Is It YOU?!!!

Is It YOU?!!!
Rencana Bola Panas



"hahhh..." walau berat, Dina harus melakukannya. "untuk saat ini aku baru bisa membagi ini. untuk sisanya, sedikit banyaknya aku harus merubah dan minta tolong k kalian untuk sedikit berimprovisasi. tentunya kalian harus mempertimbangkan keselamatan kalian terlebih dahulu"


Dina yang telah memberikan lembaran biodata beberapa orang sebelumnya, kembali memulai penjelasannya.


"yang aku beri warna orange adalah oknum2 yang harus Koga dan Albert tangani. Mereka akan kita buat sibuk agar tangan mereka sedikit mengendur 'padanya'. aku memiliki beberapa kasus mencurigakan yg mereka handle 6 tahun lalu. gunakan beberapa akun anonim yg sudah Andika siapkan. nanti secara perlahan kalian, Cindy dan Lee Stitch untuk dikomen. cukup komen aja, jangan share ato dibahas. biarkan bolanya bergulir dengan sendirinya" Dina mulai memberikan arahan k Koga, Albert, Cindy dan Lee.


"Yu Chen, I need u to call up 5 or 6 your man to tail those blue people in this 4-5 month. Eventhough they are stinky person, but I need them as a witness. ask your man to cover up with surround. because they are a cops, they have a good smell. so don't tail them too close. we just need to know where and what are they doing. And I need 2 man more for some job as before" Dina mengarahkan pandangannya k Yu Chen.


"hmm, ok. say it done, coz u know my man, right!" Yu Chen menyanggupi. "then how about me, is there something I can do?" tuntutnya.


"u ask them and my man, I need to do something too, right!"


"u have to cover up them" ucap Dina sambil menunjuk k arah koga, Albert, Cindy, dan Lee. "eventhough Lee can handle any kind of danger, but I need u to make sure they are save. don't do something suspicious and aware with ur surronding. I believe, after this spread out. there will be some people tailing and crack up ur sosmed or ur privat stuff. so keep pay attention but stay away at the same time. Just focus on ur competion as an alibi. Remember, their safety is ur responbility" terang Dina menegaskan dengan tatapannya. yang mana semua hal yang akan terjadi selanjutnya bukanlah sekedar game yang bisa di reset jika terjadi erorr.


"kau bawa yang aku minta, ndi?" dina mengalihkan pandangannya ke Andika.


"aku cuma ada 5, kau tahu sendiri beli barang beginian tu agak sulit kalo d sini" jawab Andika sembari mengeluarkan semacam benda mungil seperti chip dan perangkat elektrik dari ranselnya.


"nggak papa, saat ini itu sudah cukup"


"tolong berikan hp daily driver kalian, untuk berjaga-jaga, Andika akan memasangkan cut tracker di hp kalian. oy, Lee kalo bisa, aku minta tolong dapatkan barang2 ini untukku. dan segera kirim k alamat yg tertera di situ kalo sudah dapat" Dina menuliskan sesuatu d secarik kertas dengan sebentar-sebentar mengerutkan dahi seolah berpikir kemudian menyerahkan kertas itu pada Lee.


"barang itu g ada d sini, paling banyak ato gampang dan g bakal dicurigai jika kau beli barang itu d India" Dina sedikit memberikan saran aman


Lee mengambil kertas itu dan membaca list barang-barang yang mana sudah ia perkirakan. Namun ia mengernyitkan dahi saat membaca dimana paket itu akan dikirim. "hmm? MABES?" Lee langsung memandang Dina, mengharapkan penjelasan. "ini g salah? tapi nanti kau ingin pengiriman yang bagaimana?" tanyanya berikut penasaran dengan apa yang akan Dina rencanakan. Yang lainnya yang mendengar kata MABES terkejut dan secara bersamaan memandang k arah Dina.


"g salah, kirim aja k situ. lebih amannya pake kurir aja, walaupun memakan waktu yang g sebentar. setidaknya itu lebih aman. pastikan jangan pake 2-3 kurir, lebih banyak lebih bagus, dan lewat jalur sawit aja. berikan ini dan tempel ini juga d paketnya, jadi aku bisa pantau sampai mana. kalo sudah sampai titip aja d pos, mereka g akan curiga aneh-aneh"


Lee agak terdiam sebentar mendengar instruksi Dina dan menerima beberapa kertas resi paket dan alat mungil, yg ia perkirakan itu adalah tracking detector. Namun Dina tak menjelaskan kenapa harus kirim k MABES. "kau bahkan sudah menyiapkan ini semua. sepertinya kau sudah memperkirakan kalo kita akan berame-rame memojokkanmu buat cerita semuanya, dan kenapa MABES?" Lee masih berusaha untuk mendapatkan jawabannya.


"awalnya barang itu aku siapkan buat backup jika aku tiba-tiba saja lenyap nantinya" Dina mengutarakannya dengan santai, seolah tanpa beban dan takut.


Namun berbeda dengan yang lain. mereka menatapnya campur aduk antara kaget, ngeri, iba, dan marah secara bersamaan. Mereka g bisa membayangkan seberapa siap dan tegarnya Dina dalam rencana ini.


"tentu, aku akan sangat senang kau percaya dan meminta ini-itu padaku. apalagi jika itu berhubungan dengan pengendalian pada otak adikku yg gampang sekali panas dan tingkah serampangan beberapa orang" Cindy melirik k arah Yu Chen, Koga, Albert dan Lee. ya, Cindy sangat bisa diandalkan dalam hal itu. bahkan Cindy sangat berterimakasih pada Dina yang bisa mengalihkan pandangan ayahnya, Yu Bao Ming, yang sangat kolot jadi lebih terbuka. Berkat Dina, sekarang ayahnya tidak lagi terobsesi pada keturunan laki-laki, namun lebih pada siapa yang mampu dan layak ditempatnya masing-masing. dan Cindy memang memiliki kharisma itu diantara saudara-saudaranya yang lain.


Yang lain sedikit protes dengan ejekan dari Cindy, namun seperti yang diprediksi, tak ada yang berani langsung menyela. Karena mereka sadar jika apa yang Cindy ucapkan benar adanya.


Sedangkan Andika sedikit merasa lega, akhirnya ucapannya tadi mampu memberi efek ke Dina. jadi ia bisa sedikit demi sedikit bisa masuk k hatinya. sebenarnya ada rasa khawatir d hatinya sejak dimana Dina memergokinya diam-diam ingin memeriksa loker. dia merasa Dina mengambil jarak dan kepercayaannya mulai berkurang. lebih tepatnya ia merasa was-was.


"blow up media saat ini adalah satu-satunya cara untuk mengalihkan mereka agar sedikit longgar 'padanya'. namun di sisi lain, mereka akan menggunakannya sebagai eksekutor, tapi setidaknya kita sudah tahu siapa targetnya. dan kasus-kasus yang aku berikan itu adalah kasus yang pernah aku Kulik 6 tahun lalu. Namun mereka menghentikanku, karena aku di sana cuma sebatas konsultan untuk beberapa kasus. dan kasus itu bukanlah ranahku saat itu"


"jadi setelah ini, mereka akan mencari siapa-siapa yang berkemungkinan mem blow up kasus itu. dan mereka akan menjadikan 'nya' sebagai eksekutor pada orang2 yang dianggap mencurigakan. kemudian secara otomatis sasaran akhir mereka akan jatuh padaku. saat itu terjadi, disitulah rencana akhir siap dilakukan" Dina selesai menjelaskan.


"kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa ini harus dikirim k MABES?" Lee mulai tidak sabar, yang lagi2 Dina tetap main rahasia-rahasiaan


"ya karena ada temanku yang d sana yang menerimanya" ucap Dina enteng


"bukan itu yang aku maksudkan. kalo memang ada temanmu yang menerima paket d sana, kenapa harus berliku-liku pake banyak kurir dan sampe-sampe pake jalur sawit!" Lee semakin tidak sabar


"ya kan kalo langsung dipaketkan pake jasa pengiriman, akan ketahuan paket itu dari mana dan akan diperiksa isinya apaan. kalo pake orang yang nyamar jadi kurir dengan tempelan resi seperti itu, hanya akan dikira paket belanja olshop dari staff yang bekerja d sana. yang mana sebelumnya aku aku akan membuat orang itu sering2 berbelanja olshop. sehingga saat paket itu datang, hal itu akan dianggap wajar. dan g akan ada yang menyangka jika aku punya alat itu. karena yang memiliki alat itu hanya instansi tertentu"


"kalian jangan mengira proses sadap menyadap itu gampang. d dunia nyata, proses itu harus melewati prosedur dan harus memiliki ijin. sifatnya pun harus urgent dan confidential. jangan dikira kayak d film2 mata2 ato mission impossible. d film2 itu jelas bisa melakukan itu karena ada backingan di belakang mereka dan ada kepentingan politik, kan. walau aku punya kenalan d kepolisian sekalipun, g bisa seenak jidat melakukan penyadapan"


Semua yang mendengar penjelasan Dina, menyadari jika apa yang dina katakan benar. cerita tetap saja cerita, bukan dunia nyata. Yang mana terkadang lebih simpel ato bahkan lebih rumit dari apa yang ada dibayangkan tiap orang.


Dina memandang teman-temannya, "untuk sekarang, ini dulu yang kita lakukan. untuk selanjutnya aku kan mengabarkannya k kalian secepatnya" kemudian ia mengembalikan hp yg telah Andika pasang cut tracker didalamnya. "untuk hal2 yang berhubungan dengan rencana ini, gunakan hp itu untuk menghubungiku, jangan yg lain. jika hilang, aku akan tahu, dan akan meminta Andika mengamankan isinya, jangan khawatir!"


"karena sudah larut, cukup sampai sini dulu" Dina mengakhiri pertemuan malam ini, kemudian ia memandang ke arah koga, Alber, dan Yu Chen "dan aku doa kan kalian memenangkan pertandingan kalian melawan timnya Roger Minggu depan". setelah itu berdiri dan menoleh k Cindy dan Lee, "jaga mereka agar tidak gegabah" Dina menyalami Lee dan memeluk Cindy.


"baiklah, aku balik dulu. ingat jaga diri kalian, 'safety first', thank u, bye bye" Dina berpamitan dan mengajak Andika pulang.


Andika berjalan mengiringi d samping Dina. beberapa kali ia menatap Dina, ada kecemasan dalam dirinya. ia was-was sendiri dan berusaha menyiapkan mental dan jawaban sekiranya akan ada interogasi dadakan untuk dirinya. "Percaya kalau kau adalah temanku" itu adalah kata-kata Dina saat itu. Namun seberapa percaya Dina terhadap dirinya dan seberapa dalam Dina mengenal dirinya, itu yang Andika tak tahu.