INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 14



Jika ketampanan sebuah dosa, maka neraka adalah tempat terbaik untuk Ammar tinggali. Bagaimana tidak. Dasi yang terlihat acak-acakan bahkan nyaris terlepas, jas yang entah sejak kapan tersampir bebas di sandaran kursi, dan tiga kancing teratas kemeja yang sudah terbuka, tidak sedikitpun mengurangi ketampanannya. Wajar bukan, jika ia terkenal digilai para kalangan wanita muda maupun tua.


Ammar tampak fokus menatap layar monitor di hadapannya. Raut wajah serius dengan jari yang menari lincah di atas keyboard mengisi waktu yang terus bergulir.


Suhu AC yang terbilang dingin, tak membuat suasana hati Ammar membaik sedikit pun.


Ammar meneliti email penting yang masuk ke akun perusahaan, Ires sedikit keteteran karena melonjaknya jumlah perusahan yang ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan yang Ammar pimpin.


Sering kali Ammar mengomelinya, hingga berkata kasar dan mengancam akan mengganti Ires dengan sekretaris baru yang lebih kompeten.


Semenjak 5 tahun lalu, Ammar sering kali menghabiskan waktu hanya untuk bekerja. Pergi pagi, pulang hingga larut malam, bahkan tak jarang ia memilih tidur pada private room yang tersedia di dalam ruangannya. Pribadi Ammar saat ini patut disebut workaholic.


Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Ammar yang sejak pagi hanya fokus menatap laptop di hadapannya.


Tok Tok Tok


"Masuk!"


Kreeek.


Pintu terbuka. Arman berjalan masuk membawa sebuah amplop coklat, "Saya sudah mendapatkan informasinya, Pak." Arman menyerahkan amplop di tangannya pada Ammar.


Ammar membuka perlahan amplop tersebut. Keningnya mengkerut, "Apa ini yang kau sebut informasi? Dimana kau mendapatkan sampah ini? Apa kau bosan dengan pekerjaanmu, Arman?!" ujar Ammar penuh penekanan sambil meremas kertas di atas meja.


Arman menunduk tak berani berkutik. Semenjak Ammar dan Erine bercerai, Ia menjadi sosok yang tidak menyenangkan dan gampang tersulut emosi.


"Maafkan saya, Pak."


"Aku tidak butuh maaf mu! Di mana Erine? Apa kau juga dibayar keluarga gila itu untuk mengelabui ku?! Kau berniat mengkhianati ku, haa?!"


Arman menggeleng, peluh mengucur dari pelipisnya, "Ti—tidak, Pak. Saya sudah berusaha mencari tau keadaan nyonya saat itu. Hanya saja..."


Ammar menggeser laptop di hadapannya, menyangga dagu dengan kedua tangan yang saling bertaut. "Lalu, Apa masalahnya? Kenapa kau diam?!" ujarnya datar dengan sorot mata tajam menembus retina.


Arman mengeluarkan ponsel di sakunya, mempersilahkan Ammar melihat langsung. Wajah Ammar yang semula sudah kusut kini bertambah parah, kulitnya yang putih kontras berubah, saat tiba-tiba emosi kembali menguasai dirinya.


Dengan emosi memuncak, Ammar membanting ponsel milik Arman kearah dinding, membuat pemilik ponsel tersebut kesulitan menelan ludahnya sendiri.


"Apa lagi yang iblis itu lakukan?!" murka Ammar.


"Nyonya-"


"Berhenti menyebutnya, Nyonya! Kau hanya punya satu, Nyonya! Selamanya hanya ada satu! Camkan itu!" potong Ammar.


"Ba—baik, Pak. Selain Ibu Karina yang menyuap paksa tahanan di sana untuk melukai, Nyonya. Ia ju—juga menutup... Menutup..."


"Brengsek! Katakan yang jelas, Arman!" Bentak Ammar.


"I—ibu Karina, menutupi kebenaran tentang Nyonya yang telah melahirkan, Pak."


Ammar sontak terdiam tanpa kata, mendengar ucapan Arman yang sungguh diluar dugaan.


"Apa yang kau maksud dengan melahirkan? Siapa yang hamil?!"


Arman menunduk dalam, kakinya mulai kebas kelamaan berdiri.


"KATAKAN!" murka Ammar.


"Nyo—Nyonya, Pak."


Ammar mengusap wajahnya kasar dengan nafas terlihat naik turun, "Siapa yang berani menghamilinya. Siapa laki-laki brengsek yang berani menyentuh wanitaku, haa?!"


"It—itu, aku..."


"Kenapa kau tidak menjaganya selama aku dalam kendali mereka, bukankah aku telah membayar mu untuk itu! Kemana saja kau, brengsek?!"


"Maaf, Pak. Tapi, it—itu. Itu—"


"Bicara dengan benar, Arman!"


Arman menghirup udara dengan benar, sesak terasa menghimpit dadanya. "Ak—aku rasa, i—itu anakmu, Pak!"


Ammar melotot mendengar jawaban Arman, bagaimana mungkin anaknya? Kapan Erine hamil, ia tidak pernah mendengarnya.


Cukup lama keheningan tercipta, hingga Ammar kembali bersuara mengisi kekosongan. "Sekarang juga. Selidiki hingga ke akarnya, jika tidak bisa dengan cara baik. Lakukan dengan cara gelap. Aku beri kau waktu 1 jam dari sekarang!"


Arman mengangguk patuh, "Baik, Pak. Bagaimana dengan Ibu Karina? Apa yang harus kita lakukan padanya?"


"Wanita ular itu, sungguh membuatku ingin membunuhnya." Ucap Ammar datar, "selagi ia masih hidup bebas, pasti akan banyak hal buruk yang terjadi. Kau urus dia setelah menemukan bukti konkret mengenai Erine."


Ammar meraih segelas air di atas meja, meminumnya hingga tandas. Tiba-tiba bayangan Erine dipukuli tahanan lain memenuhi kepalanya, tanpa sadar Ammar membanting asal gelas kaca hingga pecah berserakan di lantai bersama dengan ponsel Arman.


Arman yang tak siap, terkejut dengan kaki keringat dingin ingin segera meninggalkan ruangan yang terasa pengap dengan suhu yang terbilang rendah.


"Apa lagi yang kau, tau?"


"Dari info yang saya dapatkan. Nyonya sudah bebas sejak seminggu lalu, Pak."


"Brengsek!. Kau baru memberitahuku sekarang?! Pergi! Cari tahu dimana ia tinggal, jangan kembali sebelum kau menemukannya!" sergah Ammar mengusir Arman.


"Baik, Pak."


🕸🕸🕸


Pernafasan Arman tercekat setiap kali ia berada di satu ruangan yang sama dengan Ammar. Hawa mengintimidasi milik Ammar mendominasi setiap percakapan, pria yang dulunya dikenal lembut dan berwibawa kini tak ubah pria berdarah dingin tak punya hati.


Arman yang hendak memasuki lift berhenti saat Ires menahan lengannya. Arman dapat menebak apa yang akan wanita ini tanyakan padanya.


"Apa singa itu kelaparan, lagi?" tanya Ires ingin tahu.


"Jaga ucapanmu, Res. Pak Ammar, atasanmu. Dinding bisa mendengar, berhati-hatilah."


"Aku mengkhawatirkan mu, bodoh! Wajahmu seperti mayat hidup. Orang bodoh juga pasti bertanya seperti yang aku tanyakan!" cerca Ires kesal.


"Apa yang perlu kau, khawatirkan? Ini tugasku sebagai seorang bawahan. Aku tidak keberatan tentang itu."


"Kau juga manusia, bagaimana bisa Pak Ammar memintamu bekerja siang dan malam. Kau ingin mati muda?" tanya Ires tak percaya.


Arman melepas pegangan Ires pada lengannya. "Pak Ammar telah banyak menolongku, mati untuk membantunya sebuah kehormatan untukku. Berhentilah ikut campur, duduk dan selesaikan tugasmu. Kau perlu berhati-hati, singa terlalu buas saat ia kelaparan." Sindir Arman menepuk bahu Ires dan berlalu pergi.


Ires menatap tubuh Arman yang hilang di balik pintu lift, "Aku benar-benar mengkhawatirkan mu, bodoh! Apa kau tak menyadarinya? Dasar bodoh!" umpat Ires.


Sejak terakhir kali ia bertemu Erine, masalah silih berganti menimpanya. Entah ini kutukan atau hanya ujian, suaminya berselingkuh dengan tetangganya. Sedangkan anak yang ia rawat dengan penuh kasih sayang ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak suaminya dengan wanita lain.


Pertanyaan tentang di mana anaknya pasti menjadi tanda tanya, bukan? Anak Ires meninggal dalam kandungan, ia tidak menyadarinya karena saat itu ia menjalani operasi besar saat tengah mengandung karena sebuah kecelakaan.


Mungkin ini azab untuknya, rasanya ia sangat ingin memohon maaf dengan tulus pada Erine. Setidaknya untuk melepaskan rasa bersalah yang sampai saat ini melingkupi dirinya.


Ires melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya, sontak ia membulatkan mata sempurna. "Mampus! Udah jam 1, Pak Ammar kan ada jadwal meeting di luar."


Ires berjalan kocar-kacir mengambil file-file yang dibutuhkan, meng-copy dengan cepat bahan meeting yang akan diserahkan pada rekan bisnis mereka.


"Aiissh... Bisa mati kamu, Res. Kalau sampai Pak Ammar tau. Bisa digantung hidup-hidup kamu, Res-Res." ujar Ires pada dirinya sendiri.


Sekitar 10 menit merapikan file yang dibutuhkan, Ires memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja Ammar.


Tok... Tok... Tok...


Terdengar seruan dari dalam menyuruhnya masuk.


"Permisi, Pak. Siang ini kita ada meeting dengan perusahaan Raloka Properti." ujar Ires gugup.


"Siang, ini?" tanya Ammar dingin.


"I—iya, Pak."


"Jam berapa?"


"Jam 2, Pak."


"Sekarang, Jam?"


Ires melirik Arlojinya, "Jam 13 lewat 15 menit, Pak."


Ires memilin ujung rok kerjanya, "Ma-maafkan. Saya, Pak." ujarnya gagap.


"Apa kalian bekerja, hanya untuk meminta maaf?! Apa gaji yang aku keluarkan, hanya untuk mempekerjakan orang-orang pemalas?! Ambil berkasnya! Jika meeting kali ini gagal, bersiap-siaplah bonusmu bulan ini dan seterusnya, ditiadakan!" ujar Ammar meninggalkan Ires memasuki private room.


Ires bergegas mengambil berkas yang diperlukan, memikirkan bonusnya ditiadakan membuatnya patah semangat.


"Dolar-dolarku, matilah kau, Ires. Betapa sial dirimu." gumamnya pada diri sendiri.


🕸️🕸️🕸️


Ammar berjalan cepat dengan stelan jas berwarna navy, rekannya kali ini meminta bertemu di salah satu restoran yang berada di pusat perbelanjaan.


Ammar merasakan perasaannya tak nyaman, saat hendak melewati toko boneka. Pandangan Ammar tertuju pada dua bocah yang terlibat perdebatan.


Ammar menghentikan langkahnya, mencuri dengar perdebatan dua anak tersebut.


Sedikit banyak Ammar dapat memahami kesedihan mereka, anak-anak yang merindukan sosok ayahnya. Ammar mengutuk orang tua yang tega menelantarkan dua bocah tersebut, bagaimana ada orang tua yang tega membuang anaknya disaat banyak keluarga lain yang menginginkan kehadiran seorang anak. Terutama ia dan Erine.


Ammar hendak pergi mengabaikan kedua bocah tersebut, mengingat jam sudah hampir pukul 2 siang. Namun, sesuatu menabraknya kuat, sontak Ammar melirik kebawah.


"Awh... Maaf tuan, Alin tidak sengaja. Maaf..."


"Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Ammar khawatir dan membawa Alin dalam gendongannya.


"Iya, Saya ba—" ujar Alin terpotong menatap orang tersebut. "Alan, ke-kenapa Kau jadi, becal?" sambung Alin menangkup kedua pipi Ammar.


"Maaf—" ujar Ammar terpotong.


"Kak Alan, maafkan aku. Aku tidak cungguh-cungguh mengatakan kau pendek." ujar gadis itu membuat Ammar bingung.


Sebuah suara menyadarkan Alin dan pria dewasa yang saat ini bersamanya.


"Alin! " Sahut Alan yang berdiri di belakangnya.


Alin memutar badannya menatap Alan, dan kembali menatap wajah Ammar. Ammar ikut memperhatikan wajah kedua bocah dalam dekapannya. Hingga tatapannya dengan Alan terkunci cukup lama.


"Ba—bagaimana mungkin." ujar Ammar tak percaya.


"Lepaskan, Adikku!"


Alin menatap wajah Alan dengan ingus yang naik turun. "Alan. Kau masih pendek? Lalu dia? Kau milip dengannya." ujarnya masih belum memahami situasi.


"Diam, Alin. Tulun kan adikku, Tuan! Dan kau bocah nakal. Ikut, Aku!" perintah Alan.


Ammar menatap sorot tajam bocah laki-laki di hadapannya. "Maafkan aku, Nak. Adikmu tidak sengaja menabrakku, aku hanya membantunya." ujar Ammar lembut.


Ires melirik jam, waktu hanya tersisa 5 menit lagi. "Pak, meeting sudah akan dimulai. 5 menit lagi."


"DIAM!" sergah Ammar.


Ires menutup mulut rapat-rapat, "Bonus bulananku, dasar Bos gila!" umpatnya dalam hati.


"Bica tulun kan dia? Dia halus ikut denganku!"


"Aku akan mengantar kalian, di mana orang tuamu, Nak?" tanya Ammar pada Alin.


"Bunda ada di-"


"Tidak pellu, Aku bica menjaganya!" ketus Alan.


Ammar mengernyit kening bingung, "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Nak? Atau. Mungkinkah, aku ada berbuat salah padamu?" tanya Ammar pada Alan yang terlihat memusuhinya.


Alan enggan menjawab pertanyaan Ammar, Alin yang mengetahui sifat kembarannya memilih turun dari gendongan Ammar.


Alin berjalan mendekati Alan, "Belikan aku boneka itu, kakak. Aku beljanji tidak akan nakal lagi." Pinta Alin memohon.


Alan mengambil tisu yang ia simpan di saku kirinya. "Pakai ini, jangan ulangi lagi. Mengelti?"


Alin mengangguk paham, Alan melihat saku kanannya. Uang pemberian Mira minggu lalu hanya tersisa 23.000. Ia sempat membeli Alin ice cream dan snack, hingga uangnya tak cukup untuk membelikan Alin boneka.


Ammar mengamati gerak-gerik mereka, senyum simpul terbit di bibirnya yang telah lama hilang.


Ammar berjalan mendekat, menggendong kembali gadis dengan kuncir kuda tersebut, menatap wajah mereka lekat. Sungguh mirip.


"Wajah kita benar-benar mirip, Nak. Apa mungkin kita tujuh kembaran yang terpisah? Bisa aku mengetahui namamu?" tanya Ammar pada Alin.


Belum sempat Alin menjawab, Alan lebih dulu menjawabnya.


"Kau tidak pellu tau!"


Ammar tersenyum, menggendong paksa Alan. "Hei! Tulunkan, aku!"


"Baiklah-baiklah. Bisakah, kamu tenang dulu? Aku ingin memberikan gadis manis ini sesuatu, bukankah kau ingin boneka, cantik? Mari ikut, aku!"


Alin mengangguk senang, "bolehkah, tuan? Aku sangat ingin boneka awan itu."


Ammar berjalan memasuki toko boneka, menurunkan Alan dan juga Alin. " Tentu. Cantik, boleh aku tau namamu?"


"Saye Alin, dan ini kakak saye Alan. Betul, betul, betul." ujar Alin semangat.


Ammar mengelus kepala Alin lembut, "Nama yang bagus. Sekarang, katakan. Boneka mana yang kamu inginkan?" tanya Ammar pada Alin.


"Alin ingin awan, itu. Apa boleh?" ujarnya sambil menjulurkan satu jari telunjuknya.


"Hanya itu? Ambillah apapun yang Alin suka. Om, yang akan membayarnya."


"Alin!" Alan melarangnya.


"No-no, Bunda melalang kami untuk bolos. Alin hanya ingin catu, om."


"Alan ingin sesuatu? Mobil-mobilan atau robat?" Alan menggeleng. Ammar mengagumi karakter unik Alan, bocah yang terlihat dewasa sebelum waktunya.


Saat dirasa sudah selesai memilih, Ammar memanggil penjaga toko untuk menurunkan boneka awan yang dipilih Alin. Tak sengaja Ammar melihat gantungan kunci yang terbuat dari pahatan kayu.


"Aku juga ingin gantungan, itu. Ambilkan Aku tiga dengan bentuk yang sama." ujar Ammar pada penjaga toko.


Selesai membayar belanjaan, Ammar memberikan Alin bonekanya. Membagi gantungan yang sengaja ia beli untuk mereka bertiga.


"Cantik, ini bonekamu. Jangan menangis, lagi. Jika kamu menginginkan sesuatu, kamu boleh menghubungi, Om." Ammar meminta Ires memberikan kartu namanya pada Alin.


Ires cukup terkejut mendengar perintah Ammar, ia mengakui kemiripan Ammar dengan dua bocah tersebut. Namun, aneh melihat atasannya menyerahkan nomer pribadinya kepada anak yang tidak mereka kenal. Sungguh aneh.


"Dan dengar, jangan membantah perkataan kakakmu. Jangan membuatnya khawatir, Paham?" nasehat Ammar.


Alin mengangguk paham, "Paham."


"Gadis pintar, ini untukmu. Simpan! ini kenang-kenangan dari, Om." Alin mengambil pemberian Ammar, gantungan kunci yang berbentuk singa.


"Dan ini untukmu, ambillah. Untuk yang ini, Aku tidak menerima penolakan!" ujar Ammar sambil mengelus kepala Alan. Sesuatu menggetarkan hatinya, ntah mengapa ia merasa terikat dengan dua bocah ini.


Alan mengangguk, mengambil gantungan kunci itu. "Telima kacih, Om." ujar Alan sopan dan menarik Alin untuk mengucapkannya juga.


Alin tertawa, saking bahagia melihat bonekanya ia lupa berterima kasih. "Telima kacih, Ayah!" ujarnya spontan dan mengecup pipi kanan Ammar.


Belum sempat Alan mengomeli adiknya, Alin sudah lebih dulu berlari menarik tangannya untuk kembali ke toko tempat ibu mereka berbelanja.


Ammar menyentuh dadanya, sesuatu terjadi pada jantungnya. Perasaan bahagia yang sama saat ia bersama Erine.


...



...🕸🕸🕸......


Happy Reading🤍


Kalian suka part ini? Jangan lupa fav, like, dan comment.


"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."