INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 24



Ammar memarkirkan mobilnya tepat di samping toko. Menuruni mobil dengan tergesa-gesa untuk menemui sosok Erine dan mencari kebenaran informasi yang Arman dapatkan.


Dari luar Pintu kaca. Ammar menatap Erine terlihat sangat kelelahan, dengan bersandar pada punggung kursi dan memijat pangkal hidungnya sendiri, yang belum sadar jika Ammar memperhatikannya sejak tadi.


Ammar melihat jam dinding yang berada di depan pintu toko menunjukkan pukul lima sore. Ia menghela nafas kecil melihat Erine kembali berkutat dengan kuas dan cat warna, tidak menyadari jika salah satu warna mengenai pipi kanannya.


Apa Erine tidak memikirkan kesehatannya sedikitpun? Bahkan terakhir kali ia menemui Erine, wanita itu masih bekerja hingga pukul sepuluh malam, tidak terlihat tanda-tanda akan meninggalkan toko.


Ammar melangkah masuk, menyatukan pandangannya dan juga Erine yang terlihat terkejut menyadari kehadirannya.


"Kenapa kau datang?!"


Ammar melangkah mendekati Erine, "Hanya bertamu. Apa salah? Kamu tidak sibuk, kan? Bisa kita berbicara sebentar?"


Erine menatap kamar tempat anak-anaknya beristirahat, mereka masih tidur sejak siang tadi. Jika Ammar terus di sini hanya akan membuat kekacauan semakin besar.


"Aku sibuk! Kau bisa lihat, aku bekerja. Pergilah!"


"Hanya sebentar, Dek. Mas mohon."


"Pergilah, Mas! Kau hanya mengganggu pekerjaanku, aku bukan anak yang terlahir kaya sama sepertimu. Aku perlu bekerja ekstra untuk menafkahi hidupku sendiri!"


Ammar menatap Erine penuh selidik, "menafkahi dirimu sendiri? Kamu yakin hanya dirimu?"


Erine menatap Ammar terkejut, "a—apa maksudmu?"


Ammar mengambil setangkai mawar marah segar dari ranjang tepat di samping kanannya.


"Tidak ada. Mas hanya bertanya. Mengapa kau begitu gugup?"


"A—aku tidak gugup. Aku hanya... Aku hanya malas berbicara denganmu." Ujarnya beralasan.


"Oh, benarkah? Kau tidak menyembunyikan sesuatu, kan?"


"Itu bukan urusanmu!"


Ammar berjalan mendekati Erine, membawa setangkai bunga yang sejak tadi ia genggam. Erine yang melihat pergerakan Ammar mewanti-wanti jika saja hal buruk terjadi.


"Jangan mendekat! Kau bisa diam di sana, jangan mendekatiku!"


Ammar terkekeh kecil, "Aku ingin membeli bunga ini. Bagaimana aku membayarnya jika kau tidak mengizinkanku mendekat?"


"Untuk apa kau membeli bunga ku? Terlalu banyak toko bunga di luar sana, kau bisa mencari bunga di tempat lain."


"Kamu tau, Dek. Menolak pembeli disebut juga menolak rezeki. Kamu tidak ingin menolak rezeki, kan?"


Erine menatap Ammar malas. "Itu hanya berlaku jika pembelinya bukan kau!"


"Kenapa dengan, Mas? Mas juga manusia, tidak salah jika menyukai bunga juga penjualnya jika diizinkan."


"Bermimpi lah dalam tidurmu!" Rutuk Erine tak senang.


Ammar kembali mendekati Erine, kini mereka hanya terpisah jarak oleh meja kasir.


"Istirahatlah, kau terlihat lelah."


"Bukan urusanmu! Katakan, apa tujuanmu datang ke tempatku?"


Ammar melihat sekeliling, hingga sebuah kamar menarik perhatiannya. Erine yang menyadari pusat perhatian Ammar mengalihkan pandangan pria tersebut.


"Kenapa kau diam?"


Ammar menatap Erine penuh kerinduan, "Aku—tidak. Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"


Erine mengernyit bingung, "sudah seharusnya aku menyembunyikan segala hal dari baji***n sepertimu. Jadi... Kau paham maksudku, kan?"


"Rin... Bukan itu yang Mas maksud."


"Aku tidak ingin memahami maksudmu. Sekarang, tolong kau pergi! Aku sungguh muak melihat wajahmu! Bisakah kau paham itu?!"


"Tidak! Sebelum kau mengatakan semuanya." Kukuh Ammar.


"Apa maumu, haa? Kau ingin membuat kekacauan di tokoku? BERHENTILAH MENGGANGGU HIDUPKU!" Sergah Erine cukup keras hingga membangunkan Alan dan Alin.


"AKU MAU KAU!"


Erine membuang nafas kasar. "Aku tidak berminat memungut sampah!" Sindir Erine tajam.


Tanpa mereka sadari Alan dan Alin berjalan keluar melihat perdebatan yang telah mereka lakukan.


"Bunda..." Ujar Alin dengan wajah bangun tidur.


Erine mematung di tempat melihat kehadiran anaknya, ia sempat melupakan keberadaan Alan dan Alin. Sedangkan Ammar, menahan sesak menatap anak yang sempat ia temui di pusat perbelanjaan kini berada di hadapannya memanggil Erine dengan sebutan 'Bunda'.


Benarkah ini, Mereka benar anakku?.


"Apa yang teljadi?" Tanya Alan datar.


"K—kau..." Ammar tak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Sayang, kamu sudah bangun. Bisa kalian menunggu bunda di dalam. Bunda ada sedikit urusan di sini." Ujar Erine Lembut berjalan mendekati anaknya.


"Bu—Bunda... Dia..." Alin tergagap menatap Ammar.


"Alin, ayo! Bunda meminta kita menunggunya di dalam."


"Tapi, aku—"


"Ayolah, Alin!" Alin pasrah dan hendak mengikuti Alan.


"Tunggu!" Ucap Ammar menahan kepergian Alan dan Alin.


"Apa mau mu?!" Tanya Erine tak senang.


"Apa mereka anakmu?"


"Kau tidak perlu tau. Sekarang bisa kau pergi?!" Ujar Erine menunjuk pintu.


Ammar  berjalan mendekat dan menurunkan tangan Erine perlahan.


"Benar aku ayahnya?" Tanya Ammar serius.


Alan dan Alin menatap Ammar intens, sedangkan Erine memilih bungkam tidak ingin menjawab pertanyaan Ammar.


"Katakan! Benar mereka anak Mas, Dek?! "


"Kenapa, Ammar? Mereka anakku, hanya anakku. Kau tidak ada hak menyebut mereka anakmu!"


"Mas berhak tau, Rin. Mengapa kau menyembunyikan hal sebesar ini. Kenapa tidak mengatakannya sejak dulu?!"


Erine terisak menahan sesak di dadanya. "Kau yang membuatnya rumit Ammar! Kau yang membuatnya hancur. Kau yang menceraikan ku saat itu. Dan sekarang, kau datang kembali untuk mengacaukan hidupku. Bisakah kau berhenti dan menjadikan kita sebagai orang asing saja?!"


"Tidak. Jangan katakan apa pun. Maafkan Mas, Dek."


Alin berjalan mendekat, memeluk kaki jenjang ibunya dengan wajah yang basah. "Bunda, jangan menangis."


Alan ikut terisak, sedikit banyak ia memahami masalah orang tuanya. Dipaksa dewasa sejak dini membuat Alan menjadi sosok yang dingin tidak seperti Alin yang sulit memahami permasalah orang dewasa.


Ammar melepas pelukannya pada Erine saat dirasa ia sudah tenang. Ammar berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Alin yang terus terisak.


"Kemari..." Alin menatap Erine kemudian menatap Ammar yang sudah merentangkan tangan.


Alin melepas kaki Erine, menerima dekapan hangat ayahnya—ya ayahnya.


Ammar mengecup setiap inci wajah Alin,  hingga terakhir mengecup lama puncak kepala Alin. Menyalurkan ketenangan pada putri kecilnya.


🕸🕸🕸



Slap.


Tubuh pria berkepala plontos itu menegang dan kaku seketika tak kala sebilah pisau menancap tepat di daun pintu yang berada di belakangnya.


Manik matanya menatap horor pada pisau tersebut lalu dengan gerakan kaku kembali menatap kedepan.


"Ah... Sayang sekali. Aku meleset, Kak."


"Kau beruntung, bung." Ujar pria berjubah coklat pada pria berkepala plontos.


Pria berkepala plontos sontak bergerak mundur menjauhi sepasang kakak beradik berjiwa psikopat di hadapannya.


"Kak, bolehkah aku mencobanya sekali lagi? Aku belum puas jika tidak mengenainya."


Suara tawa nyaring menggema kencang seisi ruangan. "Hahaha... Hentikan Kar, kau bisa mencobanya lain kali. Kakak memiliki banyak peliharaan untuk menemanimu bermain."


"Aku tidak ingin menunggu, Kak."


"Tidak sekarang, honey. Kau ingin membuang waktu dengan mainan seburuk ini, hm?"


Karina mendengus kesal, namun tidak berniat membantah saran kakaknya. Mainan baru juga tidak buruk, pikirnya gamblang.


Dengan santai Karina berjalan mendekati pria yang sejak tadi gemetar ketakutan melihat dirinya.


"Astaga, kau mengompol?! Kau sungguh menjijikkan. Hen... Hendri! Bawa pria menjijikkan ini dari hadapanku!" Perintah Karina.


Hendri yang mendapat perintah bergegas mengangkat pria berkepala plontos dari hadapan Karina.


"Kau lihat, mereka hanya akan membuang waktumu."


Karina mendengus kesal, "Aku sedang kesal kak. Kau tau, Ammar? Baji***n itu terus melawanku."


"Kau yang memilihnya, Kar. Aku sudah melarang mu merebut pria beristri."


"Kau membelanya, Kak?"


Pria berjubah coklat tersebut berdiri mendekati Karina. "Tidak. Sekarang katakan, apa yang kau inginkan?"


"Kau ingin membantuku, Kak? Sungguh?!" Tanya Karina semangat.


"Tentu. Kau adikku satu-satunya. Semua keinginan mu, tidak ada yang tidak bisa kau dapatkan."


Karina memeluk erat tubuh pria di hadapannya. "Kau pantas disebut Qing Dotay. Hanya kau yang mengerti keinginan ku."


"Kau bahagia?"


"Ehm, belum. Aku ingin membalas rasa sakit ini. Kau harus membalas sakit hatiku selama ini, Kak."


"Kepada Ammar?"


Karina menggeleng cepat, "Tidak. Kau jangan pernah menyentuh priaku. Aku hanya ingin kau menghancurkan mantan istrinya, aku ingin kau memberinya rasa hidup segan mati tak mau."


Qing Dotay menautkan kedua alisnya bingung, "kenapa wanita itu? Bukankah mereka sudah berpisah. Kau tidak bisa menyakiti orang yang tidak bersalah, Kar."


Karina melepas pelukan kakaknya, "kau telah berjanji, Kak. Aku tidak ingin kau melanggar janjimu."


"Bukan begitu maksudku. Kau tau cara kerjaku, Kar. Semua mainan mu juga berasal dari masyarakat sampah yang bermasalah. Kau tau itu, kan?"


"Aku tidak ingin dengar alasan apa pun. Sekarang kau pilih, menuruti keinginanku atau tidak usah berbicara denganku lagi." Ancam Karina tegas.


Qing Dotay mengusap wajahnya gusar, Karina selalu mengancam dirinya dengan sesuatu yang sulit ia abaikan.


Karina berjalan mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang berada di dalam gedung terbengkalai. Markas rahasia milik kakaknya yang merupakan salah satu mafia besar.


"Jawab aku! Kau setuju dengan keinginanku, atau kita akhiri sampai di sini saja. Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu, Kak."


Qing Dotay masih berdiam diri, keputusan yang ia ambil bukan sesuatu yang mudah. Karina menjadi seperti ini juga termasuk karena ulahnya.


Ia terlalu memanjakan gadis di hadapannya, hingga rasa sayang yang berlebihan membentuk watak buruk pada diri Karina.


"Baiklah. Jika kau tidak ingin membantuku. Aku harus pergi! Kak tidak perlu lagi mencari tau apa pun tenang hidupku." Ujar Karina beranjak dari duduknya.


"Tunggu, Kar!"


Karina memutar tubuhnya menghadap Qing Dotay, "apa lagi?"


"Aku akan melakukannya. Sekarang kau sudah puas? Berhenti mengancam kakak dengan dirimu. Kau tau aku menyayangimu. sangat!"


"Sungguh?! Kau tidak menipuku, Kak?!"


"Ya. Aku berjanji padamu."


Karina berlari memeluk tubuh Qing Dotay dengan Erat, di balik bahu kakaknya ia tersenyum devil. Bersorak gembira melihat kepatuhan kakaknya, rasa puas yang melambung tinggi karena rencananya berhasil.


Sedikit lagi. Tinggal menunggu hasil dan menjadikan Erine sebagai mainan barunya. Mainan yang akan membuat Ammar tak bisa berkutik dan hanya bisa tunduk juga mematuhi segala perkataannya.


'Priaku tetaplah milikku.'



🕸🕸🕸


Happy Reading!! 🤍


Jangan lupa like and comment.


Beri vote jika kamu menyukai cerita ini.


Terima kasih.