
Dina keluar dari private room diiringi Andika di sampingnya. Yu Chen yang tak pernah mengalahkan pandangan hingga sosok Dina menghilang saat pintu tertutup, hanya mampu menghembuskan napas beratnya. Cindy yang tak sengaja memperhatikan adiknya itu, langsung mengusap-usap punggung Yu Chen dan memberikan senyum penenang. Cindy tahu rasa sayang adiknya itu pada Dina, ia dan adiknya itu juga tahu perasaan itu tidak ada kesempatan untuk terbalas. karena itu ia hanya bisa memberikan perhatian sekedar agar adiknya bisa move on.
"baiklah, sekarang kita istirahat dulu. ingat, besok masih ada sesi latihan buat kompetisi Minggu depan. dan kau, Yu..!" dengan mengarahkan telunjuknya pada adiknya. "kau dilarang minum2 malam ini. kalo kau ingin mengalahkan Roger Minggu depan dan menunjukkan hal ini pada ayah, kau harus turuti kata2 ku"
"I know" jawab Yu singkat. dan tak banyak bicara ia langsung beranjak pergi dengan membawa kertas2 yang tadi dibagikan Dina. walau ingin sekali ia minum malam ini, namun tekadnya untuk menang selalu bisa memotivasinya agar tak bertindak serampangan. karena hanya dengan hasil itu, ia bisa menunjukkan pada ayahnya jika itulah dunianya. dan itu pula yang dijanjikannya pada Dina.
"Lee, tolong suruh anak-anak yang lain istirahat. aku g mau kalo sampe ada yang masih zoom-out pas latihan" pinta Cindy
"ok" dan Lee serta semua yang ada d ruangan itu keluar.
*****
"kau balik k apart g?" tanya Andika saat sampai d basemen hotel tempat motornya diparkiran.
"hmm" jawab Dina singkat sambil tetap mengetik d hapenya.
"Din..." panggil Andika
"hmm..." lagi-lagi hanya deheman yang keluar
"Din..." sekali lagi Andika memanggil
"hmm..." masih sama
"Din..."
"ya Allah ndi, sekali lagi ka..." dengan agak kesal Dina mau ngomel k Andika, tapi kata-katanya berhenti setelah sadar apa yang dilakukan.
"hehehe...maaf" Dina pun segera berlari kecil menghampiri Andika, karena ia berjalan tanpa sadar kalo temannya itu berbelok.
"walaupun mode autismu lagi ON, jangan hilang fokus k sekitar(*). bukannya itu saranmu dulu k aku kan!" Andika mengingatkan. kemudian ia mengambil helm dan menunggu. saat Dina telah ada d sampingnya, ia memakaikan helm ke kepalanya. kebiasaan yang sebenarnya sangat ditentang Dina, tapi dengan bodo' amat ia tak memperdulikannya.
perjalanan dari hotel k apartemen dilalui dengan diam. Andika fokus k depan mengendarai motornya. dan Dina yang dibonceng masih aja fokus dengan hapenya. entah apa yang ia ketik dan scroll dari tadi. sampai-sampai ia baru sadar jika Andika telah menghentikan motornya diparkiran basemen apartemen setelah beberapa menit lamanya.
"sebenarnya kau ngapain, Din" tanya Andika
"heh?...oh sorry aku masih nyoba nyari2 yang cocok buat improve plan biar pas" Dina segera turun dari motor. sambil menunggu Andika standard dan kunci motornya, ia kembali fokus menggeser-geser d layar hapenya.
sangking fokusnya, ia tak sadar Andika mendekat k samping dan memperhatikan apa yang Dina lakukan. Andika lumayan takjub dengan apa yang dina lakukan. tampak aplikasi table plan d layar hapenya, dan tampilannya seperti papan iGO. terdapat kata-kata aktivas yang semakin diperhatikan, seperti menunjukkan ada 2 kubu aktivitas. layaknya permainan iGo ada pin hitam dan pin putih.
Dan lebih lama Andika memperhatikan, ia semakin mengerenyitkan dahinya dan memandang wanita disebelahnya itu. ia seperti melihat ada 2 orang yang sedang bersaing menggeser/memindahkan aktivitas-aktivitas itu. "apakah kau selalu memandang segala sesuatunya dengan sangat kompleks" batinnya. bisa ia lihat, bahwa ada kata-kata; mati, diintai, dilenyapkan, kabur, pengadilan, menggiring opini, bukti, fakta, dan masih banyak lagi kata-kata yang tak sempat ia tangkap. karena fokusnya beralih ke wajah wanita itu.
"kenapa kau mau melakukan ini, Din?" tanpa sengaja kata-kata keluar dari mulutnya.
"maaf, aku terlalu fokus. yok, masih banyak yang harus kita bahas" ajak Dina langsung berjalan masuk dan Andika mengiringinya.
Dalam kepala Andika berseliweran berbagai macam hal apa saja yang akan Dina lakukan padanya. Penilaiannya selama ini pada wanita di sebelahnya berubah 180derajat. Bisa dibilang pemicu pikiran2 itu adalah saat ia kepergok d ruang loker beberapa hari lalu. dan saat melihat tabel plan tadi, ia langsung berasumsi bahwa Dina bukanlah orang biasa. Tentunya Andika menyadari hal tersebut sejak Dina mati-matian menolongnya dari kejaran geng nya Yu Chen. Dan sekarang ia mulai waspada. Sebenarnya seberapa banyak dan seberapa dalam yang ia tahu, dan rahasia apa yang ia simpan.
di sisi lain, hal itu sangat dirasakan oleh Dina. kepekaan dan intuisinya merasakan, ada perasaan yang berbeda pada Andika.
ini adalah perjalanan naik lift terlama yang Dina dan Andika rasakan. mata keduanya menatap k arah monitor angka lift. yang biasanya waktu tempuh lift dari basemen parkiran hingga d lantai 2, unit dimana Andika berada, cuma memakan 3-5 menit. Tapi saat ini seolah berjam-jam.
'Ting'
Akhirnya pintu lift terbuka, dan keduanya keluar dari situ. Dina keluar lebih dulu diikuti oleh Andika. ketika sampai d unit Andika, Dina membiarkan Andika membuka pintu, kemudian keduanya masuk.
setelah keduanya meletakkan tas dan mencuci kaki-tangan, tanpa banyak bicara masing-masing tujuan mereka adalah sudut ruang dimana Andika biasa bekerja. Andika duduk ditempat biasa ia bekerja kemudian mulai melemaskan jari2nya dengan mengaktifkan aplikasi untuk menyambungkan perangkat yang telah dipasangi cut tracker.
Sedangkan Dina yang menunggu Andika mengerjakan bagiannya, Dina melanjutkan kembali apa yang dilakukannya tadi pada table plan. setelah dirasa cukup, ia sedikit mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan unit ini. sudah hampir 2bulan Andika menghuni unit ini, tak terlalu banyak perubahan, hanya tambahan perlengkapan dapur dan letak karpet.
"hmm?" Dina sedikit mengerutkan dahi merasa ada sesuatu. "sedikit, ya sedikit sekali" batinnya, namun ia tak perlu merisaukannya.
"sudah selesai?" tanya Dina yang menghampiri dan melihat Andika masih berkutat dengan kerjaannya.
"sedikit lagi, tinggal memasang firewall aja"
"g perlu" ucap Dina, yang mana langsung ditatap heran oleh Andika.
"kenapa? atau kau sengaja buat..?" belum sempat pertanyaannya dilontarkan, Dina langsung menjawab, "kalo dipasang firewall, justru makin buat curiga. biarkan mereka yang pasang keamanan standard smartphone mereka masing-masing aja. cut tracker itu hanya menghilangkan jejak history yang mengarah ke hapeku saja kan. itu sudah cukup. jadi mereka g akan dicurigai jika nanti ada yang mulai menyasar ke diriku".
"mereka hanya akan dianggap seperti netizen biasa yang ikut-ikutan menyebarkan berita. seperti yang aku utarakan dipertemuan tadi. Tolong buatkan account anonim d semua sosmed, buat beberapa lapis dan spread. oy, berikan tahapan ini k mereka, jadi nanti mereka bisa menyebarkannya sekaligus menghilangkan jejak" Dina menyerahkan secarik kertas k Andika.
Andika mengambilnya dan menelaah tulisan dan gambar-gambar di kertas tersebut.
"hmm, ini sangat bagus. tindakan preventif yang ok" Andika membaca sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"tugasmu selanjutnya, awasi pergerakan target orange dan biru d dunia Maya. dan juga orang-orang ini, si target hijau" Dina merogoh tasnya dan menyerahkan lagi kertas yang diatasnya terdapat list detail nama beberapa orang dan di sebelah kiri atas terdapat kotak berwarna hijau.
"awasi mereka setelah barang yang aku minta tadi dari Lee datang. di saat keadaan sudah sampai di tahap akhir terjadi, fokus prioritasmu adalah target biru, dan mematikan semua sumber dan jejak penyadapan saat aku memberi sinyal. pastikan semua memori aman serta jangan lupa duplikasinya kirim ke Drive ini. walau aku sudah minta tolong pekerja Yu Chen menjaga mereka, kita juga harus tetap waspada. kemungkinan mereka dieksekusi sangat besar"
sebenarnya Andika mendengar apa yang dina katakan. Namun ada nama dalam list target hijau yang mengganggu konsentrasinya. ia memandang orang di depannya dengan raut agak bergetar tapi berusaha untuk tetap tenang. Dina yang paham gesture Andika, balik memandangnya dan menunggu.
"apa ada yang ingin kau tanyakan? atau kau ingin aku yang memulai?"
"memulai atau menguliti?" batin Andika.