Is It YOU?!!!

Is It YOU?!!!
Percaya?



d sudut kamarnya, Andika masih memandang layar ponselnya. ia mengernyitkan dahinya dengan raut yg tak dapat diartikan. "nginap d atas? apa itu harus?" batinnya sambil tersenyum puas d wajahnya.


saat hendak beranjak mau mengambil minum, tiba2 bunyi suara kunci pintu terbuka. Andika sedikit menolehkan kepalanya, ia tahu kalo itu pasti Dina. karena tidak pernah ada manusia lain selain dirinya dan Dina yg keluar masuk unit ini.


"tumben lu nginep atas, Din? tanyanya tanpa perlu melihat k arah mana dina masuk.


"assalamualaikum" salam Dina saat masuk kemudian meletakkan tas dan mendudukkan dirinya k lesehan karpet dekat kasur dan bersandar d pinggiran kasur.


"wa'alaikumsalam" jawab Andika yg melihat temannya tersebut. Dengan sedikit senyuman, ia menyodorkan air lemon k Dina yg terlihat jelas sdh nyaman d spot biasa ia duduk.


"terimakasih" ucap Dina saat menerima minuman tersebut. "bagaimana hasilnya? apa memang sdh diotak-atik? apa tidak ada video aslinya? kau sdh coba masuk k file nya?" tanya Dina beruntun


seringai kecil dan gelengan kepala Andika menunjukkan kalo hal itu memang biasa ia alamai. "Din..Din...satu2 napa nanyanya? kayak aku bakal ngilang aja" jawab Andika.


"dah cepetan, gimana hasilnya?" kata Dina tidak sabaran.


"yup, rekaman cctv itu telah d otak-atik" Andika menjelaskan. "rekaman itu terpotong dari jam 8 malam dan mulai merekam kembali jam 10 malam. Dengan demikian waktu kematian korban diantara jam itu. aku jg sdh berusaha mencari tahu dari setiap sudut kamera yg menghadap k danau, tapi hasilnya sama semua. setiap rekaman berhenti d jam itu dan hanya rekaman biasa/kosong selama durasi 2jam itu"


"untuk yg menerobos k file pelaku seperti yg kau bilang, beberapa jebakan makin diperbanyak. tapi hal itu g berpengaruh buatku. sayangnya, akun itu sdh bersih dan sdh tidak ada file tersisa. nih orang bener2 bisa nebak jalan kita. apa kau yakin g akan ada masalah, Din?" jelas Andika panjang lebar dengan diakhiri tatapan khawatir k Dina.


Dina terus memperhatikan Andika. ia menatap tanpa kedip. setelah beberapa saat hening, akhirnya Dina pun bersuara, "hemm, baiklah kalo gitu, tidak apa2. kau tetap fokus saja pada pergerakannya d situs2 chat room. Dan untuk beberapa kamera yg telah kita pasang, aku sdh minta bantuan seseorang untuk membereskannya sebelum aparat menemukannya, dan...." belum sempat Dina melanjutkan, Andika memotong.


"kau sdh membereskannya? kapan? kenapa aku tidak menyadarinya, maksudku kenapa aku tak tahu ato kamu memberitahu ku? Dina, sebenarnya apa saja kau rahasiakan dariku?" berondongan pertanyaan dari Andika yg tak percaya apa yg telah Dina lakukan tanpa sepengetahuannya.


"kalo aku berahasia padamu, ndi, aku g bakal ngasih tahu" sanggah Dina. "aku tidak ingin kau terlalu mikirin hal2 teknis selain yg berhubungan dgn bidangmu. itu saja menurutku sdh banyak menyita waktu istirahatmu. kau pikir aku manusia tak berperasaan? "


"aku malah berharap kamu lebih memperhatikan kondisimu juga. liat aja penampilanmu sekarang, pasti kau belum istirahat dari kemarin, kan?" ucap Dina yg memperhatikan lebih seksama penampilan Andika seperti orang yang tak terurus.


"kau tak perlu mengkhawatirkan itu, Din. kau kan tahu penampilanku memang seperti ini. aku sama sekali g keberatan walau kau suruh aku jadi tamengmu ato mendatangi pelaku dan membunuhnya sekarang juga" geram Andika yg merasa hingga saat ini Dina sama sekali tak mempercayainya.


"hentikan ndi, bicara apa kamu!"


"kau masih tak percaya aku mempercayai mu? kalo aku tak mempercayai mu, g mungkin aku memberikan tanggungjawab paling penting padamu? kau yg selalu aku andalkan jika ada situasi urgent. Dan justru kau temanku, aku tak mungkin mengabaikan keselamatan dan kesehatanmu" terang Dina dengan menatap lurus k mata Andika yg tiba-tiba uring-uringan


"huh, kau mempercayaiku?" Andika masih tak percaya


"lalu dari mana saja kau seharian ini? bukankah interview mu selesai dari tadi siang? kenapa kau baru datang jam segini? dan sekarang kau memberitahuku jika semua sdh kau bereskan. aku merasa kau hanya menjadikanku sebagai operator cctv. kau sama sekali tak melibatkanku dalam penyidikan apapun. setidaknya aku ingin kau menjadikanku orang pertama yg kau pikirkan di situasi apapun"


Dina membuang napas panjang. ia merasa lelah sekali hari ini. ia telah merasa Andika bakal protes nantinya, hanya saja hari ini begitu menguras hati dan pikirannya.


"Andika, maaf kalo aku telah berbuat tak sesuai harapanmu. Namun aku harus berbuat adil padamu. kau adalah temanku, yang sangat membantuku untuk hal2 dunia maya. dan tidak mungkin aku bisa lakukan sendiri, dan tidak mungkin pula aku temukan orang yg dedikasinya sama seperti dirimu padaku"


"karena itulah aku juga harus memperhatikan kondisi dan keselamatanmu. aku telah berjanji pada diriku sendiri, kalo aku akan menjaga orang-orang yang aku sayangi, tak terkecuali dirimu. dan sepulang dari interview, aku melakukan apa yg jadi bagianku. kau tidak perlu khawatir, aku selalu meminta bantuan k orang yang tepat. aku tidak pernah meminta tolong pada orang yg tidak sesuai dengan kemampuannya" ungkap Dina


"maaf ndi, aku tak pernah berahasia pada siapapun. aku hanya membagi apa yang perlu aku bagi. dan itu aku lakukan pada semua orang, termasuk dirimu."


setelah dirasa cukup tenang, Dina berdiri dan menghampiri Andika. ia mulai melihat-lihat apa yg Andika peroleh selama berkutat d chat room.


Andika yg merasakan Dina mendekat dan memperhatikan apa yg ia lakukan, merasa ada perasaan senang d hatinya. tak lama Dina meminta untuk menunjukkan video cctv tadi.


"coba perlihatkan video cctv-nya padaku" pinta Dina. "tolong perlihatkan d jam 7.30"


meskipun pemandangan d video tersebut agak gelap, karena penerangan d sekitar danau (TKP) minim, namun ia tetap berusaha menajamkan pandangannya. ia meminta Andika mengulang video tersebut sampai akhirnya untuk yg belasan kali baru Dina menyadari sesuatu.


ia mengernyitkan dahinya sedikit, kemudian meminta Dika memutar videonya d jam 10 hingga 10.15. Andika melakukan apa yang dina minta tanpa banyak tanya. dia pun berusaha melihat dan melihat sambil bertanya-tanya apa yg dilihat Dina sampai ia menyadari sesuatu d video tersebut.


"apa Dina telah menyadarinya?" batin Andika


"baiklah sdh cukup" ucap Dina


"huh, maksudmu?" tanya Andika heran.


"ya sdh cukup? apa lagi memangnya?" jawab Dina datar.


"apa kau memang tak menyadari sesuatu d video itu?" tanyanya penasaran


"meskipun aku menyadari sesuatu, itu tak akan berguna apapun untukku. aku memerlukan sesuatu yg lebih pasti. karena hal yg sifatnya menduga-duga hanya akan jadi bumerang" ungkap Dina


"kirim saja hasil rekaman ini k email ku dan tolong berikan segala informasi tentang akun 'dnangel' padaku" pintanya.


"kenapa kau ingin informasi tentang wanita itu?" tanya Andika


"wanita? kau sdh menyelidikinya?" tanya Dina dengan tatapan bertanya


"aku, aku telah mencari semua informasi tentang semua target pelaku" jawab Andika sedikit salah tingkah. ia merasa Dina pasti berpikir macam-macam tentang dirinya.


"ehm, baiklah, terimakasih. aku memang tidak salah tentangmu" ucap Dina


"ok, tolong kirim yg aku minta tadi. ini sdh larut, aku akan istirahat. aku tidak mau besok terlambat d hari pertamaku bekerja. kau juga mandi dan istirahatlah, assalamualaikum" ucapnya kemudian mengambil tas dan beranjak keluar dari unit 212 menuju k unitnya sendiri, 312.


Andika memandang pergi sosok Dina. walau ada perasaan lega, namun ada rasa was-was yg tak bisa ia hilangkan.


"hanya dirimu seorang yg bisa membuatku seperti ini, Din. belum ada seorang pun. aku akan terus berada di dekatmu" batinnya dengan tersenyum penuh makna