
Apapun teorinya, pengkhianatan tetaplah kesalahan. Sebijak apapun alasannya tidak mengubah arti sebenernya.
Pernyataan ini benar, bukan?
Masa depan yang dirancang sempurna sering kali berbuah bencana. Keputusan di masa lalu bukan jawaban akhir, melainkan awal dari masa yang akan datang.
Rumah tangga yang Erine sangka istana justru berupa terowongan gulita, tidak ada cahaya atau pun harapan.
Air mata kian mengalir deras, tak kuasa membendung kesedihan yang terus menggerogoti pertahanannya.
Pengakuan Alan tempo hari menghancurkan seluruh tulang penyokong daging berbalut kulit miliknya—hancur.
Flashback on
Erine terisak mendengar pengakuan Alan. Sekian lama ia menutup kebenaran, tanpa disadari telah lebih dulu diketahui oleh putranya sendiri.
"Kalian bertemu saat itu? Bagaimana mungkin."
Alan mengangguk mengiyakan, "hm."
"Da—dan boneka itu. Sungguh dia yang memberikannya?"
"Iya."
"Astaga, aku sungguh gila. Bagaimana mungkin."
Alan menghela nafas berat, "itu yang teljadi, Bunda."
"Lalu, dari mana kamu mendapatkan foto itu? Bunda tidak memiliki apa pun tentang ayahmu."
"Bunda tidak memilikinya, tapi ayah punya."
Erine terperanjat mendengar ucapan Alan, sangat mustahil untuk seorang Ammar menyimpan foto lama mereka.
'Ammar memilikinya? Jangan bercanda.' pikirnya nelangsa.
"Itu tidak mungkin. Berhenti membual, Alan."
"This is real, not a joke. Percayalah, bunda!"
Alan menatap wajah Erine yang penuh dengan air mata, sungguh melukai hatinya.
"Apa lagi yang terjadi setelah itu, Alan?"
"Bunda tidak akan sanggup mendengalnya." ujar Alan dengan gelengan pelan.
Erine menghapus air matanya, "kenapa?! Apa yang tidak sanggup bunda dengar?!"
Alan menggeleng, "Tidak. Cukup sampai di cini, Bunda."
"Lanjutkan, Bunda ingin mendengarnya!"
"Alan tidak ingin bunda semakin telluka."
"Katakan, Alan!"
"Tidak, bunda tidak pellu tau yang lainnya. Alan hanya ingin mengatakan jika Alan tau tentang ayah. Hanya itu caja. "
"Kenapa?! Sudah sejauh ini. Apa harus menghentikannya sekarang?! Atau mungkin—kamu menyembunyikan lebih banyak rahasia. Benar, begitu?!" Ujar Erine menatap dalam manik mata Alan.
"Tidak, Bunda! Itu tidak benal! Alan tidak sepicik itu!" ujar Alan cepat dengan nada cukup tinggi.
Erine mengerang frustasi, bagaimana ia bisa tau sedangkan Alan tidak menjelaskan sepenuhnya.
"Lalu apa, Alan?"
"Alan tidak hanya melihatnya, Bunda! Alan belbicala dengan ayah, kami belsama cukup lama. Boneka itu bukan di beri cuma-cuma. Ayah yang langsung membawa Alin ke toko boneka tidak jauh dari tempat Bunda berada." Alan semakin terisak mengingat wajah tampan Ammar. "Ayah punya wajah yang cama denganku. Cangat milip. Jika tidak melihatnya saat itu, Alan tidak akan tau." sambung Alan menatap wajah Erine yang terlihat pucat pasi.
"K—kau melihatnya dan langsung menyadarinya? Bagaimana mungkin... Apa dia menyadari sesuatu? Ap—apa Dia berusaha mengambilmu dari, Bunda?" tanya Erine bertubi-tubi.
Alan menggeleng, "Tidak. Ayah tidak mengenalku dan Alin. Ayah sama cekali tidak mengenal kami." ujar Alan pelan, tertunduk dengan luka yang cukup dalam menggores hatinya.
"Aaghh.... Kenapa tidak memberitahu, Bunda? Kenapa baru sekarang kau mengatakannya. Bisa saja dia mengenali kalian! Itu mungkin saja terjadi."
"Saat itu Alan masih lagu, bunda. Tapi tanpa sengaja Alan mendengar percakapan Tante Mira dan nenek di telpon. Hal itu menghanculkan kelaguan Alan. Alan tau semuanya, tentang ayah dan juga bunda yang pernah di penjala..."
Erine menggeser duduknya hingga berdekatan dengan Alan, membawa tubuh kecil Alan dalam pangkuannya.
"Su—sungguh. Kau tau itu? Apa kau malu memiliki bunda sepertiku, Alan? Katakan dengan jujur. Kau malu?"
Alan menggeleng cepat.
"Maaf, Bunda bukan ibu yang baik untukmu dan juga Alin."
Alan menyentuh wajah Erine, menghapus sisa air mata yang masih tersisa di wajah ibunya. "Bunda ibu terbaik, jangan menyalahkan diri Bunda lagi."
"Kau memang putraku." Ujar Erine menatap lekat mata Alan.
"Ehm. Alan. Foto itu, apa dia yang memberikannya padamu?"
Alan menghapus air matanya yang terus mengalir. "Tidak. Foto itu jatuh caat ayah membayal belanjaan. Alan melihat wajah Bunda dan mengambilnya."
"Itu... Tidak mungkin! Di—dia tidak mencintaiku. Untuk apa Mas Ammar membawa foto itu." ujar Erine ragu dengan ucapannya sendiri
'Benarkah yang ia ucapkan tadi malam? Merindukanku?' Erine menggeleng cepat, menghilangkan pikiran bodoh yang menguasai dirinya.
Alan kembali menatap wajah Erine, "Bunda, kenapa membohongi kami? Ayah tidak mati. Ayah meninggalkan kita kalna kelualganya yang lain, kan? Bunda tau, ayah macih cehat dan kuat untuk menggendong aku dan Alin!" ujar Alan penuh sendu menahan ingus yang naik turun.
Kilas balik kenangan Ammar bersama keluarga kecilnya kembali membayangi pikiran Erine bagai siaran ulang mengitari isi kepalanya.
"Dia hidup, Alan! Kamu, benar. Ayahmu sungguh sehat, bahkan hingga sekarang! Tapi tidak akan lama, Bunda tidak akan membiarkannya hidup bahagia, Alan!" ujar Erine tidak memikirkan dampak dari ucapannya.
"Bunda... jangan lakukan apa pun. Jangan kotoli tangan Bunda untuk menyakiti ayah. Aku tidak menginginkannya, sungguh."
"Tidak, Alan!, kalian menderita karena ulahnya! Mereka menyakiti kalian!" Erine menatap mata sembab Alan dan mengusap lembut kepalanya, "Kamu dan Alin hidup Bunda, Nak. Bunda tidak akan biarkan kalian menderita sendikit pun."
"Tidak, bunda. Alan hanya ingin kita pelgi jauh! Alan tidak ingin melihat ayah! Alan tidak ingin Bunda menangis lagi! Sungguh." tolak Alan mendengar ide Erine.
"Maafkan Bunda, Alan. Maaf. Semua karena kesalahan, Bunda."
Erine menarik tangan Alan membawanya dalam dekapan hangat tubuh Erine. Sedikit banyak, Erine hafal rasanya tidak dianggap juga di buang tanpa rasa kasihan.
"Jangan bersedih, Nak! Jangan tangisi baj—pria sampah itu. Berjanjilah pada Bunda untuk tidak bersedih karena Ayahmu lagi. Berjanjilah, Alan." ujar Erine memeluk erat tubuh putranya.
Alan terisak semakin dalam, Erine merasakan kaos yang ia kenakan basah oleh air mata Alan.
"Bunda... Ini cakit! Sungguh! Alan tidak bica mengobatinya, tidak ada luka. Hanya lasa cakit..." ujar Alan memukul dadanya yang sakit.
Erine semakin terisak mendengar penuturan polos Alan, "percayalah, itu akan sembuh. Jangan pikirkan apa pun, Alan. Jangan sakiti dirimu! Kalian punya, Bunda. Bertahanlah, Bunda mohon!"
Alan terus menggeliat memukul dadanya. "Bunda, cakit! Ini cakit, Bunda. Sangat cakit. Kenapa sesakit ini. Kenapa, Bunda?" adu Alan terus-menerus.
"Kak Alan... cakit! Kau kenapa?! Apa yang teljadi? " ujar Alin berlari dari atas tangga sambil terisak.
Alin memukul dadanya sama seperti Alan, "Bunda, cakit! Sungguh cakit! Kau kenapa, Alan?!" adu Alin dengan bibir bergetar.
Mungkinkah masalah ini merusak psikis Alan dan Alin? Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Mengapa Ammar yang berbuat, Alan dan Alain yang menderita? Kenapa?!
"Alan, belhenti! Apa yang teljadi padamu? Ini benal-benal cakit!" sungut Alin terus menekan dadanya.
"Bunda... Cakit." sahut Alan merasakan hal yang sama mengabaikan pertanyaan Alin.
"Maafkan Bunda, Nak. Seharusnya tidak seperti ini. Kalian berhak bahagia. Maafkan, Bunda." Erine memeluk erat tubuh kedua anaknya, menyalurkan sisa tenaga yang ia tau tidak akan mengubah apa pun.
Isak tangis Alan dan Alin sungguh mengiris hati Erine. Ia bahkan mengabaikan perasaannya yang juga meronta meminta pertolongan.
Keadaan membawa mereka kembali pada satu kenyataan yang terus membelenggu selama sekian tahun.
Pengkhianatan—kehancuran—perpisahan.
Flashback off
🕸️🕸️🕸️
Seminggu berlalu. Di sebuah cafe, Erine mulai mempercepat aksinya. Menyusun rencana membalaskan dendam pada keluarga Nawansa. Ditemani Mira yang bersikukuh ingin ikut bergabung membalas keluarga mantan suami Erine.
"Kamu udah yakin, Rin? Resikonya nggak main-main. Kamu tau, kan? Aku nggak bisa bantu semisal ini gagal." ujar Mira memastikan Erine, mengingat konsekuensi yang akan ia hadapi cukup berat.
"Nggak ada cara lain, Mir. Aku nggak peduli resikonya!"
Mira mengusap wajahnya gusar, "Aku khawatir, Rin! Gimana kalau anak-anak nyariin kamu? Kamu taukan Alin gimana? Tu bocah nggak akan berhenti nanyain keberadaan, kamu."
"Anak-anak nggak perlu tau, Mir. Sekarang lihat—cuma ada kita, kan? Anak-anak bisa kita titipin ke ibu kamu dulu, selama beberapa hari lah." Ujar Erine tenang.
"Ok, Fine. Apa yang bisa aku bantu? Kamu nggak berniat buat beraksi sendiri, kan?"
"Emang, kamu mau ditinggal?" Mira menggeleng cepat, "Tunggu Aku hubungin Mas Ammar, setelah itu... Kamu tunggu kabar selanjutnya." ujar Erine menatap Mira lekat-lekat.
"Wait-wait. Kamu punya nomernya?" selidik Mira.
Erine menggeleng, "nggak—tapi aku ada nomor telpon asistennya, semoga masih aktif."
"Aku nggak nyangka, Rin. Selama ini Alan tau semuanya karna kecerobohan aku juga. Coba waktu itu aku nggak terus bahas baji***n itu. Anak-anak nggak akan sesakit ini." ungkap Mira merasa bersalah.
Erine menggeleng menolak ungkapan Mira mentah-mentah, "udah kebanyakan nonton drama kamu, Mir. Jangan melankolis, Alan itu pinter. Cepat atau lambat pasti tau juga. See? Tanpa kita bicara, dia bergerak satu langkah di depan kita."
Mira menghela nafas kasar, "Iya-iyaa. Tapi coba aja kalau waktu itu aku nggak telponan sama ibu, kamu nggak akan tertekan sampai ambil jalan se-ekstrem ini."
"Mir, Alan udah ketemu Ammar duluan. Dia cuma cepat tanggap, dengan hebatnya nyusun sendiri puzzle yang kita kira nggak ada celah untuk siapa pun tau."
"Tapi, Rin..."
"Nggak ada tapi-tapian, Mir. Aku udah nggak di sana, anak-anak juga tidak berharap apa pun dari, ayahnya. Itu udah cukup buat aku. Sekarang, tolong fokus sama misi balas dendam kita. Okey?"
Mira menatap Erine lekat, "ya, ya, ya. Tidak ada salahnya dicoba." ujar Mira menimbang, "oh, iya. Aku mau ngenalin kamu sama seseorang, sebentar lagi juga dateng."
Erine mengernyit bingung, "Haa... Kamu bercanda, Mir? Kamu yang butuh kenalan, bukan aku, kali!" seru Erine.
"Kenalan dulu aja, siapa tau jodoh, Rin."
"Aku bukan di fase lagi cari jodoh, Mir. Terlalu tua untuk hal begituan..." Erine melirik wajah masam Mira, "ehm ... maksudku—bagaimana jika kau saja? Bukankah, kau juga belum menikah?"
"Kau ingin memperjelas statusku, haa?"
Erine menggeleng cepat, "Tidak, bukan begitu maksudku. Kau terlalu sensitif, Mir. Kau kedatangan tamu bulanan, haa?!"
"Kau sungguh menghinaku, Rin? Syukur tu dua bocah tengil kamu titipin Ibu. Kalau tidak, bisa diejek habis-habisan aku. Menyebalkan."
Erine cekikikan melihat raut wajah kesal yang Mira tunjukkan. Membuat si empunya mendengus kesal
"Puas? Emang kamu yang paling pinter nyindir, Rin. Mau baku hantam? Ayok sini, Aku jamin—You lost." ujar Mira membanggakan diri.
Selang beberapa menit, suara bariton seorang pria terdengar tepat di samping meja mereka.
"Mira!" sontak Erine dan Mira melirik secara bersamaan.
"Daffin, sini-sini!" ujar Mira menggeser duduknya.
Erine menyipitkan mata bertanya pada Mira.
"Eh, Daf. Kenalin ini temen aku, Erine. Dan Erine, ini Daffin. Kenalan dulu, siapa tau klop."
Erine memutar mata malas, sembari menjabat tangan Daffin.
"Daffin Athaya. Panggil Daffin aja."
"Ehm. Erine Artinka, cukup panggil Erine." sahut Erine menatap wajah Daffin lekat.
Daffin tersenyum memperlihatkan rentetan gigi putihnya. "Nama yang cantik."
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Bertemu? Aku rasa tidak."
"Ah, yaa... mungkin aku salah mengingat." ujar Erine tidak ingin memperpanjang percakapan mereka.
"Kapan kamu balik dari London, Daf?" tanya Mira mencairkan suasana.
"Belum lama ini. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di sini." ujarnya dengan seutas senyum.
Pria yang ramah bathin Erine.
"Kalian udah makan? Aku belum sempat makan siang, apa boleh memesan makanan?" tanya Daffin segan.
"Oh. Silahkan, kita juga belum pesan makanan. Hanya secangkir macchiato dan espresso." ujar Erine yang juga merasa lapar.
Mira mengangguk membenarkan perkataan Erine. Daffin dengan sigap memanggil salah satu waiters, memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka nikmati.
Happy Reading!!
Semoga kalian selalu support karya aku dan menyukai alurnya. Terus like, vote, dan comment ya. aku bakalan rajin update untuk kalian.
Jangan lupa Fav❤
Terima kasih.
"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."