
Jam istirahat makan siang telah berlalu dan Dina kembali k ruangannya. Dalam perjalanannya, ia mendapati Disty (Adisty Ananta) berjalan d depannya, sama2 menuju lift.
Dina memperhatikan wajahnya wanita itu tak nyaman dengan sekitarnya. Dina melihat itu, sebagian besar orang2 melirik dan berbisik dan bahkan ada yg bersuara sengaja agak lebih tinggi dibandingkan yang lain. "OMG, aku tu ya, kalo ditolak ya udah move on, bukan ber drama ria cari2 perhatian dengan menyakiti diri sendiri" ucap salah satunya.
kasak-kusuk yg membuat siapapun tak nyaman mendengarnya, salah satunya Dina, dan diam bukanlah pilihan dan rencananya. ia dengan sengaja menabrakkan dirinya k orang yg bersuara tadi.
"eh, maaf maaf mba, maaf g sengaja, tapi mbanya g bakalan baper dan move on kan. jam istirahat dah abis soalnya. permisi" ucapnya dengan wajah bodoh dan tak berdosa, kemudian ia jalan lurus masuk k lift dan berdiri d depan Disty yg sdh masuk lebih dulu. Dengan cepat Dina menekan tombol untuk menutup tanpa memberi kesempatan orang yg kasak-kusuk melangkah masuk lift.
suasana dalam lift diam, seolah memang sudah reflek, karena sudah menjadi rutinitas, ketika pintu lift menutup, rata2 pandangan menuju k angka yg terpampang d atas pintu lift. saat angka menunjukkan nomor lantai yg dituju, Dina dan disty keluar.
saat akan mencapai mejanya, Ahmad mendekat. "Lia mana?" tanyanya yg melihat k meja Lia dan tak menemukannya.
"eh, sebentar saya telp kak Lia" Dina langsung menelpon Lia.
"halo, kak Lia dimana? ada pak Ahmad nyariin" ucap Dina ketika telponnya tersambung.
"ok, nanti aku sampaikan k pak Ahmad" ucapnya kemudian dan mengakhiri panggilannya.
"kak Lia lagi perjalanan meeting dengan brand Suman, pak. dan kemungkinan akan lama. jadi kak Lia g akan balik k kantor dan langsung pulang. Bapak kalo urgent, bisa langsung telpon kak Lia. kalo g bisa titip pesan k saya, nanti saya infokan k kak Lia." ucap Dina dengan menatap Ahmad yg sedari tadi memperhatikannya.
"sangat efisien dan tepat sasaran" batinnya
"kau memang cocok kerja dengan Lia" ucap Ahmad tak menghiraukan pesan yg Dina ucapkan barusan. "tak banyak bicara dan langsung take an action, great!" pujinya
"aku perlu dokumen kontrak group Diantra yg baru. Minggu lalu mereka memperpanjang program promonya untuk 3 bulan kedepan kan. aku mau baca apa aja penawarannya, biar aku bisa ajukan juga buat produk Health nya. kalo bisa soft copy nya saja, aku g terlalu suka banyak kertas d mejaku. tapi ijin dulu k Lia, biar g salah"
"hahhh, seharusnya Bu Wati menjadikanmu asisten ku. jadi aku lebih santai, bukannya malah banyak kerjaan begini" keluhnya dengan wajah lelah karena selain punya asisten yg tak mampu ia harapkan, asistennya yg baru juga sepertinya kurang cepat dalam beradaptasi dengan kondisi kerjanya.
"sebentar saya tanyakan dulu k kak Lia" jawab Dina singkat, kemudian kembali menghubungi Lia.
selama menunggu Dina, Ahmad terus memperhatikannya dan sedikit-sedikit melihat ruang kerja Dina. diperhatikannya sekelilingnya. kemudian dia menyadari bahwa Disty melihatnya d belakang melalui pantulan jendela. Sama seperti sebelum-sebelumnya, ia tak mau memberikan harapan pada wanita itu. jadi ia tak terlalu peduli dan kembali memperhatikan wanita yg di depannya saat ini. Tanpa sadar ia tersenyum, entah apa yg membuatnya seperti itu, hanya dirinya, malaikat dan Tuhan yg tahu.
"saya sudah kirim soft copy nya k email bapak. nanti bapak bisa cek" ucap Dina yg membuyarkan lamunan Ahmad.
"ok, terimakasih. oy nanti pulangnya k ruanganku sebentar ya. aku ada perlu sedikit" ujarnya kemudian beralih k ruangannya.
Sementara itu, Disty yg sedari tadi memperhatikan, entah kenapa tiba-tiba ada rasa kecewa dan kesal dengan interaksi antara pria yg ia kagumi sejak awal dia bergabung d perusahaan ini dengan Dina. "apa mas Ahmad tertarik dengan wanita model seperti itu, apa yg lebihnya dia dibandingkan denganku?, mas Ahmad tadi bahkan memujinya. aku saja g pernah, dilirik pun nggak" Disty merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"padahal baru hari pertama aku kembali, tapi kenapa berat sekali" dengan pandangan sendu, ia kembali k mejanya.
di mejanya, Dina sendiri menyadari jika ada yang memperhatikannya. karena ia masih terhitung pegawai baru, tak banyak yang ia kerjakan. walaupun Lia bukanlah orang yang tak segan-segan memberinya tugas, namun bagi Dina, tugas tersebut bukanlah hal yang sulit. Dengan pengalamannya dibantu dengan kemampuan coding Andika. Dina telah meminta dibuatkan sortcut dashboard dan report yg user friendly untuk mempersingkat kerjanya. sehingga ia bisa lebih fokus dalam penyelidikan dan surfing pada isu-isu yg berkembang disekitar target.
Dina menyadari perubahan dari Andika, namun ia tak mau menyudutkannya. ia akan menunggu saat Andika bersedia berbagi. Jika sahabatnya itu tak mau berbagi, maka ia yang akan membuat Andika melakukannya sendiri. Dan sekarang, ia hanya perlu menunggu, karena ia telah membuka pintunya, apakah sahabatnya itu mau melangkah masuk atau malah menutupnya? itulah adalah keputusannya.
Di tempat lain, tepatnya di Mabes Bareskrim, tepatnya d Pusat Informasi Kriminal Nasional (pusiknas) Polda MJ, Rohman termenung. Sejak ia menerima paket dari Dina, tak sehari pun pikirannya tenang. Ada kekhawatiran sekaligus ketakutan dalam dirinya. Namun bukan apa yg akan melanda dirinya, tapi apa yg akan Dina lawan nanti.
seperti yg Dina harapkan, Rohman memang bukan orang yg berpangku tangan saat ada fakta dan paparan bukti disodorkan padanya. Tapi setelah beberapa hari membaca dan mengulik lebih dalam dari informasi yg Dina berikan, semakin hari sorot matanya makin dalam namun tak berani ia ekspresikan.
"kenapa kau harus mengambil langkah ini, Din?" batinnya menyiratkan kekhawatiran. Sekarang ia memahami ketakutan sahabat adiknya itu. ingatannya pun kembali ke seminggu lalu, saat ia pulang dengan napas beratnya, karena tak henti-hentinya ia cemas.
"apa yang harus mas lakukan sayang?" ucapnya pada istrinya, melati.
"kenapa mas?" tanya melati penasaran melihat suaminya saat pulang dan terlihat murung.
"mas kenapa? apa ada kaitannya dengan Dina? ada informasi apa lagi?" tanyanya beruntun karena setiap pulang dan mendapatkan info baru mengenai kasus yg Dina kejar, pasti wajah suaminya murung.
"ini berat, ini tak akan berdampak pada dirinya, tapi semua orang, bahkan beberapa institusi d dalamnya akan kena. terlalu besar dampak kotak Pandora ini jika dibuka"
"apa ada info lain dari Dina? mungkin saja ada hal yg mungkin dapat meringankan" ucap melati sambil mengusap kening dan rambut suaminya saat mereka duduk d sofa agar lebih relax.
"coba mas pelajari kembali, kira2 apa dampak terburuk dan terbaik jika hal ini dibuka. Dan kira2 apa yg akan Dina lakukan jika ada pihak yg menghalangi terbukanya kasus ini. adek yakin Dina bukan orang yg akan berpangku tangan jika ada yg menghalanginya"
"justru itu yg aku khawatirkan, dia seolah punya pasukan yg mampu menghalau rintangan itu. tapi apa yg aku baca, situasinya tidak simple itu" dengan napas berat, Rohman menyandarkan kepalanya k bahu istrinya. dengan bersandar dan memeluk istrinya setidaknya ia bisa lebih tenang, sehingga bisa menjernihkan hati dan pikirannya.
"adek paham mas menyayangi Dina, percayalah dia mampu melewati ini. mas bantulah apa yg Dina perlukan. oy, bagaimana kasus mahasiswa yg bunuh diri itu? apakah akan d usut?" tanya melati kemudian saat teringat kasus terakhir yg Dina datang berkunjung.
""hal ini juga masih diperdebatkan. sejak mengetahui kalo itu adalah pembunuhan, mas mencoba mengarahkan orang2 yg menyidik kasus itu dengan informasi yg Dina berikan. tapi mas belum bisa memberikan rekaman video itu, karena bagaimanapun video itu bukan dari cctv kampus. yang artinya ilegal, karena di luar ijin kampus"
"mas hanya mengarahkan ahli forensik untuk memvisum lebih luas dan detail, yg mana pasti ada tanda-tanda kekerasan. dan walaupun kecil, tanda kekerasan itu ada. karena pengaruh lama waktu tenggelam dan suhu air danau saat itu yg menyebabkan proses penguraian menyamarkan bekas kekerasan yg terjadi"
"dari video cctv juga dicurigai ada yg memanipulasinya. karena itu beberapa penyidik sedang berusaha mencari lebih dalam. mas sekarang tinggal menunggu dipanggil untuk diikutkan dalam penyidikan atau malah dicurigai. karena pasti ada yg sadar atau tidak, mas yg mengarahkan opini mereka"
Rohman semakin erat memeluk istrinya. di dalam hatinya ada rasa kekhawatiran, namun disisi lain ada rasa keadilan dan keberanian yang memicu adrenalinnya untuk segera membongkar kebusukan d dalamnya.
"bersabarlah mas, bismillah semua pasti menunjukkan titik terangnya" ucap melati sambil memeluk dan mengusap rambut suaminya.
'Ting'
tiba-tiba ada suara notifikasi pesan masuk d ponsel Rohman. saat ia beranjak membacanya, saat itulah ia tampak kesal dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak percaya, seolah gadis itu bisa memprediksi apa yg dirasakan saat ini.