinta Dina.
"kau pasti tahu bahwa aku bukan orang yang gampang melakukan sesuatu atau berbagi rahasia dengan orang. aku melakukannya karena itu kamu, Din. sampai kapanpun, aku tak akan pernah bisa skeptis padamu" jawab Andika.
"tapi kau harus belajar melakukannya" pinta Dina dengan nada putus asa.
"aku pernah melakukannya kan dulu, tapi lihat hasilnya... aku justru masih setia di sisimu. aku juga sudah memberi tahukan keputusanku. jadi jangan minta aku untuk melakukannya" putus Andika yang tak ingin didebat.
Dina diam beberapa saat.
"lalu, kau ingin tanya apalagi?" Andika mengeluarkan suaranya.
Dina memejamkan matanya, menghembuskan nafasnya, kemudian kembali menatap Andika. "apakah kau pernah mencari tahu dimana bibimu berada?"
Andika diam mencoba untuk mengingat kembali. "nggak, aku hanya tahu dari tetangga kalo bibi pindah setelah menjual rumahnya dan menitipkan adikku di panti. aku nggak begitu menghiraukannya karena jujur saja aku sakit hati dengan bibi dan pamanku. walaupun yang selalu menyiksa kami adalah paman, tapi bibi juga ada andil karena dia hanya diam saja saat paman sering memukulku"
"aku nggak sanggup membayangkan apa yang paman lakukan pada adikku saat aku kabur" suara Andika sedikit bergetar saat mengucapkannya.
"lalu, apa yang ingin kau lakukan pada bibiku?"
"aku ingin kau lakukan apa yang aku minta tadi, memasang alat itu ke sekitar tempat bibimu berada, dan memasang ini ke benda yang selalu dibawa bibimu. akan lebih baik jika dipasang d anting atau gigi"
"kau gila!!" suara Andika meninggi
"ini memang gila, tapi mungkin dialah saksi kunciku"
"apa maksudmu, dan bagaimana aku memasangnya di giginya?!!" lagi-lagi suaranya meninggi dan tak sabar
"tentu saja membuatnya pingsan, kemudian bawa dia ke salah satu klinik teman Cindy. Nanti biar mereka yang akan memasangnya. Aku akan memberitahu Cindy saat kau memberitahukanku kapan kau akan melakukannya" jawab Dina tenang.
"aku nggak bisa menempatkan penjagaan ke target hijau, karena akan timbul kecurigaan. ingat, kepekaannya sudah terasah cukup lama."
" aku harap kau mampu menahan dirimu saat bertemu bibimu. cobalah untuk mencari tahu darinya, dan jagalah dia selama kau di sana"
Andika diam, kemudian mengangguk, menyatakan jika ia akan melakukannya sesuai apa yang telah ia ucapkan tadi.