
"Alinnn! Mau lari kemana, kamu! Dasar kuncir, nakal!" teriak Mira memecah gendang telinga penghuni apartemen.
"Wlee... Kejal Alin, Tante. Alin di sini." ejek Alin berlari kesana kemari.
Mira dengan kesal mengejar Alin yang berlari keluar masuk kolong meja mengelilingi ruang tengah.
"Katakan, siapa yang mengajarimu?! Di mana kamu belajar ini, Alin?!" tunjuk Mira pada wajahnya yang dicoret asal seperti kucing .
"Dali- Tante jelek." ungkap Alin jujur.
"Ap-apa? Kapan aku mengajarimu, haa? Kau bener-bener membuatku gila. Wait-wait, tadi apa katamu bocil? Aku... Jelek?!" ujar Mira kesal.
"No-no, itu benal. Alan! Kak Alan! Tolongin Alin!" pekik Alin meminta pertolongan.
Alan yang sejak tadi duduk tenang memandang ibunya memasak, terganggu mendengar teriakan Alin.
"Ulus ulusanmu, cendiri! Katakan saja dengan jujul, di mana kau menemukan ide itu."
Alin berlari hingga memeluk kaki jenjang Erine yang saat ini memcuci sayuran, "Astagfirullah. Kamu mengejutkan, Bunda. Alin." ujar Erine meletak sayur bersih ke dalam baskom dan meraih tubuh kecil Alin.
"Alin, berhentilah mengganggu, Tantemu. Jadilah gadis manis yang tenang, berhenti membuat keributan." ujar Erine menoel gemas hidung mancung Alin.
Mira berhenti tepat di depan Erine yang menggendong putrinya. "Erine, Kau lihat? Putrimu sungguh berbakat sepertimu. Melukis dan mewarnai disegala tempat, termasuk wajah gadis manis sepertiku. lihat ini?!" Adu Mira pada Erine.
Erine menghela nafas lelah, memijit pangkal hidungnya yang sedikit pusing. "Alin-"
"Bunda, Alin hanya ingin belmain. Ungguh! Em solii, Tante. Kiss, kiss, kiss." ujar Alin tanpa rasa bersalah memajukan bibir setelah berucap manja.
"Sekarang, jawab Bunda. Dari mana kamu belajar melakukan ini, Alin?"
Alin diam, tidak ingin menjawab pertanyaan Erine. Seperti takut, terkesan tak ingin salah menjawab pertanyaan ibunya.
"Di poncel Tante, Bun. Lihat sendili yutubenya." jawab Alan santai dan berlalu pergi meninggalkan kebisingan yang dibuat kembarannya.
Mira mengernyit bingung, mengingat kembali isi ponselnya. "Apa? Kau melihat video konyol itu? Sungguh?! Oh my god!" Ujarnya tak percaya.
Alin memeluk leher Erine kuat, tersenyum jahil di balik kepala ibunya.
"Alin! Ja-jawab, apa kau melihatnya? Sungguh?!" Tanya Mira tak habis pikir.
"Yaa, cedikit." ujar Alin, mendekatkan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Erine... Aku benar-benar sudah gila. Oh, tidak. Apa yang harus Aku lakukan, tidak-tidak. Dia melihatnya, TIDAK!" ujar Mira berjalan lunglai, mengambil tempat di samping Alan yang asyik bermain ruby di sofa ruang tengah.
"Alan, benarkah itu? Apakah kuncir nakal itu, melihatnya? Matilah, Aku! Apa ia melihat semua tontonan ku?!" raung Mira bertingkah kekanak-kanakan.
"Tidak. Hanya cedikit, tenanglah." ujar Alan bijak.
"Sungguh? Kamu tidak berbohong? Bisakah Aku tetap hidup kali ini?" ujar Mira berbinar dan langsung memeluk Alan erat-erat mendengar jawaban Alan.
"Lepas! Jangan centuh, Alan. Lepaskan!"
"Aku juga ibumu, Nak. Mengapa Kau membedakan Aku dengan ibu kandungmu?!" Sungut Mira tak terima.
Alan menggeleng tak percaya ada wanita seperti Mira, "Apa? Kenapa kau melihat ku seperti itu?" Tanya Mira dongkol.
"Tidakkah... Tante menanyakan dali mana Aku tau?" Tanya Alan ambigu.
Mira sontak membuka mulut lebar dengan mata melotot, "Astaga. Benar-benar, kamu benar. Bagaimana bisa aku melupakanmu! Ap-apa kau melihatnya Alan? Astaga! Erine. Katakan aku hanya bermimpi, cepat katakan Erine." Ujar Mira berteriak frustasi.
"Aku hanya melihat menit peltama hingga di menit ke 5, hanya itu. Mungkin."
Spontan Mira berduri menjauhi tubuh kecil Alan yang sempat ia peluk erat. "K—kau, kau benar-benar melihatnya? Bagaimana mungkin, itu privasiku, bocah!"
"Berhentilah, Tante. Aku hanya bercanda." Alan berjalan meninggalkan Mira dengan kebodohannya, memakan sarapan yang sudah selesai Erine masakkan untuk mereka berempat.
"Benarkah Aku sebodoh, itu? Benarkah itu?" Mira menggeleng kuat, "Kau yang bodoh, bocil! Hancur sudah nama baikku." Rengek Mira dengan wajah sedih yang terlihat dibuat-buat.
🕸️🕸️🕸️
Siang harinya, Mira memilih untuk beristirahat di apartemen menemani Erine yang selama seminggu ini tinggal bersamanya.
"Apakah malaikat kecil itu tidur?" Tanya Mira saat melihat Erine menuruni anak tangga.
"Hmm, maafkan aku, Mir. Aku tidak mengira, mereka cukup mengganggumu." ujar Erine merasa bersalah.
"Tenanglah, mereka hanya anak-anak. Berkat mereka, aku paham pentingnya memiliki sosok ibu. Bukan tidak melelahkan, aku bohong jika mengatakan itu. Tapi, mereka mampu membuatku melupakan rasa sakit melihatmu menderita." Jujur Mira.
Erine menggandeng tangan Mira untuk duduk bersama di sofa ruang tengah.
"Kau tau, Mir. Aku kehilangan sisi tomboymu. Kau berubah, sangat jauh berubah. Mungkinkah, karena anak-anakku?" tanya Erine memastikan.
Erine terkekeh geli, "Kau benar dalam hal itu, Mir. Aku dapat melihat jelas kasih sayangmu pada dua bocah itu. Ohiya. Aku ingin bekerja, Mir. Mungkin Aku akan membuka kios kecil untuk usaha baru yang akan ku jalani."
"Beristirahatlah, kamu baru saja bebas, Rin. Nikmati hidupmu!" tolak Mira tegas.
"Aku yang seharusnya berkata begitu, umurmu hampir 30 tahun, Mir. Tidakkah kau ingin menikah?" tanya Erine telak.
"Menikah? Untuk apa? Semua pria terlihat sama, berani berjanji tanpa kepastian. Ini membuatku benar-benar berhenti membuka hati, Rin." jawab Mira penuh arti.
"Jujur, Aku cukup terkejut mendengar berita, Mas Dimas." Erine meraih tangan Mira, "tapi bukan berarti Kamu harus terpuruk di masalalu selamanya."
Mira mengangguk paham, "Bagaimana denganmu? Apa kau berniat membalas bajingan itu?"
Erine melepas tangan Mira, menatap televisi yang menyala tanpa suara. "Tentu. Aku sangat ingin membalas, Mereka. Tapi... Aku takut mereka tau keberadaan si kembar." Erine kembali menatap mata Mira, "Usia mereka terus bertambah, Mir. Aku takut mereka menanyakan di mana ayahnya. Apa yang harus Aku lakukan?"
"Kenapa Kau tidak menikah lagi saja, Rin? Kau bisa mengambil hak asuh anakmu sepenuhnya. Tidak akan ada drama perebutan gak asuh, bukan?" saran Mira gamblang.
Pletak
"Awh... Kau masih belum berubah! Aku bisa melaporkanmu atas tuduhan kekerasan, Rin!" sungut Mira mengaduh kesakitan.
Erine memutar mata malas, "Kau yang membuatku harus melakukannya. Mengapa menyuruhku menikah, disaat dirimu juga enggan berumah tangga?" tanya Erine balik.
"Aishhh... Kau memukulku hanya karna itu? Aku merasa, kau lebih bar-bar dariku semasa tauran dulu. Apa teman-teman tempatmu ditahan bersikap sama? Mungkin kau lebih berubah dari diriku, Rin." Ungkap Mira dengan sangat jujur.
Erine menaikkan sudut bibirnya sebelah, "Lebih mengerikan?! Apa pernah, kau tauran dengan cara menguliti orang, Mir? Atau, mengiris setiap inci bagian kulit musuhmu, mungkin? Seperti film psikopat yang pernah kita tonton semasa sekolah dulu, apa kau ingat?" tanya Erine terlihat sungguh-sungguh.
Mira menampar wajah Erine cukup keras, "Awh... MIRA!" Erine mengelus pipinya yang memerah dan terlihat corak jari tangan.
"Stop! Aku sungguh takjub, jiwa psikopat manusia benar-benar bisa diasah. Benarkah Kau ini, Erine? Aku harus meruqyah otakmu, Erine."
" Tentu ini aku, bodoh. Lalu, siapa lagi jika bukan aku?" tanya Erine mulai kesal. "I'm just kidding, that's awful. Mereka tidak seburuk yang Kau pikirkan, Mir." ujarnya lagi.
"Well, well, well. Nice try, Erine. Kau cukup menakuti jiwa pemberani ku." sindirnya merasa dibohongi.
Erine terkekeh, "Apakah, Aku sudah diperbolehkan bekerja?"
"Terserah kau saja. Bagaimana jika bekerja di butik ku? Kita bisa lebih sering bertemu, aku senang menerima kehadiranmu." tawar Mira antusias.
"Tidak! Aku sudah cukup merepotkan mu dengan tinggal di apartemen ini, Mir. Aku ingin membangun usahaku sendiri, membuka usaha bunga juga kursus melukis. Setidaknya, Aku memiliki sertifikat tingkat nasional untuk di jadikan acuan." jelas Erine panjang lebar.
"Kau benar-benar susah menerima niat baikku, Rin. Baiklah, baiklah, lakukan apa yang kau inginkan, Erine. Aku memiliki kenalan yang menyewa kios kaca tepat di pusat kota. Apa Kamu berminat membuka usaha di sana?" tawar Mira lagi.
"Tentu, itu tempat yang tepat untuk memulai bisnis baruku." girang Erine mendengar lokasi kios tersebut.
Mira tertawa melihat kegirangan Erine, "Dari mana kau mendapatkan uang itu, Rin?"
"Aku memiliki tabungan, cukup untuk menghidupi aku dan anak-anak. Selama di sana, aku bekerja dan digaji. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuka usaha." jawab Erine santai.
"Ibu yang patut dicontoh." jujur Mira menatap ketangguhan Erine.
"Kau juga, cepatlah menikah. Aku ingin melihat bagaimana tingkah putra-putri mu kelak." canda Erine terkesan mengejek.
"Kau memulainya lagi, sudah ku katakan, bukan? Pernikahan tidak semudah itu." jawabnya malas.
"Jika tidak mau menikah, bukankah kau bisa menyewa rahimmu? Atau mungkin, Kau bisa menyewa benih pria." ejek Erine yang membuat Mira melotot tak percaya.
"Kau, benar-benar, gila! Aku tidak sepicik itu, Erine. Jika bukan mengingat persahabatan kita, aku sudah memukulmu habis-habisan." umpat Mira tak terima dengan candaan Erine.
"Ayolah, aku hanya bercanda. Aku baru saja membaca sebuah novel online, kupikir kau menginginkannya. Melihat ketidaksukaan mu terhadap pernikahan tapi menyukai anak-anak. Walaupun sedikit menyukai anak-anak." kekeh Erine melihat raut wajah kesal yang ditunjukkan Mira.
"Kau menyebalkan, Erine. Sungguh!" jujur Mira.
"Aku tau, Mir. Tapi, kau lebih-lebih menyayangiku dari rasa kesal mu itu, bukan?" Goda Erine.
"Jangan tanyakan itu. Kau tau, aku geli mengakuinya." ungkap Mira geli dengan jawaban yang akan ia berikan.
...
...🕸🕸🕸......
Happy Reading🤍
Jangan lupa vote and comment 🤍
"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."