INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 17



..."Aku bukan pelita yang bisa menerangimu, tapi aku perisai yang siap melindungimu."...


...-Arland Kastara Nawansa...


..."Aku bukan penyair yang handal, tapi kupastikan perkataanku benar adanya."...


...-Arlind Kumara Nawansa...


...🕸🕸🕸...


...



...


Mentari bersinar dengan indahnya, awan-awan putih menari girang menghias langit. Pepohonan rindang di sekitar kios siap siaga menghalangi cahaya terik yang sibuk mengintip.


Tepat 3 hari lalu, toko bunga serta khursus lukis milik Erine resmi dibuka. Erine menata sedikit bunga di bagian depan toko dan menempel papan nama bertuliskan 'Al twins flowers'. Sempurna.


Kios yang Erine sewa cukup besar, memiliki 1 ruang istirahat dan 1 kamar mandi di setiap kiosnya. Kebetulan, Erine menyewa dua kios yang terhubung langsung, cukup untuk menjaga kenyamanan pengunjung juga anak didiknya nanti.


Salah satu ruangan digunakan untuk tempat Erine beristirahat bersama si kembar dan satu lagi digunakan untuk tempat ia bekerja menyelesaikan lukisan yang akan dijual dan menghitung hasil pendapatan dari toko bunganya setiap hari.


Erine sempat melukis dinding tempat ia membuka khursus. Erine melukis Pohon rindang di pinggir sungai, tampak seorang wanita duduk di bangku tepat di sebelah batang pohon bersama putra dan putrinya. Mereka menghadap sungai, hanya memperlihatkan punggung dengan daun kering berguguran di sekeliling mereka.


"Astaga, di mana aku menghilangkannya. Kau sungguh ceroboh, Erine." Sungut Erine pada dirinya sendiri.


Erine bergerak kesana-kemari mencari cat berwarna merah yang entah sejak kapan menghilang dari kotaknya, mengusik pemandangan Alan yang merangkai bunga mahkota.


"Bunda cedang apa?"


"Eh, Al, apa Bunda mengganggu waktu bermain mu? I am so sorry, dear."


"Tidak, bund. Alan tidak telganggu."


"Syukurlah."


Alan menatap wajah Erine penuh tanya, "Bunda cedang apa?"


"Hmm, Begini. Bunda baru saja menghilangkan salah satu cat warna yang biasa Bunda gunakan. Kemungkinan jatuh di sekitar sini. Alan tidak perlu khawatir."


"Hmm, Bunda yakin?"


"Tentu. Lanjutkan kembali bermainnya, Bunda masih harus mencari cat itu."


"Tidak pellu, Bunda. Kenapa tidak langcung menanyakan Alin, caja?"


"Alin? Bukannya adikmu bermain, lego?"


Alan menggeleng, "Tidak. Bunda akan tau cetelah melihatnya."


"Baiklah. Lanjutkan bermainnya, jangan hiraukan, Bunda."


Erine berjalan ke sudut ruangan, tepat di depan pintu ruang istirahat mereka. Beralaskan sebuah karpet bulu berwarna green, Alin duduk dengan tumpukan lego dan bibir yang terlihat merah.


"Astagfirullah, Alin!" Erine menangkup kedua pipi Alin, menatap bibir merahnya tak percaya.


Alin nyengir kuda melihat raut wajah syok ibunya, "Bunda, lihat. Cudah cantik, kan? Tante Mila celalu memakainya. Alin juga mau." ujarnya tak merasa bersalah.


"Alin, ini bahaya. Ikut, Bunda." Erine menggendong Alin, membawanya ke kamar mandi.


Selesai membersihkan mulut Alin, Erine mulai menceramahi putri kecilnya yang luar biasa mampu membuatnya pusing setiap waktu, "Alin, kamu tau apa yang akan Bunda sampaikan?"


Alin menggeleng, "Apa Alin mengambil cat Bunda secara diam-diam?" tanya Erine lagi


Alin kembali menggeleng.


"Apa Alin tau letak kesalahan, Alin?"


Alin masih menggeleng tidak tahu.


"Hmm... Baiklah. Bagaimana Alin mendapatkan, Ini?" ujar Erine menunjuk cat yang berada di karpet sambil memasang pakaian baru pada Alin.


"Alin dapat di citu, Bunda." Jujur Alin menunjuk pintu penghubung ruang lukis dan toko bunga.


"Alin, jika menemukan sesuatu beri tau, Bunda. Untung kakakmu melihatnya, jika tidak? Ini berbahaya jika tertelan, Sayang." Nasehat Erine.


"Bunda. Colli. Apa Alin mengecewakan Bunda, lagi?"


"Tid—"


"Kamu celalu begitu, Alin." ujar Alan memotong ucapan Erine.


"Alan..." tegur Erine.


"Alan, bicala yang cehalusnya, Bunda. Alin memang menyebalkan. Tidak mau belajal dali kecalahan."


"Kau—Bunda, em colli. Alin tidak ulang lagi, janji kelingking." ujar Alin merasa bersalah dan memberikan jari kelingkingnya.


"Sayang, Bunda tau Alin hanya bermain. Lain kali, bermain dengan mainan yang Bunda belikan saja. Itu lebih aman untuk dimainkan. Mengerti?" tutur Erine lembut.


Alin mengangguk sambil menundukkan kepala. Alan berjalan mengambil bunga yang sudah selesai ia rangkai menjadi mahkota dan memberinya kepada Alin yang terlihat murung.


...



...


"Pakai ini, aku menemukannya di luang kelja, Bunda."


Erine yang mengetahui kebohongan putranya tersenyum geli. Alan memang terlihat cuek di diluar, jika seseorang mengenalnya lebih dalam, maka ia akan menemukan sosok lembut pada diri putranya.


Alin melirik mahkota bunga itu sambil tersenyum girang, "Wahhh... Ini Indah cekali. Bunda yang membuatnya? Benalkah?!" tanya Alin antusias.


Erine melirik Alan yang memilih pergi dari pada berkata jujur pada adiknya, "Bukan. Seorang pangeran baik hati yang membuatkannya untuk Putri kesayangan, Bunda. Alin suka, kan?!" jawab Erine tersenyum hangat.


"Cuka! Alin ingin memakai ini, Bund. Alin ingin rambut Alin dibuat seperti Putli laja."


Erine mengambil sisir dan ikat rambut berwarna-warni, membentuk rambut Alin seperti memakai sanggul dan meletak mahkota bunga di atas kepala putrinya.


"Bagaimana? Do you like it, honey?"


"Of course. I like it, Bunda. Cungguh! Ini cantik!" jawab Alin melihat dirinya di depan cermin.


"Alin, kamu ingin membalas kebaikan pangeran itu, kan?"


Alin mengangguk semangat. "Mau..."


"Kemari, dan berikan ini." ujar Erine memberi Alin sebuah kotak berisi perekam suara dengan ukiran bertulis 'Alan' di atasnya.


"Ini apa, Bunda? Dan—dimana pangelannya?" ujar Alin celingak-celinguk mencari sosok pangeran dalam imajinasinya.


"Ini perekam suara. Alin lihat kesana, sudah? berikan ini pada pangeran itu, okay?"


"Itukan, Kak Alan. Kenapa bund—" Alin membulatkan mulut kecilnya. "Benalkah? Kak Alan, yang membuatkannya?" ujar Alin tak percaya.


Erine mengangguk sambil memberi kode mata pada Alin untuk memberikan perekam suara itu segera. Alin berlari mendekati Alan yang duduk di kursi tunggu dalam toko tepat menghadap jalanan.


"Kak Alan, kemali. Lihat, Alin cantik, kan?"


"Tidak."


"Cungguh? Apa mahkota ini juga jelek?"


"Ya. Cangat jelek."


"Hei! Ini bagus, tau. Apa lagi buatanmu! Aku menyayangimu Kak. Cangat!" ujar Alin memeluk erat tubuh Alan.


"Hei. Hei! Apa yang kau lakukan? Belhentilah memelukku bodoh." ketus Alan.


Alin menatap kesal wajah dingin Alan, "telima kacih, Kak. Aku menyukai ini. Cungguh."


"Bukan aku yang membuatnya." bohong Alan.


Alin terkekeh dan memberikan kotak yang berisi perekam suara tersebut pada Alan. "Ini. Untukmu. Kamu cuka, Kak?" ujar Alin tersenyum manis.


"Apa in— dali mana kamu mendapatkannya?" tanya Alan tak percaya.


"Ibu peli yang membelikannya." ujar Alin mengikuti alur cerita ibunya.


Mereka tertawa bersama, duduk berdampingan menatap jalanan yang dipadati kendaraan. Hanya mereka berdua, menikmati hiruk pikuk jalanan seakan sebuah hiburan yang menyenangkan.


...



...


🕸️🕸️🕸️


Fajar menyingsing digantikan malam, pertanda Erine sudah menutup satu toko miliknya. Toko khursus yang sengaja tutup lebih awal, dari pukul delapan hingga jam lima sore. Sedangkan toko bunga buka hingga pukul sembilan malam.


Erine meminta Mira membawa kedua anaknya untuk pulang lebih dulu, mengingat ia bisa sampai rumah pukul sebelas malam hari ini.


Sunyi menyapa. Kepingan masalalu terasa kembali tersusun rapi di benaknya.


"Kau bodoh Erine, bener-benar wanita bodoh. Dia menyakitimu. Kau masih bisa merindukannya?! ****!!" Hingga tanpa sadar tangannya meremas tangkai bunga berduri yang mengeluarkan sedikit darah.


"Aaghh.."


Suara denting pemberitahuan seseorang memasuki kios mengalihkan pandangan Erine, yang semula menata rangkaian bunga, kini menatap arah pintu.


Seluruh tubuh Erine terasa menegang, persendian yang tadinya bekerja normal seakan berhenti berfungsi. Erine tercekat ludahnya sendiri, oksigen di sekitar mulai lenyap tak bersisa.


Langkah sepasang kaki bersepatu kulit terasa semakin menipiskan jarak di antara mereka. Erine yang sejak tadi berdiri di pojok ruangan semakin mengeratkan pegangan pada tangkai bunga yang telah melukai tangannya.


Hentakan merdu yang beradu antara sepatu dan lantai marmer seakan menusuk pendengaran.


Erine menatap nyalang netra coklat yang dulu menjadi candu, kini berubah menjadi benalu yang setiap waktu menggerogoti tubuhnya.


"Erine."


"K—kau?! Apa yang kau lakukan di sini?"


...



...


...🕸🕸🕸...


Happy Reading guys!!


Kalian suka cerita ini? Terus nantikan update berikutnya.


Bantu Like dan comment, dan share ke teman-teman juga ya.


Terima kasih🤍


"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."