Is It YOU?!!!

Is It YOU?!!!
Menjaga



Pagi ini Andika mulai mempersiapkan barang dan pakaian yang akan dibawa untuk tinggal di rumah bibinya. Setelah percakapan panjang semalam, Andika menyetujui permintaan Dina untuk menjaga dan mengawasi bibinya itu. Bahkan ia juga memerintahkan Andika untuk memasangkan alat deteksi ke gigi bibinya.


"Hahhh..." Sekali lagi Andika menghela nafasnya


Perasaannya beradu sejak semalam. Berulang kali ia memprotes Dina yang menginginkan dirinya untuk menjaga bibinya. Sebenarnya tak ada kebimbangan sedikit pun dalam hatinya untuk memenuhi perintah Dina. Namun lain jadinya jika itu harus dilakukan dengan berjauhan dengan Dina. Kekhawatiran terbesarnya adalah ia tak mampu sesegera mungkin datang jika Dina membutuhkannya.


Andika sangat paham jika Dina adalah sosok yang mandiri, dan dengan intuisi tajamnya, ia pasti cepat tanggap jika terjadi sesuatu. Namun Andika tak menyukai sikap heroik wanita itu.


Setelah membereskan barang apa saja yang dibawanya, Andika bergegas keluar dan menuju unit atas.


Ketika hendak memencet bel, Dina sudah membuka pintu.


"Eh..." Andika kaget


"Oh... Ada apa?" Tanya Dina


Andika memperhatikan Dina yang telah rapi, siap berangkat kerja.


"Ada waktu sebentar, ada yang ingin kukatakan sebelum aku pergi" ucap Andika


"G bisa by chat atau email aja" tawar Dina


"No, aku perlu mengatakannya langsung dan sekarang" tuntut Andika


"Baiklah, masuklah"


Andika masuk diikuti Dina dibelakangnya dan menutup kembali pintunya.


"Perlu sambil ngeteh ato air putih aja?"


"g perlu, kau harus segera berangkat kerja kan. Kita bicara sebentar aja" ucap Andika sambil mendudukkan dirinya d satu-satunya kursi d unit itu. Dina pun ikut duduk d pojokan dipan kasurnya.


"Baiklah, ada apa?" Tanya Dina


"Pakailah ini!" Andika menyerahkan smartwatch ke Dina


"Huh?" Walau penasaran, Dina menerimanya


"Jangan lupa di recharge dan harus kau pakai, kemanapun kau pergi. Jika ada apa2 langsung tekan angka 0. Itu akan langsung terhubung ke orang-orangnya Yu. Jadi mereka bisa segera menuju ke arahmu. Jika tak mampu memencetnya, hancurkan saja. Itu akan mengirimkan signal keberadaannya ke nomorku, Yu, Cindy dan Lee. Jangan pernah sekalipun tak menghubungiku setiap harinya. Setidaknya chat jika kau sudah sampai apartemen dengan selamat, itu juga tak masalah. Jika memerlukan data atau mengotak-atik sesuatu, langsung chat ato telpon. Kalo aku g bisa saat itu, aku akan menghubungkannya ke temanku yang tinggal disekitar sini untuk membantumu"


"Pokoknya apapun itu hubungi aku, bisa kan?!" Andika mengakhiri dengan menatap serius ke arah Dina


Dina diam memproses apa yang Andika utarakan.


"Baiklah" ucapnya sambil tersenyum


"Terimakasih, aku memang memerlukan ini" dengan menunjukkan ke smartwatch yang diberikan Andika tadi, kemudian memakainya


"Kau juga, jagalah dirimu di sana. berprasangka baiklah pada bibimu. Aku berharap kalian bisa sedikit terbuka, sedikiiit saja"


Dina berharap Andika mampu saling terbuka dan sedikit memberinya harapan untuk hal yang sangat ia perlukan kepastiannya.


"Aku pasti akan menghubungimu apapun yang terjadi, begitu juga dirimu. Karena mungkin kau lah yang akhirnya menyelesaikannya" lanjut Dina dengan menghembuskan nafasnya yang berat.


"Aku juga tidak akan gegabah atau sok pahlawan. Bukankah aku harus menjadi orang yang tersenyum paling bahagia jika ini selesai dan menunjukkan pada mereka jika aku adalah lawan sepadan. Jadi aku harus menjadi orang yang berdiri tegak di akhir nantinya"


Andika terus menatap wanita dihadapannya dengan seksama. Tak sedetikpun ia lewatkan agar memory wajah itu tetep ada.


"Jika ini selesai kita harus piknik di mount cook. Kau ingat kan bagaimana kita dulu harus berlarian dari orang-orangnya Yu ditambah dikejar beruang pula setelahnya" ucap Andika


"Ya, dan kau tidak mau lagi punya hunian d daerah sekitar situ gara-gara itu" sambung Dina masih dengan tersenyum


"Baiklah, waktunya berangkat" tak ingin berlama-lama akhirnya Dina berdiri dan mengakhiri


Andika ikut berdiri dan berjalan membuntuti Dina dibelakangnya. Keduanya berjalan dalam diam hingga keluar dari lift.


Sebelum benar-benar berpisah, untuk terakhir kali Andika memberanikan diri untuk menggenggam tangan Dina.


"..... Jaga dirimu, jangan sedikitpun ragu menghubungi aku dan yang lainnya" walau berat Andika berusaha mengatakannya


"... Terimakasih, aku..." Tenggorokannya terasa tercekat, tak mampu meneruskan.


Dina tersenyum dan melepaskan genggaman tangan itu pelan. Ia sangat paham apa yang Andika rasakan.


"Aku akan menjaga diriku, aku akan usahakan untuk mengabarimu setiap hari. Sampai jumpa, wassalamu'alaikum" dan Dina masuk lift dan menutupnya. Demi berjaga-jaga, keduanya memang berusaha untuk tidak terlihat selalu bersama. Karena itu Dina menyarankan untuk keluar gedung sendiri-sendiri.


Andika pun turun menggunakan lift di sebelahnya. Saat di luar dia tetap mempertahankan pandangannya pada sosok Dina hingga bayangannya tak terlihat lagi, Andika memulai perjalanannya ke stasiun pasar Senen menuju dimana bibinya berada, di Subang.


*****


Mulai dari target orange dan biru telah ia selesai beberapa menit lalu, kemudian mengirimkan tugas sporadiknya ke yang lain. Rencana menggiring bola panas dimulai hari ini. Dan tugasnya lah untuk memberikan pengamanan dunia Maya ke teman-temannya, terutama Dina. Karena wanita itulah satu-satunya yang paling dekat dengan target dan pelaku.


"Hahhh..." Berulang kali Andika menghela napas beratnya. Kekhawatirannya sama sekali tak berkurang sejak semalam. Dan ia pun mengetik pesannya pada Yu Chen, hal yang sangat mustahil ia lakukan. Namun demi penjagaan extra, yang mana hanya bisa dilakukan dengan bantuan pria itu.


"Huff... Semoga ini cukup" setelah berkutat dengan notebook dan ponselnya, Andika membereskan dan segera beranjak dari tempat duduknya, karena kereta telah sampai di stasiun Pegadenbaru, Subang.


Keluar stasiun, Andika mengedarkan pandangannya. Kemudian dudukannya dirinya ke salah satu bangku depan stasiun. Sesekali ia memandang tak tentu arah. Sebenarnya ia masih membenci bibinya tersebut. Namun kata-kata Dina mulai membuatnya meredam itu.


"Hahhhh... Apa yang kau sudah simpan, bi?"


"Apa kau lagi-lagi mengetahui sesuatu, Din!" Andika membatin.


"Walau hanya sebuah prasangka, tapi jika itu di sandingkan dengan beberapa kejadian yang berkaitan. Jangan alihkan fokusmu. Kemungkinan itu bisa menjadi fakta atau bukti, sangatlah besar"


Tiba-tiba kata-kata yang pernah diucapkan Dina saat menolongnya dulu menguar di memorinya.


Saat ini matahari begitu terik, orang-orang berlalu-lalang di sekitar stasiun menjajakan dagangan dan jasa mereka.


Tujuannya adalah rumah bibinya yang jaraknya masih berkilo-kilo dari stasiun. Walau jaraknya hanya 2 jam dengan perjalanan kereta api dari Jakarta, namun hal itu tak menjadi jaminan jika daerah ini akan semaju Jakarta. Tempat ini bagaikan langit dan bumi dengan ibukota.


Karena tak mau membuang waktu, Andika melanjutkan perjalanannya dengan naik angkot beberapa kali, dan terakhir menggunakan ojek untuk sampai ke alamat yang dituju.


Namun beberapa meter dari Andika, ada dua orang yang mengintai gerak-geriknya. Dan tanpa dua orang tersebut sadari pula, ada seorang dibelakang mereka yang mengawasi. Bisa dibilang orang ini dikategorikan mata-matanya dari mata-mata. Penampilannya yang layaknya orang gila atau pemulung, sangat jauh dari prediksi atau pandangan orang amatiran seperti dua orang mata-mata di dekatnya.


"Hah... Apa akademi sekarang isinya hanya orang2 tolol macam mereka! Pantas saja tak ada yang bisa diharapkan dari aparat Negeri ini. Isinya otak-otak serakah. Gini sih, digertak dikit paling kabur nyelamatin diri masing-masing. G ada kesetiaan dan pengabdian jiwa pejuang sama sekali" batin orang tersebut.


Dia berjalan terseok-seok mengarah dua orang tersebut. "Buah....jangan bergerak hahaha..." aktingnya mengangetkan keduanya. "Beri uang, kalo nggak, aku aduin nyai"


Dua orang yang ditodong reflek kaget sekaligus agak merinding, secara tiba-tiba ada orang gila berpakaian mengerikan di depan mereka. Namun tanpa mereka sadari yang mereka sangka orang gila itu telah melakukan sesuatu dengan alat intai dan senjata mini mereka.


"Eh eh bengong, sini beri uang. aku panggil nyai nih, cepetan!" gertaknya.


"Kasih aja goceng, Sur" ucap salah satunya.


"Nih..nih..nih.. pergi Sono, ganggu aja, dasar orang gila"


"Yeaa, nyai dedek dapat duit, asikk bisa beli ncep lagi" dan orang itu menjauh sambil kegirangan layaknya orang gila, karena misinya telah selesai. "sayang sekali generasi akademi sekarang isinya orang2 nggak berguna macam kalian. Kalau seperti ini, menghilangkan beberapa dari kalian pun g ada ruginya"


"Huh sialan, apes banget dipalak orang gila, mana bau banget lagi" gerutu orang yang memberi uang.


"Wah ngeri dah, mending ngadepin preman dari pada orang gila, hiiiih...."


"Sekarang gimana?"


"Gimana apanya?"


"Kita kehilangan target"


"Aargggh, sialan!"


Keduanya tampak diam, berkutat dengan pikirannya masingmasing.


"Sebaiknya Jenderal besar yang menghukum kita, aku tidak berani membayangkan jika bajingan tengik itu yang turun tangan" ungkap salah satunya


"Hahhh, kau benar. Hanya karena otaknya yang berlebih, dia seolah di atas segalanya. Kalau kepalanya sudah tidak berguna, pasti Jenderal besar akan membuangnya"


"Kita laporkan saja target d sini berlibur dan bersenang-senang. Kita ambil beberapa foto dan video sekitar sini, 2 hari lagi kita balik, bagaimana menurutmu?" Usulnya


"Patut dicoba... Ayo, setidaknya kita mencari orang yang memiliki postur yang sama dengan laki2 itu. Menurutmu, kenapa kita harus mengintai laki-laki itu?"


"Buat apa kau pikirkan itu, yang jelas sekarang nyawa kita harus selamat. Aku tak mau kehilangan segalanya hanya karena perintah receh nggak berguna seperti ini"


"Kau benar, awas saja... Akan ku balas bajingan tengik itu kalo aku mendapatkan bintangku"


Dan keduanya mulai beranjak dari tempat mereka, yang mana tindakan mereka ini akan mereka sesali dikemudian hari.


*****


"Aku sudah menghalau kutu-kutu itu. Jika melihat dari otak dan pengalaman, mereka akan berakhir di dunia lain minggu ini" lapornya pada seseorang di seberang telepon.


"Hahhh, sebenarnya aku kurang suka akhir yang seperti itu. Tapi menghilangkan beberapa beban dunia dari orang-orang serakah, setidaknya sedikit menghilangkan rasa bersalahku. Terimakasih kau telah bersedia meluangkan waktumu. Anak itu akan sangat berterimakasih padamu"


"Kau lupa dia lah yang menyelamatkan jantung ini berhenti. Apabila yang kukerjakan bisa membuatnya tenang, aku lah yang akan senang di sini. Aku harap rencana berhasil. Mereka sudah terlalu lama mengotori rumah kita. Sudah saatnya pembersihan dilakukan"


"Terimakasih, aku mengandalkanmu menjaganya" dan sambungan pun ditutup. Kemudian ia mengirim pesan ke nomor perangkat yang diterimanya semalam.


[Di sana sudah bersih, kau fokus saja dengan kamarmu] -send