INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 26



Happy reading!!


Adegan ini tidak untuk ditiru!


Skip jika action terkesan mengerikan.


🕸️🕸️🕸️


Karina memacu mobilnya melebihi batas rata-rata. Keringat kian deras mengucur dari pelipisnya. Hingga udara yang ia hirup seakan menipis menyulitkan dirinya untuk menarik nafas dengan normal.


Saat tiba di sebuah c**b malam, dengan asal Karina memarkirkan mobil yang ia kemudi. Saat ini tujuannya hanya satu, bergegas mencari keberadaan Ammar dan menyelamatkan reputasinya dan juga nama baik rumah tangganya yang selalu diagung-agungkan oleh media.


Mata Karina melotot seakan ingin meloncat keluar, ruang yang ia duga di tempati Ammar sudah lebih dulu dipenuhi wartawan.


'Breng**k. Siapa yang berani melakukan ini?' sungutnya penuh emosi.


"MINGGIR!" desak Karina mencari celah untuk masuk.


Namun, tidak seorangpun mau memberinya celah."MINGGIR! JAUHKAN KAMERA ITU! KAU MENDENGAR KU, KAN?! HENTIKAN ITU SIA**N!" pekik Karina mendorong tubuh-tubuh yang menutup aksesnya untuk masuk.


"Berhentilah berteriak, apa kau tidak melihat ini berita bagus!" ujar salah satu wartawan.


"Kau ingin mati?!" Karina membanting salah satu kamera, membuat beberapa mata teralih padanya.


"K—kau, kau tau aku dari stasiun TV mana? Aku bisa menuntut mu! Ini pekerjaanku. Dasar gila!"


"Kau pikir aku peduli? Tuntut jika kau berani!"


Karina kembali mendorong tubuh-tubuh yang menghalangi jalannya. Saat berada di ambang pintu, ia kembali dibuat naik pitam.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! BERHENTI JAL**G! JANGAN PERNAH MENYENTUH SUAMIKU, SIA**N." sergah karina dengan wajah merah padam.


"Oh, Sayang... Apa kau sengaja menghubungi kac**g mu untuk bermain bersama?" ujar Eve manja sambil menatap Karina sinis.


Lingga mengelus dada Ammar manja, "Awh, kau benar-benar menggoda! Bagaimana jika kita melakukan yang lebih?" ujarnya mengerlingkan mata pada Ammar yang tidak berkutik sedikitpun.


Ammar terus menggigit bibir hingga mengeluarkan darah, juga melukai telapak tangannya dengan kuku untuk tetap mempertahankan kesadaran.


Karina menutup pintu paksa dan menguncinya dari dalam. Berjalan terburu-buru mendekati wanita-wanita yang berani menyentuh Ammar.


Karina menjambak salah satu rambut wanita yang berada paling dekat dengannya, dengan sigap wanita itu menarik kaus Karina hingga robek di bagian bahu kiri.


"K—kau, apa yang kau lakukan?!" pekik Karina tak terima.


Ketiga wanita tersebut terkekeh melihat raut suram Karina, "Pria ini milik kami! Apa kau tidak melihatnya?!" ujar Kirin yang sempat Karina jambak.


"Siapa yang menyewa kalian?! Aku bisa membayar lebih untuk itu!"


Tawa ringan kembali menggema, "Apa kau ingin kami melayani mu, juga? Maaf, Nona. Ah, Tidak. Kau lebih tepat di sebut Tante. Kau harus tau, kami hanya menyukai cacing nakal. Apa kau mengerti?!" ujar Eve menc**m dan menj***ti leher Ammar.


"HENTIKAN ITU JAL**G! JANGAN KOTORI SUAMIKU DENGAN TUB*H KOTOR MU!" pekik Karina yang saat ini di tahan Lingga dan Kirin.


Eve semakin memancing emosi Karina, mendekatkan bibirnya dengan milik Ammar yang terbungkus jeans. Jangan berpikir terlalu keras, tidak ada yang dilakukannya pada tubuh Ammar. Eve hanya memancing amarah wanita yang saat ini terbakar hebat.


Rambut panjang hitam legam Eve menutupi aksinya, Ammar yang bertahan di tengah panas ditubuhnya menyadari wanita yang menghampirinya bukan jal**g sebenarnya.


"Aghh..." pekik Ammar seakan mengikuti Alur, yang pada kenyataannya ia tak tahan karena efek obat yang diberikan Erine.


Karina semakin panas dingin ingin mencabik tubuh Eve. Tangan Eve terlihat seakan menutup resleting yang tidak pernah ia buka.


"Kau puas, Sayang? Aku sangat ingin melakukannya lagi, tapi kelihatannya—peliharaan mu sangat ingin mengganggu aktivitas kita." ujarnya menatap sinis Karina.


Ammar terus melukai tangannya. Kesadarannya tidak boleh hilang, atau sesuatu yang buruk bisa saja terulang kembali.


Eve merapikan topeng hitamnya, menatap rekannya yang lain. Dengan smirk kepuasan, Eve meminta Lingga dan Kirin melepas Karina.


Dengan kasar Lingga dan Kirin membanting tubuh Karina. Menatap tajam gadis yang saat ini mengelus sikutnya yang tergores.


"Berhati-hatilah, Tante! Mulutmu begitu pedas, bukan?! Pantas banyak yang ingin membalas mu. Tanpa bayaran—Aku juga senang melakukan hal yang lebih padamu!" Eve berjalan mendekati Karina, "Hobi ku... menguliti wanita nakal—kau contohnya." ujar Eve sambil mencengkram rahang Karina kuat hingga meninggalkan bekas luka.


Lingga ikut membungkukkan badannya, tersenyum sangat manis seakan berubah menjadi gadis lembut dalam sekali lihat, "Jika hobinya menguliti, maka hobi ku mencincang daging. Kurasa... dagingmu cukup baik." ujarnya dengan wajah imut mematikan.


Karina bergetar di tempatnya. Keinginan melepas cengkraman Eve pada wajahnya terlihat jelas. Namun, tidak semudah yang dibayangkan.


"Kau, jangan macam-macam denganku! Aku bisa membalas mu lebih dari ini, bi**h!" ujar Karina dengan angkuhnya.


"Ayolah... Kau ingin membalas? Aku sangat ingin mengoleksi matamu, bukankah itu terlalu indah untuk kau miliki?!" ujar Kirin yang memilih bersandar di dinding.


"Aku bersumpah akan membunuhmu hidup-hidup! Aku akan menjadikan tulang belulang mu makanan hewan!" kutuk Karina.


"Benarkah? Nyalimu besar juga," Eve mengeluarkan pisau di saku kirinya, "Aku suka bermain dengan kulit, apa kau ingin mencobanya?" ujar Eve dengan mata berbinar.


"A—apa yang akan kau lakukan?," Karina berusaha mengusir tangan Eve agar menjauh darinya, "Jika kau tidak berhenti, aku bersumpah akan mengadukan mu pada Qing Dotay."


Sontak Eve menghentikan aksinya, menatap tajam Karina. "Kau mengenal kepa**t itu, haa?! Bagaimana bisa?!"


Kini giliran Karina yang tertawa meremehkan, "Sudah kuduga. Kalian berasal dari sindikat gelap, kan? Apa kau takut sekarang?!" tawa Karina mengencang melihat perubahan wajah ketiga wanita bertopeng di hadapannya.


Eve kembali menampilkan smirk menakutkan, "Takut? Harusnya kau tidak mengatakan semua itu, bodoh. Mendengar namanya hanya akan membuatku semakin ingin memberi kejutan padamu!"


Karina tercekat ludahnya sendiri. Bagaimana mungkin mereka tidak takut pada kakaknya?, pikir Karina mulai mengkhawatirkan dirinya.


"Jangan! Apa yang ingin kau lakukan! Am—ammar tolong aku! Tidak! Jangan!" Karina menjerit ketakutan, tidak ada yang bisa mendengar jeritannya, karena khusus untuk ruang VIP memiliki kedap suara.


Eve menggerakkan pisau di tangannya.


"Aagghhh..." suara Karina menggema seisi ruangan.


"Aku puas melihat ini, sampaikan pada baji***n itu. Aku menunggu kedatangannya." ujar Eve menaikkan sebelah sudut bibirnya.


Karina terkulai lemas di bawah ranjang yang di tempati Ammar, pedih menggerogoti kulit bahu kanannya yang membentuk simbol dengan noda darah.


dugaannya benar, mereka juga sindikat gelap yang bekerja atas suruhan orang-orang penting.


Atas perintah siapa mereka bekerja?


Ketiga wanita bertopeng hitam melangkah keluar meninggalkan Karina dan Ammar. Di depan pintu masih banyak wartawan berusaha mengambil gambar, menunggu Ammar keluar menunjukkan batang hidungnya.


"Si—siapa yang mengirim mereka?" tanya Karina tak berdaya.


Ammar yang masih dalam pengaruh obat, enggan menjawab pertanyaan Karina. Bibirnya terasa semakin sulit digerakkan, rasa sakit semakin terasa terus menjalari tubuhnya.


"Siapa yang melakukan ini?! Mengapa kau bisa sampai ke sini?! Katakan, Ammar!" pekik Karina yang masih menahan sakit.


Selang beberapa menit pintu kembali terbuka.


Ceklek.


Memperlihatkan tubuh tinggi Arman dengan tiga orang pengawal. Tidak ada lagi wartawan atau pun pengunjung yang dengan sengaja merekam kegilaan Ammar dengan tiga wanita bayaran suruhan Erine.


"Pak!, Apa yang terjadi padamu?!" Arman dengan cepat melepas borgol Ammar menggunakan pisau kecil miliknya.


Gurat panik tergambar jelas di wajah Arman saat mendapati bibir Ammar yang terluka juga tetesan darah mengalir dari telapak tangannya.


"Amankan tempat ini! Jangan biarkan satu berita pun tersebar keluar! Hapus segala rekaman CCTV! Jika terjadi sedikit saja kesalahan, tunggu sanksi mu!" Perintah Arman mutlak pada ketiga pengawal yang datang bersamanya.


Arman memapah tubuh lemah Ammar keluar ruangan. Dengan Karina yang mengekornya dari belakang berjalan keluar gedung dibantu oleh salah satu pengawal yang memberinya jas hitam untuk menutup bahunya yang terekspos.


Saat Karina hendak melangkah masuk ke mobil yang sama dengan Ammar, Arman menghentikannya, meminta Karina untuk tidak bergabung.


"Maaf, Bu! Pak Ammar sedang tidak ingin diganggu. Mohon pengertiannya!" ujarnya lantang.


"Kau berani memerintah ku?! Aku istrinya. Kau ingat itu?! Arghh..." murka Karina sambil menahan sakit di bahunya.


"Maaf, Bu. Tapi saya hanya akan bekerja atas perintah, Pak Ammar."


"Aku tidak peduli! Sekarang minggir!"


"Tidak!"


"Aku minta mu ming—"


Bugh... Bugh...


Ammar memukul kaca mobil mengintruksikan agar Arman segera membawanya pergi dari tempat ini.


"Maaf. Saya permisi!" Arman menunduk sedikit dan berlalu pergi meninggalkan Karina yang menahan amarah juga sakit di bahunya.


Mobil yang di tumpangi Ammar melesat cepat meninggalkan Karina yang terus menghentak kaki menendang paving block.


"Aagghhhh... Kau bren***k, Ammar!" pekik Karina yang masih dalam penjagaan pengawal milik Ammar.


Karina melangkah tergopoh-gopoh mendekati mobilnya, melempar kunci mobil ke arah pengawal dan memintanya untuk menyetir mobil yang ia bawa.


Di lantai dua, Erine dan kedua temannya menyaksikan setiap kejadian yang terjadi dari awal hingga akhir. Menyaksikan kegilaan yang dilakukan tiga wanita bayaran dari kamera tersembunyi yang Erine pasang sebelumnya.


"Kau puas, Erine?" tanya Liza menatap mobil Karina yang berlalu pergi meninggalkan halaman parkir.


"Ng, Mungkin. Aku tidak memiliki jawaban pasti." jawab Erine ambigu.


Mira menyipitkan matanya, "Aku rasa—sebaliknya."


Liza tertawa mendengar jawaban Mira, "Kau tau, Mir. Erine tidak seburuk itu." Liza menatap Erine bergantian menatap Mira, "Dendam tidak akan membuatmu puas, akan seperti apa jadinya—kamu lebih tau, Rin. Kau sudah mencoba semampu mungkin, kan? Sekarang, coba dalami hatimu kembali. Apa yang sesungguhnya kau inginkan. "


Hening beberapa saat, tidak ada yang ingin berspekulasi. Baik Erine atau pun Mira, memilih diam menyelami hati masing-masing.


"Aku rasa—ini mengerikan." ujar Erine memecah keheningan dengan pandangan lurus kedepan.


"Ya. Aku belum pernah melihatmu segila ini sebelumnya. Aku sempat meragukan kau Erine atau bukan. Tapi jujur, aku sungguh menyukai rencana kali ini." Jujur Mira.



🕸🕸🕸


Happy Reading!!


Terus ikuti ceritaku ya. Akan banyak rahasia yang terbongkar, pastikan kalian tidak melewatkannya.


Yuk, terus like dan comment cerita aku. Jangan lupa share juga ke teman-teman kalian untuk meramaikan cerita ini.


Terima kasih 🤍