INFIDELITY

INFIDELITY
Chapter 21



Aroma khas hujan menyeruak masuk indra penciuman. Awan hitam kompak mewarnai langit dan dengan hebat memuntahkan isinya membasahi seluruh kota.


Erine bangun lebih pagi, setelah tidur hanya kurang lebih 4 jam seusai pertengkaran tadi malam.


Lelah? Jangan ditanya.


Erine membersihkan tubuh dan bergegas memasak sarapan. Ia tak berminat memperpanjang perdebatan di antara ia dan kedua buah hatinya.


Kenyataan hanya akan memberikan rasa sakit dan harapan yang patah sebelum bertumbuh.


Semalam. Mereka tertidur bersama di atas karpet bulu tepat di samping ranjang, mengakhiri perdebatan tanpa kejelasan.


Mengingat luka terpancar dari sorot mata mereka, Erine merasa gagal menjadi seorang ibu. Bagaimana ia bisa mengabaikan rindu seorang anak pada ayahnya.


Erine bukan penjahat... Tapi yang ia lakukan tetap menyakiti anaknya.


Erine menghela nafas berat, ketidakmampuan menghentikan luka yang terus bersarang di hati dan pikiran menguras habis tenaganya. Akan seperti apa jika Alan dan Alin mengetahui fakta mengenai ayahnya. Akankah terjadi hal yang tidak diinginkan atau tidak terjadi apa pun.


Mustahil.


Hati Erine tersentil kala mengingat keharmonisan rumah tangganya selama 5 tahun lalu. Hancur hanya dalam hitungan menit, lelucon terkonyol dalam sebuah kisah pernikahan.


Erine menggeleng cepat, menatap makanan yang tersaji sempurna di atas meja makan. Membangunkan kedua bocah yang masih tertidur pulas juga Mira yang selalu berlangganan bangun kesiangan.


Walaupun perdebatan juga terjadi di antara dirinya dan Mira, Erine sudah melupakannya sebelum Mira meminta maaf. Mira terlalu menyayangi Erine seperti saudara kandungnya sendiri. Hal wajar jika ia marah mendengar pertanyaan Erine kemarin malam.


"Alan...! Alin...!" Erine menoel pipi keduanya. "Hei... bangun!" ujar Erine lembut.


Belum ada respon signifikan di antara keduanya, "Alan, mandi dulu yaa. Selesai itu kita sarapan." Alan mendudukkan dirinya, berdehem menatap Erine sekilas dan beranjak keluar kamar.


"Alin. Ayo bangun dan segera mandi. Alin mau ikut Bunda, kan? atau Alin lebih memilih tinggal di rumah bareng, Tante Mira?" tanya Erine memberi pilihan.


"Ikut, Bunda. Tapi... 5 menit saja, Alin macih ngantuk, Bun." ujar Alin yang selalu menego saat hendak dibangunkan.


Erine beranjak dari duduknya, sebelum itu ia lebih dulu berkata, "Alan, kita berdua saja. Adikmu tidak ingin ikut!"


Sontak Alin terduduk menyipitkan mata memegangi kepalanya, "Oh, No... no... no... Bunda! Pucing!" sungut Alin dengan mata sedikit terbuka


"Mandi, sayang. Jangan malas-malasan. Buruan, nanti beneran Bunda tinggal. Mau?" ujar Erine serius.


"... Baiklah-baiklah. Bunda selalu saja begitu."


Erine terperangah melihat Alin berjalan malas melangkah kedalam kamar mandi, bertolak belakang dengan Alan yang mencintai kebersihan. Erine membohongi Alin, mereka tidak jadi pergi karena hujan deras mengguyur kota pagi ini.


Melihat tubuh Alin hilang di balik pintu, Erine beranjak dari tempatnya keruang makan.


Tumbuhlah, Nak... walau bukan seperti akar serabut yang mampu menopang, seperti akar tunggang yang kokoh pun tidaklah masalah.


🕸️🕸️🕸️


Usai menyantap sarapan, Erine mencuci piring dibantu Mira. Alan dan Alin lebih dulu ke ruang tengah menikmati acara kartun yang slalu mereka nantikan, bukan mereka—hanya Alin.


"Rin. Sorry. Kau tau, aku hanya kelepasan kemarin."


"I'm fine, Mir. No, problem."


"Soal itu... Kau tidak berniat menjelaskannya padaku? Aku yakin. Kau mengalami sesuatu malam itu. Benar, kan?" ujar Mira mengisi keheningan.


Erine melirik Mira sekilas, "hmm... Aku bertemu dengannya, malam itu...." Erine meletak jari telunjuknya di depan bibir Mira. "Jangan potong, Mir! Dia nemuin aku di toko. 2 jam setelah kalian pulang. Bukan keinginanku sendiri. Sungguh."


"Come on. Are you serious, Rin?"


"Apa aku terlihat bercanda?!"


"Bagaimana mungkin. Apa kau menghajarnya? Kau sudah membalaskan sakit hatimu? Kenapa tidak memberitahu ku lebih awal?!" sungut Mira.


"Yang mantan napi siapa, yang otak kriminal siapa?... Aku bersyukur ibu memilih tinggal bersama Ayah. Jika ibu bersama mu, aku takut jantungnya bukan cuma kumat, tapi copot di tempat."


"Erine! Berhentilah bercanda! Apa yang pria itu lakukan padamu?"


"Tidak terjadi apa pun, Mir. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku berlebihan begini. Sungguh."


"Ngadepin pria baji***n seperti Ammar, kamu harus pinter, Rin. Jangan luluh cuma karna didatengin sekali. Kemana dia pas kamu difitnah habis-habisan? Pas kamu disiksa tahanan lain, atau pas kamu lahiran—Dia nggak peduli, Rin."


Erine menghela nafas berat, akan seperti apa jika Mira mengetahui yang sebenarnya terjadi. "Aku tahu, Mir. Kamu tenang aja."


"Lalu, dari mana anak-anak tau masalah ayahnya? Bukannya—Ammar juga belum tau kamu punya anak. Ini bukan kamu yang ngasih tau kan, Rin?"


Erine menggeleng, "Bukan lah. Untuk itu, aku belum tau, Mir. Aku rasa, Mas Ammar juga belum tau. Tapi... Alan sempat bilang, dia pernah lihat Ammar. Itu cukup menakuti ku."


Mira menyipitkan mata menatap wajah Erine, "Kamu nggak lagi bohong kan, Rin? Jangan-jangan, kamu sengaja kasih tahu tuh bocah, biar nyeret bapaknya balik lagi sama kamu! bisa jadi, kan!"


Pletak


Satu jitakan meluncur hebat di kening Mira, kebiasaan yang dilakukan Erine saat Mira asal bicara.


"Sakit, bodoh! Kebiasaan. Aku udah besar, kali."


"Makanya, mulut di filter dulu."


"Secara ya, Rin. Aku tau sebucin apa kamu dulu. Di suruh ngorbanin nyawa juga kamu mau, kan?"


"Apa sih, Mir. Jangan samain aku dulu dan sekarang. Aku ada anak-anak yang lebih membutuhkan kehadiran, aku."


Mira menatap Erine lekat, "trus gimana ceritanya Alan bisa datangin kamu malam-malam. Kalau bukan aku yang komporin, ya kamu lah."


Erine menendang kaki Mira, tepat mengenai tulang keringnya. Menimbulkan suara teriakan nyaring kesakitan dari Mira.


"Aaaghh.. Sakit bodoh! Astaga, aku menyesal menampung mantan napi di rumahku! Sungguh!" Ujar Mira berjongkok mengelus kakinya.


"Makanya, bodoh jangan kelewatan! Aku nggak tau soal itu! Alan nemuin foto mesra aku sama Mas Ammar, waktu kita masih sepasang suami istri."


"Tunggu, foto? Di rumah aku nggak pernah ada foto apa pun. Kan itu di rumah lama kamu semua, dari mana Alan dapat? Kamu nyimpen diem-diem kali, Rin?"


Erine menggeleng, "berhenti menuduh ku, Mir! Bukan cuma kaki kanan kamu yang lumpuh, yang kiri juga ikutan, mau?."


Mira kembali menatap Erine penuh selidik. "Aiish... Maaf, Rin. Cuma nebak. Oh iya. Kamu jumpa Ammar, kan? Maksudku—kalian nggak main kucing-kucingan, kan?" selidik Mira.


"Ap—Apa sih, Mir. Dia bawa asistennya, Mas Arman. Kamu ingatkan? Sangat tidak mungkin untuk dia macam-macam." gugup Erine.


"Kenapa kau gugup?"


"Tidak, aku tidak—sudah ku katakan. Jangan menuduh ku, Mir!"


"Astaga, aku denger, Rin! Haruskah kau teriak sekencang itu, haa? Lagian aku cuma khawatir, singa jumpa mangsa suka lupa diri. Apa lagi tuh mantan suami kamu golongan singa lapar."


"Singa? Kadal kali maksud kamu."


"Terserah deh. Trus kenapa kalian nangis massal semalam? Anak-anak kamu omelin?"


Erine menggeleng, menarik oksigen sebanyak mungkin.


"Kau tau, Mir. Ada titik di mana aku berharap, Ammar benar-benar mati dan aku tau kuburnya. Akan lebih mudah untuk anak-anak paham kondisi orang tuanya. "


Mira menyandarkan tubuhnya ke dinding yang berada di samping wastafel, menyimak ucapan Erine.


"Alan menginginkan ayahnya. Anak itu merindukan sosok Ammar secepat ini. Ucapannya malam itu, sungguh melukaiku, Mir. Tidak ada yang salah, mereka berhak atas itu. Tapi tidak untuk saat ini."


"Apa rencanamu selanjutnya. Kau mundur?" Tanya Mira memastikan.


Erine menggedik bahu, "Entahlah, ini rumit."


Erine beranjak meninggalkan dapur usai menceritakan separuh kebenaran pada Mira. Menyusul Alan dan Alin yang menonton televisi, menghindari pertanyaan yang sulit ia jawab.


"Bunda, kapan bunda berangkat ke toko?" tanya Alin yang merasa aneh melihat ibunya belum bersiap.


"Ini weekend, Sayang. Siapa yang bekerja di hari libur?"


Alin merengut kesal. "Alin ingin tidur lagi saja, Bunda berbohong."


"Bunda tidak berbohong, Alin. Bunda menjanjikan jogging, bukan bermain ke toko."


"Tetap saja Bun—"


"Belisik!" ujar Alan datar.


"Lihat, Alan. Bunda tidak jadi mengajak kita jalan-jalan, sungguh mengesalkan!" sungut Alin tidak berhenti.


"Hussttt ..." Alin meminta Erine berhenti berkata. "Stop. Bunda ingin melayu Alin, kan? Alin tidak mau."


"Sayang. Dengarkan bunda, Nak. Di luar masih hujan, kamu bisa sakit jika hujan-hujanan."


"Tidak, kita bisa ke mall. Bunda selalu belbohong. Tentang ayah juga tidak ada bedanya, Bunda membohongiku dan juga Alan. Ken—" Ujarnya membuat Erine tersentak kaku.


"ALIN!" sergah Alan yang mulai geram.


"Alan, biarkan." tahan Erine pada putranya, "apa yang ingin Alin tahu? Katakan!" ujar Erine memberi izin.


"Alin... tidak, Bunda. Alin bersalah, Alin tidak ingin Bunda bersedih lagi." ujarnya merasa bersalah.


"Kuncir, makanya lain kal—" ujar Mira terpotong, usai mengambil ponsel dari kamarnya.


"Mir, biarkan! Meraka berhak tau!"


Mira mendengus kesal. "Sungguh menyebalkan. Terserah kau saja!"


"Alin, lihat Bunda. Apa yang ingin Alin tau?" tanya Erine serius.


Alin menatap wajah Alan yang memerah menahan emosi, seketika ia menggeleng tak ingin mengundang amukan Alan.


Erine menatap Alan, yang sejak pagi hanya diam dan menjawabnya sepatah dua patah kata.


"Alan, bukankah... Alan yang lebih dulu ingin mengetahuinya?" tanya Erine beralih ke Alan.


"Ya. Tapi tidak untuk saat ini." ujarnya datar menatap wajah Erine.


Erine mengernyit bingung, "Kenapa tidak?"


Alan menggeleng tidak ingin menjelaskan alasannya.


"Katakan, Alan! Apa yang kamu ketahui tapi tidak Bunda ketahui? Bunda bisa memberitahu mu tentang ayah sebanyak yang kalian mau."


Mira beranjak dari duduknya berjalan menaiki tangga, tidak ingin ikut dalam perdebatan Erine dan anaknya.


Menjengkelkan.


"Alan, kau kenapa? Bunda tidak marah, ayo kita tanyakan." Bujuk Alin merasa ini saat yang tepat mengetahui tentang ayahnya.


Alan menghela nafasnya, menatap Erine dan Alin secara bergantian.


"Apa yang salah dali kehadilan kami, Bunda? Kenapa Bunda mengatakan ayah meninggal? Ayah tidak meninggal, bukan?" Alan menatap layar televisi, siaran lucu tidak sedikit pun menghiburnya.


"Alan... hanya Bunda yang menginginkan kamu dan Alin. Hanya Bunda yang saat itu bertahan untuk kalian." Erine menahan tangis di pelupuk matanya.


Alan kembali menatap wajah Erine, "sungguh? Ayah tidak menginginkan kami? Apa ayah tau keberadaan ku dan Alin?" tanya Alan lagi.


"Tidak! Dia tidak mengetahui apa pun! Tapi bukan berarti dia tidak bisa mencari tahunya. Kau paham maksud bunda, Alan?"


Alin menyentuh tangan Erine yang berada di sampingnya, "Bunda, Apa ayah tidak menginginkanku dan Alan? Tapi kenapa? Apa saat bayi aku mengompol di baju ayah? Alin pernah menggigit ayah, atau mungkin Alin tidur menendang tubuh ayah hingga jatuh. Benar begitu, bunda?"


Erine menggeleng, "Sudah Bunda katakan, Dia tidak mengetahui kehadiran kalian di rahim, Bunda."


"Kenapa Bunda menyembunyikan, kami?" Alin menatap serius sorot mata ibunya.


"Bisakah Bunda mengatakan kehadiran kalian disaat dia sedikit pun tidak ingin bertemu, Bunda? Menurut kalian bisakah Bunda mengatakannya? Di saat bunda mengetahui kalian hadir. Pria itu meminta bercerai, hanya surat gugatan tanpa kehadirannya di sana." ujar Erine menahan sesak di dada, mengingat peristiwa hampir 5 tahun silam.


"Alin, kembalilah ke kamarmu! Aku perlu bicala beldua belsama, Bunda!" perintah Alan.


"Kenapa? Aku juga ingin tahu apa yang kalian bicalakan, Kak." ujar Alin tidak ingin diperintah.


"Pelgi, Alin! Ini belum saatnya untuk anak sekecilmu tau!" tekan Alan.


"Kita sama!"


"Alin! Pelgi atau hentikan keingintahuan mu mengenai, ayah! Kau bisa pilih."


Alin mendengus kesal, "Baiklah."


Alin berjalan sangat pelan, namun semenit kemudian berlari kencang meninggalkan Erine dan Alan.


"Kenapa, Alan?" tanya Erine mulai waspada.


"Bunda ingin tau mengapa Alan mengetahuinya, kan?"


🕸️🕸️🕸️



Weekend? Ammar benar-benar lupa rasanya menikmati liburan. Ammar memiliki banyak waktu luang untuk sekedar liburan atau hanya berkumpul bersama keluarganya.


Keluarga yang mana—sarang rubah—tepat sekali.


Sekumpulan semut lebih menarik dari seekor rubah yang menempati kediamannya.


Ammar mengingat perdebatannya bersama Echa saat sarapan, Ammar bukan ingin mengecewakan putrinya, hanya saja ingin mengajarkan pentingnya menghargai waktu dan mensyukuri keadaan yang mereka miliki saat ini.


Hujan tampak lebat mengguyur kota sejak tengah malam hingga siang hari menjelang, suasana hatinya yang semalam membaik kini seakan kembali mencekam.


Ponsel Ammar berdering.


Mama is calling...


Tertera nama Mama yang sudah pasti dari Seruni ibunya.


"Tidak bisakah aku tenang sebentar saja?!"


Ammar mengabaikan 1 panggilan, 2 panggilan, hingga panggilan yang ke 3.


Ponsel Ammar kembali berdering, dengan malas Ammar mengangkat panggilan Seruni.


"Assalamu'alaikum. Ada apa, Ma? Mas masih banyak kerjaan."


"Wa'alaikumussalam. Kamu ini, kerja terus! Kapan punya waktu main ke Bandung, Mas? Mama rindu cucu, Mama." ujar Seruni pada Ammar.


Ammar menghela nafas gusar, "Ammar sibuk, Ma! Mama hubungin Karina aja. Kerjaan Dia kan cuma makan tidur!"


Seruni mendesis, "Kamu kalau ngomong ngaco, Mas. Istri baik gitu apa nggak sayang? Kalau istri kamu denger, bisa di cere kamu, Mas."


"Mama nelpon buat ceramahin Mas atau ada yang lainnya?" ujar Ammar langsung ke inti.


"Tadi Echa nelpon, Mama. Kamu diajakin anak liburan, kok ya nolak sih, Mas? Sekali-kali liburan itu perlu, perusahaan kamu nggak akan hancur cuma karena libur seminggu, Mas." nasehat Seruni pada Ammar.


Ammar enggan berdebat dengan Seruni, memilih mengalihkan pembicaraan dengan membahas adiknya.


"Manda gimana, Ma? Kapan balik dari Singapore?" alih Ammar.


"Katanya dalam minggu ini, kamukan tau cabang perusahaan suaminya tiba-tiba anjlok. Kenapa nggak kamu bantu aja sih, Mas?" tanya Seruni tak paham jalan pikiran Ammar.


"Biar aja, Ma. Biar Dimas belajar pentingnya berjuang. Sesuatu yang instan belum tentu baik." ujar Ammar serius.


"Terserah kamu, Mas. Yang penting Mama tunggu kamu pulang, bawa cucu Mama sekalian."


"Tapi, Maa..."


"Nggak ada tapi-tapian, Ammar. Mama tunggu! Sekalian Mama kabarin Manda, biar bisa kumpul bareng." potong Seruni.


"Terserah."


"Mama tutup dulu ya, Mas. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Panggilan berakhir, Ammar menghempas ponselnya keatas meja.


"Karina-karina... Aku tau, kau yang menghasut anakmu! Teruslah berulah sesukamu! Sedikit lagi, tunggu saja!" ujar Ammar dengan tangan mengepal dan wajah merah padam menahan amarah.



Hallo readers😊


Terus dukung author dengan like dan comment, kirim vote jika kalian menyukai karya ini.


Terima kasih 🤍