INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 08



Happy reading :)


..."Kelinci percobaan bisa mati karena kebodohan. Tapi macan betina mati selalu berjuang hingga titik darah penghabisan"...


...-Erine Artinka...


🕸️🕸️🕸️


"Heh, Kamu! Nyapu yang bener! di sana masih banyak sampah!" maki tahanan wanita berumur 30 tahun bernama Emma.


"Kau bisa lihat?, bagianku juga belum bersih." Jawab Erine datar.


Emma menatap Erine sinis, "KAU!"


"Eh, Bos. Tenang. Udah biarin aja, ntar jugu disapuin." ujar Tatik yang duduk di samping kirinya.


Liza mulai memperhatikan Erine dengan perut buncitnya yang terlihat jelas, "Em, tu anak berubah nggak sih?"


"Orang dia hamil, ya wajar berubah, Liz. Kamu kira orang hamil perutnya kempes mulu. Iya? " Timpal Tatik.


"Eh, bego. Itu mah, aku tau. Gini-gini aku mantan bidan, ke sasar dikit aja di sini." Balas Liza sedikit tak terima.


"Diam!" Sergah Emma malas mendengar perdebatan Liza dan Tatik.


Emma ikut memperhatikan Erine yang sesekali mengelus perutnya. Peluh tampak membasahi kening hingga rahangnya.


Terbersit rasa kasihan melihat wanita muda dalam kondisi hamil harus berada dalam lingkungan tidak sehat seperti ini.


"Tapi, Em. Perkataan Liza ada benernya. Liat matanya mandang kita, nggak ada takut-takutnya." Tatik ikut menimpali.


Mereka tahanan dengan kasus yang berbeda-beda. Emma ditahan karena mencuri perhiasan milik majikannya, untuk pengobatan anaknya yang sedang sakit. Tatik menabrak pejalan kaki hingga meninggal, berakhir dituntut keluarga korban. Sedangkan Liza, ditahan karena menyerang rumah selingkuhan suaminya.


"Heh, sini Kamu!" ujar Emma meneliti raut wajah Erine.


Erine berjalan mendekat, tidak melawan juga tidak menjawab apapun. Saat Erine berada 150cm dengannya, Emma dengan cepat melempar sapu lidi ke arah perut Erine.


Dengan kuat Erine menangkis sapu tersebut, "BREN***K KAU, EMMA!!" Umpat Erine nyalang.


"Kamu berani, hah?! Sini, tatap aku lagi!" Emma berdiri tegak mensejajarkan tinggi badannya dengan Erine.


Erine mengusap peluh keringat di keningnya menggunakan ibu jari, "Kamu bukan, Tuhan! Tidak tempat, untuk aku takuti! Bahkan untuk tunduk, aku tidak akan sudi!"


Tatik terkekeh meremehkan keberanian Erine. "Wow... Benar-benar berani, Bos. Bernyali juga kau, Erine!"


Emma masih mengamati perubahan Erine, sorot mata tajam mengintimidasi terlihat jelas. Emma hendak menampar Erine, dengan sigap Erine menahan tangannya, memutar badan Emma dan meletak ujung sapu tepat di bawah dagunya.


Erine berbisik tepat di telinga kanan Emma, "Kelinci percobaan bisa mati karena kebodohan. Tapi... Macan betina mati, selalu berjuang hingga titik darah penghabisan." ujar Erine menekan kuat tangkai sapu pada dagu Emma, hingga menimbulkan ruam merah.


Tatik dan Liza menahan diri untuk tidak ikut campur atas perintah Emma. Perubahan Erine membuat ketiganya cukup tertegun.


Beberapa tahanan lain ikut menyaksikan pertengkaran Emma dan Erine. mengingat karakter Emma, tidak ada satupun tahanan yang berani membantu Erine.


Erine melepas Emma hingga tersungkur kebawah. Saat Erine hendak berbalik, terdengar suara tepuk tangan seseorang. Sontak Erine kembali menghadap Emma yang kini sudah berdiri tegak di hadapannya.


"Kenapa?" Tanya Erine datar.


"Akhirnya, kau sadar juga, Erine.  Kukira perlu setahun untuk kau paham sistem bertahan hidup di sini. Di sini tidak ada tempat untuk si lemah." Emma berjalan mendekati Erine. "Aku, sedikit tertarik dengan kasus yang Kamu alami. Fans, yang mencoba membunuh istri seorang pengusaha. Apa kau agent rahasia? Atau... wanita bayaran?" ujar Emma santai.


Erine menatap horor Emma yang saat ini berdiri di hadapannya. "Jika hidup sesederhana pilihan. Menjadi agents lebih bernilai, dari pada menjadi wanita penanggung dosa orang-orang bia**p!" Murka Erine.


Emma tertawa puas, "Aku suka pilihanmu— untuk sebuah dendam, atau mungkin nyawa yang kau kandung, hiduplah lebih kuat. Mati terlalu sia-sia tanpa menyeret pendosa utama, bukan?."


Erine tersenyum sinis, "Bukankah kau percaya, Tuhan?"


"Aku percaya, tapi... Tuhan tidak mempercayai, aku." ujar Emma memperlihatkan sorot mata sendu.


Erine menautkan alis bingung, "Apa, maksudmu?"


"Kau, dikhianati bukan? Berusaha melindungi rumah tanggamu, tapi kalah karena status dan kekayaan. Kau tau, istri lain dari suamimu membayar kami untuk nyawamu." Emma menjeda ucapannya, menepuk bajunya yang kotor karena debu.


"Aku ikut prihatin. Lemah dan menunggu mati, tidak akan membalas iblis-iblis di luar sana. Aku, memiliki seorang anak dengan penyakit asma bawaan, suami meninggal saat Aku mengandung." Emma menyentuh kedua bahu Erine,  menaikkan dagunya ke atas.


"Mereka yang berkuasa selalu jadi pihak terkuat. Kamu yang berusaha, mereka yang berjaya. Bocah malang itu... hanya salah satu korban. Dari kejamnya orang-orang yang tak bertanggung jawab." ujar Emma kemudian.


Erine menatap lekat manik mata Emma. Dibalik sifat kejamnya, terdapat luka yang sama besar seperti Erine. "Ap—apa anakmu... Su—sudah pergi?"


Emma mundur beberapa langkah,  menatap awan putih menghias langit. "Kau tau jawabannya. Aku tidak mencuri, tapi meminta hakku yang tak pernah digaji. Dunia terlalu kejam untuk orang baik, Erine. Tapi tak lantas mengubah kita menjadi orang jahat, kan?."


Liza menatap Erine, sedikit banyak ia dapat memahami kasus Erine. Mengingat kasus yang  mereka alami serupa tapi tak sama.


"Kau hamilkan? Bagaimana dengan ayahnya, apa dia tau?" ujar Liza yang sejak tadi mengamati.


Erine ikut menatap awan, menghirup udara sebanyak mungkin. "Ini anakku, milikku. Anakku tidak membutuhkan ayahnya! Hanya, Aku!" ujar Erine penuh penekanan.


"Bagaimana jika mereka mengambilnya darimu? Dan, jika anak itu bertanya kemana ayahnya? Sudah kau temukan jawabannya?" Tanya Emma tanpa beban.


"TIDAK! TIDAK AKAN, TIDAK AKAN PERNAH AKU BIARKAN BAJI***N ITU MEREBUT ANAKKU. ANAKKU JUGA TIDAK MEMBUTUHKAN AYAH SEPERTINYA." ujar Erine meninggikan suaranya membuat petugas kembali memperhatikan mereka.


"Aish... Aku cuma bertanya. Haruskah reaksimu seberlebihan itu!" kesal Emma.


Erine menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sedikitpun, mengabaikan petugas yang sejak tadi melirik tajam.


Tatik yang sejak tadi enggan menimpali tampak berjalan beriringan bersama Liza melihat perut Erine. "Berapa usia kandunganmu?"


Erine yang hendak waspada kini terlihat kebingungan saat menjawab. "4 bulan."


Tatik menatap Liza. "Liz, mungkinkah, ini kembar?"


Erine menggeleng, "Makanlah yang banyak, anakmu harus tumbuh pintar. Tidak bodoh seperti, ibunya." ujar Liza lagi.


"Hei, aku tidak bodoh!" elak Erine tak terima.


Emma dan Tatik terkekeh mendengar candaan yang lebih mirip sindiran dari bibir Liza,  berbeda dengan Erine yang terlihat kesal.


"Apa? Aku benerkan? Cuma wanita bodoh yang bisa ditipu pria!" ujar Liza membenarkan ucapannya.


"Kau salah satunya, Liz." Sindir Emma.


"Iyaa, itu juga. Kau membuat ku terlihat bodoh, Bos. Bisakah, kita melupakannya?" Ujar Liza malas.


Emma mengambil sapu di tangan Erine. "Berhubung mood ku bagus, kau duduklah." Ujarnya pada Erine yang tampak melongo.


"Kau ingin menyapu? Yang benar saja." Ujar Erine tak yakin.


Emma mendengus kesal, "aku sungguh-sungguh! Kau duduklah, jangan membuat anakmu kelelahan melihat ibunya menolak kebaikan orang lain."


"Tapi.. Aku rasa, masalahnya bukan itu— lihat!" tunjuk Erine pada petugas menggunakan dagunya. "Kalian bisa ditegur jika terus berdiri disini, bukan." ujar Erine menatap beberpa petugas jaga.


Tatik bergegas memungut daun kering. Sedangkan Liza ikut nyapu bersama Emma.


🕸️🕸️🕸️


3 bulan kemudian


Erine mengalami hari-hari yang berat, bukan karena pertengkaran sesama teman tahanan, malainkan kondisi perut yang semakin besar.


Kandungan Erine berusia 7 bulan,  Erine kerap mengalami kram pada pinggang juga kelelahan menjalani rutinitas yang biasanya ia kerjakan. Saat mengidam, Erine hanya dapat meminta pada Mira, menunggu hingga keesokan harinya untuk ia nikmati.


Pernah suatu malam, Erine menahan keinginan memakan makanan buatan Ammar. Mengingat sewaktu mereka bersama, Ammar suami yang pandai memanjakan istri dengan masakannya.


Malam ini, mati-matian Erine menekan keinginannya, mengalihkan rasa rindu dengan melukai tangannya hingga berdarah. Liza yang terbangun, terkejut melihat tangan Erine terluka.


"Kamu kenapa, Rin?" ujar Liza panik. "Belum lahiran, udah pendarahan."


"Liz, aku pengen makan sesuatu." ujarnya polos.


"Jangan ke aku juga mintanya! Aku bukan bapaknya, kali." ujar Liza kesal.


Erine menghela nafas berat, "Huuft... Kalau bapaknya ada, buat apa aku minta ke, kamu?"


"Ohiya, kamu nggak ada morning sickness? Jangan-jangan, bapaknya yang ngalamin, Rin. Baiknya ponakan, Onty. Siksa terus bapak kamu, yaa."


Erine mengernyit memandang Liza. "Maksudnya?"


"Pas, Kamu hamil 3 bulan, Aku nggak lihat kamu nunjukin gejala yang berlebihan. Bisa jadi yang ngalamin mantan suami Kamu." jelas Liza.


"Emang bisa gitu?" tanya Erine ingin tahu.


Liza kembali menjelaskan, pemahamannya di dunia perbidanan pada Erine. "Suami ngidam dan mual,  itu merupakan gejala kehamilan simpatik. Sampai sini, paham?" ujar Liza pada Erine.


Erine mengangguk paham, "Pada kebanyakan kasus, suami ngidam atau sindrom kehamilan simpatik, muncul di trimester pertama kehamilan. Juga beberapa minggu sebelum persalinan. Dan biasanya, gejala tersebut akan menghilang setelah bayi lahir."


"Apa mungkin, Mas Ammar ngalamin itu?" gumam Erine tak jelas.


"Heh, malah bengong. Tidur lagi deh, Rin. Yang lain juga pada tidur. Ntar minta teman Kamu aja antarin makanan lagi,  lebihin buat kita. Kaya biasalah." ujar Liza sambil nyengir kuda memperlihatkan rentetan giginya yang rapat.


"Itu mau kamu aja!" seru Erine mendorong bahu Liza. "Ohiya, bentar lagi kamu bebaskan, Liz? Kamu, lanjut jadi bidan?" sambungnya lagi.


"Nggak! Mana ada mantan napi kerja gituan, catatan kriminal nggak bisa dihapus, Rin." jawab Liza gamblang.


"Trus, balik ke rumah orang tua?" tanya Erine lagi.


"Nggak juga. Belum ada rencana, mungkin jadi copet atau... ngepet. Mana yang praktis dapatin duit, gaskan." Jawab  Liza ngasal.


Pletak


"Awh... Apasii, Rin." kesel Liza mengelus kepalanya yang berdenyut.


Erine mengelus lembut perutnya yang cukup besar, "Sayang, Onty cuma bercanda. Jangan dengerin ya, Onty Liza baik kok."


Liza terkekeh melihat tingkah Erine, "Aku bercanda, Rin. Aku nggak mau buat keluarga Aku tambah khawatir. Aku bakal kerja paruh waktu, atau apapun yang bisa Aku kerjain."


"Semangat, Liz! Aku tau kamu kuat!  Ntar kamu coba ngelamar kerja di tempat teman aku aja. Dia buka butik, kali aja kamu keterima."


"Hmm, thank's. Ntar aku pikir lagi. Yaudah. Yuk tidur!"


Erine mengangguk patuh dan mulai membaringkan tubuhnya. Beberapa saat berlalu, terdengar helaan nafas teratur milik Erine, yang tampak nyenyak menuju alam mimpi.


...



...


...🕸🕸🕸...


Hallo🤍


Seneng lihat kalian mampir ke cerita aku, semoga kalian betah dilapak ini ya🤍


Selalu support author dengan fav, like, and comment.


"Tanpa readers author bukanlah apa-apa"