
waktu menunjukkan jam 12.15 malam. walau suasana sekitar begitu sunyi, namun tidak di kamar 205 sebuah asrama pria kampus ternama di Bogor. kamar ini telah disusun sedemikian rupa oleh seseorang yg bukan empunya. Tanpa menimbulkan kesan yg berlebihan, orang tersebut memperhatikan kembali sekelilingnya. Dengan senyum tipis yg tak begitu menunjukkan emosi berarti, batinnya menunjukkan kegembiraan, "dengan ini, kita pasti akan bersenang-senang...". Dan orang tersebut menghilang tanpa ada yg menyadari.
Di kota lain, Dina tiba-tiba terbangun dari tidurnya. masih dalam keadaan setengah sadar ia melihat jam yg menunjukkan pukul setengah satu malam. dengan berat hati, Dina menguatkan dirinya melangkah k kamar mandi untuk cuci muka dan berwudhu. Selesai sebelas rakaat, ia pun lanjut menyelesaikan dzikir dan doanya. kemudian Dina beranjak k arah hp nya dan mengecek beberapa aplikasi yg ditujunya. sejenak Dina mengernyitkan dahi dan segera menghubungi seseorang.
Tut...tuuut...tuuut...
"knp Din?"
"assalamualaikum ndi" salam Dina
"oh maaf, wa'alaikumsalam, knp Din?" jawab Andika kemudian dengan sungkan.
"Coba tolong kau cek, knp posisi hp Ridwan masih d kamarnya sejak jam setengah delapan dan tidak berpindah walau sekedar k warung sekalipun" pinta Dina kepada temannya itu. Walau waktu masih menunjukkan dini hari, tampaknya sama sekali tidak ada rasa keberatan sama sekali dari Andika menolak permintaannya.
Dengan bergegas Andika pun menyalakan laptop dan PC nya. dengan tangan cekatannya ia mulai menelusuri beberapa jaringan dan salah satu layar menunjukkan 3 lokasi cctv bersamaan. dilayar lain menunjukkan beberapa riwayat percakapan seseorang.
"hmmm, apa mungkin dia ketinggalan hp nya?, karena aku tak melihat sosoknya d kamar" jawab Andika berasumsi
"apa ada riwayat panggilan d hpnya dari teman-temannya?"
"tidak ada, tapi..."
"coba cek apa benar tidak ada atau sdh dihapus? dan sekalian cek cctv kamarnya 1-2jam sebelumnya, jika memang tidak ada pergerakan, pastikan cctv nya beres atau ada yg mengotak-atik. dan coba cek juga area lainnya, d sekitar jam 6 sampai jam 10" potong Dina segera setelah kata-kata temannya itu tanpa ada kesempatan memberikannya waktu berpendapat.
dengan napas agak kesal sekaligus bangga, Andika mulai melakukan apa yang Dina minta.
" huh, kau ini benar-benar ya, selalu saja mengatakan apa yg ingin aku lakukan" sindirnya diselingi senyum bangga pada partnernya tersebut.
Namun, senyum itu menghilang setelah ia menyaksikan layar yg menunjukkan lokasi danau ditengah taman.
Dilihatnya sosok pria berjalan menyusuri danau tersebut, dan detik berikutnya pria itu menenggelamkan dirinya d sana. beberapa saat kemudian muncul gelembung-gelembung dan pergelokan dalam air, dan detik berikutnya sosok tubuh mengambang tak bergerak di tengah danau.
"innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" kata Dina setelah jeda keheningan lumayan lama tersebut. walau sudah memperkirakan bakal akan kejadian, namun ia masih tak sanggup menerima kenyataan tersebut.
"kau bukan Tuhan, Din..." tiba-tiba suara itu muncul dalam memorinya. Dan sekali lagi Dina menguatkan dirinya, dan mulai beberapa rencana dalam pikirannya.
"ndi...Dika... Andika...?" panggil Dina pada temannya di sisi lain yg sepertinya tak merespon panggilannya.
"hah...eh, Oy Din... maaf, aku hanya..." jawabnya bingung tak tahu harus bagaimana.
"aku paham, ini tiba-tiba. tapi aku sdh menjelaskan sebelumnya, bahwa akan ada peristiwa d luar kendali kita" jelas Dina berusaha mengembalikan fokus Andika.
"sekarang aku minta kau bantu aku agar bisa masuk k perusahaan itu. aku harus mencegah yg satu ini. Dan kau tetap pantau yg lainnya. segera hubungi aku jika ada pergerakan atau percakapan yg tak biasa. Dalam waktu dekat aku akan memberikan bala bantuan yg kau perlukan", tanpa jeda Dina memberikan instruksi pada Andika.
"hah, bala bantuan? maksudmu?" tanya Andika tak paham namun tetap menggerakkan tangannya d keyboard dan mouse. matanya pun bolak-balik menyusuri antara layar satu dengan yg lainnya.
"kau akan tahu nanti, walau kemungkinannya hanya 92% mereka akan membantu" terangnya
"kau ini, selalu saja kalo g 99% atau 100%, kau pasti tak pernah yakin, baiklah aku tunggu bala bantuannya"
"kau sdh aku buatkan jadwal interview hari ini jam 10" jawab Andika kemudian
"sip, thanks ndi. Assalamualaikum" tutup Dina
tuuut...tuuut...tuuut...
"hah???" Andika menatap hpnya agak kesal sekaligus memaklumi sikap temannya yg satu itu.
"wa'alaikumsalam... gila, main tutup aja" jawab Andika, walau kesal namun ada adrenalin yg segera memacunya untuk fokus pada apa yg diminta Dina.
"tidak akan ada yg berikutnya, aku yakin, dia pasti menyimpannya. aku harus menemukannya" tekad Dina.