
kak Rohman sangat mengerti keinginan Dina, namun hatinya masih sakit. sakit karena orang yang dihadapannya saat ini adalah salah satu orang yang sampai saat ini adalah orang yang disayanginya bagai adik sendiri. karena Dina adalah satu-satunya sahabat adiknya yang sudah dianggap anggota keluarga. namun karena kasus 5 tahun lalu yang membuatnya menghilang tanpa kabar di hari adiknya meninggal, membuat dirinya tak mampu memaafkan Dina.
suasana hening cukup lama, kak Melati yang paham bagaimana peperangan batin suaminya, menyentuh tangannya dan memandangnya berusaha menguatkan. "Meli percaya, yang berada dihadapan kita saat ini bukanlah Dina yang dulu" ucapnya. "Meli akan mendukung apa pun keputusan mas, dan Dina..." dengan beralih ke arah Dina, "kak Meli hanya bisa membantu memberi saran dan pengetahuan yang Dina mungkin kurang paham, selebihnya tergantung apa keputusan kak Rohman" jawabnya.
Tanpa disadari, mata Dina berkaca-kaca mendengar ucapan kak Melati. Yang sebelumnya Dina berusaha menenangkan diri dari tangisnya tadi, setelah mendengar ucapan kak melati, ia merasakan kembali sosok kakak yang sangat dihormatinya.
"Dina tidak akan meminta kak Rohman untuk terjun menangani kasus ini" ucapnya
"Dina meminta kak Rohman membantu Dina mendapatkan informasi mengenai korban hari ini, dan meminta beberapa saran dari kak Rohman dan kak melati" pintanya kemudian.
"informasi seperti apa?" tanya kak Rohman secara tak langsung terbujuk
"informasi perkiraan waktu kematian korban, bagaimana kondisi korban saat ditemukan, apa penyebab kematian korban, bagaimana kondisi kamar asrama korban, bukti-bukti langsung dan tak langsung yang ditemukan, kejanggalan dan kondisi tak wajar yang kak Rohman dengar atau rasakan. ya itu yg paling penting, karena insting bisa sangat membantu" Dina menambahkan tanpa segan
"kau bilang 'mendapatkan informasi' seolah informasi yg kau minta akan mudah kakak dapatkan" dengus kak Rohman
"Dina percaya kak Rohman pasti bisa mendapatkannya" ucapnya yakin
"sebagai gantinya, Dina akan memberikan segala bukti yang kakak perlukan untuk menangkap pelaku" tambahnya memberikan penawaran yang Dina yakin tak akan ditolak kak Rohman
"sebenarnya apa yang sudah kau lalui selama 5 tahun terakhir, Dina?" tanya kak Rohman seketika, yang tak Dina sangka akan ditanyakan langsung oleh kak Rohman. biasanya pertanyaan seperti ini kak melati lah yang melontarkannya.
"kakak tahu bagaimana kemampuan logic mu, dan hari ini kemampuanmu itu jauh berbeda dengan yang dulu. sekarang kau jauh lebih tenang, tajam, dan disaat bersamaan kau lebih terkendali. tidak mungkin kasus 5 tahun lalu mampu merubahmu sedemikian signifikan. Pasti ada penyebab lain yang jadi titik balik perubahanmu saat ini"
lama Dina termenung, berusaha mencari kata-kata untuk bisa ia ungkapkan. "peristiwa 5 tahun lalu sangatlah memukul ego dan mental Dina" jelasnya
"tak pernah sekalipun Dina begitu takut dengan kemampuan Dina. awalnya Dina merasa yakin kalau Dina akan menangkapnya. namun tidak tertolongnya korban dan jatuhnya Vania sangat memukul mental Dina. ditambah pelaku mengetahui siapa orang-orang terdekat Dina, itu makin membuat Dina tak berani melakukan apapun yang berhubungan dengan penyelidikan"
"saat berada di Hongkong, Dina berharap hanya akan hidup layaknya freelancer pada umumnya. namun berselang hampir setahun, keluarga teman Dina, tempat Dina tinggal, difitnah dan hampir dicelakai kerabatnya. di situlah Dina mulai sedikit berani memulainya. tentu ada trauma yang menghantui jika apa yang Dina lakukan gagal, pasti berdampak mengerikan bagi mereka"
"dan kata-kata terakhir dari Vania selalu menjaga Dina. Dina hanya perlu berusaha maksimal, untuk hasil ikhlaskan Allah sebagai penentu. akhirnya Dina memutuskan sedikit demi sedikit menggali informasi mengenai pelaku kasus 5 tahun lalu"
"Dina sempat khawatir, apa pelaku masih mengenali Dina setelah 5 tahun berlalu. namun setelah Dina bertemu langsung dengannya, tentu saja sekedar berpapasan biasa, dia tak lagi mengenali Dina."
"whattt...!!! kau berpapasan dengannya?" lontar kak Rohman seketika dengan membelalakkan matanya tak percaya. "kau sudah hilang akal atau bagaimana? dia mungkin saja hanya berpura-pura tak mengenalimu, kan!" tambahnya tak habis pikir membayangkan kenekatan Dina
"ada 3 kemungkinan, satu; pelaku tak lagi mengenali Dina, yang mana akan sangat menguntungkan buat Dina untuk mendapatkan bukti. dua; pelaku mengenali Dina dan menjadikan Dina target. bukan target sebagai sasaran korban selanjutnya, tapi target sebagai lawan untuk membongkar kejahatannya. dan jika dia menang, itu akan menambah satu trophy kemenangan baginya. dan yan ke tiga; pelaku tak mengenali Dina, namun ada ketertarikan baginya untuk menjadikan Dina sebagai target berikutnya"
"dan kemungkinan yang ketiga lah yang terjadi saat ini" jelasnya dengan anggukan yakin akan prediksinya
"kau tak berencana mengorbankan dirimu sebagai sasaran kemudian menjadikannya sebagai bukti tak terbantahkan, bukan?" tanya kak melati tiba-tiba, yang merasa janggal dengan kepercayaan diri Dina atas rencana yang dinilainya terlalu mudah.
agak sedikit kikuk Dina berusaha membenarkan posisi duduknya. Dina telah mengira bahwa kak melati akan bisa melihat jelas sebagian besar rencananya. alih-alih berbohong, Dina pun membenarkannya.
"ya, itulah yang akan Dina lakukan" jawabnya.
"Dina, kau..." ucap kak melati tak mampu meneruskan
"tentu ini bukan langkah putus asa atau langkah bunuh diri seperti yang kak Meli bayangkan" ucap Dina meyakinkan Melati. "Dina sudah merencanakan dan menyiapkan beberapa langkah untuk mem back-up rencana ini. jadi, jika rencananya tidak sesuai dengan apa yang Dina inginkan, ada beberapa langkah persiapan untuk beberapa kemungkinan-kemungkinan/ variabel lain yg mungkin akan terjadi. karena itu, kak Meli dan kak Rohman jangan khawatir"
"Din, kakak yakin kau sudah tahu kalo kakak tak akan bersedia membantu rencana gilamu ini" ujar Rohman
"kau bilang kau paham bagaimana perasaan kakak akibat peristiwa lima tahun lalu. tapi kau masih berani mengajukan rencana ini padaku?. apa yang membuatmu yakin kakak akan membantumu?" selidik Rohman. dia penasaran apa yang ada di benak gadis dihadapannya ini. Dina memang menunjukkan aura perubahan yg signifikan padanya hari ini. namun hal itu tak membuatnya serta merta mengikuti kemauan Dina.
Dina sdh tahu tak akan mudah meyakinkan kak Rohman. dan akan lebih sulit pula meyakinkan kak melati jika suaminya tak mendukung. karena itu sangat penting mendengar persetujuan kak Rohman.
"Dina sama sekali tidak ada kepercayaan diri kalo kakak akan mendukung rencana Dina" ucapnya terus terang.
"Dina tidak ingin kak Rohman dan kak melati kecewa untuk yang kedua kalinya karena Dina tak memberitahukan rencana Dina pada kalian. Dina sadar telah melakukan kesalahan karena saat itu Dina dan Vania merahasiakan rencana kami saat itu. jadi Dina tak ingin melakukan kesalahan serupa".
"Dina ingin memberitahukan ini semua karena Dina menyayangi kalian. Dina merasa kalo Dina masih memiliki keluarga walau kalian bukanlah keluarga Dina yang sebenarnya. Dina benar2 bersyukur bertemu dengan Vania, berkatnya, Dina merasakan kembali memiliki keluarga"
"Dina percaya walaupun kak Rohman tak mendukung rencana ini, Dina akan tetap melakukannya. dan Dina berharap kak Rohman dan kak melati mendoakan Dina berhasil" Dina mengakhiri ucapannya dengan mata mulai berkaca-kaca kembali.
tentu hal ini sangat menyentuh hati Rohman dan istrinya. dia sudah menganggap gadis di depannya ini adalah adik keduanya. sejak Vania mengajak temannya ini ke rumah 7tahun lalu, Rohman sudah melihat dia sangat berbeda dengan adiknya. berbeda dengan Vania yg kadang manja namun lembut, Dina adalah gadis yang mandiri dan peka. dengan kemandirian dan kepandaiannya, dia mampu membuat Vania jadi lebih dewasa dalam beberapa hal. tak heran jika ia mampu merebut hatinya dan istrinya yang kadang membuat sang adik sedikit cemburu.
Rohman percaya Dina sudah mempersiapkan rencananya sedetil mungkin. dia pasti sudah mempersiapkan rencana2 lain jika terjadi hal-hal di luar perkiraan. Namun setelah bertemu kembali karena sekian lama kepergian Dina, Rohman masih belum siap jika suatu saat harus kehilangan adik untuk kedua kalinya.