
Detik demi detik suara jam digital seolah menampakan wujudnya diantara kesunyian dua orang yang saling menatap. Masing-masing berusaha mencoba menyelami apa yang tersembunyi. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka.
Dina yang tidak segan lagi akhirnya bersuara, "baiklah jika kau maunya aku yang mulai, 'Ladies first', bukan?!"
"setelah membaca list target hijau itu, kau pasti bertanya-tanya 'sejauh mana yang aku ketahui', 'siapa dan apa keterlibatan dirimu' dalam perburuan kasus ini". Dina menjeda sesaat tanpa mengalihkan pandangannya dan menghembuskan napas beratnya.
"aku selalu bilang, bahwa aku sangat mempercayaimu, dan itu tidak akan berkurang, baik dulu maupun sekarang. justru yang aku pertanyakan adalah, apakah kau mempercayaiku? apa kau akan tetap membantu dan berkorban untukku setelah ini?..."
"terus terang aku sangsi, namun seperti yang kau lihat aku sudah mempersiapkan diri"
Andika masih dengan mode diamnya tetap mempertahankan getaran dalam dirinya. jantungnya berdegup seolah habis lari maraton. keringat dingin mulai menampakkan titik-titik di dahinya. Takut, ya ia ketakutan. bukan takut karena telah ketahuan atau ketangkap basah layaknya seorang pencuri. namun ketakutan karena kekecewaan dari seseorang yang tidak ingin ia kecewakan. ketakutan yang mungkin akan merubah sikap orang di depannya saat ini akan berbeda.
"tapi apa maksud kata-katanya tadi, aku yang akan berubah? bukan dia?... apakah...?... nggak mungkin, kan?" banyak pikiran-pikiran yang tidak bisa ia coba untuk utarakan.
"sebelum aku memulai kisahku, ada beberapa pertanyaan yang akan aku tanyakan. dan aku mohon padamu agar kau jujur. jangan sembunyikan apa pun. karena jawabanmu nanti sangat berpengaruh pada rencana yang telah ku persiapkan. jadi tolong kerjasamanya, bagaimana? siap?" tanya Dina yang sangat jelas bahwa ia tak memberi kesempatan pada Andika untuk menolak.
"baiklah, aku siap!" dengan agak berat ia menghembuskan napasnya.
"apa kau sangat menyayangi adikmu?"
Dengan napas tercekat, Andika membolakan matanya. siap tak siap, ia harus siap. ia tidak menyangka bahwa Dina tahu sejauh itu.
"ya, aku.... aku sangat menyayanginya" jawabnya agak terbata, namun tetap ada keyakinan di dalam suaranya.
"walau harus berkorban dan rela melakukan apapun?" tanya Dina lagi
"aku... aku menyayangi adikku, dan aku akan membantu sebisa yang aku bisa lakukan"
"sebisa yang kau bisa lakukan? berarti ada yang tidak bisa kau lakukan? apa ada yang menghalangimu akan hal itu?" Dina bertanya lebih dalam
"aku... aku..." Andika tak mampu meneruskan jawabannya
"berarti ada, boleh aku tahu apa yang menghalangimu itu?" lagi, Dina meneruskan.
"kau... kau lah yang jadi penghalang itu" jawab Andika dengan tatapan penuh keyakinan, padahal di pertanyaan sebelumnya ia sempat terbata-bata.
"aku?... baiklah aku sedikit mengerti, dan terimakasih. aku sangat menghargai itu" Dina tersenyum, setidaknya ada satu beban yang terangkat.
"berikutnya, apakah adikmu tahu kau ada di dekatnya? atau tahu kau dekat denganku?"
"aku tidak pernah menunjukkan diriku atau memberitahukan keberadaanku pada adikku. tapi jika aku berada disekitarnya, terkadang ia dapat merasakannya. dan untuk yang aku dekat denganmu, dia tahu atau tidak, aku ga yakin, kemungkinan dia tidak terlalu menghiraukannya"
"dengan kata lain adikmu mulai menyadari kau ada di dekatnya, tapi tidak begitu tertarik kau dimana dan siapa-siapa saja yang ada di sekitarmu" Dina mencoba untuk menyimpulkan.
"berarti intuisinya bagus, ya itu yang harus diperhatikan. keadaan dan pengalaman bertahun-tahun pasti telah mengasah instingnya secara otomatis. ya, setidaknya untuk saat ini aku masih bisa bernafas lega. tapi.... untuk menyelesaikan kasus ini, aku akan sering memintamu untuk mengambil keputusan. keputusan yang mengharuskanmu untuk memilih. dan aku harap, jadikanlah diriku sebagai pertimbangan"
"aku tidak mempermasalahkan rasa sayangmu pada adikmu, rasa sayang itu benar. Namun pondasimu atas rasa itulah yang menjadikan tindakan yang kau lakukan itu perlu di reset agar kau tahu dan yakin untuk tindakanmu kedepannya"
"jadi, bisakah aku percaya padamu, bahwa kau bersedia melakukannya?" pelan dan rapi, kata-kata itu Dina ucapkan. Permintaan yang diawali dengan menaruh kepercayaan pada lawan bicaranya. Permintaan yang pastinya tak akan Andika tolak.
"kau tahu aku sangat percaya padamu, dan pasti melakukan apa pun yang kau minta" jawab Andika yakin
"saat aku mengatakan agar kau lebih terbuka ke kita, aku dan anak-anak lainnya di ruangan tadi, saat itu aku yakin bahwa aku berada di pihak yang benar. aku sadar itu konsekuensinya. Setidaknya dengan adanya dirimu, aku mampu menghentikannya. aku sadar selama ini rasa bersalahku justru membawanya makin mengarahkannya ke jalan yang salah. aku berharap, rasa sayangku saat ini bisa merubahnya, jika tidak bisa merubahnya, maka satu-satunya jalan aku harus menghentikannya"
Andika berhenti sejenak, menutup mata, kemudian menatap Dina dengan intens, "Jadi, aku mohon, bantu aku menunjukkan rasa sayangku yang seharusnya. rasa sayang seorang kakak yang ingin bertanggung jawab menjaga adiknya"
Dina terharu dan tak mampu berkata-kata untuk sesaat. raut wajah dan jawaban itu memang ia harapkan. Namun ia merasakan melihat sosok "Vania" di mata Andika. Mata yang sama, mata yang berulangkali menghantui mimpinya setiap malam akhir-akhir ini.
Sekuat tenaga Dina mencoba menetralkan emosinya. "baiklah, sekarang pertanyaan berikutnya, apakah rekaman cctv yang di danau, kau yang melakukannya?"
Andika tersenyum mendengar pertanyaan itu. Sepertinya ia memang telah mempersiapkan diri dan hatinya. "ya, aku yang mengotak-atiknya"
"apakah dia tahu kalau kau melakukan itu? apa dia pernah mencoba menghubungimu?"
"kemungkinan dia menyadarinya memang ada, tapi aku rasa dia belum tahu. karena hingga saat ini dia belum ada mengontakku. dia memang sudah memperkirakan sampai hal-hal detail. seperti yang terekam dalam rekaman gerbang universitas, sosoknya tak bisa dicurigai. walaupun rekaman itu tak aku otak-atik pun, kondisi pencahayaan disekitar danau sangat mendukung, postur tubuhnya bukanlah yang mudah dikenali, karena terlalu general. Jadi dia pasti sudah memperhitungkan semua kemungkinan" jawab Andika
"ya, dia sudah memperhitungkannya, dan justru karena kau mengotak-atiknya, kecurigaan makin mempersempit ke beberapa orang yang bisa mengakses ruang cctv. ya walaupun tak akan kena juga. karena dia tidak sekalipun berada di sekitar ruang cctv. namun jika penyelidikan dilakukan lebih lanjut, cepat atau lambat kau yang akan kena, entah sebagai pelaku utama atau orang yang ikut bersekongkol dalam menghilangkan nyawa seseorang. itu kan yang kau tuju. Dan sekali lagi kau mengorbankan dirimu" Dina menatap tajam ke Andika. dia menyayangkan kenapa Andika sampai terbesit rencana seperti itu.
"kesalahannya saat itu adalah dia mulai tidak sabar yang akhirnya membuat ia mengotori tangannya sendiri" Dina berusaha untuk mulai memfokuskan dirinya kembali. "aku mengakui eksekusi dan persiapannya sangat rapi. walaupun ia tidak akan mengira bahwa ada orang yang mengawasinya"
"terus terang aku merasa sedikit kecolongan saat kau mengotak-atiknya. tapi selalu ada 'bless in disguise' dalam segala hal. jadi aku masih bisa mengontrol dan masih ada ruang untuk berimprovisasi"
"sekarang, bisakah kau memberitahukan padaku bagaimana cara dia menghubungimu? apa ada chat room tertentu yang bisa kau dan dia lacak?"
"biasanya dia yang chat terlebih dahulu, yang menunjukkan kalau dia menyadari aku ada disekitarnya. Dan seharusnya dia sudah menghubungiku. mengingat kejadian di danau itu sudah lewat beberapa hari. Aparat juga telah bergerak menelusuri kasus itu. Kau pun, aku yakin, telah memberikan beberapa petunjuk. walaupun aku tak tahu bagaimana cara dan siapa yang kau lakukan. tapi pasti itu berhubungan dengan berkas yang di loker waktu itu" ucap Andika sedikit mengingatkan peristiwa loker saat itu.
"Mungkin ada beberapa hal yang menyebabkan dia belum menghubungiku. Biasanya kami chat di back room yang dulu pernah kau masuki, chat room yang kau minta aku untuk mendapatkan skin yang kau tawarkan pada Yu. supaya dia tak lagi mengejar-ngejarku. kau ingat, kan?!"
"saat itu kau bertanya apa isi chat room itu, dan aku bilang itu chat aku dengan seseorang yang tidak ada hubungannya dengan masalah waktu itu. di situlah kami berkomunikasi"
"apakah soal trap yang ia pasang di sosmednya itu kau juga yang pasang?" tanya Dina
"i-itu...ya" jawab Andika yang sudah tidak mungkin punya kesempatan berkelit.
"jadi, saat aku memintamu mencoba hacking sosmed nya, kau melakukannya dengan berpura-pura tidak tahu jika ada trap di dalamnya agar aku tak mencurigaimu?!"
"ya, tapi..." jawab Andika lagi. "sepertinya kau pun berpura-pura juga kan, seolah kau mempercayai apa yang aku lakukan. tapi sebenarnya kau sedang mengetesku, bukan begitu?"
Sekarang Dina yang tersenyum. "aku tebak, pemikiran itu baru kau sadari barusan, benar?!" Dina mengembalikan kata-kata Andika.
"sebelumnya ya... aku sesuai apa yang kau perkirakan, berpura-pura dan melakukan apa yang kau minta. Tapi kata-katamu bahwa aku mungkin akan hilang kepercayaan padamu, itu benar-benar memberi efek plot twist yang aku sendiri tak pernah bayangkan sebelumnya"
"jadi, apakah kepercayaan itu masih bisa aku dapatkan?" Dina menegaskan kembali
"absolutely, and no doubt about it" jawab Andika tanpa ragu. "sekarang aku mengerti dengan beberapa kata-kata dan tindakan yang kau lakukan sebelumnya. kau pernah mengatakan jika kau hanya membagi apa yang perlu kau bagi, bukan apa yang ingin ku ketahui. aku paham kenapa kau melakukan hal itu"
"kau tahu apa yang ada di pikiranku saat ini?" tanya Andika mencoba sedikit peruntungannya untuk menebak-nebak apa yang akan Dina utarakan. dan Dina masih tetap dengan pandangan poker face nya.
"bahwa kau telah merencanakan semua ini, maksudku dengan semua adalah semuanya, bahkan soal pertemuan kita. aku tak tahu bagaimana kau merencanakannya, tapi aku yakin itu bukanlah suatu kebetulan. apakah itu benar?"