INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 11



Musim silih berganti, semula kemarau kini berganti hujan. 5 tahun 3 bulan lamanya Erine mendekam di balik jeruji besi. Kebebasan bersorak menanti kepulangannya.


Erine menghirup udara segar, bau khas hujan turun membasahi bumi menyeruak kedalam indra penciuman. Erine menatap awan mendung yang sejak semalam setia menyelimuti kota.


Erine mencepol asal rambutnya, helayan-helayan nakal anak rambut seakan menggoda leher jenjangnya yang putih.


"Bunda!" seru bocah berumur 5 tahunan, serempak memanggilnya.


Erine merentang lebar tangan memberi akses kedua bocah tersebut untuk memeluknya, "Alan-Alin."


"Everything is well-done! Keluarga bahagia sudah berkumpul. Sekarang, Apakah aku benar-benar sudah dilupakan?" ujar Mira merengut.


Erine menggandeng tangan kedua anaknya mendekati Mira. "Thank's, Mir. Anak-anak beruntung ada, kamu."


"Halahhh... Nih, dua bocah tengil. Bukan beruntung, malah nyesel ada, aku. Apa lagi nih, bocil kuncir." sungut Mira menatap horor si kembar.


"Wlee, Tante jelek!" ejek Alin mendengar pengaduan Mira.


"No-no... Alin. Apa kamu melupakan pesan, Bunda? Apa bunda harus mengulanginya, lagi? Baiklah... Tidak boleh-"


Alan menatap datar ibunya, "menghina olang yang lebih tua. Apa lagi olang yang merawat Alan dan Alin, di saat bunda tidak ada." ujarnya tak kalah datar.


Erine tersenyum menatap putranya. "Good boy! Alin, minta maaf. Lain kali, ingat pesan, Bunda. Mengerti? Tante Mira sudah banyak membantu, kita."


Alin melepas tangan Erine, berjalan memeluk kaki Mira, "em soli, Tante. Alin sayang, Tante."


Mira melepas tangan Alin yang memeluk kakinya, membawa gadis kecil tersebut ke dalam pelukannya. "Manisnya, sudahlah. Tante hanya bercanda. And now... give me a kiss, baby girl!"


"Kiss, kiss, kiss." sahut Alin semangat, mencium seluruh wajah Mira.


"Aku, sedikit menyesal melihat didikanmu, Mir. Bukankah, itu sedikit- sudahlah."


"Hei. Hei. Ini didikan yang bagus, Erine. Pemahaman dini, agar bocah paham pentingnya menyayangi sesama."


"Sesama? Bagaimana jika itu diartikan-pria..." Erine memikir jawaban yang tepat, "maksudku, bagaimana jika sesama lawan jenis? Kau mengerti maksudku, bukan?"


"Oh... Tidak-tidak." Mira menggeleng kuat, "eh... bocah! Sekarang turun, dan dengarkan ini, baik-baik!" ujar Mira menurunkan Alin.


"Kau- bukan-bukan. Alin, lakukan hal tadi, hanya pada keluarga. Okey? Kamu mengerti maksudku, kan?!" Tanya Mira memastikan Alin.


Alin menatap Alan dan Erine secara bergantian, "Al- Kak Alan, apa kau mengerti?"


Alan melangkah mendekati Alin, "Belhentilah mencium sembalang olang, Alin. Bocah selalu belpikil sempit. Menyebalkan!" ungkapnya terdengar cadel dan berlalu pergi menaiki mobil Mira.


"Apa itu, tadi? Apa kau yang mengajarinya, Mir?" tanya Erine cengo.


Mira menggeleng, "Aku rasa tidak. Apa Aku terlihat seburuk itu menjadi seorang ibu asuh, haa? Itu- mungkinkah kau mengidam sesuatu yang sedikit aneh dulu?"


Erine ikut menggeleng, menjawab pertanyaan Mira. "Aku rasa, tidak."


"Apa yang Alan, katakan?" ujar Alin bingung.


"Heh, kuncir! Sudah berapa kali Tante, katakan. Dia kakakmu! Sebut dia Kakak!" pekik Mira.


"Tante, Alin bisa dengel, jangan teliak-teliak!" balas Alin balik berteriak. "Bunda..." Alin berlari meninggalkan Mira, meminta Erine menggendongnya.


Erine meraih putrinya, "Bersikap baiklah, Sayang. Sepertinya, kalian bertingkah istimewa sewaktu Bunda tidak ada." ujar Erine berjalan beriringan bersama Mira menaiki mobil.


🕸️🕸️🕸️


"Papa, Echa mau beli boneka baru! Pokoknya harus! Echa, nggak mau tau. TITIK!" rengek Echa pada ayahnya.


"Sayang... Bukannya, baru seminggu lalu kamu beli boneka, Nak." ujar Ammar lembut.


"Echa mau yang baru, Pa. Teman-teman sekolah pada punya yang baru."


"Echaa-" ujar Ammar tepotong.


"Udahlah, Mas. Beliin aja, uang kamu nggak akan habis juga, kan?" timpal Karina membela putrinya.


"Karina! Berhenti memanjakannya, apa kau berniat menghancurkan masa depan putrimu?" geram Ammar memelankan suara agar tidak didengar Echa.


Karina terkekeh, "Dia juga putrimu, Mas. Apa kau lupa?!" sindir Karina telak.


"Papa! Echa ingin boneka itu, Pa. Echa mau sekarang juga!" seru Echa lagi tak ingin dibantah.


"Echa, kemari." Panggil Ammar pada Echa yang terus merengek, sambil membanting mainan lamanya.


Echa berjalan mendekati sofa ruang tengah, di mana ayah dan ibunya berada. "Jangan katakan jika Papa tidak ingin menurutiku. Papa pelit! Papa tidak menyayangi Echa, lagi." tangis Echa pecah.


Ammar membawa Echa dalam pangkuannya, "Ssstt... Bukankah, putri Papa ingin boneka?" ujar Ammar mengusap mata putrinya.


"Bersiap-siaplah, kita akan membelinya." sambung Ammar lagi, menyerah menghadapi Echa.


Senyum mengembang di bibir Echa, dengan mata yang masih sembab Echa melompat dari pangkuan Ammar berlari menuju kamarnya.


"Aku ikut ya, Mas." ujar Karina semangat, berlalu pergi menyiapkan diri tanpa mendengar jawaban Ammar.


"Kau! Aku tidak ingin membawamu!" umpat Ammar setelah Karina berlalu pergi.


🕸️🕸️🕸️


Echa berlari mengitari toko boneka tersebut, pandangannya jatuh pada boneka minions dan kuda poni ukuran jumbo.


"Papa! Yang itu, Aku mau yang itu!" pekiknya girang.


Ammar mendekati Echa, meminta penjaga toko mengambil boneka pilihan putrinya.


"Ada lagi, Sayang?" tanya Ammar lembut.


"Yaa. Aku mau boneka itu, papa! Bukankah itu lucu? Ini terlihat mirip sesuatu." ungkap Echa terkekeh mengingat wajah ibunya.


Ammar terkekeh, "Ulat bulu?"


"Benar! Itu menggemaskan, Papa. Aku menginginkannya." jawab Echa semangat.


Echa menarik celana Ammar meminta digendong, Ammar meraih Echa, menggendongnya di lengan kanan.


"Pa, aku lapar." ujar Echa polos.


Ammar melirik kiri-kanan mencari keberadaan Karina. " Baiklah. Echa mau menunggu sebentar?. Kita tunggu mama kembali."


"Mama pasti di tempat tas, Pa. Aku juga ingin tas baru!" sahutnya semangat.


"Echa, berhentilah boros. Okay?" nasehat Ammar.


"Selalu saja berdebat. Tidak bisakah kita langsung membeli tanpa berdebat terlebih dulu, Pa?" tanya Echa jengah melihat penolakan ayahnya.


"Sayang, dengar- tidak semua hal di dunia ini bisa kita miliki. Dan tidak semua harus kita punya. Berhenti mengeluh, syukuri apa yang ada. Mengerti?!" nasehat Ammar memberi pengertian pada Echa.


Echa terdiam beberapa saat, "Papa?"


"Iyaa, Sayang?" Ujar Ammar sambil merapikan poni putrinya.


Echa menatap mata Ammar dalam-dalam. "Pa, kenapa mama tidak pernah melarang Echa membeli apa pun? Mengapa mama tidak mengeluh saat Echa meminta sesuatu yang Papa anggap berlebihan?" tanya Echa menyelidik.


Ammar memijit pangkal hidungnya yang sedikit pusing, "Karena, Mama-" ujarnya terpotong.


"Karena Mama tidak akan membuat putri kesayangan Mama bersedih dan mengemis seperti orang miskin! Itu tidak akan pernah! Tuan putri, selamanya akan tetap menjadi, tuan putri." sela Karina yang tiba-tiba muncul di belakang Ammar.


"Mama yang terbaik!" seru Echa merentangkan tangan meminta pelukan ibunya.


Karina memeluk putrinya manja, mengambil Echa dari gendongan Ammar.


"Kamu lapar, Sayang?" tanya Karina pada Echa.


Echa mengangguk antusias, "Ya! Sangat lapar! Mama, ayo kita makan!"


"Anak pintar!"


Ammar mengikuti mereka dari belakang tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Mas, Kita ke restoran biasa, ya. Aku nggak mau tempat lain. Sekalian pesan room VIP."


"Mama, Echa nggak mau di sana!"


"Echa, di sana nyaman. Kita bisa minta ruangan VIP. Hanya kita." rayu Karina.


"TIDAK! Aku ingin makan di tempat lain, Mama! Aku bosan makan di sana." Tolak Echa.


"Baiklah! Echa, Kita makan di tempat pilihan, Papa. Kamu mau? Echa mau ice cream, bukan?" sela Ammar menengahi ego ibu dan anak.


"Yaa, Papa. Kita di sana saja! Mama, ayolah!" antusias Echa.


Karina mendengus kesal, "Terserah. Aku juga tidak akan didengar, bukan?!"


"Mama, berhentilah mengomel! Aku benar-benar sudah lapar." rengek Echa pada ibunya.


"Apakah kau ini benar-benar, anakku?! Mengapa mulutmu kasar sekali! Mas, apa Kamu seperti ini saat kecil?" sungut Karina melihat anaknya.


"Bukankah, di kamarmu memiliki kaca? Apa kau tak pernah bercermin? Jaga sikapmu, jika tidak ingin dicontoh oleh anak kecil." ujar Ammar datar.


"Kau! Apa maksudmu? Kau benar-benar menyebalkan, Mas!" umpat Karina menatap wajah datar Ammar.


"Itu bukan urusanku!" Ammar mengambil alih tubuh Echa, guna menghindari umpatan Karina yang siap meluncur kapan saja.


Bahaya jika umpatan yang bersarang di mulut karina bertelur di telinga Echa yang masih dalam proses pertumbuhan. Bisa kalian bayangkan akan jadi apa anak ini nantinya.


...



...🕸️🕸️🕸️......


Happy reading!!


Semoga double update kali ini tidak mengurangi feel kalian dalam membaca :)


Jangan lupa fav, like, and comment:)


Terima kasih