
..."Ragamu bisa hilang dari mataku tapi tidak dengan rasaku."...
...Ammar Irsyad Nawansa...
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Flashback on
Ammar tak pernah membayangkan hidupnya berada dititik ini, berdampingan dengan wanita selain Erine. Kondisinya yang beberapa hari belakangan kerap mual dan pusing membuatnya kurang enak badan.
Keinginan melarikan diri membuncah, tak kala keharusan mewajibkan dirinya mengikuti pesta konyol yang menurutnya tak penting.
Dengan memakai kemeja maroon berbalut tuxedo hitam, sebuah bunga mawar putih melekat indah di saku kirinya.
Mawar putih, bunga yang selalu di sukai Erine, dirangkai dengan bunga lili yang segar. Mengingatkannya dengan nuansa rumah mereka yang selalu terasa hidup.
Jam tangan bermerk Alexandre Christie sebagai pelengkap melingkar sempurna di pergelangan tangan kirinya.
Dalam ballroom Hotel bintang lima, kursi jati berjejer rapi ditemani meja bundar berhias pita merah. Lampu kerlap-kerlip yang di letak khusus pada sudut ruangan menambah kemewahan ruangan tersebut.
Lampu kristal tergantung indah menerangi sepanjang jalan lantai kaca yang akan di lewati mempelai, dan di bagian sisi tengah pelaminan terdapat lampu berbentuk bunga tulip yang dengan kokohnya menerangi ukiran nama Karina dan Ammar.
Rangkaian bunga mawar menggantung indah. Sebagian menjuntai dan sebagian lagi menjalar pada sudut atap ruangan juga pintu masuk ballroom.
Mekarnya mawar tak dapat menggambarkan suasana hati wanita yang saat ini sibuk memarahi perias, bukannya tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih. Karina lebih memilih mencemooh hasil make upnya. Tampak jelas wajah lelah menelan hinaan terpatri di wajah perias tersebut.
Bagaimana tidak, Karina merasa lipstik yang ia gunakan tidak terlalu merah. Hingga dengan sengaja berteriak memaki perias yang ada di hadapannya.
"Sudahku katakan, bukan? Ini tidak, bagus! Apa kau, tuli?!"
"Maaf, Bu. Tapi, ini warna yang Ibu request sebelumnya." jawab perias tetap tenang.
Karina kesal mendengar jawaban perias tersebut, hingga memakinya lagi. "Kau menyalahkan, Aku. Hah?! Apa, kau bosan dengan pekerjaanmu?! IYA?!"
"Ti-tidak, Bu. Tidak. Maafkan Saya, Saya akan mengganti warnanya."
"Sekarang, ganti! Aku membayar mahal, tidak untuk menjadi badut sirkus kalian! Apa ini cara kalian memanjakan pelanggan?!" tunjuk Karina, pada wajahnya. "Sial! Aku bisa menuntut habis kalian semua! Dasar tidak becus!"
Ketukan pintu mengalihkan perdebatan Karina dengan perias di hadapannya. Seruni masuk dengan senyum mengembang, menatap Karina yang saat ini sudah merubah mimik wajahnya.
"Sayang, kamu terlihat sangat cantik, Nak. Ammar pasti tergoda melihat Kamu seperti ini." ujar Seruni bahagia.
Karina tersenyum memaksakan diri, "Mama bisa aja. Aku loh, Ma... yang milihin make upnya. Periasnya kurang pandai, jadi aku ajarin sedikit ilmu, aku." ujarnya percaya diri.
Perias wajah yang beranggotakan 3 orang, dengan 2 orang lagi dibagian busana tampak jengkel melihat perubahan sikap Karina.
Seruni tertawa mendengar penuturan menantunya, "Sudah, Mama duga. Tapi... dari luar, Mama dengar ada ribut-ribut. Kenapa? Ada masalah?" ujar Seruni memastikan pada perias.
Karina memberi ancaman pada perias menggunakan matanya, untuk menutup mulut. "Ti-tidak, Bu. Tidak ada masalah."
Karina menyentuh lengan Seruni yang membelakanginya. "Biasalah, Ma. Tadi aku kasih masukan, jadi ada sedikit tanya-jawab. Mungkin, saking semangatnya terdengar kaya keributan."
"Iyakan, mbak?" ujar Karina yang dijawab anggukan paksa oleh perias tersebut.
Seruni mengangguk paham, "Yaudah, kamu buruan siap-siap, Kar. Tamu udah pada dateng, jangan kelamaan berhiasnya. Kasihan tamu, kelamaan nunggu." ujar Seruni lembut.
"Iyaa, Ma. Ini bentar lagi. Tinggal sunting aja."
Seruni berlalu pergi meninggalkan ruang hias Karina. Seiring suara heels yang semakin menjauh, Karina kembali menjadi wanita arogan, mengancam semua pekerja yang berada bersamanya.
"Dasar nenek peot, ngatur banget tuh hidup." umpat Karina.
Karina menatap malas periasnya. "Heh... Sekarang denger, yaa! Tutup mulut kalian, rapat-rapat. Sekali aja, aku denger berita buruk sampai keluar, kalian berlima yang harus tanggung jawab! Paham?!" Ancamnya menunjuk kelima orang tersebut.
Tak ada satu pun yang berani melawan titah Karina. Mengingat susahnya mencari kerja di zaman sekarang, membuat mereka hanya mengangguk paham menuruti ancaman Karina.
"Kamu!" tampak salah satu perias menunjuk dirinya. "Iya, kamu! Siapa lagi?! buruan ambil sunting nya! Apa kau berencana menyuruhku memakainya sendiri?!" teriak Karina, mengabaikan wajah takut perias tersebut.
Dengan cepat perias mengambil sunting dan beberapa kebutuhan lainnya, dibantu dengan rekan kerjanya yang lain melengkapi keperluan memasang sunting.
๐ธ๏ธ๐ธ๏ธ๐ธ๏ธ
Saat Karina turun bersama ibu dan mertuanya, perias kembali membenahi peralatan yang telah mereka gunakan. Dengan dongkol salah satu perias mulai mencela.
"Sumpah- kali ini dapat pelanggan, malah nggak tau malu. Ngaku ngajarin kita lagi, sinting tuh, mbak-mbak."
"Udah, ntar aja ngadu ke, Buk Mega. Bahaya kalau ada yang denger, Lin." sela salah satu dari mereka.
"Tapi yang dibilang Linda ada benernya, Ki. Aku jamin, suaminya bukan seneng tapi malah ogah lihat mukanya, mana parfum udah kaya orang mandi." ujar Duma.
Uti yang sejak tadi menguping ikut menimpali. "Ngerasa nggak sih. Ada yang aneh sama tuh, mbak-mbak."
"Aneh apanya?" serempak yang lain.
"Hmm... Bukan apa-apa. Cepat selesaikan, vendor pada ngumpul di bawahkan?" alihnya tak berniat melanjutkan.
"Heh, nggak jelas. Yaudah, buruan!" ujar Siska yang sejak tadi diam mengamati.
Ballroom terlihat penuh dengan orang-orang kelas atas. Mulai dari pengusaha, artis, bahkan seniman-seniman dalam dan luar negeri.
Ammar berusaha mempertahankan senyumnya. Walau tak terlihat begitu bersinar karena wajahnya yang pucat, Ammar tetap menahan diri untuk tidak tumbang.
"Gilak, keren bener yang nikahan." ungkap Fahri girang.
"Selamat, Bro. Semoga kali ini-" ujar Ardi terpotong.
"Langsung cerai!" sambung Ammar lancar.
Fahri yang mendengar perkataan Ammar tergelak riang berbeda dengan Ricky yang terlihat santai. "Jatah ditagih. Giliran doa, minta cere cepet. Ngotak, Am. Anak orang tuh."
"Sialan! Tergoda aja, nggak!" umpat Ammar kesal.
"Fahri emang gitu, percuma diladenin." timpal Ricky, yang di balas cengiran kuda oleh Fahri.
"Rick, yang gue minta. Udah?" tanya Ammar.
Ricky mengangguk paham arah bicara Ammar.
"Weh... Main belakang, si ******. Bisnis apaan? Bagi-bagilah, perusahan butuh pasokan nih." uangkap Ardi.
Ammar yang berjalan ke Arah toilet, bukan menemui tamu tak sengaja menyenggol bahu seorang bapak yang berjalan beriringan bersama istrinya hendak masuk ke tengah ballroom.
"Astagfirullah. Maaf, Pak. Maaf." ucap Ammar cepat.
"Ammar?" sahut bapak tersebut.
Sontak Ammar menatap wajah bapak itu dalam-dalam, mengingat kembali dimanakah mereka pernah bertemu. Hingga sosok Mira menghampiri kedua orang tua tersebut.
"Pa. Kok berhenti?" tanya Mira yang tak melihat Ammar.
"Mira? Pak Damar?" ucap Ammar terkejut.
"Wow, baji***n! Masih hidup aja, kapan kirim undangan tahlilan?!" sendir Mira.
Ammar menatap mira intens.
"Mira! Jaga ucapan Kamu, ini acara orang." ucap Damar menasehati anaknya.
"Tidak apa-apa, Pak. Bapak-ibu apa kabar?" ramah Ammar menyambut tangan orang tua Mira, yang ia ingat pernah merawat Erine.
"Najis! Pa, jangan sentuh tangan kotor nih baji***n! Jauh-jauh, gih. nikmati pesta Anda Pak Ammar! Kami datang bukan untuk memberi selamat! Tapi- ikut mendoakan azab Tuhan datang di waktu yang tepat. ujar Mira melepas cepat tangan Damar dan Ammar.
"MIRA!"
"Apa, Pa? Kita mau kesini aja udah syukur. Lagian apa gunanya bertamah-tamah sama, DIA! Erine menderita semua karena dia, kan?! Erine disiksa habis-habisan di sel kotor itu semua karna dia, Pa!" murka Mira mengingat Erine.
"Nak Ammar. Maaf, sebaiknya Nak Ammar duluan saja. Ibu takut Mira mengundang keributan." ujar Marni, ibu Mira tak enak hati.
Ammar mengangguk dan berlalu pergi, perkataan Mira mengenai kondisi Erine menyentak kesadaran Ammar. "Erine disiksa? Bagaimana mungkin. Apa Guntara berbalik ingin melawanku." gumamnya tak jelas.
Di sisi sudut ballromm, Karina menuruni tangga dengan gaun bewarna maroon menjuntai menyentuh lantai. Membawa sebuket bunga mawar merah, tersenyum manis menatap sekeliling mencari keberadaan Ammar.
"Ma, Mas Ammar mana? Masa, Aku jalan sendirian." tanya Karina.
"Iya, Bu. Ammar dimana?" sambung Nindi pada Seruni.
Seruni celingak-celinguk mencari keberadaan Ammar yang ntah sejak kapan menghilang. "Tadi di sini, mungkin lagi ke toilet. Kamu biar Mama yang nemenin selagi Masmu nggak ada, Mamah Nindikan juga ada." saran Seruni tak mau ambil pusing.
Karina dibuat jengkel oleh mertuanya, bukan menghubungi Ammar malah menyarankan dirinya untuk menemani Karina menemui tamu.
"Hmm... Terserah aja, Ma. Tapi bisakan, hubungin Mas Ammar. Biar cepetan dikit." ujar Karina.
Seruni mengangguk tapi tidak mengindahkan permintaan menantunya.
Beberapa saat berdiam diri di toilet, Ammar keluar dengan wajah yang masih pucat. Menatap ruangan ballroom yang disulap sempurna, seperti istana bunga di serial disney.
Kejengkelan Ammar bertambah melihat Seruni berkumpul bersama Karina dan ibunya.
Seruni berseru lantang. "Ammar!"
Ammar mendekat, saat berada tak jauh dari Karina suasana hatinya semakin tak karuan. Parfum yang dipakai Karina membuat Ammar muntah di hadapan seluruh tamu undangan.
Karina hendak membantu Ammar, dengan cepat Ammar memintanya berhenti mendekat. "Berhenti! Jangan mendekat!"
Ardi yang melihat Ammar limbung melangkah cepat diikuti Ricky dan Fahri.
Karina merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya, "Mas, ini aku!"
"Ammar. Kamu kenapa, Nak?" Seruni menyentuh wajah putranya.
"Am, kita keruang istirahat dulu." Fahri menimpali.
"NGGAK BISA! ACARANYA BARU DIMULAI, KALIAN SENGAJA, YAA?!" sela Karina.
"Ammar nggak sehat, Kar. Ngotak dikit jadi bini!" umpat Ardi.
"Ammar semalam baik-baik aja, kenapa tiba-tiba sakit?! Ini konspirasi kalian aja, buat hancurin acara kita. Iya, kan?"
"KARINA! di sini banyak tamu. Jaga sikap Kamu!" ujar Marni menasehati.
"Tapi aku serius, Mah!"
"Karina! Biar masmu istirahat dulu. Kondisinya nggak memungkinkan untuk ikut pesta." timpal Hamdan yang tiba-tiba datang.
"Kalian semua sengaja kan buat aku malu?! Iya kan, Mas?!" Bentak Karina tersulut Emosi.
"Ar, bawa Aku ke kamar 205." Ujar Ammar lemas.
Karina menarik paksa tangan Ammar. "NGGAK BISA! Aku nunggu waktu lama untuk hari ini, Mas. Kamu jangan, macam-macam!"
Ricky yang sejak tadi diam, melangkah menatap tajam Karina. "Kau wanita, bukan? Apa menghancurkan hidupnya belum cukup?! Sekarang Kau berniat membunuhnya secara terang-terangan? Berhenti merendahkan dirimu sendiri!" sergah Ricky menatap tajam mata Karina.
Karina sontak melepas tangan Ammar. Membiarkan ketiga temannya membopong tubuh lemah Ammar dan berlalu pergi meninggalkan acara pesta mereka.
Flashback off
Ammar berdiri menatap lurus jalanan yang dilalui segelintir orang dari lantai 21. Berbatas dinding kaca gedung pencakar langit miliknya.
Kenangan 4 bulan lalu membuatnya sedikit terhibur, melihat wajah frustasi Karina dihadapan orang banyak sesuatu yang ia harapkan. Ammar berjalan mendekati kursi kantor, membuka laci tersembunyi tepat di bawah meja kerjanya.
Sebuah bingkai foto memperlihatkan seorang wanita cantik memeluk tubuhnya mesra dari arah belakang, Dengan rentetan gigi putih menghiasi senyumnya. Foto yang baru ia cetak setelah foto pernikahannya hancur karena Erine.
Ammar menatap sendu foto di tangannya, setitik air mata menetes membasahi pipinya, ia sempat mencari kabar mengenai Erine setelah kondisinya saat itu pulih. Semua info yang ia dapatkan mengatakan tak ada masalah selama Erine di dalam sel tahanan.
"Apa yang terjadi, Dek. Mas harap, kamu baik-baik saja. Maafkan, Mas. Ini yang terbaik buat keselamatan, kamu." ungkap Ammar sambil mengelus foto mereka saat bersama.
...๐ธ๐ธ๐ธ...
Hallo๐ค
Seneng lihat kalian mampir ke cerita aku, semoga kalian betah dilapak ini ya๐ค
Selalu support author dengan fav, like, and comment.
"Tanpa readers author bukanlah apa-apa"