INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 28



..."Aku hanya terlalu bodoh membalasmu tapi begitu pintar mencintaimu."...


...-Erine Artinka...


🕸🕸🕸


Ini gila. Benar-benar gila, perasaan ini seperti familiar. Perasaan menjadi gila melebihi perasaan yang pernah ditulis penulis untuk setiap tokoh yang berperan dalam novelnya.


Kenapa rasa ini masih tetap sama, bukankah pembalasan sudah cukup sempurna? Dimana kepuasan yang selama ini Erine rencanakan? Perasaan ini semakin menyesakkan dada.


Aku perlu memeriksakan diriku ke psikiater, pikir Erine gamblang.


Erine menggerakkan tubuhnya yang sejak semalam hanya berbaring tak nyaman sambil melihat jam. Pukul sembilan pagi. "Astaga, Aku benar-benar butuh istirahat!,"gumam Erine.


Erine melangkah ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Seusai mandi, ia menatap wajahnya di dalam cermin. Lingkaran hitam mewarnai matanya yang tampak satu.


Tok... Tok... Tok...


Terdengar suara ketukan pintu, Erine bakit dari duduknya dan membuka pintu.


"Morning!" ujar Mira semangat.


"Kita bukan sepasang kekasih, Mir. Itu menggelikan!" ujar Erine malas.


Mira mengambil posisi duduk di atas ranjang, menatap Erine dengan wajah berbinar bahagia.


"Senyummu sungguh menggangguku, Mir. Apa kau menang lotre? Ah, tidak mungkin. Kau bukan seseorang yang kekurangan uang. Hal bodoh jika kau kegirangan hanya karena itu."


"Kau selalu merusak moodku, Rin." Sungut Mira. "Look at me. Apa kau melihat kebahagian yang lain dari wajahku?"


"Apa, lagi?... Sesuatu yang membuat kau bahagia hanya seputar pertengkaran, tauran, baku hant—" Erine yang sempat menghitung menggunakan jari tiba-tiba berhenti, "a—apa terjadi sesuatu pada, Mas Ammar?" tanya Erine dengan ekspresi penasaran yang ketara.


Mira mengangguk pasti, "Yap! Bravo! Lihat ini!" ujar Mira sambil memberikan ponselnya.


Dengan cepat Erine menyambar ponsel yang Mira berikan, membaca setiap kata demi kata hingga membuat dadanya semakin sesak.


Breaking new: Direktur Utama Nawansa Properti Terlibat Skandal.


Pengusaha Muda Terlibat Kasus Asusila.


Pengusaha berinisial AN (31) tertangkap kamera bermesraan bersama wanita di sebuah cl*b ternama.


Karina, Istri dari Pengusaha Terkemuka Merusak Kamera Wartawan.


Erine menahan sesak sambil menggenggam erat ponsel di tangannya. Berjalan perlahan menuju balkon kamar hotel yang sengaja ia pesan untuk kelancaran rencananya tadi malam.


"Apa kau baik-baik, saja? Kau terlihat pucat. Kau sakit, haa? Seingat ku kau tidak meminum alk**l." ujar Mira khawatir.


Erine menggeleng pelan, hembusan angin terasa menusuk kulit hingga menembus ke tulang—memilukan.


'Perasan ini lagi, apa yang aku inginkan sebenarnya.' Erine menatap jauh hamparan jalanan yang dipadati pengguna jalan.


Sungguh berisik.


Inikah yang Erine inginkan? Sebuah pembalasan—kemenangan—kepuasan. Ia rasa tidak terjadi kepuasan di sini, hanya luka dan rasa sakit yang terus bertambah.


Tapi mengapa? Ini lebih seperti pembalasan yang menyesatkan, tidak ada kepuasan di dalamnya. Hanya hampa dan rasa tak berdaya. Seolah alam menolak dan ikut menertawai kecemasannya.


"Kau kenapa? Kau masih memikirkannya, haa? Astaga, Erine. Kau sungguh membuatku kecewa." hardik Mira tak habis pikir.


Erine yang menatap lurus jalanan, beralih menatap Mira. "Apa ini kesalahanku? Aku hanya sekali membalasnya, tapi mengapa aku tidak merasa puas sedikitpun? Perasan ini, mengapa aku juga ikut terseret dalam rasa sakitnya. Apa menurutmu ini adil, Mir?"


"Kau masih mencintainya, Rin! Itu tidak akan berhasil. Seribu kali pun kau membalasnya, kau tidak akan menemukan kepuasan mu."


"Aku tidak mencin—"


"Kau mencintainya, Erine! Kau mencintainya! Berhenti menyangkal fakta itu! Kau terus berkata tidak, tapi melihat kehancurannya pun, kau tidak benar-benar bisa." potong Mira cepat.


"Tidak! Kau hanya berprasangka, Mir! Berhenti berpikir yang tidak-tidak. A—aku, aku hanya kasihan. Benar, hanya rasa kasihan."


Mira mendengus kesal kemudian menatap Erine lekat. "Sungguh? Kalau begitu... Katakan! Katakan, bahwa dia pantas mendapatkan semua itu! Katakan, kau siap melihat ia hancur karena ulah mu! Katakan, Rin!"


Erine mundur selangkah, pandangannya berpindah ke kanan dan ke kiri. Sesuatu terasa menghentikan gerak mulutnya.


"A—aku, Aku tidak..." ucap Erine gugup dengan nafas tercekat.


"Kau meragukan dirimu sendiri, kan?" Mira beralih menatap jalanan. "Jika ini menyakitimu, berhentilah. Jangan melukainya, tapi secara bersamaan juga ikut melukai hatimu. Kau tidak akan membaik. Yang ada, kau hanya akan semakin terpuruk."


Erine ikut menatap jalanan, menggenggam erat besi pembatas balkon. "Aku tidak bisa berhenti di tengah jalan, Mir. Ini bukan akhir yang aku inginkan. Sungguh!"


"Bagaimana dengan anak-anak? Aku tau kau terus memikirkan mereka, Rin. Cepat atau lambat mereka akan tau. Dan kau tau pintarnya Alan, jangan remehkan anak itu. Aku tidak ingin, kau menderita terus menerus."


Saat berpikir keras. Terdengar suara dering ponsel dari dalam kamar, Erine bergegas melangkah mengambil ponselnya.


Ibu is calling...


Tertera nama Ibu yang menandakan panggilan dari Marni, Ibu dari Mira.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Erine, apa Ibu mengganggu pekerjaanmu, Nak?"


"Tidak, Bu. Ini sudah bersiap-siap untuk pulang. Apa anak-anak membuat masalah, Bu?" Tanya Erine memastikan.


"Oh, tidak. Alin terus menanyakan kabarmu. Bisa kamu menemaninya berbicara sebentar, Nak? Anak-anak sangat merindukanmu." ujar Marni di sebrang telepon.


"Tentu. Ibu sudah sangat membantuku, terima kasih, Bu. Bisa ibu berikan ponsel Ibu padanya? Erine juga sangat merindukan mereka." Ucap Erine jujur.


"Kamu tidak perlu sungkan, kamu sudah ibu anggap sebagai anak sendiri, Rin. Tunggu sebentar, ya..."


Terdengar suara kasak-kusuk dari sebrang telepon. Erine yakin Alin sangat antusias menerima ponsel yang diberikan Marni.


Tebakan Erine kaki ini salah, tidak ada sambutan antusias dari putrinya. Siapa sangka gadis ceria seperti Alin sangat hobi menagis, Erine sempat di buat kewalahan setiap kali mengatasi tangis putrinya.


"Sebentar lagi, Sayang. Alin habis nangis? Kenapa, Nak?" ujar Erine khawatir.


Alin kembali terisak, sangat pelan. "Alin jatuh dali sepeda, Bunda."


"Sungguh? Apa yang sakit? Sudah-sudah. Jangan nangis lagi, yaa. Doa dulu, biar cepat sembuh. Kak Alan, dimana?"


"Iyaa, Bunda. Kaki Alin beldalah. Kak Alan ikut kakek menanam bunga di taman belakang."


Erine mengangguk yang pasti tidak terlihat oleh Alin. "Lukanya diobatin dulu, setelah itu Alin doa minta kesembuhan sama Allah. Okay?"


"Hmm... baik, Bunda."


"Bunda menyayangimu. Jangan nakal sepeninggal, Bunda. Mengerti?" ujar Erine lembut.


"Ehm, Alin juga tayang, Bunda."


"Alin... di sana masih ada Nenek? Bisa berikan ponselnya pada Nenek lagi, Nak?"


"Ada, Bunda. Sebental."


Terdengar suara Marni mengambil alih telepon, "Iyaa, Rin?"


"Bu... Maaf, yaa. Anak-anak udah ngerepotin Ibu, lagi."


"Kamu ini, anak kamu cucu ibu juga, Rin. Ibu malah seneng anak-anak kamu izinin tinggal di sini beberapa hari. Kenapa kamu tidak pindah ke sini, saja?"


Erine tersentuh mendengar penuturan Marni, senyum terukir indah di bibirnya dengan sorot mata yang berkaca-kaca. Disaat nenek kandung Alan dan Alin tidak mengetahui mereka, Marni hadir melengkapi kekurangan tersebut.


"Terima kasih, Bu. Erine berhutang banyak hal sama Ibu, juga Ayah. Erine udah nyaman di kota ini, Bu. Kuburan Mama juga di sini." tutur Erine menolak halus tawaran Marni.


"Kamu tidak berhutang apa-apa, Nak. Ibu ikhlas membantu kamu. Tapi, jika tetap ingin membayar, bayar saja dengan kebahagiaanmu, Rin. Hidupmu terlalu indah untuk disia-siakan. Kamu paham maksud ibu, kan?"


"Iya, Bu. Terima kasih. Erine packing barang dulu ya, Bu. Mira juga lagi mandi." bohong Erine.


"Anak satu itu, benar-benar membuat ibu sakit kepala. Dia nggak pernah mau nelpon, Ibu. Katanya takut ibu jodohin. Temen kamu itu, Rin." Adu Marni pada Erine.


Erine terkekeh mendengar penuturan Marni, "Sepertinya tidak akan lama lagi, Bu. Ibu tunggu saja." kode Erine.


"Yang benar, kamu? Alhamdulillah. Ibu sampai ngira anak itu menyukaimu, Rin." ujar Marni, membuat bulu kuduk Erine merinding.


"Itu tidak mungkin, Bu. Ibu sungguh membuatku geli."


"Ya, sudah. Kalian hati-hati di jalan, yaa. Ibu mau bantu bapak nanam bunga dulu. Assalamu'alaikum."


"Iyaa, Bu. Wa'alaikumussalam."


Panggilan berakhir, Erine menatap wajah Mira yang cemberut mendengar percakapan Ibunya dengan Erine.


"Apa kau selalu menggibahku? Jika tahu begitu, aku tidak ingin membantumu lagi." sungut Mira.


"Hanya sedikit. Kau tahu, Mir... Ibu sangat menginginkan cucu darimu. Tapi, berpikir wanita sepertimu penyuka sesama jenis, bukankah itu sedikit menggelikan?" kekeh Erine membayangkan yang tidak-tidak.


Mira menatap Erine kesal "Kau! Aku sungguh kesal padamu, Rin! Kau menyebalkan!"


"Aku hanya bercanda, Mir. Oh, iya. Di mana Liza? Sejak tadi aku tidak melihatnya."


"Dia pergi pagi buta, katanya ada urusan darurat."


"Sungguh? Kenapa tidak mengatakan padaku?" ujar Erine kesal.


"Wajah kusut mu tidak memungkinkan untuk dijumpai dalam waktu dekat. Jika aku Liza, aku akan melakukan hal yang sama."


Kini berbalik Erine yang mendengus kesal, "Aku baik-baik saja. Kalian berpikir terlalu jauh."


"Sungguh? Awalnya kupikir, kau khawatir rencana mu gagal," ujar Mira berjalan pelan mendekati pintu kamar mandi, "tapi apa yang dikatakan Liza jauh lebih tepat sasaran. Kau lebih takut melihat cintamu itu dalam masalah, bukan begitu cantik?" Ujarnya mengejek Erine, menirukan kalimat yang pernah Erine lontarkan padanya.


Erine melotot tak percaya mendengar sindiran yang Mira ucapkan. Yang dikatakan Mira tidak sepenuhnya salah, tapi mendengar sindiran itu secara langsung cukup menjengkelkan baginya.


"Aku tidak, begitu! Berhenti menyindir ku, bodoh! Kau sungguh menyebalkan, Mir! "


"Aku lebih mempercayai Liza yang sudah pakarnya! Kau hanya penipu yang selama ini suka menggibahku. Tidak peduli lama atau baru aku mengenalmu. Kau melukai harga diriku sebagai sahabat. Kau lebih menyebalkan dari aku, Rin!" ujar Mira di balik pintu kamar mandi yang terkunci.


"Aku membencimu! Kau menyebalkan, benar-benar menyebalkan!" sungut Erine lagi.


"Teruslah mengumpat, Erine. Aku tidak mendengar apa pun! Kau hanya menghabiskan tenagamu!"


"Aku akan membalas mu nanti." pekik Erine lagi.


Terdengar tawa nyaring dari balik pintu kamar mandi.


Erine kembali teringat pada Liza, "Oh, iya, Mir. Sejak kapan kau tau Liza bagian dari sindikat gelap? Setau ku, status meraka bersifat privasi?" tanya Erine mengabaikan kekesalannya.


"Sejak dia berhenti dari tokoku. Aku tidak sengaja melihat berkasnya. Aku juga tidak menyangka dia benar-benar bagian dari sindikat itu, sekarang." ujar Mira sekenanya.


"Sungguh? Semoga Liza bisa lebih baik di sana. Walaupun, aku tahu pekerjaan itu tidak termasuk baik." Erine menghela nafas berat, setiap orang memiliki caranya untuk menikmati hidup dan Liza termasuk salah satunya.



Hallo!


Apa kabar? Semoga pembaca setia infidelity selalu dalam keadaan sehat, Aamiin.


Terus dukung cerita ini dengan like, comment, dan Share cerita ini ke teman-teman mu.


Selamat beraktivitas.


Terima kasih 🤍