
Langkah Dina begitu pasti dan mantap sejak keluar dari gedung tersebut. Ia mulai mengeluarkan hpnya dan memesan ojol untuk mengantarkannya k suatu tempat. tak lama menunggu, pak ojol tiba.
"mba Dina..." tanya pak ojol
"ya pak, k Duren sawit ya pak!" jawab Dina sambil segera memakai helm dan naik k boncengan ojol.
" siap mba, alamat sesuai aplikasi ya mba" pak ojol pun segera melaju menyusuri jalan ibukota menuju alamat sesuai aplikasi
Beberapa menit berlalu, mereka hampir mendekati tujuan. Suasana area sekitar yg sdh sangat familiar dalam pikiran Dina.
"tak banyak yg berubah, hanya pinggiran jalannya yg makin banyak kios-kios jualan" batin Dina.
"depan pertigaan belok kanan ya pak" pinta Dina
"berhenti d rumah pagar bambu setelah masjid ya pak" instruksi Dina selanjutnya.
"terimakasih pak, kembaliannya buat bapak saja" kata Dina setelah sampai d rumah tujuannya.
"terimakasih mba" jawab pak ojol dan pergi setelah menurunkan penumpangnya itu.
"huff... bismillahirrahmanirrahim" doa Dina beberapa saat memandangi rumah tersebut. Terbesit kilas memori 5 tahun lalu saat ia dulu sering sekali mengunjungi rumah ini.
"Aku kembali Van... aku pasti menangkapnya." ucapnya dalam hati, dan tak terasa air mata kerinduan yg sdh lama dipendamnya pun keluar. Dengan meneguhkan hati dan menghapus air matanya, Dina mulai membunyikan bel dekat pagar rumah tersebut dan mengucapkan salam.
"assalamualaikum.."
"assalamualaikum..." ucap Dina berikutnya, karena tak ada tanda orang yg keluar menyambutnya.
"assalamualaikum..." ucap Dina lagi agak keras, dan kemudian...
"wa'alaikumsalam" jawab seorang wanita berhijab hijau dari dalam rumah. Sambil mengernyitkan dahinya, ia berusaha mengenali siapa tamu yg datang mengunjunginya.
"ya Allah, Dina...." sambut wanita itu mengenalinya.
tanpa ada jeda setelah membuka pintu pagar, ia mulai memeluk Dina dengan kerinduan yg sangat. Dina pun menyambut pelukan wanita itu dengan senyuman hangat. Begitu lama ia merindukan sosok wanita ini dalam masa rantaunya.
"gimana kabarmu? kenapa menghilang begitu saja? kamu g kenapa-napa kan? ayo masuk, masuk..." berondong pertanyaan wanita itu sambil membawanya masuk k dalam rumah.
Seusai yg diperkirakan Dina, ia pun tersenyum memperhatikan ekspresi dan gerak-gerik wanita itu. Aroma masakan khas mulai tercium saat mereka memasuki ruang tamu. didudukkan lah Dina d sofa terdekat dan wanita itu kembali memandanginya dengan ekspresi bahagia, rindu sekagus sedih secara bersamaan.
Lama mereka saling memandang, dan Dina mulai bertanya setelah keheningan yg cukup lama.
"kak Mel apa kabar?" tanya Dina, "maaf Dina tiba-tiba menghilang dan baru datang hari ini" sambungnya dengan tatapan rindu sekagus bersalah.
"sejak kamu tiba-tiba ga ada setelah pemakaman Vania, mas Rohman sempat khawatir" ia mulai bercerita.
"kak Mel juga usul biar minta bantuan temannya mas Rohman buat ngelacak keberadaan kamu. kami baru tahu kalo kamu meninggalkan negeri ini beberapa hari setelahnya" imbuh kak melati.
Belum sempat Dina mau menjelaskan, ia mulai mencium sesuatu yg lain.
"kak Mel, lebih baik kompornya dimatiin dulu, sebelum telur baladonya berbahaya" info Dina seketika dibarengi terburu-burunya Melati ke arah dapur.
Melati Dinanta, seorang wanita 40 tahunan. istri dari Rohman Wijaya, seorang anggota polisi bintang 2 divisi Bareskrim. Sosoknya yg ramah dan tenang, namun memiliki kecerdasan dibidangnya (psikologi) ini sangat diidolakan Dina. Dia adalah wanita yg selalu menjadi tumpuan terakhir jika ada beberapa kesulitan yg tak mampu Dina selesaikan.
Dengan senyum tawa, Dina memperhatikan sosok kak Melati yg keluar dari dapur dengan memegangi kepalanya.
"duh, untung aja telor balado nya terselamatkan. kalo g, bisa makan nasgor bang Jali lagi mas Rohman" canda kak Melati.
belum sempat menanggapi, tangan Dina sudah dicengkeram kak Melati. "kamu gimana? kamu g lagi di situasi berbahaya kan?" tanyanya
"kenapa kau tiba-tiba menghilang waktu itu? k luar negeri pula, kemana... ke Hongkong? tanyanya lagi
Dengan napas berat, Dina mulai menjelaskan. ia menjelaskan bagaimana kematian sahabatnya, Vania - adik ipar kak Melati, sangat memukul mentalnya. ia sampai meragukan kemampuan dan intuisinya untuk melanjutkan membantu penyidikan 5 tahun lalu, dan beberapa hal yang mengharuskan Dina pergi menjauhkan dirinya dari apapun yg berbau misteri.
Sampai ia menolong seorang pekerja part-time di tempat ia bekerja d new Zealand. dia lah Dwi Andika, yg kemudian tak Dina sangka adalah seorang dengan kemampuan peretas dan visual editing yg dapat diandalkan. namun karena kemampuannya itu, ia sampai dikejar-kejar gangster d sana. Dan dengan kemampuan Dina, akhirnya Dika bisa terbebas dari mereka dan sejak itulah ia selalu siap memberikan bantuannya pada Dina.
Dan sejak itu pula Dina memantapkan tujuan untuk memulai kembali penyelidikan yg sampai saat ini ia lakukan dibantu dengan Dika. Penyelidikan yg dulu sampai mengakibatkan sahabatnya, Vania, mengorbankan nyawanya buat membongkar siapa pelaku kasus saat itu.
"New Zealand, tapi infonya mas Rohman, kamu ke Hongkong, Din?!!" terang kak Melati bingung.
"ya kak, Dina k Hongkong, karena tugas Dina tidak terlalu sulit, akhirnya Dina beralih ke new Zealand" kata Dina
"beruntung ada teman Dina yg kebetulan membutuhkan bantuan Dina dan bersedia memproses visa dan dokumen selama Dina d sana kak" lanjutnya menyelesaikan.
"jadi apa kamu sdh menemukannya?" selidik kak Melati
"aku sdh menemukannya kak, tapi..." belum sempat Dina menyelesaikannya, kak Melati memotongnya.
"tapi kau tidak bisa mengungkapkannya karena kurangnya bukti?" potong kak Melati
"benar kak, saat ini Dina dan Dika berupaya memantau pergerakannya. Dan seperti yg kakak ketahui, orang ini memang jauh levelnya" jelas Dina sekaligus geram.
"karena itu, Dina ingin memohon bantuan kak Rohman" pinta Dina