
Mentari mengintip di balik celah gorden jendela kamar, mengusik tidur nyenyak Erine yang memeluk putrinya. Keinginan mengganggu tidur Alin timbul saat wajah polos tersebut menghadap tubuhnya.
"Morning, baby." Ujar Erine mencium pipi gembul Alin agar segera bangun.
"Bunda, belhenti. 5 menit, lagi!" Ujarnya menego Erine.
"Alin. Sudah waktunya bangun, Sayang. Kamu ingin ikut Bunda berbelanja, bukan? Berhenti menego, Bunda." ujar Erine masih mencium pipi Alin.
Alin membuka mata sedikit dan kembali memejamkan matanya, "cebentar caja, Bun. Alin macih ingin di cini."
Erine bangkit dari kasur, menyelimuti tubuh Alin yang masih sulit membuka mata. Berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selang 10 menit, Erine keluar dengan handuk melilit tubuh. Erine menggeleng melihat Alin yang masih belum terjaga.
"Alin... Bangun, Sayang. Alin tidak ingin ikut, Bunda?"
"Hmm... Itut, Bun." jawab Alin dengan mata terpejam.
Erine yang sudah selesai mengenakan pakaiannya, berjalan mendekati kasur. Duduk di pinggir kasur menatap wajah Alin. "Baiklah. Bunda akan membawa, kakakmu saja. Bunda sangat yakin, Alan sudah terjaga sejak tadi." ujar Erine sengaja menakuti putrinya agar segera bangun.
Alin yang mendengarnya sontak terduduk, "Bunda.... Baiklah-baiklah, Alin mandi dulu." ujarnya merungut menuruni kasur dan berjalan kearah kamar mandi.
"Good girl. Bunda kebawah dulu, segeralah menyusul." ujar Erine tersenyum menatap pintu kamar mandi.
"Aku, baru menyadari sesuatu. Terlalu lama memperhatikan Mira, saat hamil— putriku jadi bertingkah mirip dengannya. Aku harus berpikir berkali-kali jika memiliki anak lagi di masa depan." gumam Erine pada dirinya sendiri. "Anak lagi? Yang benar saja, kau sungguh gila Erine. Yang mana suamimu? Kau ingin membeli benih?!" Pikir Erine tak jelas, dengan cepat ia menggeleng saat ide gila itu tercetus di kepalanya.
"Cukup Mira yang kau tawari ide itu, Rin. Dirimu jangan!." Ucapnya pada diri sendiri.
🕸️🕸️🕸️
Erine membawa kedua anaknya ke pusat perbelanjaan, ditemani Mira yang saat ini menggandeng tangan kanan Alin.
"Alan. Mengapa kau selalu menolak untukku gandeng? Apa tangan Tante bau, haa?" tanya Mira merasa penasaran.
Alan menggeleng pelan, "Alan, tidak mau bunda cembulu." ujarnya cuek, memasukkan tangan kesaku kiri dan kanan.
"Apa? Cemburu? Astaga... Bundamu bukan wanita se-childish itu, bocah!" Kesal Mira mendengar jawaban Alan.
Erine yang menguping, tampak senang mendengar ucapan putranya. "Benarkah itu? Manisnya... Tapi, Bunda tidak keberatan untuk yang satu itu, Tantemu bukan sesuatu yang harus dicemburui, Alan." Jawab Erine mengusap kepala Alan.
Alan menaikkan bahu tak ingin mendebat ibunya.
"Kau memiliki putra yang menakjubkan, Erine. Tapi tidak dengan si kuncir ini." rutuk Mira menatap Alin yang tidak mengerti apapun.
"Kenapa dengan, Alin?" tanya Alin merasa disebut-sebut.
"Kau bocah menyebalkan, bagaimana bisa sifatmu bertolak belakang dengan, Alan."
Alin menghentikan langkahnya, meminta Mira menggendongnya. "Berhentilah bertingkah, Alin." ujar Mira kesal sambil bergerak menggendong Alin dalam dekapannya.
"Ssstt... Tante, tidakkah Tante melaca, kita cedikit. Tidak-tidak, tapi cukup banyak kemirgiban? Jadi berhenti mengataiku." ujar Alin serius.
Mira mengerutkan alis tidak mengerti ucapan Alin, "haa... Migren? Kau migren Alin?"
"kemirgiban, Tante. Bukan mirgen."
Erine hanya tersenyum melihat tingkah dua gadis kembar berbeda usia tersebut, sedangkan Alan mulai jengah dengan perdebatan konyol keduanya.
"Kemilipan, Tante. Alin mengatakan kalian sangat Milip." Jelas Alan
"Mirip? Astaga, jadi maksudmu, itu. Tapi, TIDAK! Aku berbeda denganmu, Kuncir. Tante definisi gadis manis yang baik hati dan lemah lembut," ujar Mira menatap mata Alin tak terima, "tidak sepertimu! Nakal, susah diatur, suka berkelahi, dalang onar kelas kakap." ungkap Mira lancar, sukses membuat pipi Alin menggembung marah.
Alin mencubit kedua pipi Mira kuat, "kita, tidak jauh beda, Tante. TITIK!"
"Kalian, sungguh ingin berdebat hingga malam? Jika begitu, lebih baik aku hanya membawa Alan saja." tanya Erine mulai lelah melihat perdebatan putri dan sahabatnya.
Alan yang mendengar perdebatan dua manusia serupa tapi beda usia ikut menimpali, "Jangan lupa maca lalu, Tante. Oma mengakuinya, kalian cebelas dua belas." jelas Alan, lalu menggandeng telapak tangan Erine meninggalkan Mira dan Alin yang tampak cengo.
"Bun, itu tempatnya! Tinggalkan caja meleka, meleka bukan anak kecil yang bica hilang." tunjuk Alan pada sebuah toko perlengkapan.
"Alan, kemari. Biar Bunda menggendongmu."
"Tidak, Alan bica cendiri, Bun." tolak Alan.
"Kalau begitu, jadilah manja sekali saja. kamu mau, sayang?" Erine merentang tangan lebar agar Alan masuk ke dalam dekapannya.
Alan mendekati Erine, memberinya akses untuk menggendong tubuhnya. Nyaman.
"Aku sungguh patah hati, Erine. Bisakah kalian melakukannya di saat aku tidak di sini?" Sungut Mira dan kembali menatap gadis kecil dalam gendongannya.
"Kuncir, kau ingat. Jangan pernah membuatku patah hati. Mengerti?!"
"Kenapa?"
"Apa salahnya langsung menjawab YA, saja. Kenapa kau selalu banyak tanya, Alin." ujar Mira semakin kesal.
"Belhentilah membentak Alin, Tante." dengus gadis kecil itu balik memarahi Mira.
"Bisakah mereka tenang, Alan? Sehari saja." ujar Erine benar-benar tak habis pikir.
Alan menjawab santai pertanyaan Erine, "itu cala meleka caling menyayangi, Bunda."
Erine menatap wajah putranya yang sangat mirip dengan Ammar, "kamu benar, Alan. Mereka saling menyayangi dengan cara yang sedikit berbeda."
Erine yang saat ini sibuk memilih bunga untuk ia rangkai tak menyadari Alin yang lepas dari pengawasan, Mira juga tak menyadari gadis kecil itu menyelinap keluar toko.
Alan yang memiliki insting kuat terhadap kembarannya bergerak mengikuti Alin, Alin berhenti tepat di sebuah toko boneka yang terletak di sudut lantai 3 pusat perbelanjaan.
Alin yang hendak melangkah masuk terhenti mendengar seruan kembarannya, "Alin, belhenti! Ayo, ikut aku kembali." ujar Alan yang berjarak dua meter darinya.
"Al—Kak Alan, kenapa Kau mengikutiku?"
"Jangan membuat bunda chawatil, Alin!" ujar Alan tenang.
"Tapi... Aku ingin itu." Alin menatap Alan kemudian menatap boneka awan di sudut atas pembatas kaca. "Aku hanya ingin itu, bicakah aku memilikinya? catu caja..." rayunya pada Alan yang terlihat tak tergoda.
"No-no, jangan membantahku, Alin. Ikuti aku, kita halus kembali."
Alin menggeleng, tanpa sengaja matanya melihat seorang anak gadis yang terlihat girang digendong ayahnya memasuki toko boneka diikuti sang ibu—sungguh harmonis.
Alin menatap hingga keluarga kecil itu hilang di balik pintu toko, "Alan..."
Alan menyadari perubahan mimik wajah kembarannya, "Jangan lihat, Alin!" perintahnya sambil berteriak.
"Memang kenapa?!"
"Ku bilang jangan, ya jangan! Kau focus caja menatapku!"
"Kenapa, Alan?! Kenapa tidak boleh melihatnya?!" Alan hendak mendekati Alin, namun Alin memintanya berhenti.
"Aku tidak meminta ayah padamu, Alan! Aku hanya minta cebuah boneka, tapi kau tidak mengijinkannya juga!" ungkap Alin terisak.
"Alin, tenanglah."
"Apa?! Kenapa? Aku punya mata dan bisa melihatnya, lalu apa calahku?"
"Lupakan. Ayo ikut aku kembali, Alin. Kumohon." Bujuk Alan.
"Tidak mau!"
"Alin!"
"Alan... Kenapa kita tidak memiliki, Ayah? Kenapa aku tidak pernah memilikinya? Aku juga ingin digendong, dibelikan boneka, ditemani belmain. Aku ingin, Alan." Alin mengusap air mata yang semakin membanjiri wajahnya.
Alan hendak mendekat, baru dua langkah Alin kembali menyuruhnya berhenti. "CTOP! Jangan mendekat, Alan. Diam di cana! Kenapa kita belbeda, Alan? Kenapa Kita tidak sepelti anak-anak lainnya?"
"Kita cama, Alin! Berhentilah menangis, Kau membuatku sakit." ujarnya jujur ikut terisak.
Sebagian pengunjung tampak mengamati dua bocah yang saling menatap dengan jarak tak terlalu jauh. Berbagai macam pertanyaan seputar, siapa mereka?, Dimana orang tua mereka?, Apa yang mereka lakukan?, Kenapa mereka menangis?, memenuhi kepala setiap pengunjung yang melihatnya.
"Aku ingin seperti mereka, Alan! Aku ingin didekap, ayah. Cekali caja, beri aku waktu memeluk, ayah. Beli aku waktu menatap wajah, ayah. Aku ingin, ayah." ujar Alin memukul dadanya.
Alan berjalan perlahan, hingga membuat jarak di antara keduanya semakin menipis.
"Alin, jangan menangis! Belhenti berharap. Kau bisa melukai bunda." bujuk Alan yang masih menahan luka mendengar isi hati Alin.
"Beli aku, ayah, Alan! Aku ingin dimanja seperti anak-anak lainnya. Aku ingin di gendong tanpa takut akan teljatuh. Ak—aku ingin, ayah..."
Alan berjalan memeluk erat tubuh Alin, "Aku juga menginginkannya, aku ingin ditemani belmain bola, diajari belsepeda. Aku juga ingin, Alin." ujar Alan, menangis pilu berbagi luka bersama Alin.
"Lalu... Kemana ayah, Alan? Teman-teman kita memiliki ayah, kenapa kita tidak? Apa kita hanya punya bunda tanpa, ayah? Kenapa ayah tidak menemani kita juga? Aku ingin punya, ayah, Alan." jujur Alin masih belum ingin berhenti.
Alan menangkup pipi kembarannya, menghapus air mata yang terus mengalir, "Kau punya kakak laki-laki, Alin. Kau punya, aku. Jika ada yang menjahatimu, aku akan melindungimu, aku akan menjagamu!"
Alin menatap wajah Alan dengam mata sembab, "Jika kau menjagaku, ciapa yang menjagamu, Alan?"
"Aku laki-laki, Alin. Aku ciap menjaga diriku cendili."
"Bagaimana jika ayah meleka memukulmu, cepelti waktu itu? Kau telalu pendek untuk membalasnya." tanya Alin tak juga berhenti.
"Belhentilah, Alin! Berhentilah melukai dilimu cendili. Aku tidak apa-apa. Jika tidak punya, ayah. Ya, tidak punya! Jangan meminta sesuatu yang tidak pernah ada, Alin." ujar Alan mulai tersulut emosi membayangkan seorang bapak yang hampir memukul Alin, untung ia datang tepat waktu melindungi tubuh adiknya hingga tubuh Alan lah yang terkena pukulan itu.
Alin mendorong bahu Alan, "Kau celalu begitu, Alan! Aku membencimu!" Alin berlari ke sembarang arah meninggalkan Alan.
Alan mengejar Alin yang berlari kencang dengan kaki pendeknya. Alin yang berlari kencang dengan posisi kepala mengarah kebelakang melihat keberadaan Alan, tanpa sengaja menabrak kaki seseorang hingga membuatnya terjatuh dan terduduk membentur lantai.
"Awh... Maaf tuan, Alin tidak cengaja. Maaf..." ujarnya takut.
"Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya orang itu khawatir melihat mata sembab, Alin.
"I—iyaa, Alin ba—" ujar Alin terpotong menatap bapak yang ia tabrak.
"Alin!" Dari jarak yang tidak terlalu jauh, terdengar teriakan nyaring Alan memanggil adiknya. Namun mata Alan mengunci dengan pria yang saat ini membantu adiknya berdiri. Tidak ada yang mengakhiri tatapan tersebut, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
...
...🕸🕸🕸......
Happy Reading 🤍
Jangan lupa fav, like, and comment🤍
"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."