INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 18



..."Jika kematian musuh bentuk dari kemenangan, maka membunuhmu akhir dari kekalahan."...


...-Erine Artinka...


..."Bunuh jika kau mau, bertahan jika kau benar mencintaiku."...


...-Ammar Irsyad Nawansa...


🕸️🕸️🕸️


"Erine."


"K—kau?! Apa yang kau lakukan di sini?"


Reflek Erine mundur mengikuti gerak Ammar yang terus mendekatinya.


Ammar tersenyum tipis, menyelami netra coklat yang selama ini ia rindukan. "Mencari wanitaku."


"Wanitamu?! Kau bercanda, haa? Ini toko bunga, bukan kandang jal**g!"


"Aku tidak mengatakan jal**g, Rin. Tapi wanitaku, apa menemui wanitaku harus memiliki alasan?... Atau— haruskah. Mas, beralasan ingin membeli setangkai bunga untuk menemuimu?" Ujarnya terus memojokkan Erine yang tampak pucat pasi.


"Menjijikkan! Berhenti membual. Kau sungguh membuatku mual. Sekarang bisa kau pergi?!" ketus Erine yang berada diakhir langkah menyentuh dinding, tanpa sengaja menjatuhkan bunga dalam genggamannya.


"Mas, merindukanmu, Dek. Sangat!"


"Bull***t! Kau kira itu lelucon yang bagus? Enyahlah! Aku tidak ingin melihat wajahmu. Tidak, sampai aku bisa membunuhmu!" Kecam Erine dengan sorot tajam.


"Erine—"


"Pergilah, Mas! Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu!" Ujarnya memotong ucapan Ammar.


Ammar memojokkan Erine lebih dalam, merangkul pinggang wanita itu dengan sebelah tangan.


"Erine, this is a misunderstanding. Mengertilah. Mas, mohon."


"I don't give a f**k!"


Ammar menyentuh wajah Erine dengan sebelah tangannya yang bebas, namun dengan cepat Erine menepis tangan tersebut.


"Don't touch me!"


"Why? Mas sungguh merindukanmu, Rin."


"Haruskah aku merayakannya? Kau membuatku muak, Ammar. Kau sudah cukup mengotori tempat ini dengan kehadiranmu. Jangan menambah kotoran lagi dengan rindu bodoh itu."


"Tidak. Katakan kau juga merindukanku."


"Kau mabuk, haa?! Aku tak pernah merindukan bajingan sepertimu! Teruslah bermimpi!!"


"Please, don't say that! Kau menyakiti ku."


"F**k it!"


"Erine—"


"Get the f**k out of here!" Usir Erine lagi.


Ammar kukuh tidak ingin meninggalkan Erine. "Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja, kan?" Tanya Ammar lembut.


"It's none of your business, Ammar!" ujar Erine penuh penekanan dan kembali menepis tangan Ammar dari wajahnya.


"It's none of my business? Kau salah. Segala tentangmu penting untuk, Mas. Apa sebesar itu kebencianmu, Dek?" tanya Ammar lemah.


Erine terkekeh dengan sorot mata tajam, menarik kuat kerah kemeja Ammar hingga menyisakan jarak beberapa centi antara wajahnya dan Ammar.


"Kau sungguh bodoh atau hanya berpura-pura bodoh?" perlahan telunjuk Erine mengitari wajah Ammar hingga ke rahang tegasnya.


Kedua netra coklat tersebut saling beradu pandang. "Apa sekarang, kau bosan dengan ****** di rumahmu? Kau membuat kutersanjung, Mas. Tapi... Sungguh disayangkan. Baji***n sepertimu tidak layak untukku! Kau terlalu menjijikkan! Tubuh ini terlalu bau, sungguh kotor!" Cerca Erine mutlak.


"Erine. Hentikan. Kau menuduhku terlalu dalam. Lupakan, kau sudah makan? Ingin makan malam bersama?" tanya Ammar, mengabaikan ujaran kebencian yang dilontarkan Erine.


Erine sungguh jengah dan hendak mendorong sedikit tubuh Ammar yang memojokkannya, namun tenaga Ammar tak sebanding dengannya.


"Pergi! Jangan mengganggu ku, lagi. Aku makan atau pun mati, tidak harus melibatkan kau! Lebih baik kau tinggalkan toko ini, sekarang!"


"Rin..."


"Cukup!" Erine kembali mencoba mendorong tubuh Ammar, namun nihil.


"Jangan lakukan ini."


"Kenapa?! Ini kenyataannya, Ammar. Kau dan aku bukanlah orang yang sama. Kebahagiaan ku lengkap tanpa kau. Bahkan kabar kematian mu, jauh lebih aku nantikan. Sekarang mengertilah!!"


Ammar menghimpit kuat tubuh Erine, menghapus semua jarak yang sempat tersisa. Perkataan Erine melukai hatinya yang selama ini selalu memikirkan wanita itu.


'Aku tidak menyalahkan mu, Rin. Sungguh!'


Ammar menyelami mata indah milik Erine, turun ke hidung, dan berakhir di bibir merah muda yang menggodanya untuk segera dinikmati.


'Jangan Ammar. Tidak. Lakukanlah, kau merindukannya, kan? Jangan. Lakukan.' pikiran Ammar tampak berperang hebat.


Perlahan Ammar menangkup leher Erine, tangannya yang lain semakin melingkar erat di pinggang wanita itu guna menaikkan tubuhnya, tanpa aba-aba menyatukan bibir mereka dengan lembut.


Erine yang semula terhanyut tatapan teduh Ammar, sontak tersadar dan mencoba memberontak. Namun, Ammar memahami Erine lebih dari yang wanita itu tahu.


Erine kalah, ia juga menginginkan ciu**n ini mengikuti ritme yang Ammar berikan. Tanpa sadar, Erine melingkarkan kedua lengannya di leher Ammar, sesekali meremas rambutnya kasar.


Ammar menyatukan kening mereka yang masih menghirup udara, dengan jantung yang terus memompa cepat.


"Kamu membohongi dirimu, Dek. Kau juga merindukan, Mas. Sangat merindukan, Mas!" ujar Ammar dengan deru nafas yang belum stabil.


Erine menurunkan lengannya menyentuh dada bidang Ammar, meremas kemeja yang Ammar kenakan menyesali kebodohannya.


Ammar merasa perasaannya kembali membaik. Ammar membawa Erine yang terdiam kedalam pelukannya, mengecup puncak kepala Erine berkali-kali.


Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan tapi bisa dirasakan. Pada dasarnya, cinta dan benci satu hal yang berbeda tipis, hanya akan membuatmu hidup dalam kepahitan secara bersamaan.


Suara denting pemberitahuan seseorang memasuki toko kembali berbunyi. Membuat Ammar dan juga Erine melepaskan diri satu sama lain.


Ammar berpura-pura melihat rangkaian bunga tulip berwarna kuning. Sedangkan Erine, bergegas melihat pengunjung yang baru saja datang.


"Selamat malam, Ingin mencari bunga, Pak?" tanya Erine lembut.


"Iyaa, Saya mencari bunga matahari yang sudah dirangkai. Apa ada?" jawab bapak itu pada Erine.


"Bunga matahari ada di sebelah sana, Pak. Silahkan dilihat dulu." Erine menunjuk tempat di mana Ammar berada, karena letak bunga matahari dan tulip memang bersebelahan.


Bapak tersebut sontak menatap Ammar, kemudian tersenyum menjulurkan tangan. "Pak, Ammar. Anda juga mencari bunga?" sahutnya akrab.


Ammar yang termenung menatap bunga tulip, beralih menatap tangan lelaki paruh baya yang menyapanya ramah. "Oh. Pak, Ibran. Saya hanya mencari setangkai mawar yang hilang—mungkin 5 tahun lalu." Jawab Ammar terdengar ambigu dan balas menjabat tangan tersebut.


Pak Ibran terbahak. "Kau terlalu pandai bercanda. Saya ingin membeli ini." ujar Ibran mengambil sebuket bunga Matahari yang telah dirangkai.


...



...


"Bunga yang indah." Puji Ammar.


"Seindah yang memesannya." Ibran mengingat wajah istrinya.


"Anda begitu mencintainya, sungguh terlihat jelas." 


"Anda juga, siapa pun yang melihatnya. Akan menyadari itu." ujar Ibran tersenyum canggung. "Ah, saya buru-buru, mungkin di lain waktu kita bisa berbincang di luar pekerjaan." pamitnya undur diri.


Ibran berjalan mendekati Erine yang duduk termenung di meja kasir, tidak jauh dari tempat Ammar berdiri. "Saya ingin ini, berapa?"


"125.000, Pak."


Ibran mengeluarkan tiga lembar uang lima puluh ribuan dan memberikannya pada Erine.


Erine mengambil kembalian dan memberikannya pada Ibran, "Ini kembaliannya. Terima kasih." tutur Erine ramah.


"Sama-sama." Ibran mengambil dua lembar tisu di sudut meja, memberikannya pada Erine. "Saya rasa, kamu memerlukan ini, makan malammu terlihat lezat tapi juga—ganas. Berhati-hatilah." ujarnya terkekeh melirik Ammar yang juga meliriknya.


Ibran berlalu pergi meninggalkan Erine yang masih kebingungan dan Ammar yang terlihat meredam rasa malu. "Lipstikmu benar-benar tidak pandai berbohong, Dek."


Erine mencerna kalimat Ammar, saat tersadar, dengan cepat Erine membuka laci mengambil kaca kecil milik Alin.


"Aiish... Ini semua karenamu! Sekarang Kau bisa pulang, kan? Pergilah!" pekik Erine merasa sangat malu melihat lipstiknya yang berantakan.


'Kesialan macam apa ini.'


Ammar tersenyum menatap wajah memerah Erine. Sudah lama Ammar merindukan kebersamaan mereka, menikmati wajah Erine dan canda tawa wanita di hadapannya.


"Baiklah. Mas, pulang dulu, jaga kesehatanmu, Dek." ujar Ammar berjalan mendekati meja kasir, namun dicegah oleh Erine.


"Berhenti! Pulanglah, aku ingin sendirian! Ku mohon!" usir Erine.


Ammar mengangguk, berbalik pergi dari hadapan Erine. Senyum menemani langkahnya hingga keluar toko, Ammar merasa hidupnya kembali bersinar setelah melihat Erine dalam keadaan baik—mungkin lebih.


Erine menatap punggung Ammar yang hilang di balik pintu, memasuki mobilnya, dan berlalu pergi. Pandangan Erine memburam, air di pelupuk mata mulai menggenangi wajahnya.


"Brengsek! Apa yang kulakukan. Kau bodoh Erine. Bodoh! Kau menikmatinya... Astaga, bajingan itu benar-benar. Kau kembali mengacaukan ku brengsek!." Umpat Erine setelah kepergian Ammar.


"Aaghh... Ini semua karena kau! Anakku harus kehilangan sosok ayah. Karena kau, aku harus mendekam di balik jeruji besi, dan karena kau juga, aku melahirkan mereka di tempat itu. Bahkan aku kehilangan masa pertumbuhan anak-anakku! SEMUA KARENA KAU, AMMAR! KARENA KAU! " Rutuknya lagi.


Erine menangis terisak memeluk lututnya erat, kesedihan masalalu benar-benar membuatnya hancur berantakan.


"Dan dengan bodohnya, perasaan ini masih menyebut namamu. Aku benci padamu, Ammar! Sangat-sangat membencimu!" Cerca Erine tak kuasa menahan tangis.


...



...🕸️🕸️🕸️......


Happy Reading🤍


Akhir-akhir ini aku seneng baca komentar kalian. Terutama sambutan baik kalian dengan cerita ini.


Semoga kalian terus dukung author untuk  melanjutkan cerita ini, dengan Like and comment.


"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."


Terima kasih


🤍