Is It YOU?!!!

Is It YOU?!!!
Maaf



Melati menatap wajah orang d depannya dengan seksama. ada keteguhan sekaligus sayang d wajahnya. tanpa sadar hal itu mengingatkan ia kembali akan sosok wanita ini dengan sosoknya yg dulu.


Dengan senyum getir namun sayang, ia mulai bicara. "kak Meli g tahu apa yg telah kau lalui 5 tahun belakangan, tapi kakak yakin hal itu benar2 telah mengubah mu ke hal yg baik" jelasnya


"kau jauh terlihat lebih dewasa sekarang" lanjutnya


"terimakasih kak" jawab Dina


"untuk permintaanmu itu, kakak kurang yakin mas Rohman bersedia ato gak, kau pasti mengerti kan bagaimana prosedur d kepolisian" tutur kak melati.


"Dina ngerti kak, Dina juga ngerti posisi kak Rohman bagaimana."


"Dina paham bagaimana perasaan kak Rohman setelah peristiwa itu, pasti sangat sulit" jawab Dina kembali


"kau sama sekali g akan paham, Din" jawab suara dari belakang yg tiba-tiba mengagetkan keduanya.


Suara dari Rohman Wijaya, seorang yg berperawakan tinggi ramping, namun berotot, layaknya seorang polisi divisi Bareskrim pada umumnya. rahangnya mengeras yg menunjukkan kekesalannya namun di sisi lain ada rasa penasaran yg ingin diketahuinya.


"astaghfirullah mas Rohman, koq diem-diem gitu datangnya. Assalamualaikum napa" kata kak melati dari keterkejutannya sambil menghampiri dan mencium tangan suaminya itu.


"maaf, assalamualaikum" jawab kak Rohman seketika merasa bersalah.


Di sisi lain, Dina diam mematung berusaha untuk bersikap sewajarnya. namun pandangan kesal dari kak Rohman membuatnya tak mampu menyembunyikan ketidak enakkannya atas apa yg telah ia perbuat 5 tahun lalu.


"apa yg ingin kau perbuat sekarang?" tanya kak Rohman di luar perkiraan Dina.


"a a aku, hmm, Dina ...." Dina kaget, ia tak menyangka kak Rohman akan bertanya to the point.


"kata siapa dia berubah, bagiku tak ada bedanya dengan yg dulu" komentar kak Rohman sambil terus memberikan pandangan kesalnya pada Dina.


"mas... jangan gitu" kata kak melati menenangkan suaminya.


"mas masuk dulu, mandi, setelah itu kita makan bareng-bareng, sdh lama kita g makan bareng kan" bujuk kak melati sambil menekankan kata "kan" d akhir supaya suaminya menurut.


"hmmm, tapi Dina..." kata kak Rohman sambil menunjuk k arah Dina, "kau dilarang meninggalkan rumah ini tanpa berpamitan langsung denganku" perintahnya tegas.


"si.. siap kak" jawab Dina segera tanpa berani menolak


ketika kak Rohman masuk k dalam, Dina pun sedikit lega. berbeda ketika berhadapan dengan kak Melati, ia merasa rindu sekagus hangat. namun dengan kak Rohman, rasa bersalah masih menyelimuti hatinya. meskipun ia sdh membulatkan tekad, namun ia sadar sepenuhnya bahwa kesalahannya lah adik kak Rohman satu2nya, Vania, pergi untuk selamanya. karena kesombongan dan keyakinannya yg berlebihan tanpa memperhitungkan sekitarnya ia sering menempatkan kak Rohman pada situasi sulit waktu itu.


"kamu harus paham kenapa kak Rohman bersikap begitu" kata kak melati sambil menggosok-gosok punggung Dina untuk lebih tenang.


"hmmm, Dina paham kak, Dina sekarang hanya g berani dan percaya diri apa Dina layak meminta bantuan kak Rohman" jawab Dina yg sebelumnya teguh, jadi hilang percaya dirinya ketika berhadapan langsung dengan kak Rohman.


"itu tandanya kamu sekarang lebih manusiawi, Din" kata kak melati sambil tersenyum memperhatikan penampilan Dina saat ini.


"kau bukan lagi Dina yg terlalu mempercayai kemampuan dirinya, tapi Dina yg tahu apa yg mampu dilakukan dan bantuan apa yg bisa orang-orang disekitarnya lakukan" lanjutnya


"tentu tidak mudah meyakinkan seseorang, tapi belum tentu tidak bisa dan kemudian kau menyerah, kan!" tutur kak melati menguatkan.


setelah beberapa menit menunggu, akhirnya kak Rohman selesai membersihkan diri, ia langsung menuju ruang makan. kak melati dengan menggandeng tangan Dina mengajaknya untuk ikut makan.


"kakak mengizinkanmu ikut makan, bukan berarti kakak setuju dengan keinginanmu" jelas kak Rohman sebelum mulai makan.


"hmm..." angguk Dina


Mereka bertiga pun mulai makan dan hanya dentingan sendok garpu pada piring yg mengiringi suasana makan saat ini. sesekali kak Melati menengok k arah suaminya dan Dina, kemudian tersenyum.


"kau datang kali ini apakah ada hubungannya dengan kasus 5 tahun lalu?" tanya kak Rohman memulai pembicaraan.


"jika ya, kau pasti tahu kan kasus itu sdh lama ditutup dan sdh dinyatakan sebagai kasus bunuh diri"


"bahkan Vania pun dinyatakan meninggal karena bunuh diri, yg jelas-jelas dengan mata kepalaku sendiri kalo ia jatuh terdorong oleh seseorang yg tak terlihat saat itu"


"bahkan bukti2 yg ditemukan d TKP dan kamarnya tiba2 ada dan mengarah peristiwa bunuh diri"


"sekeras apapun aku mencari, sama sekali tidak ada yg membantu"


"di sisi lain, kau beberapa hari setelahnya telah pergi menghilang di saat kakak sangat berharap kau akan mampu memberikan petunjuk" ucapnya dengan mengeraskan rahangnya menahan diri untuk tidak emosi.


"dan kau bilang kau paham perasaan dan kondisi kakak" lanjutnya


"huh, sama sekali tidak, Din, kau tidak akan paham" tekannya sekali lagi


"aku...Dina minta maaf untuk peristiwa 5 tahun lalu kak" jawab Dina


"yg bisa Dina minta saat ini adalah kak Rohman mau memaafkan Dina" lanjutnya


"Dina paham Dina salah krn tiba-tiba pergi tanpa memberi kabar, tapi Dina ada alasan untuk itu"


"Dina sama sekali tidak ada maksud untuk lari atau menghindar dari kasus itu"


"saat itu, Dina merasa harus segera menjauh agar orang-orang disekitar Dina g mengalami hal yg sama dgn Vania" jelas Dina


"huh, jadi kau mengira kami, kepolisian, tak mampu mengungkap kasus itu, begitu?" dengus kak Rohman makin kesal


"bukan, bukan begitu maksud Dina, kak" jelas Dina sambil memohon pada kak Rohman


"kak Rohman tahu kan situasi saat itu bagaimana?" terangnya


"meskipun kita yakin ada orang dibalik kasus bunuh diri waktu itu, namun sama sekali tidak ada tanda/bukti yg mengarahkan kita pada siapa tersangkanya"


"Dina tidak mau kita bergerak sia-sia yg kemudian akan timbul korban lagi"


"karena sejak korban yg kedua, Dina lah target selanjutnya"


"karena itulah, Vania bersikeras menjadi umpan saat itu, dan meminta Dina agar tak memberitahukannya ke kak Rohman"


"Dina berulang kali meminta agar Vania g pergi saat itu, tapi kenyataan berkata lain"


"maafin Dina kak, Dina g mampu, seandainya saat itu Dina lebih cepat menyadari kalo itu jebakan. harusnya Dina sadar justru itu yg diinginkan pelaku, harusnya Dina..." jelasnya dengan berurai air mata yg tak terbendung lagi


tanpa mampu melanjutkan kata-katanya, Dina berusaha sekuat mungkin untuk menenangkan diri. kak melati yg disampingnya terlihat tak tega melihatnya diberondong perasaan bersalah sekaligus tatapan tanpa ampun dari suaminya.


berulang kali kak melati mengelus punggung Dina untuk bisa tenang.


"sudah, sudah... semua sdh berlalu dan Vania pun tak akan kembali"


"mas jgn terbawa emosi dan menghakimi Dina. melati yakin mas jg paham bagaimana peristiwa saat itu"


pinta kak melati berusaha menenangkan keduanya.