
Happy Reading!! :)
..."Manisnya kenangan tidak akan menghilangkan pahitnya kenyataan"...
...-Erine Artinka...
..."Sejauh mana kau berlari, secepet kilat aku mengejar."...
...-Ammar Irsyad Nawansa...
🕸️🕸️🕸️
"Bagaimana mungkin?!" sontak Erine menutup mulut tak percaya. "Jangan bercanda, Mir!"
"Erine, aku nggak punya waktu buat bercanda. Sadar, Rin! Ini kenyataannya!" Bentak Mira menyadarkan Erine.
Erine mengurut pangkal hidungnya saat rasa sakit tiba-tiba mendera kepalanya. Belum lagi ribuan belati terasa serempak menusuk hatinya, tanpa peduli luka yang tempo hari disebabkan pria yang saat ini menjadi topik utama mereka belum pulih sepenuhnya.
"Kapan?!" tanya Erine ambigu.
"Hmm?"
"Kapan resepsinya, Mir?!" Perjelas Erine.
Mira menghela nafas berat, ini bukan sesuatu yang bisa ia sembunyikan. Cepat atau lambat Erine pasti akan mengetahuinya.
"Lusa—kau tau. Aku benar-benar ingin membunuhnya untukmu. Bahkan akan dengan bangga menjadikan kepalanya bola di kakiku." Jujur Mira.
Erine menatap Mira dalam, terbit sebuah senyum tipis di bibir kecilnya. "Bertobatlah, Mir. Aku menyukai tawaranmu, tapi aku tidak ingin melihat ibu serangan jantung untuk yang kedua kalinya karena ulahmu." Ujar Erine menggeleng pelan.
"Memintaku tobat, heh?"
"Mir... Tolong. Berhenti mengikut sertakan diri, kamu. Dendam ini urusanku, Mir. Aku pasti akan membalasnya dengan tanganku sendiri, itu janjiku! Sungguh!" Erine menatap Mira lembut. "Gimana denganmu? Ini bisa ngerusak masa depanmu, Mir. Masa depan yang sebenarnya belum dibangun dengan sungguh-sungguh, aku nggak mau itu terjadi. Sekalipun itu buat aku." Pinta Erine pada gadis di hadapannya.
"Aku harus apa, Rin? Diem aja, lihat kamu disakitin gini? Iya, Rin? Kamu lihat baji***n itu, Rin. Dia bisa-bisanya gelar resepsi pernikahan dengan mewahnya, sedangkan kamu harus menderita di sini. Aku nggak bisa terima itu, Rin!" Mira mengusap wajahnya kasar, "berhentilah berhati malaikat, Rin. Kamu manusia—kalau kamu lupa."
Erine terdiam mendengar ucapan Mira, bukan ia melupakan sakit hati dan luka yang ditorehkan Ammar padanya. Hanya saja melibatkan Mira bukan hal yang benar.
"Aku memang bukan malaikat, Mir. Bukan hal buruk juga untuk aku jadi sosok iblis demi balas para jaha**m itu. Aku juga nggak sebaik yang kamu pikir. Aku juga punya dendam, bukan hal mudah ngelupain sakit ini, Mir."
"Trus kenapa kamu larang aku, Rin?"
Erine menyentuh tangan Mira yang terkepal di atas meja, "karena tangan ini, tangan ini terlalu bersih untuk nyentuh kotoran bau. Kamu mau berakhir sama denganku? Mendekam di sini, bahkan untuk melihat matahari terbit sesuatu yang sulit. Pikirkan itu, Mir. Pikirkan kesehatan orang tua yang menyayangimu, cukup aku yang membuat mereka sakit, kamu jangan."
Mira menatap Erine sendu. "Apa yang dikatakan Erine benar, jika ia juga terperangkap di sini. Apa yang akan terjadi. Ia hanya akan menambah masalah untuk Erine." Pikir Mira. "Maaf, Rin. Seharusnya aku lebih bisa ngontrol diri. Maaf..." Ujar Mira tulus.
"Ssstt... Kamu nggak salah apa-apa, Mir. Lupakan—Ohiya, ada informasi lain?" Erine mengalihkan pembicaraan.
Mira menggeleng, "keluarga baji***n itu terlalu sulit dijangkau, Rin. Bisa dikatakan mustahil untuk aku dapat informasi lebih."
"Mir, mungkin nggak, sebenarnya Ammar emang berniat bercerai?" Tanya Erine yang membuat Mira terkejut.
"Nggak niat mungkin, cuma udah planning doang. Kamu ditipu sampai tu orang punya anak, udah dapat keluarga utuh. Kamu di tinggal, nggak ngotak aja tu laki." Maki Mira asal sebut.
"Tapi Mir—"
"Apa lagi, Rin? Kamu mau bilang kalau dia bilang, 'aku cinta kamu, Rin." Ujar Mira menirukan suara laki-laki, "aku juga bisa kalau bilang gitu. Laki-laki mana yang bisa aku percaya, Rin? Lihat Ammar yang dulunya aku kira bucin akut sama kamu, nyatanya selingkuh juga, kan? Cuma Ayah aku aja yang masih waras. Selebihnya—kamu pikir sendiri."
Erine menarik nafas dalam, ucapan Mira benar-benar membuatnya sesak nafas. "Siapa juga yang mau ngomong gitu." Ujar Erine malas.
"Yaa... mana tau aja, kan. Otak kamu yang dulunya cerdas seantero sekolah berubah bego kelamaan dalam sel." Ejek Mira semakin membuat Erine kesal.
"Buruan balik deh, Mir."
"Habis manis sepah dibuang. Emang kejam kamu, Rin. Ohiya. Aku lupa. Hampir seluruh media masih gosipin, kamu! Bahkan udah 2 bulan ini, berita kamu masih belum takedown. Bisa di bilang, pencarian terbanyak di Twitter juga. Mas Dirga belum cukup koneksi buat bantu takedown berita kamu. Papa sama Mas Barta juga." ujar Mira tak enak hati.
Erine meletak tangan di atas meja, menatap kukunya yang terlihat panjang. "Aku nggak masalah soal itu, Mir. Aku cuma nggak siap kalau nanti anak ini lahir dan tumbuh dengan reputasi ibu yang buruk."
Erine menegakkan duduk. "Dan... kau tau, aku tak akan sanggup jika ia malu mengakui aku sebagai ibunya, Mir. Jika bukan karna janin ini. Mungkin aku berakhir sama dengan ibuku. Memilih menamatkan buku kehidupanku, dengan sad ending." Erine mengintruksi Mira untuk tidak memotong ucapannya.
"Aku benci ayah anak ini. Sangat! Tapi aku juga perlu tau, kapan semua ini dimulai! Kenapa lagi-lagi aku, kenapa Tuhan kembali mengujiku, Mir?! Apa nggak cukup kehancuran ayah dan ibu?! Apa rumah tanggaku juga harus bernasib sama?!" Erine meneteskan air mata pilu.
"Berita, berita, berita! Semua berita itu, nggak benar! Aku bukan perusak rumah tangga orang, Mir. Aku yang difitnah di sini! Aku korbannya. Aku juga istri pertama, Ammar! Yang lebih berhak menuntut mereka. Tapi kenapa media mengatakan bahwa aku fans yang tergila-gila pada sosok Ammar, bahkan berniat membunuh istrinya. Inikah keadilan di negri ini?!" Sambung Erine.
Erine mengusap air matanya paksa, "Di sini Aku yang tersakiti, bukan dia! Bukan istrinya! TAPI AKU!" sambung Erine sekali lagi.
Mira ikut menitikan air mata, merasakan sakit yang coba Erine obati namun sulit. Mengingat kehadiran Ammar yang Erine anggap obat, ternyata hanya duri beracun yang kapan saja bisa membunuhnya.
"Aku tau, Rin! Tapi kamu jangan lupa. Jangan pernah lupa gimana Ammar menceraikan, Kamu! Di hadapan media, semua beda! Gimana pengakuan bajingan itu yang buat kamu harus mendekam di sini, Rin. Kamu nggak akan menang dengan menyakiti diri sendiri! kamu mau nyerah gitu aja?! Kamu lebih milih mati menderita di sini? IYA?! JAWAB AKU, RIN!" ujar Mira tersulut emosi.
Tiba-tiba suara di sudut ruangan memberi intruksi, "Maaf, mohon menjaga ketenangan. Jika tidak ada lagi, silahkan meninggalkan tempat. Jam kunjung sudah akan berakhir." ujar petugas jaga memberi peringatan agar Mira dan Erine tetap menjaga ketenangan.
Mira yang menyadari suaranya naik beberapa oktaf, meminta maaf telah mengganggu kenyamanan. "Maaf, Kami tidak akan mengulanginya lagi." ujar Mira, dan melihat penjaga berlalu pergi.
Mira mengusap wajah lelah, melihat wajah Erine yang penuh luka melukai nuraninya. Jika Mira yang berada di sana, ia pasti memukul habis orang-orang tersebut, tapi tidak dengan Erine.
"Aku paham, Mir. Aku nggak akan jatuh secepat itu. Tapi anak ini... Dia nggak salah. Apa yang harus aku lakukan? Ak—aku..." suara lembut Erine memecah keheningan setalah lima menit menetralkan emosi.
Mira menyadari emosi Erine telah membaik, menutup mulut Erine dengan jari telunjuknya. "Sssstt... Erine. Anak kamu bangga punya ibu sebaik, kamu. Karena itu, jangan biarkan orang-orang melukai kamu lagi. Jangan ada lagi air mata yang terbuang sia-sia, jangan ada lagi penghinaan kedua apa lagi yang ketiga." ujar Mira sambil mengelus punggung tangan Erine.
Mira ikut menangis, gadis tomboy yang terbiasa tahan banting kini lupa caranya menahan tangis saat melihat Erine. "Tentu. Walaupun aku belum nikah—gosip ibu-ibu perumahan merajalela. Aku janji, aku bakal tetap jaga anak kamu seperti anak aku sendiri." ujarnya tulus.
Erine memukul wajah Mira cukup kuat, hingga membuatnya mengaduh kesakitan. "Awh... Sakit, Rin! Kamu gila, haa?!"
Erine tersenyum menatap wajah Mira yang memerah menahan kesal, "Kalau itu—kamu balas gimana? Begini. Begini. Atau... Ini?" Erine memperagakan gerakan yang pernah ia lihat di salah satu siaran televisi.
Mira tampak bingung sesaat, kemudian tersenyum penuh arti menatap semangat yang baru saja berkobar dari wajah Erine. "Ini baru Erine yang aku kenal. Kamu harus bangkit! Demi kamu dan ini." ujar Mira menunjuk perut Erine yang terhalang meja.
Mira mengajarkan Erine beberapa trik perlindungan umum, menyerang, bertahan, dan memberi serangan balik. Hingga jam kunjungan berakhir, Erine terlebih dulu pergi dibawa petugas menuju sel tahanan.
Sepeninggal Erine, Mira bisa merasakan pancaran aura baru yang dimiliki Erine. Bukan lagi gadis lugu lemah lembut. Namun, sesuatu yang nantinya akan berdampak besar bagi orang-orang di masalalunya.
"Tunggu dan lihat! Semua baru saja dimulai!" ujar Mira setelah kepergian Erine.
🕸️🕸️🕸️
Ammar mengumpat setelah membaca undangan berwarna maroon keemasan berhias pita kecil, tertulis dengan indah namanya dan juga Karina yang akan melaksanakan acara resepsi pernikahan mereka di sebuah hotel bintang lima milik keluarga Nawansa.
Pernikahan Ammar dan Karina belum genap 2 tahun, hanya diketahui rekan kerja tertentu beserta keluarga kedua belah pihak. Pernikahan yang terjadi karena scandal yang sudah direncanakan wanita ular tersebut.
Kasus yang menimpa Erine sudah membuatnya hampir gila, ditambah lagi tindakan tak terduga ibu dan istrinya. Ammar berupaya sebisa mungkin menghapus berita tuduhan palsu terhadap Erine. Namun, keterlambatan Ammar bertindak membuat semuanya menjadi runyam.
Ammar tau pasti dalang dibalik semua kejadian ini adalah Karina dan juga dukungan keluarganya. Jika bukan karna anaknya Echa, Ammar sudah pasti akan menghancurkan wanita ular seperti Karina.
Ammar merogoh saku celana mengambil sebatang rokok dari kotaknya dan menyalakan pemantik api, hisapan demi hisapan menimbulkan asap putih memenuhi hidung dan rongga mulutnya.
Ammar tak pernah lagi menyentuh benda ini saat bersama Erine, wanita itu selalu menjaga kesehatannya dengan sangat baik. Nikotin terasa nikmat sesaat, menghilangkan sedikit emosinya yang sempat mebuncah.
Ceklek
Suara pintu dibuka, membuat Ammar meluruskan pandangannya pada pintu.
"Hello, Brother! Gila... kusut bener, Am. Nggak diservice bini, haa?!" ujar Fahri frontal, hendak duduk di sofa tepat depan meja kerja Ammar.
Belum sempat Fahri mendudukkan diri, Ammar dengan cepat melempar rokoknya kearah Fahri. Fahri yang tak siap terjungkal ke belakang, hingga terduduk ke lantai.
Ardi ikut terkekeh melihat keadaan Fahri, mematikan puntung rokok Ammar yang masih menyala. "Fahri-Fahri, nggak ngotak emang. Ingat perusahaan, Fah. Sekali Ammar ngamuk, tinggal nama tu perusahaan."
Ricky yang terkenal dingin memilih duduk tenang dan mengabaikan kebisingan yang diperbuat teman-temannya. Keep calm.
"Ada perlu apa?" Tanya Ammar to the point.
"Ngecek warga kita, Am. Masih hidup sehat atau nunggu makan-makan." Ujar Fahri yang mendapat pukulan dari Ardi.
"Berisik! Mending pesinin minum, Fah. Sekalian makan siang kita-kita."
"Ngotak dikit, Ar. Baru nyampe di suruh balik lagi, minta OB kan bisa."
"Sekalian olahraga Fah."
Ricky menyela cepat perdebatan Fahri dan Ardi. "Kenapa cerai, Am?"
"Hah... Cerai apaan?" Tanya Ardi bingung.
Ammar berjalan mendekati sofa single tepat di samping Ricky. "Banyak hal yang terjadi."
"Beneran cerai? Gimana ceritanya, jangan gila, Am." Tanya Ardi tak menyangka.
"Berisik!" Sahut Ricky malas. "Jangan jadikan itu alasan kamu ninggalin dia, Am. Patuh boleh. Pengecut jangan!" Sambung Ricky fokus menatap Ammar, dengan kalimat singkat penuh makna.
"Aku setuju Rick. Erine terlalu baik, Am. Jangan gegabah ngambil keputusan." ujar Fahri menimpali.
"Jadi, ini alasan kenapa undangan itu sampai ke kita? Sebagai sahabat, kita turut bahagia dengar acara kamu, tapi dengan—Karina..." Ardi tampak enggan melanjutkan ucapannya.
Ammar menghela nafas berat, sesak menghimpit dadanya. "Erine..." Nama yang terus memenuhi kepalanya kerap kali muncul.
Suara Fahri kembali terdengar saat keheningan menyapa beberapa saat. "Kesempatan nggak datang dua kali, Am. Kecuali Erine paham problem apa yang kamu hadapi. Lagian, apa kurangnya Erine? Baik, cantik, lembut, penurut, masakannya jangan ditanya. Jangan gegabah, Am." ujar Fahri serius.
Teman-teman Ammar cukup banyak mengetahui masalah yang menimpanya, terutama saat malam terkutuk itu terjadi pada dirinya.
Ammar menggeleng pelan. "Nggak segampang itu, Fah. Ini yang terbaik buat Erine. Aku nggak bisa bawa dia dalam masalah yang lebih besar lagi. Kalian tau, Erine mengetahui semua. Bahkan dengan cara yang jauh lebih buruk."
Ardi dan Fahri sontak terkejut tak percaya dengan pendengarannya, berbeda dengan Ricky yang sudah lebih dulu Ammar beritahu.
Ammar menatap hampa asbak di meja, tidak ada yang baik-baik saja setelah perceraian. Tidak dengan dirinya ataupun Erine.
...
...🕸️🕸️🕸️......
Hallo🤍
Jangan lupa fav, like, and comment🤍
"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."
Terima kasih :)