
Cahaya sang surya menerobos masuk di balik celah tirai jendela. Ruangan bernuansa putih dengan aroma khas obat-obatan menyeruak masuk indra penciuman Ammar yang baru saja tersadar.
Selang infus menjadi pemandangan pertama yang Ammar lihat, keheningan menemani tubuh ringkihnya di atas brankar rumah sakit.
Erine? Di mana wanita itu.
"Arghh... si*l." Ammar yang berusaha berdiri dengan terburu-buru mengumpat kasar saat menyadari telapak tangannya mengeluarkan darah hingga menembus perban.
Arman yang sejak tadi menjaga pintu bersama anak buahnya yang lain sontak terkejut dan berlari ke dalam ruangan tempat Ammar di rawat.
"Pak!" Arman langsung meminta yang lain keluar, meninggalkan dirinya dan Ammar.
"Di mana, Erine?!"
"Nyonya? Saya tidak melihatnya, Pak. Tidak ada... Nyonya, di sana. Saat saya menjemput anda, hanya Ibu Karina yang saya temui." ujarnya ragu-ragu.
"Apa yang terjadi?! Siapa yang memintamu membawaku kesini?!" bentak Ammar.
"Maaf, Pak. Tidak ada yang bisa saya lakukan. Kondisi anda hampir tidak tertolong."
"Berhenti mendebatku!" ujar Ammar menarik kerah kemeja Arman, "Apa yang terjadi setelah kau membawaku pergi? Apa Karina melihatnya? katakan padaku!"
Ammar menyadari bahwa dirinya sungguh ditipu mentah-mentah oleh Erine malam itu, sekelebat bayangan kejadian semalam sedikit mengitari kepalanya.
Ammar lebih dulu melepas cengkeramannya pada kemeja Arman. Memberi waktu Arman untuk menjelaskan bagaimana ia tahu Ammar dalam masalah, juga pesan yang sengaja Erine kirim padanya untuk datang secepat mungkin menyelamatkan Ammar.
Mendengar pernyataan Arman, dapat Ammar yakini Karina tidak mengetahui keberadaan Erine—Ini jauh lebih baik.
Syukurlah.
"Bagaimana Karina bisa datang ke sana?" tanya Ammar bingung, sedetik kemudian ia mengingat bahwa Erine sempat menggunakan ponselnya.
Arman terdiam tidak memiliki jawaban yang tepat.
Ammar mengurut pangkal hidungnya, setelah mengingat semua kejadian yang ia alami tadi malam. Terutama Gambaran Erine mengambil ponsel juga berdiri membelakanginya tercetak jelas.
'Erine... dia sengaja melakukannya.'
Sungguh mengejutkan. Gadis kecil yang ia temui 12 tahun lalu kini menjadi gadis cerdik yang nakal. Terlihat lebih menggoda dan berapi-api.
"Lindungi Erine! Apa pun yang terjadi tetap lindungi dia dan juga anak-anak. Jangan biarkan Karina mengetahui penyebab masalah malam ini. Atau kau akan menanggung akibatnya! Kau dengar, Arman?" sinis Ammar menatap tajam Arman.
Arman mengangguk patuh, "Baik, Pak."
Ammar hendak melepas infus di tangannya secara paksa. Arman yang melihatnya berusaha menahan Ammar untuk beristirahat beberapa hari, tapi keras kepala Ammar sulit untuk di cairkan.
Belum sempat Ammar membuka paksa infusnya, kebisingan di luar ruang rawat inap yang ia tempati mengalihkan pandangannya ke arah pintu begitu juga dengan Arman.
"Apa lagi ini? Bisakah masalah berhenti menggangguku." kesal Ammar.
Pintu terbuka cukup keras, terlihat segerombolan orang berjaket merah tua dengan topeng merah melekat di wajah menerobos masuk ruang rawat Ammar.
"Kunci!" ujar salah seorang dari mereka, yang Ammar yakin sebagai pemimpin mereka.
Salah satu dari bawahannya bergegas mengambil kartu akses masuk agar tidak ada yang masuk dan mengganggu perbincangan mereka.
"Kau masih berniat hidup, Ammar?" ujarnya menduduki sofa tepat di depan brankar Ammar. Mengeluarkan sebat**g rok*k yang dinyalakan oleh anak buahnya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Kau terlalu serius. Berbasa-basi pada kakak ipar mu sendiri akan lebih baik, bukan begitu? jadilah ipar yang sedikit manis."
Ammar menaikkan sebelah sudut bibirnya, "Kau terlalu berharap, Dotay!"
Qing Dotay tertawa nyaring memenuhi seisi ruangan yang semula hening. "Kau pandai bergurau. Oh, ya. Kau tau alasanku ke sini, kan?! Kau terlalu bertingkah, Ammar. Duduk manis saja di tempatmu, jangan berlagak hebat. Kau tidak akan mampu melawanku." ujar Qing Dotay mulai serius menunjukkan sorot mata tajam.
"Aku tidak melihat tujuan yang jelas dari kedatangan mu! Kau berniat meminta wanita ular itu kembali padamu? Ambillah, aku tidak pernah menginginkannya sejak awal."
Qing Dotay menggebrak meja kaca di hadapannya dengan kuat. Hingga menimbulkan suara pecahan kaca yang cukup keras. Kemudian menatap Ammar seakan ingin membunuhnya hidup-hidup.
"Kau semakin berani, Ammar! 4 tahun mengabaikan mu—sekarang kau cukup bernyali. Apa kejant***n mu sudah mulai berfungsi?! Kau sungguh mengejutkanku!"
Ammar terkekeh menatap sinis Qing Dotay, "Kau yang terlalu meremehkan lawan mu, Dotay!"
"Da*n it! Kau cukup memancing emosiku, Ammar."
"Benarkah? Aku mengharapkan itu sejak dulu!"
Qing Dotay menginjak rok*knya yang sejak tadi jatuh saat menggebrak meja, melangkah mendekati brankar Ammar.
Arman hendak menghadang tubuh Qing Dotay dengan tubuhnya. namun Ammar lebih dulu memintanya menyingkir karena pria di hadapan mereka bukanlah lawannya.
"Ini urusanku dengannya. Kau menyingkirlah Arman."
"Tapi, Pak—"
"Lakukan apa yang aku perintahkan!" tekan Ammar tajam.
Arman mengangguk, berpindah tiga langkah dari brankar Ammar. Guna memastikan tidak terjadi hal yang lebih serius pada atasannya.
Ammar yang sejak tadi duduk, beranjak melepas paksa infus yang masih menusuk kulit punggung tangannya, membiarkan darah sedikit muncrat keluar.
"Siapa yang kau temui malam itu?! Kau berniat memelihara jal**g, haa?" ujar Qing Dotay serius.
Dotay menarik leher baju pasien yang Ammar kenakan. Mengutuk mulut lak**t Ammar dan mengingat kembali simbol yang dengan sengaja diukir seseorang pada bahu kanan Karina.
Simbol pada bahu Karina menunjukkan bahwa seseorang itu dinyatakan jal**g dalam sindikat gelap yang membuat Qing Dotay murka.
Jika sindikat gelap lainnya melihat itu, maka hidup Karina juga akan terancam. Sesuatu yang sangat tidak Qing Dotay inginkan terjadi.
"Katakan! Siapa yang memberi tanda sia**n itu pada, Karina?!"
Ammar melepas paksa tangan Dotay, sorot tajam menghiasi mata kelamnya. Dari wajah Dotay, Ammar yakin tiga wanita yang dikirim Erine bukan orang sembarangan.
Dari mana Erine mengenal mereka?. pikirnya.
"Kau, bertanya pada orang yang salah, Dotay! Mengapa bertanya padaku? Bukankah tanda itu diberikan pada adik sia**nmu? Tanyakan padanya, bukan padaku!"
"God**m!" saat Dotay hendak memberi bogeman mentah pada Ammar, gedoran pintu mengalihkan perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan.
Dotay menghentikan aksinya yang belum sempat ia mulai, memberi perintah seluruh anggotanya lompat melalui jendela berlantai 25 menggunakan alat yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
Pintu terbuka memperlihatkan dokter, beberapa perawat, dan juga security rumah sakit. Tanpa Ammar duga, tiga temannya juga ikut dalam barisan tersebut.
Dokter melangkah cepat memeriksa Ammar, perawat mengatakan selang infus Ammar terlepas dan tekanan darahnya cukup tinggi.
Dengan gerakan cepat dokter memeriksa Ammar kembali, saat dipastikan kondisi Ammar dalam keadaan stabil, mereka berlalu pergi meminta OB membersihkan pecahan kaca dan menghubungi pihak terkait untuk melakukan perbaikan pada fasilitas ruang VVIP yang Ammar tempati.
Bersyukur rumah sakit ini milik Ricky, Ammar tidak perlu menghadapi rentetan pertanyaan polisi jika ada pihak yang mengadukan kasus ini.
"Gila. Siapa yang berani terang-terangan nyerang ke sini, Am?" ujar Fahri menatap meja yang tak bersalah menjadi amukan seseorang.
Ammar memilih diam, berbaring menatap langit-langit ruang inap.
"Dotay, lagi?" ujar Ricky paham.
"Tunggu apa lagi, Am? Mereka udah kelewatan!" Ardi mulai jengah menghadapi permasalahan Ammar.
"Astaga. Beneran, Dotay? Dia udah balik aja?". Fahri kembali menimpali.
"Aku sudah mempersiapkan diri. Hanya perlu menunggu waktu memihak padaku. Dari mana kalian tahu aku di sini?" ujar Ammar masih fokus menatap langit-langit.
"Itu tidak sulit. Ini rumah sakit ku, kau paham maksudku, kan?, mungkin kau lupa." Ucap Ricky yang tidak memerlukan jawaban.
Arman membantu Ammar duduk, tubuh ringkihnya masih memerlukan bantuan setelah berdebat hebat dengan Qing Dotay. Pria gila yang terus mengancam atasannya demi seorang Karina.
"Kami akan membantu. Jangan melakukan apa pun tanpa melibatkan kami, Am. Itu melukai persahabatan yang telah lama kita bangun." ujar Ardi menatap Ammar.
Ammar terkekeh pelan, "Apa kau juga ingin mati? Berhentilah membahayakan diri kalian. Sudah cukup 4 tahun ini kalian membantuku."
"Jangan bercanda. Kau bagian dari kami, masalahmu juga masalah kami." ujar Ardi yang mendapat anggukan dari Fahri.
"Aku setuju tentang itu." sela fahri cepat.
Sekitar dua jam lamanya mereka menjenguk Ammar. Ricky lebih dulu mengajak mereka pulang, mengingat kondisi Ammar yang tidak memungkinkan menerima tamu terlalu lama.
Setelah ketiganya pergi, Ammar menerawang lurus menatap tembok bercat putih.
"Kau tau Arman... Aku tahu dia meletakkan sesuatu pada minumanku." Ammar berbalik mengambil tisu basah di atas nakas mengelap bercak darah pada infus yang sempat ia buka paksa. "Aku tetap meminumnya—bukankah aku terlalu bodoh?" tanya Ammar nelangsa.
Arman tertegun mendengar penuturan Ammar, sedalam itu rasa kepedulian yang Ammar berikan demi membuktikan cintanya juga melindungi kehidupan Erine secara rahasia.
Adil kah ini untuk Ammar? Mereka sama-sama korban hanya saja di jalan yang berbeda.
"Anda tidak bodoh, Pak... Nyonya hanya tidak mengerti jalan pikiran dan kebenaran dari kisah masalalu anda."
Ammar terkekeh sumbang, "Akankah dia bahagia saat ini? Aku senang jika dia bahagia setelah ini. Itu mengurangi sedikit beban ku." Jujur Ammar.
Arman menatap raut sedih yang di tampilkan Ammar. Salah satu pengawal berjalan masuk terburu-buru dengan guratan wajah panik.
Ammar sontak mengernyit bersamaan dengan Arman yang keheranan. "Apa yang terjadi?" tanya Ammar cepat.
"Lebih baik Anda melihatnya sendiri, Pak. Ini!" ujar pengawal terlihat takut mendengar amukan Ammar.
Ammar mengambil ponsel di tangan pengawalnya. Sontak mata Ammar membulat sempurna, wajahnya yang pucat membuncah merah, urat-urat tegang menjalari rahang yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
Keheranannya menatap kehadiran Ricky, Ardi, dan juga Fahri terjawab sudah. Tidak mungkin mereka datang dari berbagai negara hanya karena mengetahui Ammar berada di rumah sakit. Alasan yang begitu konyol, bukan?
Ammar menggenggam ponsel kuat. Menatap Arman dengan sorot tajam.
"Hapus berita ini, Sekarang! Lakukan sesegera mungkin, jangan sampai aku melihat berita ini, lagi! Sekarang!" murka Ammar.
Arman bergegas meninggalkan Ammar dengan menyisakan 2 orang pengawal untuk berjaga di depan pintu masuk.
Arman kembali menuntaskan masalah yang ia kira sudah selesai sejak semalam. Berlalu pergi meninggalkan rumah sakit membelah jalan.
Si*l.
Happy Reading!!
Alhamdulillah revisi udah hampir selesai. Terus dukung author dengan like, comment, dan share cerita ini ke teman-teman kalian.
Terima kasih🤍