INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 10



Beberapa bulan kemudian...


"Erine, yang kuat, Rin. Tarik nafas dalam-dalam, keluarkan." ujar Liza menginstruksi Erine yang merintih kesakitan.


Erine menggeleng lemas, "Aaahh...hah...hah... Sakit, Liz." pekik Erine meremas lengan Emma dan Tatik.


"Rin, sedikit lagi. Tarik nafas dalam-dalam... Ngejan Rin!"


"Aaaahh.. Haah... Hah.."


Oeekk... Oekk...


Suara bayi menangis memenuhi sel tahanan, tampak rekan-rekan satu sel Erine bahagia menyambut kedatangan bayi mungil itu.


"Laki-laki! Bayinya laki-laki!" ujar Liza semangat pada tahanan lain, "bayimu laki-laki, Rin." ujarnya lagi, kali ini pada Erine yang tersenyum lemah.


Selang beberapa menit, Erine kembali merasakan sakit yang sama seperti melahirkan anak pertamanya. "Liz, sakit. Liza tolong, Liz." Racau Erine lagi.


Liza menyerahkan anak pertama Erine pada salah satu tahanan lain untuk dibersihkan, kemudian bergegas kembali keposisi awal saat membantu Erine melahirkan anak pertamanya.


"Oke-oke, tenang... Seperti sebelumnya, Rin. Kali ini nggak sesakit yang awal. Kamu masih bisa tahankan? Tarik nafas dalam-dalam, keluarkan... Sekarang tarik nafas lagi, tarik dalam-dalam, ngejan Rin!" intruksi Liza membantu persalinan anak kedua Erine.


Ooekk... Ooekk...


"Bayi perempuan! Rin, perempuan. Selamat Rin!" ucap Liza antusias.


Liza menyerahkan anak kedua Erine pada Emma, meminta Emma membersihkannya dan memastikan kedua bayi tersebut tidak kedinginan.


Dengan bermodalkan nekat tanpa alat bantu, Liza membantu Erine melahirkan bayi kembar yang lucu dan sehat. Erine masih terbaring lemas, Liza meminta bantuan petugas untuk segera menghubungi Ambulan juga keluarga Erine yaitu Mira.


Erine terpaksa melahirkan kedua anaknya dalam sel tahanan. Awalnya ia merasa mules dan sakit pada pinggangnya, secara bergantian sejak tengah malam hingga sore hari


Saat ingin memeriksa ****** ******** di kamar mandi tepat setelah adzan magrib. Erine merasa sesuatu mengalir dari ************ hingga pahanya.


Bella yang hendak buang air, terkejut melihat Erine terduduk di lantai depan pintu kamar mandi. Dengan panik Bella memanggil Emma dan membawanya menemui Erine.


Liza yang sedang istirahat, bergerak cepat saat melihat Emma dan Bella membopong tubuh Erine. Liza memeriksa Erine, mata Liza membulat saat mengetahui Erine sudah pecah ketuban dan mengalami kontraksi.


Liza meminta Emma merebahkan Erine segera, takut bayi Erine meminum air ketuban. Saat Liza mengecek, ia terkejut karna Erine sudah mengalami bukaan 7 dan sebentar lagi siap untuk melahirkan.


Liza meminta beberapa orang menyiapkan pakaian bayi, beberapa lagi meminta petugas memberikan air hangat kuku untuk membantu proses persalinan.


Perjuangan Erine melahirkan tanpa sosok orang tua dan suami membuahkan hasil dua bayi mungil, kini mereka hadir menjadi penyemangat hidupnya. Disaat rasa bahagia kian terasa, tubuh Erine kembali melemah.


Liza yang menyadarinya, memanggil petugas kembali. Dengan cepat Liza meminta bantuan agar petugas menghubungi pihak medis yang lebih ahli atau pun segera membawa Erine kesalah satu rumah sakit terdekat. Menunggu ambulan yang tak kunjung datang membuat kepanikan mereka meningkat.


"Rin... Kamu harus kuat! Kumohon, demi anak kamu, Rin!" Ujar Liza mengusap rambut Erine.


"Erine udah nggak sadar, Liz!" Sahut Tatik tiba-tiba.


"Dimana ambulannya?! Ini menyangkut nyawa orang, tidak bisakah meraka lebih cepat?!" Sungut Emma yang sama khawatirnya.


Selang beberapa menit ambulan datang membawa Erine serta kedua bayinya. Mira yang juga sudah sampai, mengikuti ambulan yang membawa Erine dengan mobilnya. Melihat Erine terbaring di atas brankar dengan kondisi tidak sadarkan diri membuat ketakutan menjalari tubuhnya.


Erine dibawa keruang ICU guna mendapat pertolongan secepat mungkin, mengingat ia melahirkan hanya mengandalkan keahlian mantan bidan tanpa dokter dan alat seadanya.


Mira menghubungi orang tuanya yang saat ini tinggal di apartemen miliknya, Damar dan Marni memang sengaja menginap beberapa minggu untuk menemani Erine melahirkan. Namun, mendengar kabar Erine kritis dan berada di ICU, Damar membawa Marni bergegas ke rumah sakit tempat Erine dirawat.


Damar merangkul Marni yang menangis terisak mendengar kabar Erine kritis pasca melahirkan. Mengingat jarak tinggal mereka yang berbeda kota, membuat Damar dan Marni tidak bisa terus menjenguk Erine.


"Dek... gimana kondisi Erine, Dek?" Tanya Marni yang terisak setibanya di rumah sakit.


"Erine, kritis, Ma." jawab Mira pilu.


Mira terisak dalam pelukan Marni, ketahanan tubuhnya melemah melihat sahabat sekaligus seseorang yang ia anggap saudari sendiri bertaruh nyawa di rumah sakit.


Marni memeluk erat putrinya. "Astaghfirullah, selamatkan Erine, Ya Allah. Lindungi wanita malang itu. Beri ia kesembuhanmu, Ya Allah. Jangan ambil Erine dari, kami. Izinkan kami untuk menjaganya sekali lagi, kami akan melakukannya sebaik mungkin, Ya Allah." ujar Marni memanjatkan doa untuk kesembuhan Erine.


"Dokter bilang apa, Dek?" tanya Damar yang sejak tadi termenung.


Marni merapikan rambut Mira yang kusut. "Gimana sama anaknya, Dek? Cucu Mama sehatkan?"


Mira mengangguk, menghapus air matanya yang terus menetes. "Bayinya sehat, Bu. Sepasang, laki-laki, perempuan." jawab Mira.


"Alhamdulillah. Ibu, mau lihat cucu Ibu, Mir."


Mira mengangguk dan membawa Marni keruang bayi, meninggalkan Damar dan dua orang polisi yang berjaga.


Damar dengan setia menunggu dokter keluar ruang ICU. Erine sudah ia anggap seperti putrinya sendiri, wanita yang membawa pengaruh positif pada anak bungsunya Mira.


Marni melihat dua bayi bersebelahan dalam satu box yang cukup besar, tertidur tanpa beban. Sesekali tampak merengek dan diam dengan sendirinya.


"Erine... Kuat, Nak. Untuk anak-anakmu. Kamu harus kuat!" ujar Marni terisak menatap bayi Erine.


"Erine pasti kuat, Ma! Dia bukan wanita lemah. Di—dia, dia pasti bangun! Dia pasti bisa laluin semua ini. Erine udah janji buat bangkit! Erine bukan gadis lemah, Ma!" seru Mira tak ingin lantang.


Marni mengusap pundak Mira guna menguatkannya, dapat ia rasakan kesedihan dari gurat wajah putrinya itu. "Jangan nangis, Nak. Kita harus banyak-banyak berdoa, biar Erine cepat sadar. Kamu ingat, pas kamu sakit karena tauran? Erine terus doain, kamu. Kamu terus-terusan buat dia khawatir. Sekarang, giliran, kamu. Berdoa sama Allah, minta hal serupa seperti yang Erine minta pada-Nya waktu itu."


Mira tersenyum simpul mengingat kesetiakawanan Erine. Dengan wajah yang basah, Mira mengenang kembali masa itu. Di saat teman-teman wanita di kelas menjauhi Mira karena tabiat buruknya, Erine tak sedikitpun berniat menjauh. Erine percaya Mira hanya sedikit berbeda, bukan berarti tidak layak untuk dijadikan teman.


Mira terkekeh mengingat kebodohan mereka dulu, "Wanita bodoh!" umpatnya dengan mata berkaca-kaca.


Mira mengangguk menyetujui ucapan Marni, tidak ada tempat meminta pertolongan terbaik kecuali hanya kepada-Nya. Sesulit dan semustahil apa pun, jika Allah berkehendak semua bisa terjadi.


🕸️🕸️🕸️


Dokter keluar dengan beberapa perawat, Damar yang sejak tadi menunggu menghampiri dokter yang memeriksa kondisi Erine.


"Maaf, Dok. Saya keluarga pasien atas nama Erine Artinka. Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Damar.


"Begini, Pak. Anak bapak mengalami pendarahan hebat dan masih dalam kondisi kritis. Kami memerlukan banyak kantong darah golongan AB untuk membantu pasien melewati masa kritisnya. Bersyukur, rumah sakit kami memiliki stok darah yang cukup. Tapi... Tidak menutup kemungkinan, pasien akan membutuhkan tambahan stok kantong darah apabila kondisi pasien menurun. Keluarga mohon terus berdoa untuk kesembuhan pasien." ujar dokter pada Damar.


"Alhamdulillah. Ya Allah. Terima kasih, Dok. Lakukan apapun yang terbaik untuk anak Saya, Dok." mohon Damar.


Dokter mengangguk sambil tersenyum simpul. "Pasti, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik." ujarnya dan berlalu pergi.


"Apa pasien sudah bisa dijenguk, Dok?" tanya Damar memastikan.


"Sudah, mohon menjaga ketenangan. Pasien hanya bisa dijenguk oleh 2 orang ya, Pak." jelas dokter.


"Baik, Dok. Sekali lagi. Terima kasih." ucap Damar bersungguh-sungguh.


Dokter mengangguk memberikan senyum simpul dan berlalu pergi bersama beberapa perawat meninggalkan Damar. Damar langsung menghubungi Mira, memberitahu bahwa Erine sudah bisa dijenguk.


Mira yang mendengar kabar Erine bisa dijenguk, bergegas kembali ke ruang ICU untuk melihat kondisi wanita itu. Sesampainya di ruang ICU, Mira masuk terlebih dulu bersama Marni.


Selang tampak memenuhi tubuh Erine yang terbaring lemah, wajah pucat tercetak jelas di bibirnya. Infus menancap di punggung tangan kiri Erine, alat bantu pernapasan melekat di hidungnya.


Dapat Mira rasakan kepedihan Erine melahirkan tanpa sosok pendukung, di saat wanita lain mencari suami atau pun ibu untuk meminta dukungan. Erine tak menemukan satu sosok pun disekitarnya, hanya sakit dan takut yang ia rasakan secara bersamaan. "Kamu harus kuat Rin." Bathin Mira.


Mira mendekatkan wajahnya ke telinga Erine, membisikkan ucapan yang ia harap bisa membangkitkan Erine untuk tetap bertahan hidup.


"Bangun, Rin. Anak-anak butuh, kamu! Anak-anak butuh, bunda yang melahirkan mereka! Kamu harus bertahan demi anak-anak, Rin. Lawan sakitnya, Rin! Jangan kalah di sini!" tutur Mira menyemangati.


Marni mengusap lembut rambut Erine, memberi dukungan tanpa ingin berbicara panjang lebar. Karna saat ini, Erine lebih membutuhkan doa dan keyakinan kuat dalam dirinya untuk bertahan.


Air mata cukup menggambarkan betapa terlukanya Marni, walau bukan sebagai ibu yang melahirkan Erine, tapi ia pernah merawat Erine sebagai putrinya sendiri. Mendengarkan cerita gadis yang mendapat nilai bagus di sekolahnya, saat ia mulai mengenal cinta dari sosok Ammar, bahkan saat-saat terpuruk dalam hidupnya. "Erine, Ibu di sini, Nak. Bertahanlah, Ibu mohon." Ucapnya dalam hati.



...🕸🕸🕸...


*Jangan lupa fav, like, and comment 🤍


Terima kasih*.