
Pagi hari, di kantor polisi, seorang wanita berumur 20 tahunan datang menggunakan celana jeans robek dangan kaus hitam dipadukan jaket denim. Rambut dicepol asal menggunakan ikat rambut hitam. Benar, dia adalah Mira.
Mira menemui petugas jaga memberitahu bahwa ia wali yang bertanggung jawab atas nama Erine Artinka. Keterkejutan Mira mendapat panggilan polisi atas kasus yang menyeret nama Erine membuatnya tak percaya.
Dengan cepat Mira menghubungi abang keduanya, Dirga Mustafa yang terpaut 2 tahun di atasnya, Dirga bekerja sebagai lawyer, yang saat ini ia pilih untuk membantu Kasus Erine.
"Rin, kamu baik-baik ajakan? Kenapa bisa gini? Bukannya, kamu diare? Trus, kenapa bisa?!" Tanya Mira tanpa henti saat diberi waktu bertemu Erine.
Erine menangis terisak memeluk tubuh Mira, saat ini ia sangat membutuhkan sandaran. Semalaman Ammar tak memperlihatkan batang hidungnya. Kemana pria itu? Bukankah ia suami Erine? Kehidupan kadang sebercanda itu."Sekali saja Mas, sekali saja temui aku." Bathinnya.
"Cerita, Rin! Aku perlu tau masalahnya! Ini bukan masalah kecil, siapa yang coba kamu bunuh?!" sambung Mira tak sabaran, membiarkan Erine melepas pelukan dan berpindah posisi.
Erine mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi dengan meja besi kecil dihadapannya, tempat para tahanan berbagi cerita pada keluarganya.
"Mir, tolong! Tolongin aku! Aku bisa gila, Mir!" bibir Erine bergetar, masih terisak menahan luka tak kasat mata yang ditorehkan oleh suaminya sendiri.
Mira hanya bisa mengelus punggung rapuh sahabatnya, kejanggalan mulai menyelimuti kepalanya."Di mana suami Erine? Apa dia belum tau? Bukannya Ammar juga di Bandung?" pikir Mira bingung.
"Pasti! Aku pasti, bantuin kamu! Kamu tenang dulu, Mas Ammar tau kamu di sini? Kamu belum hubungin dia, Rin?" Mira mencoba menenangkan Erine dan bertanya perlahan. "Sekarang bisa cerita?!" ujarnya kemudian mengambil posisi duduk di depan Erine.
Erine menatap Mira dalam, menceritakan semua masalah yang terjadi. Mulai dari pakaian da**m yang tidak sengaja ia temukan, kedatangannya ke kantor Ammar, sampai mendatangi rumah madu dari suaminya.
Mira yang merasakan penderitaan wanita di hadapannya ikut menangis. Bagaimana tidak, Erine mengalami hal buruk di masalalu bersama orang tuanya. Ayah yang mengkhianati ibu Erine dengan menikahi wanita lain dan pergi begitu saja, bahkan tidak menganggapnya sebagai anak. Meninggalkan trauma psikis bagi Erine.
Kejadian itu belum cukup menyiksanya, Erine dipaksa menerima kenyataan sang ibu yang memilih mengakhiri hidupnya dengan cara mengiris nadi, meninggalkan Erine yang berusia 16 tahun untuk hidup mandiri.
Erine yang ditinggal ayah dan ibu disaat bersamaan berniat putus sekolah dan mencari pekerjaan untuk meneruskan hidup. Namun, keluarga Mira yang mengenal Erine seorang siswi yang cerdas, baik hati, dan banyak membawa pengaruh positif pada putri bungsu mereka, berniat membantu biaya sekolah Erine hingga sarjana.
Erine menolak niat baik keluarga Mira saat ingin membiayai kuliahnya, mengingat biaya semasa SMA yang dikeluarkan orang tua Mira tidaklah sedikit. Walaupun Erine bekerja paruh waktu di cafe Amanda, tapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
Erine mencoba peruntungan melalui jalur beasiswa, tapi status ayahnya yang seorang pengusaha membuat harapannya pupus.
"Jadi—alasan kenapa baji***n itu nggak ada di sini, karena..." Mira menghentikan kalimatnya, tak percaya Ammar tega melakukan itu pada Erine.
Mira menghela nafas berat. "Astaga... Aku bisa gila, Rin. Dia di sana enak-enakan jagain istri simpanannya! Ngelonin tuh, pelakor sama bocah tengil benih perselingkuhan dia. Dan kamu... Kamu semalaman mendekam di sini, bahkan dia nggak sedikitpun datangin kamu?!" murka Mira memastikan kembali pendengarannya tak bermasalah.
Erine mengangguk tak kuasa menahan tangis yang terus mengalir. "Aku takut, Mir. Aku nggak maksud bunuh wanita itu! Ak—Aku cuma..." bibir Erine bergetar ketakutan, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal sama aku sih, Rin?! Aku bisa bantu Kamu hajar Ammar sampai mati! Cakar habis muka wanita yang nggak tau malu itu! Kamu anggap aku apa, Rin?!" Sungut Mira tak terima.
Erine menggeleng, "Aku nggak bisa nyusahin kamu terus, Mir! Kamu terlalu banyak bantu aku."
Mira menggeleng tak percaya, "kamu anggap aku apa sih, Rin? Kita keluarga, masalah kamu masalah aku juga."
Erine terisak hebat. "Maaf, Mir. Aku benar-benar minta maaf, seharusnya aku ngabarin kamu."
Mira menyentuh kedua tangan Erine, netra keduanya tampak beradu. "Berjanjilah untuk terus bertahan, Rin. Demi aku, ayah, juga ibu. Aku bakalan usahain yang terbaik buat kamu. Aku janji!"
"Thanks, Mir. Aku nggak tau gimana jadinya kalau nggak ada kamu. " Ujar Erine tulus dengan mata berair.
Petugas datang memberi tahu bahwa waktu kunjung tahanan telah habis. Mira berpamitan pergi, mengurus kebutuhan Erine menjelang sidang. Mengingat kasus Erine terbilang berat, Mira berusaha membantu Erine agar bisa lebih cepat bebas dari masa hukumannya nanti.
🕸🕸🕸
1 bulan kemudian
Erine memiliki bekas luka di sudut bibir, lebam di area pipi dan kening, dengan rambut yang terlihat panjang pendek. Penyiksaan kerap ia alami, jatah makan yang minim membuat tubuhnya semakin kurus. Penderitaan mutlak.
Erine pernah mendengar salah satu tahanan terlama meminta teman satu selnya berbuat sesukanya pada Erine. Ketidaktahuan Erine membuatnya disiksa habis-habisan tanpa perlawanan, sebulan dalam kurungan, Erine mulai paham saat tidak sengaja mendengar percakapan temannya. Ada pihak yang ingin melihat Erine terpuruk bahkan meregang nyawa.
Saat membersihkan halaman bersama tahanan lain, Erine merasakan pusing dan mual secara bersamaan. Dengan kondisi yang terbilang lemah Erine kehilangan kesadaran.
Saat tersadar, Erine berada di ruang kesehatan. Seorang dokter menjelaskan keadaan Erine beserta bayi yang di kandungnya, Erine tengah mengandung memasuki usia 4 bulan.
Erine terkejut tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, kandungannya sehat hanya kondisi ibu yang cukup memprihatinkan. Dokter menyarankan Erine untuk berhati-hati dalam bertindak.
Keinginan untuk memberitahu kabar bahagia ini pada Ammar lenyap, saat seorang pengacara bernama Guntara Parmana muncul secara tiba-tiba, ia menyerahkan amplop coklat dan meminta Erine menandatangani surat tersebut.
"Maaf, Bu. Saya Guntara Parmana selaku kuasa hukum dari pihak, Pak Ammar."
"Apa maksudmu, kuasa hukum?" tanya Erine tak mengerti.
Guntara merapikan sedikit jasnya, mengeluarkan berkas dalam amplop coklat. "Bener. Saya datang atas permintaan, Pak Ammar. Ini surat gugatan perceraian atas nama Bapak Ammar Irsyad Nawansa kepada ibu Erine Artinka. Beliau telah menjatuhkan talak pada ibu Erine, 2 minggu lalu."
"TALAK?! ANDA JANGAN BERCANDA! DI MANA AMMAR?! KENAPA TIDAK BAJI***N ITU YANG MENEMUIKU, HAA!" murka Erine tak terima.
"Maaf, Bu. Saat ini, Beliau sedang tidak bisa bertemu Anda."
Erine menarik kerah jas Guntara yang terlihat tenang tanpa perlawanan, sedangkan Erine menatap garang seakan ingin menerkamnya hidup-hidup.
"BREN***K! BAJI***N KAU AMMAR! PERGILAH! TUNGGU PEMBALASANKU! AKU. AKAN. MEMBALASMU! AKU AKAN MEMBALASMU, AMMAR!"
Sebelum berlalu pergi, Erine menandatangani surat cerai yang telah lebih dulu ditandatangani oleh Ammar.
"Sampaikan pada klienmu! AKU. MENYESAL. PERNAH. HIDUP. BERSAMA. BAJI***N. SEPERTINYA! IBLIS. LEBIH. BAIK. DARI. PRIA. BIA**P. SEPERTI NYA!" maki Erine dan berlalu pergi.
Sepeninggal Erine, Guntara merogoh benda di saku kiri jasnya. Meletakkan benda pintar tersebut pada telinga kanan yang sejak tadi melakukan panggilan langsung dengan Ammar.
"Sudah ditandatangani, Pak!"
"....."
"Baik."
"....."
"Baik. Selamat siang."
🕸🕸🕸
Di tempat lain, Ammar berdiri tak jauh dari pembatas balkon kamar, melamun memandangi hiruk-pikuk kota Bandung, dengan posisi kedua tangan yang berada di dalam saku celana.
Ketukan pintu menyadarkan Ammar, terdengar suara panggilan Bi Surti ART yang telah lama bekerja di rumahnya.
Tok... Tok..
"Tuan, Nyonya besar sedang menunggu Anda di bawah."
Ammar membuka pintu kamar, menjawab sahutan Bi Surti. "Sebentar lagi Saya turun." Melirik jam tangan, yang menunjukkan pukul 2 siang.
"Baik, Tuan." jawab Surti dan berlalu pergi.
Ammar kembali menutup pintu, berjalan mamasuki kamar mandi guna mencuci wajahnya yang terasa tegang. Bayangan wajah Erine tersenyum menatap kearahnya muncul dalam cermin, sontak Ammar berbalik dan tak menemukan apa pun.
Pegangan Ammar pada marmer wastafel menguat, memperlihatkan urat-urat tangan yang menegang. Ammar mengumpat hebat di dalam hati, merutuki kelemahannya dalam mengambil keputusan.
Selang beberapa menit, Ammar menuruni tangga menemuai ibunya. Seruni bermain bersama cucu ditemani menantu—pilihannya. Tampak jelas gurat bahagia di wajah Seruni yang mulai menua ketika melihat kedatangan Ammar.
"Mas, kenapa lama sekali? Sini Mas, pilih jas yang kamu suka." antusias Seruni menunjuk desain jas dan dress mewah.
"Buat apa, Ma? Mas banyak setelan jas di ruang ganti, tinggal pilih." ujar Ammar malas.
Karina mengambil duduk di sisi Ammar, menggandeng mesra lengan kokoh tersebut.
"Iih... Mas, gitu. Yang couple bareng Aku kan belum ada, Mas." ujar Karina memanyunkan bibir.
Ammar ingin melepas tangan Karina, namun dengan kuat Karina menahan pegangannya. "Baru juga bentar, Mas. Udah mau lepasin aja. Mas malu ya dilihatin, Mama? Yaudah, yok ngamar." Ujar Karina yang mendapat tatapan tajam Ammar.
"Aku capek, Kar! Aku juga nggak suka samaan! Kamu beli punya kamu aja, aku nggak." ujar Ammar penuh penekanan.
"Sama wanita pembunuh itu—" Ammar langsung memotong ucapan Karina.
"Apa maksudmu haa?! APA YANG BARU SAJA KAU KATAKAN?! WANITA ITU MEMILIKI NAMA! ERINE! INGAT ITU!" ujar Ammar tersulut emosi.
"Iya-iyaa. Kenapa harus bentak-bentak sih, Mas. Aku cuma mau baju samaan, kamu sama dia sering samaan kan? Kamu kira Aku nggak tau, Mas!"
Seruni tampak malas melihat perdebatan anak dan menantunya seputar Erine. "Udah-udah! Kamu juga, Mas. Sama istri itu yang lembut. Kalau Mas, nggak mau milih. Biar mama yang pilih. Gimana, kalau warna maroon? Kamu suka, Kar?"
Karina mengangguk antusias, tak menghiraukan tatapan tajam yang Ammar berikan. "Suka, Ma. Kulit putih aku pasti hidup sama warnanya." Kirana tampak membayangkan dirinya mengenakan gaun mewah berwarna maroon, "Gimana kalau lusa kita ke salon? Sekalian shopping, Ma."
"Ide bagus! Mama nggak salah pilih kamu jadi mantu." ujar Seruni bahagia tapi tidak dengan Ammar.
Ammar sulit menebak apa yang saat ini direncanakan ibunya. Tapi dapat Ammar yakini, itu bukan berita yang ia inginkan. Mengingat sifat otoriter sang ibu. Ammar harus bersiap jika sesuatu yang buruk terjadi cepat atau lambat.
...
...🕸🕸🕸......
Haii readers, jangan lupa tinggalkan jejak yaa. fav, like, and comment membantu semangat author untuk update part berikutnya(❁'◡'❁)
Happy reading!!♡
"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."